
Keisha berjalan di samping Fauzan yang tengah melihat-lihat gedung resepsi yang akan mereka gunakan.
"Bagaimana dengan yang ini? Kamu suka?" tanya Fauzan, menatap Keisha yang dari tadi memperhatikannya dan tidak memperhatikan sekelilingnya.
Keisha yang mendengar itu langsung tercekat, dia langsung memalingkan wajahnya dan beralih menatap sekelilingnya.
"Hemm, bagus sih tapi apa anginnya tidak terlalu kencang? Nantikan saya memakai gaun? Saya takut susah berjalan karena diterpa angin," celetuk Keisha, menolak secara halus.
"Hem, gitu ya? Padahal outdoor cukup bagus menurut saya," seru Fauzan, bergumam lirih dan masih bisa didengar oleh Keisha.
"Tapi kalau Anda menginginkan tempat ini, saya juga tidak keberatan. Saya tinggal menggantikan gaunnya," ucap Keisha, tidak ambil pusing.
Fauzan mengangguk-anggukan kepalanya, seakan mengerti tapi malah berjalan pergi menuju ruangan resepsi versi indoor, di depan sana.
"Aulanya sangat luas, cocok untuk pesta yang dihadiri banyak orang. Bagaimana kalau yang ini saja?" tanya Fauzan, menoleh kembali ke arah Keisha sibuk melihat kau kanan dan ke kiri, sambil mengikuti langkahnya.
"Boleh juga. Kalau di dalam ruangan, Mbak Aina pasti akan lebih mudah bergerak karena dia pasti akan mengenakan jilbab yang panjang. Saya takut jika kita menggunakan ruangan outdoor, itu akan bermasalah pada jilbabnya. Angin di luar benar-benar kencang, Anda tidak memikirkan ya?" tanya Keisha, menatap Fauzan dengan tatapan lugu dan polos.
Fauzan yang mendengar itu langsung terdiam beberapa saat, menatap kedua manik mata Keisha yang tampak jujur dengan dalam, sebelum akhirnya mengulas senyuman lembut.
Keisha mengerutkan keningnya samar "Kenapa malah tersenyum dan tertawa? Apa ada yang lucu dari perkataan saya?" tanyanya, tempat kebingungan.
"Hahaha, tidak. Hanya saja saya merasa kamu sedikit konyol. Padahal Aina sudah meminta kamu sendiri untuk memilih tempat resepsinya. Tapi kenapa kamu malah memikirkan istri saya? Terlebih lagi, kamu terlihat mencemaskannya. Apa kamu lebih menyayangi istri saya daripada calon suamimu?" tanya Fauzan, membuat Keisha tercekat, kaget.
"Benar juga. Kenapa aku malah memikirkan rivalku? Padahal dia sudah memberikan ruang yang cukup untuk menyerangnya," batin Keisha, menatap aneh pada dirinya sendiri. "Apa ini, Keisha? Kenapa kamu malah mengkhawatirkan ya?" batinya, menggerutu kesal pada dirinya sendiri.
Setelah memikirkan hal itu, Keisha malah menggeleng-gelengkan kepalanya kuat dan membuat Fauzan serta staf gedung resepsi yang menemani mereka, menjadi bingung melihat tingkahnya.
"Kenapa? Kamu merasa pusing atau mual? Kamu mau duduk dan istirahat dulu? Atau mau makan sesuatu untuk mengisi perutmu?" tanya Fauzan, tampak panik lihat sikap aneh Keisha.
Keisha yang mendengar itu langsung menyadarkan dirinya dan menatap kedua orang yang mengkhawatirkannya.
"Tidak, saya baik-baik saja. Saya baik-baik saja, oke. Tidak ada yang terjadi, jadi tolong jangan panik," ucap Keisha, berusaha menenangkan kepanikan Fauzan dan staf gedung itu.
Fauzan mengangguk mengerti dan memperhatikan Keisha dengan saksama, masih khawatir jika wanita itu dalam kondisi yang buruk.
"Hem, saya memilih yang indoor saja, Pak. Karena di luar pasti akan panas jika sayang hari datang. Saya juga mengkhawatirkan anak-anak yang dibawa para tamu undangan nanti, kasihan jika mereka kepanasan di luar, kan? Ada juga Nuri yang tidak boleh terpapar sinar matahari terlalu lama. Benar, kan?" tanya Keisha, kembali fokus dengan pembahasan utama mereka.
