
"Killa, Killa bangun."
"Emmm....bentar lagi, masih ngantuk."
"Bangun Killa."
"Bentar lagi kak."
"Akilla Luna." Suara yang meninggi diikuti gebrakan dimeja.
BRAKK
Killa seketika gelagapan.
"Huuu....."Sorakan menggema menyadarkan Killa jika dia sedang ada dikelas. Tepatnya dijam pertama pelajaran biologi. Wajah Killa langsung merah padam kerena malu.
Pak Narto, guru biologi menatap garang ke arah Killa. Dia bukan guru yang galak, tapi tetap saja tak bisa terima jika muridnya tidur saat jam pelajarannya, apalagi ini masih jam pelajaran pertama, harusnya masih fresh untuk menerima pelajaran.
"Keluar dari kelas saya." Ujar Pak Narto dengan nada tegas.
"Ta, tapi pak."
"Tidak ada tapi tapian, cepat keluar dan pergi ke perpustakaan."
"Perpustakaan?" Killa mengernyit bingung.
"Iya, perpustakaan. Kamu pikir saya mengeluarkan kamu dari kelas supaya bisa leha leha atau tidur tiduran. Kamu keperpustakaan dan bereskan buku buku disana. Saya akan menghubungi petugas perpustakaan." Titah Pak Narto tanpa bisa dinego lagi.
Killa membereskan seluruh peralatan sekolahnya lalu keluar kelas. Sebelum ke perpustakaan, dia ke toilet untuk mencuci muka agar mukanya kembali segar.
Sesampainya diperpustakaan Killa segera diarahkan petugas untuk merapikan buku buku yang berantakan.
"Ngapain lo disini?" Killa terjingkat kaget saat mendengar suara Del. Benar saja, saat dia balik badan, ada Del dibelakangnya.
"Kak Del ngagetin aja." Ucap Killa sambil mengelus dadanya.
"Ngapain disini? ini masih jam pelajarankan?" Del kembali bertanya.
"Dikeluarin." Jawab Killa malu sambil menunduk.
"Astaga, hobi banget sih lo dikeluarin." Del memegang dahinya sambil geleng geleng. "Kenapa sampai dikeluarin? lupa lagi gak ngerjain PR?"
Killa menggeleng.
"Lalu?"
"Killa ketiduran dikelas."
"Hah." Del membulatkan matanya lalu tersenyum. "Sorry." Ucapnya dengan mimik bersalah.
Gimana gak ketiduran dikelas, dini hari Killa baru tidur karena diajak bergulat semalaman oleh Delmar.
Killa mengangguk lalu kembali merapikan buku buku. Baginya tak masalah, dia tak menyalahkan Del sama sekali. Toh ini sudah kewajiban dia sebagai seorang istri.
Del berjalan ke rak sebelah Killa lalu merapikan buku yang berada disana.
"Kakak ngapain?"
"Bantu lo."
"Emangnya kakak gak ada pelajaran?"
"Gue udah selesai ujian, udah tinggal Nyantai aja."
"Oh iya." Killa tersenyum lalu melanjutkan menyusun buku. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Del.
"Kapan selesainya kalau ngeliatin gue mulu. Masih kurang udah semalaman mantengin gue?" Goda Del seteangah berbisik agar tak kedengaran petugas perpustakaan.
"Apaan sih kak." Ujar Killa sambil memukul pelan lengan Del. Wajahnya memerah karena malu.
"Kenapa malah ngobrol, cepat kerjakan." Ujar Bu Vivi yang ternyata sejak tadi memperhatikan interaksi antara Del dan Killa. "Kamu ngapain disini Delmar?"
"Baca bukulah Bu, masak ngopi." Jawab Del ngasal.
"Kalau mau baca, ngapain berdiri disini? ambil buku lalu duduk disana." Bu Vivi menunjuk kearah deretan meja dan kursi yang disediakan dia perpus.
"Ambeien saya lagi kumat bu, gak bisa duduk, sakit." Ujar Del sambil memegangi pantatnya. Killa hampir saja keceplosan ketawa, untung saja dia cepat cepat membekap mulutnya sendiri.
"Alasan kamu."
"Beneran bu, cek aja kalau gak percaya."
Bu Vivi melotot lalu menghela nafas lelah. "Ya udah terserah kamu mau berdiri atau duduk. Dan kamu Killa, cepat selesaikan pekerjaan kamu. Setelah jam pelajaran Pak Narto selesai, kamu bisa kembali kekelas." Ujar Bu Vivi sambil membenarkan letak kacamatanya yang melorot lalu pergi.
