DELMAR

DELMAR
TERUNGKAP



Killa, Cea dan Naomi tampak sedang memilih baju. Ketiga cewek itu memiliki selera yang berbeda namun saling membantu memilihkan.


Pak Joe berdiri tak jauh dari mereka sambil terus memperhatikan tingkah remaja itu yang kadang membuatnya geleng geleng.


Setelah memborong baju, mereka menuju ke gedung bioskop.


"Kak Killa duduk aja, biar Cea yang beli tiket dan Kak Nom yang beli makanan." Ujar Cea sambil meletakkan belanjaan dikursi sebelah Killa.


"Bener kata Cea, kita gak mau kena omel Del kalau sampai lo kecapekan. Bisa bisa belanjaan kita diminta balik sama dia." Naomi menimpali.


"Biar saya saja yang beli, kalian duduk saja disini." Ujar Pak Joe sok sok an jadi pahlawan.


"Ulu Ulu Pak Joe... baik banget sih. Nikah ama dedek aja yuk habis dedek lulus." Goda Naomi sambil memasang wajah sok imutnya.


"Dilamar beneran mampus lo." Cea mendorong kepala Naomi dengen telunjuknya.


"Nom Nom siap lahir batin kok Pak Joe." Bukannya takut, Naomi malah melanjutkan kegilaannya.


"Mana uangnya Non." Pak Joe ingin segera pergi dari tempat itu. Bisa gila dia kalau diisengin bocah bau kencur mulu. Nasib jones yang udah karatan ya kayak gitu.


"Terimakasih Pak Joe ganteng." Jawab Cea sambil menyodorkan uang pada bodyguardnya itu.


"Bts, Pak Joe ganteng juga ya."


"Btw begok." Cea membenarkan ucapan Naomi.


Killa hanya tersenyum sambil menyesap jus yang ada ditangannya. Jalan jalan sama mereka sangat menyenangkan. Killa bahagia mempunyai 2 sahabat yang sangat luar biasa walaupun sedikit somplak. Dan lebih bahagia lagi karena punya ponsel baru, I phone 12.


"Yang punya HP baru mesam mesem terus tuh." Ledek Naomi sambil menarik jus milik Killa. Dia kehausan karena ngomong terus, sedang minuman miliknya sudah habis sejak tadi.


"Cea nanti juga mau minta ganti HP sama papa. HP Cea udah jadul." Ujar Cea sambil memperhatikan ponselnya.


"Weleh, Jadul kata lo? perasaan tuh I phone 11 deh." Naomi hampir kesedak jus.


"Gue anak sultan, HP harus selalu keluaran terbaru. Gue mau po I phone 13. Emang lo anak orang kismin."


"Sumpah Ce, pengen nangis gue lo hina kayak gini."


"Nangis aja yang kenceng. Sekalian guling guling disana. Salah sendiri gak mau jadi ipar gue. Kalau mau kan ikutan jadi menantu sultan."


"Bukannya gak mau, tapi antrian gue udah diserobot ama Killa."


"Salah sendiri lelet." Killa tiba tiba menyahuti.


Cea dan Naomi langsung menatap Killa. Mereka tak mengira ternyata Killa bisa juga ikutan becanda. Sedangkan Killa jadi salting, dia pikir dia salah ngomong.


"Gue salah ngomong ya?"


"Hahaha...." Cea dan Naomi kompak tertawa.


"Enggak kok, gak ada yang salah. Yang salah tuh takdir gue, ngenes banget, hiks hiks hiks." Naomi pura pura nangis.


"Eh gimana kalau kak Nom sama Kak Dilan aja. Hidup gue pasti bakal sempurna kalau punya 2 kakak ipar kayak kalian." Cea sok sok an ngide.


"Mau, mau banget." Naomi sampai jingkrak jingkrak.


"Emangnya Dilan mau sama kamu?"


"Busyet lo Kill, dari tadi ngejatuhin gue mulu. Lo punya dendam apaan sih sama gue. Harusnya itu yang punya dendam gue. Karena lo udah ngambil calon suami sultan gue."


Ternyata ada tiga cewek yang memperhatikan kehebohan mereka jadi jauh. Cea yang mengetahuinya langsung memberi isyarat untuk diam pada Naomi dan Killa. Ketiga cewek itu berjalan ke arah mereka.


"Hai Ce, Kil." Sapa seorang cewek yang ternyata adalah Laura. Laura datang bersama Greta dan Sasa, pacarnay Miko.


"Ngapain pula pakai ketemu Lampir disini." Lirih Cea tapi tak sampai terdengar oleh Laura karena tempat itu lumayan bising.


