
Manu dan Rey berada diruang kunjungan, mereka sedang menunggu Del.
"Del." Manu dan Rey langsung memeluk sahabatnya itu. Tak pernah ada dibayangan mereka, akan seperti ini nasib Delmar.
"Sory, kita baru tahu lo di tahan." Ujar Manu penuh sesal. Kalau saja Killa tak meneleponnya dan mengabari tentang ini, dia dan Rey tidak akan tahu.
"Saat nomor lo gak aktif, gue pikir lo terlalu sibuk. Gak nyangka sama sekali kalau lo ada ditempat ini." Rey menimpali.
Mereka bertiga duduk lalu melanjutkan obrolan.
"Darimana kalian tahu gue disini?"
"Dari Killa. Tadi pagi dia menghubungi gue." Jawab Manu.
"Oh iya, gue baru ingat. Bukannya lo bilang bakal datang bareng Killa. Mana Killa?" Tanya Rey.
"Killa... "Manu bingung harus menjawab.
"Mana Killa?" Del melihat ada yang janggal dengan ekspresi Manu.
"Sory Del, Killa ada dirumah sakit. Dia pendarahan dan harus bedrest total."
"Apa!" Del sampai berdiri saking terkejutnya. "Bagaimana bisa?" Cowok itu tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Tadi dia nyuruh gue nganterin ke RS. Dia nemuin Laura."
"Damn." Del memukul meja untuk meluapkan emosinya. Laura, ya cewek itu biang keladi masalah ini. Dan Del bersumpah akan membalas semua perbuatan Laura padanya.
"Sabar Del, Killa sudah ditangani dokter. Jangan terlalu khawatir, ada mama lo dan ibunya yang jagain."
Delmar kembali duduk dengan mata yang berkaca kaca. "Gimana gue gak khawatir Man, Killa sedang hamil anak gue. Dan saat ini dia butuh gue. Tapi apa? gua gak bisa berbuat apa apa karena terkurung di tempat sialan ini." Kesal Del dengan nafas naik turun menahan emosi.
"Kita bakal bantu lo ngungkap kebenarannya." Ujar Rey sambil menggenggam tangan Del yang berada diatas meja.
"Laura hamil." Ucap Manu.
"Itu bukan anak gue." Jawab Del datar.
"Yakin?"
"Seratus persen."
"Lo tahu kan kalau petting juga bisa menyebabkan kehamilan?" Tanya Manu ragu ragu.
"Gue gak pernah ngelakuin petting. Kita memang pernah making out, tapi tak sampai sejauh itu. Gue yakin seratus persen, itu bukan anak gue. Bahkan gue siap di tes DNA." Delmar menekankan kata katanya.
"Kenapa tak segera tes DNA?" Tanya Rey.
"Belum bisa, kehamilan Laura baru 7 minggu. Itu terlalu beresiko, bahkan bisa menyebabkan keguguran. Paling cepat 10 minggu, baru bisa tes DNA." Del menjelaskan.
"Astaga, kenapa jadi ribet gini sih. Bingung gue, hamil anak siapa si Laura. Perasaan gak ada bau bau dia selingkuh atau dekat dengan cowok lain. Kenapa bisa tiba tiba hamil. Jangan jangan hamil anak setan." Seru Rey dengan nada jengkel.
"Itu juga yang bikin gue bingung Rey. Selama kita pacaran, Laura gak pernah selingkuh, bahkan ngelirik cowok lain aja gak pernah. Tapi kenapa gue bisa kecolongan sampai dia hamil. Usia kandungannnya 7 minggu. Itu artinya kita belum putus saat Laura ngelakuin itu." Delmar sama sekali tak punya bayangan tentang ayah bayi Laura.
"Gue juga bingung. Selama ini kan hanya elo yang dekat dengan Laura. Kalau gak ada elo pun, pasti dia minta bantuan Rey." Tiba tiba Manu menghentikan ucapannya setelah menyebut nama Rey. "Jangan jangan ____" Manu menatap ke arah Rey, begitu pula dengan Del.
"Ke, kenapa kalian natap gue?" Rey jadi salah tingkah. "Jangan bilang kalian nuduh gue yang ngehamilin Laura?" Seru Rey dengan mata melotot.
"Bukan lo kan Rey?" Gumam Del.
"Anj*ng, tega kalian nuduh gue. Gini gini gue gak suka nusuk teman dari belakang. Jangan samain gue dengan Aiden. Gue gak mau makan pacar teman." Rey sedikit tersulut emosi.
"Sory, Sory." Ujar Manu sambil menepuk punggung Rey agar cowok itu tak makin emosi.
"Miko mana, kenapa dia gak ikut?" Tanya Del.
"Miko ke Kalimantan. Dia kerumah paman Sasa untuk minta restu sekalian minta pamannya buat jadi wali nikah sasa." Sasa adalah anak yatim. Dia tinggal bersama ibu dan ayah tirinya di jakarta.