"Nih." Delmar menyodorkan coklat kearah Killa.
"Gak boleh makan diperpustakaan." Lirih Killa.
"Gak boleh kalau ketahuan, kalau gak ketahuan, boleh." Bisik Del sambil membuka bungkus coklat dan langsung menyuapkannya ke mulut Killa. "Enak gak?" Ucap Del tanpa mengeluarkan suara.
Killa mengacungkan jempol sambil mengunyah coklat Dilan bungkus biru yang ada dimulutnya.
Del kemuadian ikut memakan coklat itu. Ini pertama kalinya dia mencoba coklat bungkus biru itu. Sejak dulu dia ogah hanya karena merknya Dilan.
"Gue pengen buka pabrik coklat. Masak adanya coklat Dilan aja, gak ada coklat delmar. Gua juga mau kali nama gue ada tertulis dibungkus coklat." Mereka bicara sambil berbisik bisik.
"Nama Kakak udah tertulis dihatinya Killa."
"Cie... si bucin." Goda Del sambil mengacak pelan rambut di pucuk kepala Killa.
"Kapan nama Killa tertulis dihatinya kakak?"
"Otw, kalau gak belok sama mampir ke tempat lain dulu."Godanya sambil terkekeh pelan.
"Lama dong nyampainya kalau mampir mampir dulu. Keburu udah pudar nama kakak dihatinya Killa."
"Jangan dong."
"Kenapa?"
"Pokoknya seberapa lamapun gue nyampainya. Lo mesti nungguin gue."
"Egois." Dengus Killa dan hanya ditanggapi kekehan oleh Delmar.
...*******...
Setelah jam pelajaran Pak Narto selesai. Killa kembali ke kelas. Pelajaran selanjutnya Bahasa Indonesia, Killa berharap dia tak mengantuk lagi.
"Lo kenapa sampai ketiduran tadi. Emang semalem ngapain? begadang?" Tanya Shani dengan tatapan penuh selidik. Selama menjadi teman Killa sejak SMP, dia belum pernah mendapati Killa tertidur dikelas, apalagi sampai pulas kayak tadi.
"Kamu kok gak bangunin aku sih Shan tadi?"
"Gak bangunin pala lo. Berkali kali gue bangunin. Lo cuma bangun sebentar habis itu tidur lagi. Cepek gue." Shani mendengus kesal.
"Gak jelas lo. Lagian habis ngapain sih sampai sebegitu ngantuknya?"
"Lembur sama Kak Del." Bisik Killa. Shani langsung melongo mendengarnya. Dia kemuadian menatap Killa dengan seksama. Memperhatikan apakah ada yang berbeda dengan sahabatnya itu.
"Lo Liatin apa sih Shan?" Killa merasa aneh.
"Lihat kissmark lo." Ucap Shani tanpa mengeluarkan suara.
"Emang kelihatan?" Killa seketika panik. Perasaan tadi pagi, mama mertuanya sudah membantunya menutup kissmark itu dengan foundation hingga tak terlihat.
"Gak sih." Shani geleng geleng. "Jangan bilang kalau Kak Del gak bisa buat kissmark?"
"Gak bisa."
"Beneran gak bisa?" Pekik Shani.
"Pelan dong Shan." Killa membekap mukut Shani. Untung saja Bu Livia guru BI belum masuk kelas. Killa tak ingin kena masalah lagi hari ini.
"Beneran Kak Del gak bisa bikin kissmark?"
"Gak bisa kalau cuma satu."
"Wow...itu artinya banyak dong." Shani terkekeh, sambil geleng geleng.
Tak jauh dari mereka, Laura berkali kali menatap tajam ke arah Killa sambil mencoret coret bukunya gak jelas.
"Lo kenapa sih La?" Tanya Greta yang merasa aneh saat Laura terus terusan menatap Killa. Sejak tadi Greta diam diam memperhatikan gerak gerik Laura yang terlihat sedikit aneh.
"Jam istirahat nanti, gue bakal bikin perhitungan sama Killa." Ujar Laura sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Ada apa sih sebenarnya?"
Laura menceritakan tentang semuanya pada Greta. Dia juga meminta Greta untuk membantunya kali ini.
"Kalau tadi dia dikeluarin dari kelas. Gue pastiin, setelah ini dia bakal dikeluarin dari kehidupan Kak Del." Laura menekankan kata katanya.
...******...
Bel istirahat yang ditunggu tunggu Killa akhirnya datang. Karena tadi hanya sempat sarapan sedikit, dia tak sabar ingin segera kekantin untuk mengisi perutnya.