"Lo, Naomi kan, ceweknya Aiden?" Tanya Sasa sambil menunjuk ke arah Naomi.


"Lo kenal gue?" Naomi menunjuk dirinya sendiri.


"Gak kenal sih, tapi gue inget muka lo. Kita pernah beberapa kali ketemu. Gue temennya Aiden."


"Temen apa? temen ranjangnya?" Tanya Naomi sambil menarik ujung bibirnya.


Sontak semua mata langsung menatap Sasa. Cewek itu seketika salah tingkah. Dia tak mengira Naomi tahu perselingkuhannya dengan Aiden.


"Lo salah orang kayaknya. Gue cuma temen biasa sama Aiden." Sasa berusaha tidak terlihat gugup. Disana ada Laura dan Greta, dia tak mau kalau sampai Miko tahu perselingkuhannya.


"Nama lo Naomi?" Tanya Laura. Dia lebih penasaran tentang Naomi daripada tentang Sasa yang menurutnya tak penting. Laura masih inget tenang cewek yang pelukan dengan Del dihalte. Del bilang cewek itu bernama Naomi.


"Lo kenal Kak Delmar?" Laura kembali bertanya karena Naomi tak menyahuti.


"Kalo iya kenapa, ada masalah?" Jawab Naomi dengan tampang juteknya.


"Lo kalo sekolah gak pake hijab ya?" Sungguh, Laura tak mau mati penasaran.


"Kepo banget lo? Gue mau pakai hijab atau enggak apa urusannya ama lo?"


Naomi memang sudah berhijab sejak TK. Tapi ketika mengenal Aiden, dia sedikit melenceng. Dia sering membuka hijabnya saat bersama cowok itu. Bagaiman tidak, Aiden beberpaa kali membawanya ke club malam milik ayahnya, tak mungkin Naomi berhijab disana.


Pak Joe tiba tiba datang membawa tiket serta makanan.


"Teman kalian?" Tanya Pak Joe sambil melihat keraha Cea, Killa dan Naomi.


"Bukan, gak kenal kita." Jawab Cea.


Laura memberengut, kesal sekali pada Cea yang selalu jutek padanya.


"Filmnya MAu dimulai, lebih baik kalian masuk." Ujar Pak Joe dan langsung diangguki oleh mereka bertiga.


"Masuk yuk." Ucap Cea sambil bangkit dari duduknya, lalu diikuti Killa dan Naomi.


Laura mengepalkan tangannya sambil melotot kerah ketiga cewek yang berlalu itu. Dia menghentak hentakan kakinya ke lantai karena kesal.


"Ra, pikiran kita sama gak sih?" Greta membuka suara. "Lo yakin cewek dihalte itu Naomi?" Greta tahu tentang itu karena Laura sempat bercerita.


"Gue gak yakin, mereka tampak berbeda."


"Killa, kenapa gue ngerasa kalau cewek itu Killa." Greta terlihat sangat yakin. Untuk mendukung ucapannya, Greta membuka ponselnya, dia mencari akun lambe 48 lalu melihat kembali foto itu.


"Lihat nih." Greta menge zoom foto tersebut. "Lo lihat tas yang tampak hanya separo itu. Itu tas Killa, gue yakin. Gue inget banget walaupun sekarang udah gak pernah dipakai lagi. Dan ini." Greta menunjuk gantungan tas salah satu karakter Bt21. "Lo tahukan kalau gantungan ini masih nempel ditas Killa yang sekarang. Kalo lo gak percaya, besok lihat pas dikelas."


Laura menajamkan matanya menatap layar ponsel Greta. Tangannya makin mengepal, sekarang dia sangat yakin kalau cewek itu adalah Killa.


"Sialan Killa, gue bakal hancurin dia karena berani bikin masalah sama gua." Laura segera mengambil ponsel yang berada disini sling bagnya.


"Mau ngapain lo?" Tanya Sasa.


"Gue mau telepon Kak Del. Gue butuh penjelasan dari dia."


"Begok." Sasa langsung merebut ponsel laura. "Dia gak bakal ngaku. Mending lo pastiin lebih dulu. Habis itu Pikirin cara buat ngasih pelajaran tuh cewek yang mau ngerebut cowok lo. Jangan sampai salah langkah, hingga bikin lo kehilangan Del."


"Bener banget Ra." Greta menyahuti.


Tiba tiba senyum licik terbit dibibir Laura. "Gue udah tahu caranya." Greta dan Sasa kompak menatap penasaran.


"Paan?" Greta ingin tahu.