"Baiklah, sesuai permintaanmu. Kita akan menggunakan tempat ini untuk resepsi pernikahan kita," tungkas Fauzan, memutuskan.
Keisha hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, dan membiarkan Fauzan serta staf gedung itu pergi untuk membahas tanggal booking tempat ini.
"Bagaimana persiapannya, Nona? Anda akan menggunakan gedung yang mana? Gedung utama atau tempat yang outdoor di dekat pantai itu?" tanya Catra, saat mereka sudah berjalan mengikuti langkah Keisha seperti anak ayam.
"Aku makan mengenakan yang indoor saja. Lalu, bagaimana dengan Pamanku? Apakah Mbak Aina akan menemuinya?" tanya Keisha, tiba-tiba merasa resah.
Kevin menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum masam. "Nyonya akan menemui Tuan Gary pada pukul 03.00 sore nanti. Apakah Anda ingin menemaninya? Saya akan meminta izin kepada Nyonya, jika Anda menginginkannya," celetuknya, memberi tahu.
Keisha mengerutkan keningnya samar. Ada ekspresi wajah ragu di dalam kedua matanya.
"Bagaimana jika Mbak Aina tidak memberiku izin untuk ikut bersama dengannya? Aku sangat takut Pamanku akan berbuat buruk kepadanya. Dia itu orang yang sangat kasar," ucap Keisha, terlihat semakin cemas.
"Entah boleh atau tidak saya berkata seperti ini, tapi Nyonya bukankah orang yang lemah. Anda pasti akan terkejut jika mengetahui apa saja prestasi Nyonya sebelum beliau menjadi Nyonya besar di keluarga Tristany," celetuk Kevin, dengan ekspresi wajah sungkan.
Keisha menaikkan sebelah alisnya, menatap Kevin dengan tatapan penasaran dan bingung di saat bersamaan.
"Prestasi? Apakah Mbak Aina bukan seseorang yang seperti aku pikirkan? Wanita yang lemah lembut dan anggun, apa dia bukan tipe orang yang seperti itu?" tanya Keisha, benar-benar penasaran.
Kevin, Catra dan Aren saling memandang satu sama lain, menunjukkan ekspresi wajah bingung, ketika harus menjelaskan tentang sosok "Nyonya Besar" keluarga Tristany ini.
"Anda tidak salah jika menyebut Nyonya sebagai orang yang lemah lembut dan anggun. Tapi Anda juga harus tahu, sebelum dia menjadi anggota keluarga ini. Dia sudah bukan orang yang sembarangan! Dia orang yang terlampau hebat di segala bidang," ucap Catra, seakan membanggakan Aina di depan Keisha dengan sengaja.
Tapi tampaknya Keisha tidak sadar jika sedang di rendahkan oleh Catra, dengan menunjukkan banyak kelebihan Aina kepadanya. Sementara di sisi lain, Keisha hannyalah seorang sekretaris yang berhasil menjebak atasannya sendiri agar bisa naik kelas sosial.
"Sungguh? Dia benar-benar bukan orangnya sembarangan? Memangnya dia orang seperti apa? Aku sangat tertarik dengannya. Bisa kamu katakan atau ceritakan tentang dirinya di masa lalu?" seru Keisha, tampak bersemangat.
Lantas membuat tiga orang bodyguardnya, yang sudah memiliki niat buruk menjadi kebingungan melihat respons tersebut.
"Hahh ... aku yakin Nona Keisha adalah orang yang peka. Tapi kenapa dia tidak tahu jika kita bertiga sedang merendahkannya? Apa dia pura-pura tidak peduli atau bagaimana?" bisik aren, pada Catra yang berdiri tepat di sebelahnya.
Catra menggidikkan bahunya tidak tahu. "Kamu kira aku bisa membaca pikirannya? Tanya saja pada orangnya sendiri. Kenapa dia sangat terobsesi pada Nyonya kita?!" pekiknya, dengan ekspresi wajah dingin.
Keisha menatap tiga orang lelaki yang ada di depannya dengan tatapan menanti. Tapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang mau menceritakan tentang Aina kepadanya.
Keisha pun menghela napas panjang, sedikit menundukkan kepalanya, dan menunjukkan ekspresi wajah kecewa.
Fauzan yang baru saja kembali dan melihat ekspresi wajah Keisha yang tampak masam, langsung menatap tiga orang bodyguardnya dengan tatapan curiga.
"Ada apa ini? Kenapa kamu terlihat murung, Keisha? Apakah ada yang terjadi?" tanya Fauzan, menatap lurus pada calon istri keduanya.