"Kil, gue mau ngomong bentar." Ujar Laura yang datang menghampiri Killa dimejanya.
"Ada apa Ra?" Tanya Killa.
"Bisa gak kalau kita bicara berdua aja."
"Tapi aku lapar, ntar aja ya istirahat kedua." Tolak Killa.
"Sebentar aja Kil." Laura memaksa.
"Ya udah deh." Akhirnya Killa mengangguk. "Shan, pesenin aku bakso sama air meniral dulu ya. Nih uangnya, sekalian kamu juga." Killa memberikan uang seratus ribuan pada Shani.
"Ok, jangan lama lama. Ntar baksonya dingin gak enak." Shani lalu pergi keluar kelas.
Laura mengajak Killa ke dekat greenhouse. Disana memang sepi, cocok buat ngomong hal pribadi.
"Ada apa sih Ra?" Killa merasa ada yang tidak beres. Jangan jangan Laura mengetahui rahasia dia dengan Delmar.
"Gue ga mau basa basi lagi. Lo sukakan sama Kak Del?" Tannya Laura dengan tatapan tajamnya.
"Enggak kok, aku pacarnya Dilan." Killa masih menyangkal.
"Stop sok sokan polos didepan gue Kil. Gue tahu lo cuma ngedeketin Dilan buat deket sama Kak Del kan? licik." Ujar Laura sambil menarik rambut Killa kebelakang.
"Lepasin Ra, sakit." Pekik Killa sambil berusaha melepaskan tangan Laura dari dari rambutnya.
"Sakit? Sakit lo bilang?" Bukannya melepaskan, Laura malah makin menarik kuat rambut Killa.
"Lepas." Teriak Killa sambil balas menarik rambut Laura.
"Lo berani sama gue." Bentak Laura.
"Aku gak takut sama kamu."
Mereka berdua sama sama saling menjambak, hingga akhirnya Laura melepaskan jambakannya begitu pula Killa.
"Sekarang lo masih mau nyangkal kalau lo suka sama Kak Del?" Teriak Laura dengan tatapan mengerikan.
"Iya, aku suka sama Kak Del." Killa akhirnya mengaku. Seperti kata Naomi, dia harus 10 kali lebih kuat kalau memilih bersama Delmar.
PLAK
Laura menampar Killa dengan keras. "Dasar pelakor."
"Aku minta maaf jika menjadi orang ketiga dihubungan kalian. Tapi maaf, ada sebab lain yang membuat aku gak bisa ngalah sama kamu. Aku akan perjuangin Kak Del." Ujar Killa sambil memegangi pipinya yang panas.
"Kamu sudah dapat Dilan, jadi please lepasin Kak Del. Gue cinta banget sama Kak Del. Jangan ambil dia dari gue. Gue mohon, please, lepasin kak Del." Ujar Laura sambil menangis.
"Aku gak bisa, aku cinta sama Kak Del.
"Dimana perasaan lo sebagai sesama cewek. Tega lo mengambil pacar teman lo sendiri. Salah gue apa Kil sama lo? Kita teman, tapi kenapa lo nusuk gue dari belakang." Laura makin tersedu sedu.
Killa nampak bingung. Kenapa Laura tiba tiba menangis tersedu sedu. Wajahnya seperti seorang yang terdzolimi, seperti bukan Laura.
"Lo gak pantes buat Kak Del." Lirih Laura sambil mencengkeram erat lengan Killa hingga ujung kukunya menancap dilengan Killa.
"Lepas Ra." Killa menghempaskan tangan Laura kasar. Mata Killa membuka sempurna melihat Laura tersungkur ditanah. Perasaan dia tidak terlalu mendorongnya tadi, hanya berusaha melepaskan cengkeraman Laura. Tapi kenapa Laura sampai jatuh tersungkur.
"Ra, elo gak papa kan?" Killa ingin menolong Laura tapi dihempaskan oleh cewek itu.
"Jangan sentuh gue." Kata Laura sambil segera bangun.
"Aku cuma mau bantu kamu. Aku gak sengaja dorong kamu."
"Gak usaha munafik. Gue gak sudi disentuh cewek murahan kayak lo."
"Jaga omongan kamu Ra."
"Gue tahu kalau lo lasti ngerayu Kak Del dengan tubuh lo kan?"
"Stop Ra, aku gak kayak gitu."
"Dasar LonT." Ucap Laura tanpa mengeluarkan suara.
PLAK
Killa yang geram menampar Laura dengan sangat keras.
"Killa." Teriak Del yang melihat dengan mata kepalanya sendiri Killa menampar Laura.