"Jadi, keputusan dia sudah bulat. Kita sudah berusaha bujuk dia buat tes DNA, tapi dia nolak." Jawab Manu.
"Gue bahkan sangat yakin kalau Sasa bukan hamil anak Miko. Miko sendiri yang bilang selalu pakai pengaman, jadi kecil kemungkinan Sasa hamil anak dia." Rey tampak geram. Dia sama sekali tak setuju Miko menikahi Sasa.
Mereka tak bisa melanjutkan obrolan karena waktu kunjungan habis. Tapi Manu dan Rey berjanji akan membantu Del menyelesaikan maslaah ini. Dan yang paling utama, mengungkap siapa ayah dari anak yang dikandung Laura.
...******...
"Hai yang, tumben kamu mau nyamperin aku ke apartemen. Biasanya gak pernah mau diajak kasini, takut gue perkosa." Tutur Aiden sambil memeluk Naomi yang baru datang.
"Lepasin." Seru Naomi dengan wajah tegang.
"Enggak mau, aku kangen kamu. Biarin aku peluk kamu lebih lama lagi." Bukannya melepas, Aiden justru mengetatkan pelukannya.
"Lepas." Teriak Naomi sambil menguraikan belitan tangan Aiden.
PLAK
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Aiden..
"Kenapa kamu nampar aku yang? aku salah apa?" Tanya Aiden sambil memegangi pipinya yang panas.
"Kamu tanya salah apa?" Ujar Naomi dengan suara bergetar, cewek itu mati matian menahan tangisnya saat ini. Aiden menatap bingung ke arah Naomi, dia tak tahu alasan Naomi menamparnya. Seingatnya setelah balikan, dia tak selingkuh lagi.
"Kamu yang menghamili Laura kan? Ngaku Ay, Ngaku." Teriak Naomi sambil memukul mukul dada Aiden.
Pagi tadi, Naomi mendapatkan telepon dari Killa. Killa menceritakan tentang kasus Delmar. Dan yang paling mengejutkan, detektif sudah mendapatkan nomor yang mengirim chat ancaman pada Laura. Dan nomor itu terdaftar atas nama Aiden kusuma.
"Aku gak menghamili Laura yang, enggak."
"Sampai kapan kamu mau terus mengelak?" Tangis Naomi akhirnya pecah. Cewek itu tersedu sedu sambil terus memukuli dada dan lengan Aiden. "Polisi sudah tahu kalau kamu yang meneror Laura. Dan jangan jangan kamu dalang dibalik penusukan Laura?"
"Penusukan?" Aiden tampak terkejut. "Penusukan apa? aku gak tahu apa apa yang." Aiden memegangi tangan Naomi yang terus memukulinya.
"Tega kamu Ay, gara gara kamu, Del dipenjara." Gumam Naomi sambil memerosotkan tubuhnya ke lantai. Rasanya tenaganya sudah habis. Dia selalu bisa memaafkan saat Aiden selingkuh, tapi kali ini, perbuatan cowok itu sungguh sangat keterlaluan..
"Del dipenjara?" Lagi lagi Aiden terkejut. "Aku gak tahu apa apa Yang, sumpah. Aku memang kenal Laura, tapis sebatas kenal karena Del mengajaknya ke club. Kita tidak pernah dekat, bahkan ngobrol berdua tak pernah. Mustahil dia hamil anak aku."
Naomi terkekeh sambil menangis. Rasanya lelah sekali melihat Aiden terus menyangkal dan berpura pura tak tahu apa apa. Pada kenyataannya bukti menunjukkan jika Aiden yang meneror Laura.
"Kalau memang dia tidak hamil anak kamu. Kenapa kamu nyuruh dia gugurin kandungan? Kamu juga mengancam akan mengahabisinya? kenapa Ay, kenapa?" Teriak Naomi histeris.
"Aku tidak pernah mengancam Laura, tidak pernah." Aiden kekeh menyangkal.
"Tapi sim card peneror itu terdaftar atas nama kamu. Atas nama Aiden Kusuma."
"Tidak, tidak mungkin." Aiden tampak shock. "Bukan aku yang, bukan aku." Aiden terus geleng geleng.
Ting tong ting tong
Suara bel menghentikan pertengkaran antara Aiden dan Naomi.
Dengan langkah berat, Aiden berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Selamat siang, dengan saudara Aiden."
"Iya, saya sendiri."
"Anda ditangkap dengan dugaan peneroran terhadap saudari Laura. Ini surat penangkapannya. Sekarang anda ikut kami."
Naomi yang berdiri dibelangan Aiden seketika ambruk ke lantai. Dia tak sanggup melihat cowok yang sangat dia cintai, diborgol oleh polisi. Hatinya sangat hancur.
"Yang, bukan aku pelakunya. Please, percaya sama aku." Ujar Aiden sambil menoleh kearah Naomi yang menangis di lantai.