
"Kali ini kita akan pergi ke mana dulu?" tanya Fauzan, menatap Keisha yang tengah menyantap sarapan keduanya dengan tatapan menanti.
Keisha yang mendengar itu langsung mendongakkan kepalanya, menatap Fauzan dengan gelagat berpikir.
"Walaupun aku minta pergi ke negara ini, tapi aku belum memikirkan ke mana kita akan. Bagaimana kalau kamu mencari beberapa tempat yang bisa kita kunjungi hari ini? Bagaimanapun juga kamu adalah lelakinya, dan tugas seorang lelaki adalah mencari tempat yang unik saat jalan-jalan dengan kekasihnya," celetuk Keisha, tanpa beban.
Berbeda dengan Fauzan yang mendengar hal tersebut, dengan helaan napas besar dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana dan membuka Google untuk mencari beberapa tempat unik, seperti keinginan Keisha.
Fauzan tampak serius beberapa saat sampai tidak sadar jika Keisha pergi meninggalkan tempat untuk ke kamar mandi.
Fauzan memalingkan perhatiannya ke arah depan, inginnya menatap Keisha tapi wanita itu tiba-tiba tidak ada di tempatnya.
Dia spontan berdiri, menatap ke kanan dan ke kiri serta sekeliling mereka dalam jangkauan yang lebih luas. Tapi Fauzan tidak menemukan keberadaan wanita itu di sekitar tempat tersebut.
Ketika hendak meninggalkan kursinya, tiba-tiba Keisha kembali dan menegurnya sebelum Fauzan berhasil meninggalkan tempat.
"Mau pergi ke mana, Mas?" tanya Keisha, membuat Fauzan menoleh cepat ke arahnya dan menghela napas lega.
"Hahh ... syukurlah. Aku kira kamu tiba-tiba hilang tadi, dari mana saja? Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu jika ingin pergi? Membuat orang khawatir saja," celetuk Fauzan, disertai dengan helaan napas berat.
Keisha tersenyum masam, menatap Fauzan dengan tatapan bersalah. "Maaf, aku tidak mengira kamu terlalu fokus dengan ponsel sampai tidak tahu aku pergi. Maaf," cicit Keisha, pada suatu kata terakhirnya.
Fauzan hanya menghela napas dan kembali duduk, begitu juga dengan Keisha yang kembali melakukan aktivitasnya. Yaitu menghabiskan sarapannya, sambil menunggu suaminya mendapatkan tempat tujuan mereka.
"Aku sudah menemukannya. Bagaimana kalau kita pergi ke taman-"
"Keisha? Kita bertemu lagi. Sepertinya ini memang takdir, kamu sudah tidak bisa lagi menyangkalnya," ucap seorang lelaki, datang tiba-tiba dan langsung bersikap sok akrab dengan Keisha tanpa memedulikan kehadiran Fauzan.
Keisha yang melihat lelaki itu langsung melirik ke arah Fauzan, meminta pertolongan pada lelaki itu.
Tapi sayangnya, Fauzan tidak dapat menerima kode matanya, karena dia sedang fokus memperhatikan kelakar lelaki yang berdiri tepat di sampingnya ini.
"Ah, maafkan saya, Tuan Fauzan. Saya kira pernikahan kalian hanya sekedar pernikahan kontrak. Jadi saya menganggap Anda tidak mempermasalahkan saya yang berusaha mendekati Keisha. Tapi maaf jika saya salah sangka tentang hubungan kalian," celetuk lelaki tampan bersurai kecokelatan itu dengan mengulas senyuman sombong.
Fauzan bangkit dari tempatnya, mengulurkan tangannya ke depan Keisha, dan mengajak wanita itu pergi. "Kalau tidak ada hal penting yang ingin Anda gas dengan istri saya, saya izin undur diri!"
Setelah itu Fauzan dan Keisha segera pergi meninggalkan tempat makan tersebut, masuk ke dalam mobil dan mulai membelah jalanan.
"Ah, dasar laki-laki gila! Bagaimana bisa kita bertemu dengannya di tempat itu. Atau jangan-jangan dia menyewa tempat tinggal di sekitar sini?" celetuk Keisha, menatap ke kanan dan ke kiri, sambil menunjukkan ekspresi waspada.
Fauzan hanya mendengus kasar, tidak menyahut perkataan Keisha dan hanya fokus mengemudi.
Beberapa saat kemudian, Keisha sadar dengan ekspresi wajah Fauzan yang tampak kesal. "Anda marah?" tanyanya, dengan suara lirih.
Fauzan memalingkan wajahnya, menatap Keisha dengan tatapan dingin yang terkesan biasa-biasa saja. "Kamu bisa melihatnya sendiri. Apa aku terlihat marah?"
Keisha menggelengkan kepalanya pelan, dan kembali menatap ke samping, melihat jalanan dari balik jendela kaca yang menutupi wajahnya dari sengatan sinar matahari yang terik di luar sana.
"Kita akan pergi ke mana? Sepertinya kamu sudah menyetir cukup jauh dari tempat peristirahatan kita. Kamu sudah menemukan tempatnya? Tempat yang akan kita kunjungi?" tanya Keisha, kembali menoleh ke arah Fauzan.
Fauzan menganggukkan kepalanya, dan ikut menoleh ke arah Keisha. Memandang lawan bicaranya dengan tatapan lembut.
"Rencananya aku ingin mengajakmu pergi ke taman. Tapi setelah keluar dari restoran, sepertinya aku berubah pikiran. Kita pergi nonton bioskop saja, dan nanti malam baru aku akan mengajakmu jalan-jalan. Mau ke pantai saja? Aku menemukan pantai yang bagus di dekat sini," ucap Fauzan, membuat lawan bicaranya menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"Tentu. Kita bisa pergi ke mana pun! Asal kamu memikirkan kondisiku. Aku tidak bisa berdiri terlalu lama karena perutku mulai membesar, kamu mengerti maksudku, kan?" tanya Keisha, berharap jika suami yang dinikahi karena harta itu bisa sedikit mengerti tentang dirinya.
Dan bersyukurnya, sampai detik ini Fauzan selalu memperlakukan ya dengan baik. Walaupun dia sempat tidak menyukai kehadiran Keisha yang memaksa masuk ke dalam keluarganya.
"Tentu, aku harus memikirkan istriku yang sedang hamil bagaimanapun suasana hatiku sekarang! Hah ... karena aku sudah mulai merindukan istriku yang pertama saja," celetuknya, membuat Keisha memutar bola matanya malas dan memalingkan wajahnya, agar lelaki itu tidak melanjutkan pembahasannya.
"Hahh ... bucin sekali," pekik Keisha, di dalam hati.