Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Tercela dan Celaan



Fadil melirik ke arah Keisha dengan tatapan dingin. "Asal kamu bisa mengendalikan perasaanmu terhadap Fauzan. Aku akan memenuhi semuanya!" ucapnya, dingin.


Keisha menelan ludah, menatap ke arah depan. Memandang Fina yang terus memperhatikannya dengan tatapan datar, dari kaca spion tengah.


Keisha terdiam, memandang sahabatnya dengan tatapan tertekan dan menundukkan kepalanya, menatap perutnya dengan perasaan bimbang.


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Keisha, resah.


"Tuan, kita sudah sampai," ucap sopir mereka, saat memasuki pekarangan rumah keluarga inti.


"Pikirkan dengan baik. Aku tahu urusan hati sangat berat. Karena itu, setelah kamu bertemu dengan Fauzan nanti! Saat hendak pulang, temui aku di taman ke dua dan berikan aku jawabannya."


Fadil menghela napas panjang dan menatap Nuri yang membukakan pintu untuknya dari luar.


"Fina akan membimbingmu ke sana," lanjut Fadil, sebelum turun dari mobil dan menggandeng keponakannya masuk ke dalam rumah.


Klek ....


Fina membukakan pintu untuk Keisha, membuat kedua manik mata mereka saling bertatapan.


"Aku tidak senang membuang teman. Apa lagi teman lama!" Fina menatap Keisha dengan tegas. "Jadi tolong pilihlah pilihan yang benar!" lanjutnya, dingin nan menusuk.


Keisha turun dari dalam mobil dengan perasaan berat. Dia tak menyangka pilihannya akan sangat membebani langkahnya.


Apakah naik dengan cara instan akan semakin menyakitkan untuknya?


Sementara Keisha bukan orang yang lapang dada dan cenderung memikirkan segala pandangan orang kepadanya.


Antagonis yang lembek. Mungkin julukan itu sangat cocok untuk sosok Keisha yang sering bimbang, padahal usai memilih jalan ini dengan memantapkan hati.


Keisha menghela napas, menatap Aina yang sudah berdiri di teras rumah dengan anak tertuanya, Alva!  Anak remaja yang kemarin mendorongnya dengan kasar, seakan membunuh Keisha pun, bukan hal yang sulit baginya.


Keisha tampak ragu. Hendak mengambil melangkah untuk memulai perang sebenarnya atau tidak.


Terlebih lagi, dia berada di rumah inti keluarga Fauzan! Yang artinya, dia akan bertemu dengan seluruh keluarga besar bosnya itu secara langsung.


"Kamu tidak menjemputnya?" tanya Aina, pada sang suami, yang dari tadi berdiri di belakang punggungnya, seakan enggan berhadapan dengan Keisha.


Aina tersenyum miring,, menyunggingkan senyuman yang tampak asing untuk anak atau keluarga Fauzan yang  belum pernah melihat sisi bar-barnya.


"Kalau aku istri yang kurang ajar, mungkin dari kemarin rambutmu tidak rata seperti sekarang, sayang!" ucap Aina, dengan tersenyum manis.


Glek ....


Fauzan menelan ludahnya susah. Dia menatap Keisha yang gugup dengan tatapan dingin. Tapi ada perasaan tidak tega melihat gadis itu terus di intimidasi banyak orang, kecuali istrinya.


"Jemputlah kekasihmu. Aku akan menunggu di dalam," ucap Aina, sembari berjalan pergi meninggalkan tempat.


Alva berjalan mengikutinya, sambil menatap dingin sang Ayah, yang tampak gugup di musuhi banyak orang.


Fauzan menghela napas panjang dan berjalan mendekati Keisha dengan langkah enggan.


"Gugup?" tanya Fauzan, menatap Keisha yang memandangnya dengan tatapan berharap, saat Fauzan mendekat padanya.


Keisha segera menganggukkan kepalanya, mendekatkan diri pada Fauzan, seakan bersembunyi dari yang lain.


Fauzan menghela napas kasar. "Sudahlah, ayo masuk. Istriku menunggu di dalam!" ucapnya, dingin.


Keisha mengangguk dan segera mengikuti langkah Fauzan dengan patuh, melewati beberapa orang yang tampak membencinya dengan tatapan gugup.


"Jika kamu segugup itu, seharusnya kamu tidak melakukannya!" ucap Fauzan, menyindir.


Fauzan menatap Keisha yang berjalan di belakangnya dengan tatapan tak senang yang terkesan dingin menusuk.


Keisha sampai tertekan saat mendengarnya. Perlahan-lahan, setiap langkah yang dia ambil untuk memanjat  kelas sosial, seakan membuat dirinya melepaskan satu persatu harga dirinya dengan mendengar banyak orang merendahkan dirinya.


Keisha hanya diam. Menunduk dalam dengan tatapan getir. Tak tersenyum ataupun merasa sedih. Hanya merasa kasihan dan miris saja, melihat dirinya serendah itu di mata banyak orang.


"Perbuatan tercela yang kamu lakukan pada saya, kamu kira akan ada yang mendukungnya?" ujar Fauzan, membuat Keisha menoleh padanya dengan tatapan berkaca-kaca.


"Tidak mungkin! Kamu hanya seperti pelacur untuk mereka. Mengertilah itu, Keisha!" ucap Fauzan, penuh penekanan di setiap tutur katanya.