
"Sudah, jangan membuatku merasa semakin jahat. Sekarang kita perban dulu lukanya dan pergi turun ke bawah, masih ada Keisha di bawah," ucap Fauzan, segera menyeka air mata sang istri, sebelum jatuh membasahi pipinya.
Aina yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepalanya pelan dan segera mengikuti langkah Fauzan pergi meninggalkan ruangan itu.
Mereka keluar dan menemui dokter keluarga mereka yang sudah menunggu di depan kamarnya.
"Anda baik-baik saja, Nyonya? Apa yang sakit kali ini? Boleh saya memeriksanya?" tanya lelaki berusia 32 tahun itu, tampak mencemaskan Keisha.
"Tidak ada yang sakit dok, hanya tangan istriku yang terluka. Tolong balutkan perban ditangannya, dan tolong juga pastikan tidak ada pecahan kaca di dalamnya," ucap Fauzan, membiarkan Aina di periksa oleh dokter tersebut.
"Baik Tuan Fauzan, saya akan memeriksa Nyonya terlebih dahulu. Mari, Nyonya. Kita turun ke bawah saja," ucap dokter tersebut, membimbing langkah Aina menuruni tangga.
Fauzan menghela napasnya panjang dan menatap sosok Keisha yang tampak terus menunggu urusan mereka selesai.
Setelah memastikan Aina turun bersama dengan sang dokter, Fauzan juga turun untuk menemui Keisha yang terus menunggunya di meja makan ditemani oleh Mbok Yanti.
"Maaf, makan malam kamu jadi tidak dimakan dengan benar. Nanti saat mengantarmu pulang, kita bisa mampir ke rumah makan jika kamu masih lapar," ucap Fauzan, kepada Keisha yang terus menatap ke arah Aina yang tengah diobati di sana.
"Sepertinya saya akan pulang sendiri. Lebih baik Pak Fauzan bersama dengan Mbak Aina di sini. Dia sedang sakit, tidak baik jika ditinggal sendirian. Saya bisa pulang sendiri, jadi tidak perlu diantar," ucap Keisha, tanpa melepaskan pandangannya dari sosok Aina.
Fauzan menghela napas panjang dan menatap ke arah Kakak lelakinya, Fadil, seakan ingin meminta tolong untuk mengantar Keisha pulang ke rumahnya.
Keisha yang menyadari tatapan tersebut, langsung menggelengkan kepalanya kuat, menolak permintaan Fauzan kepada Fadil dengan segera.
Mau tidak mau akhirnya Fauzan menganggukkan kepalanya, mengizinkan Keisha untuk pulang dengan caranya sendiri.
"Enggak, kamu kan lagi hamil, Keisha. Jika kamu tidak mau diantar oleh Mas Fauzan! Biarkan Alva yang mengantarmu," sahut Aina, dari tempatnya.
Keisha hanya tersenyum masam, dia tidak akan bisa menolak jika yang berbicara sudah Aina. Dia akan otomatis menurut semua perkataan wanita cantik berjilbab itu.
"Terserah Mbak saja. Asalkan Saya tidak diantar Pak Fauzan pulang ke rumah," jelas Keisha, dengan malu-malu.
Aina menganggukkan kepalanya mengerti dan menatap ke arah Mbok Yanti, mengkode wanita itu untuk memanggil anak sulung lelakinya di dalam kamar.
Mbok Yanti yang peka, langsung pergi ke kamar Alva untuk memanggilnya turun menemui Aina.
Tidak lama setelahnya, Alva turun dari kamarnya dengan membawa jaket dan kunci motor.
"Ayo Bun, nanti keburu malam. Aku gak terlalu suka keluar malam-malam, belum lagi pekerjaan rumahku yang menumpuk. Jadi, mari segera pergi!" ucap Alva, menggandeng tangan Keisha untuk mengajaknya keluar rumah.
"I-iya."
Keisha yang mendapati sikap itu hanya bisa menatap bingung ke arah orang-orang yang memperhatikannya dengan senyuman kecil.
"Apa memang seperti ini sikap Alva yang sebenarnya? Kenapa tidak ada di antara mereka yang merasa aneh, dengan sikap remaja ini? Padahal pertama kalinya aku bertemu dengannya, dia sangat ketus dan arogan! Lalu kenapa sikap aslinya berbeda sangat jauh?" batin Keisha, merasa aneh, tapi tidak memprotesnya.