"Dilan, gue bakal aduin ke Dilan. Dan Killa bakal habis. Semua orang bakal tahu kebusukan dia. Dia manfaatin Dilan buat ngedeketin Kak Del. Dan selanjutnya, bukan hanya Dilan yang bakal mutusin dia. Cea dan mamanya Del pasti akan benci sama dia. Cewek serakah kayak dia gak bakal dapet keduanya, entah itu Dilan, atau kak Del."


Laura seperti mendapatkan kartu As. Dia yakin bisa menghancurkan Killa.


...*******...


Setelah dari mall, mereka mengantar Naomi pulang. Cewek itu ingin mengajak Cea dan Killa mampir, tapi sayangnya Cea malah udah molor didalam mobil.


Naomi mengajak Killa keluar mobil untuk mengobrol sebentar.


"Lo beneran cinta sama Delmar?" Tanya Naomi dengan ekspresi serius. Padahal sejak tadi cewek itu tampak pecicilan, tak ada tampang serius sama sekali.


"Iya, kenapa? lo juga suka sama Kak Del?"


Naomi langsung ketawa sambil geleng geleng.


"Gak sama sekali. Dari lahir sampai gue umur 17 tahun, gak pernah gue jatuh cinta sama Del. Yang ada eneg gue sama cowok arrogant itu."


Killa tersenyum, ada perasaan lega dihatinya. Padahal tadi dia sempat berfikir kalau dirinya penyebab batalnya perjodohan Del dan Naomi.


"Gue mau ngasih sedikit masukan ke elo. Bahagia itu pilihan. Cuma elo yang bisa nentuin mau bahagia atau enggak. Kebahagian lo ada ditangan lo sendiri, bukan orang lain. Gue tahu gak mudah buat lo untuk tetep bertahan dengan Del. Gue tahu dia masih pacaran sama Laura, cewek yang tadi itu."


"Kok kamu tahu?"


"Gue masih sering liat postingan mereka berdua disosmed. Gue bisa ngerti gimana perasaan lo. Gue bahkan udah ngerasain yang lebih parah dari lo. Cowok gue sering selingkuh, dia sering tidur dengan cewek lain hanya gara gara gue gak mau tidur dengan dia. Dan cewek yang tadi, namanya Sasa, dia salah satu selingkuhan Aiden." Mata Naomi mulai berkaca kaca. Dia masih ingat saat memergoki Aiden dan Sasa yang sedang tidur berdua diapartemen cowok itu. Killa mengusap punggung Naomi untuk menenangkannya. Killa sama sekali tak menyangka jika cewek seceria kayak Naomi ternyata punya masalah yang gak kalah berat darinya.


"Bukan sekali dua kali, entah berapa kali gue mergokin dia tidur dengan cewek yang selalu berganti ganti. Awalnya gue maafin, tapi lama la gue gak kuat, gue nyerah. Tapi Aiden tetaplah Aiden, dia gak mau ngelepas gue, dia bilang cinta sama gue. Lo tahu gak apa yang dia ucapin setiap kali gue minta putus. Dia bilang Gue gak cinta sama cewek tadi, gue cuma cinta sama lo. Mereka cuma palampiasan gue, gue butuh mereka untuk memenuhi kebutuhan biologis gue. Gue sayang lo, gue gak minta itu dari lo karena lo gak mau, dan gue juga gak mau ngerusak lo."


"Dan dengan bodohnya gue selalu luluh dengan kata kata itu. Sampai akhirnya gue sadar, ada banyak cowok didunia ini, bukan hanya dia. Gua capek, gue gak mau terus terusan disakitin. Move on memang tidak mudah, tapi lebih baik daripada bertahan dengan kondisi yang terus menyakitkan."


"Gue gak nyuruh lo buat nyerah sama Del. Tapi lo juga berhak bahagia. Lo harus jadi 10 kali lebih kuat kalau ingin bersama Del. Tapi kalau lo ngerasa gak sekuat itu. Move on jalan satu satunya. Jangan terus bertahan dengan kesakitan. Jika bahagia itu ada, kenapa kita harus memilih sakit." Ujar Naomi sambil memegang kedua tangan Killa. Dia prihatin dengan nasib Killa yang lebih buruk darinya. Hamil saat maaih sekolah dan menikaj dengan pria yang tidak mencintainya.


"Makasih buat sarannya, aku bakal selalu inget kata kata kamu."


"Gue tahu gak mudah buat lo ngambil keputusan mengingat lo sedang hamil saat ini. Tapi masa depan lo masih panjang Kil. Setelah anak ini lahir, gue harap lo bisa nentuin sikap. Dan gue lebih berharap lagi, Del udah cinta sama lo saat anak kalian lahir."


Amin, itulah harapan terbesarku. Aku harap Kak Del sudah mencintaiku saat bayi ini lahir.