
Sepertinya bukan hanya Aiden saja, Naomi juga mendadak gelisah mendengar nama Sasa. Untuk apa ibunya Sasa datang kemari? Aiden, sudah tentu dia tahu jawabnnya. Sedangkan Naomi, gadis itu masih sibuk menebak nebak.
"Silakan masuk tante." Bukan Aiden yang mempersilakan, melainkan Naomi. Sedangkan Aiden masih begulat dengan pikirannya sendiri.
"Silakan duduk." Ujar Naomi saat perempuan paruh baya itu sudah masuk kedalam apartemen Aiden.
"Tidak perlu, saya tidak akan lama." Sahut wanita itu sambil menatap Aiden. "Kamu yang bernama Aiden?" Tanyanya kemudian. Dia pernah melihat foto Aiden yang ada dikamar Sasa.
Aiden hanya diam, lidahnya terlalu kelu hanya untuk mengucapkan kata iya.
"Kamu pasti tahu apa tujuan saya datang. Tiga hari lagi, saya tunggu di kantor polisi tempat Sasa ditahan.
"Saya tidak akan datang." Jawab Aiden tanpa berfikir.
Naomi kebingungan, dia tak paham apa yang dia orang itu bicarakan. Dan satu lagi, Sasa ditahan, tapi kenapa? dia bahkan tak tahu apa apa.
"Saya tidak sedang memberikan kamu pilihan. Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Sampai jumpa tiga hari lagi. Siapkan mahar untuk menikahi Sasa atau siapakan diri kamu untuk menyusul anak saya mendekam dipenjara."
Deg
Jantung Naomi seperti berdetak. Pacaran dengan Aiden sungguh merepotkan kerja jantungnya. Dikit dikit, dia dibuat jantungan.
"Me, menikah?" Ucap Naomi dengan bibir bergetar. "Apa maksudnya Ay, jelasin?" Naomi menatap Aiden penuh tanya.
"Gak ada apa apa yang. Aku gak akan pernah menikah dengan siapapun kecuali kamu." Jawab Aiden sambil memegang kedua bahu Naomi.
"Kamu pacarnya?" Tanya ibunda Sasa sambil menatap Naomi. "Pacar kamu ini telah menghamili Sasa, dan dia harus tanggung jawab."
jleb
Jantung Naomi seperti dihujam belati yang sangat tajam. Sakit, sakit sekali hingga ke tulang tulang. Seketika butiran butiran bening keluar dari sudut matanya.
"Saya tidak akan pernah menikahi putri anda. Saya tidak mencintainya. Dan perlu anda tahu, kami tak ada hubungan apa apa." Aiden menjelaskan.
"Tak ada hubungan apa apa?" Ibunda Sasa tersenyum getir. "Lalu kenapa benih kamu sampai ada dirahim Sasa?" Teriak wanita itu. Sepertinya tingkat kesabarannya sudah mulai menipis.
"Karena putri anda yang tak tahu malu selalu mengejar ngejar saya. Putri anda yang menyodorkan tubuhnya pada saya. Putri anda yang merengek minta saya sentuh tanpa saya minta."
"CUKUP." Teriak ibu Sasa. Wanita itu tak kuat lagi mendengar anaknya direndahkan. Wajahnya memerah, kedua tangannya mulai mengepal menahan emosi.
"Tapi itulah kenyataannya. Jangan salahkan saya jika dia hamil. Dia begitu karena ulahnya sendiri. Dia bahkan dengan senang hati menjadi partner ranjang saya tanpa ada status apapun. Putri anda itu seorang pelacur."
PLAK.
sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aiden. Naomi sampai terjingkat kaget. Sedangkan Aiden hanya tersenyum miring sambil memegang pipinya yang panas.
"Kurang ajar sekali kamu. Tega kamu mengatakan itu setelah puas menikmati tubuh putriku."
"Asal tante tahu, bukan hanya saya yang menikmati tubuh putri anda. Bahkan kekasihnya yang bernama Miko juga sering melakukan itu dengan Sasa. Kenapa tante tidak minta dia saja yang menikahi Sasa. Miko itu pacarnya, suruh dia menikahi Sasa." Seru Aiden. Entah apa yang ada dikepala cowok itu. Sudah jelas itu bukan anak Miko, malah nyuruh Miko tanggung jawab. Kelakuannya sungguh bikin geleng geleng.
"Tapi yang dikandung Sasa anak kamu, bukan anak Miko."
"Tapi dua orang yang meniduri putri anda. Sangat tidak adil jika hanya saya yang dimintai pertanggungjawaban."
Naomi hanya mendengarkan perdebatan itu sambil menangis dan memegangi dadanya yang sakit. Dia tak tahu harus berbuat apa. Kenyataan ini terlalu menyakitkan untuknya.
"Kalau kamu tidak mau menikahi Sasa. Saya akan laporkan kamu ke polisi. Dan siap siap mendekam dipenjara." Ancam wanita itu.
"Saya lebih baik mendekam dipenjara dari pada harus menikah dengan Sasa." Aiden memang sangatlah keras kelapa.
"Apakah kamu tak punya hati nurani?" Ibunda Sasa mendorong dada Aiden dengan telunjuknya. "Apakah hati kamu tak tersentuh sedikitpun melihat apa yang menimpa Sasa saat ini? Sasa dipenjara juga sedikit banyak karena kamu. Karena kamu tak mau tanggung jawab. Dia jadi bingung, sampai dia menusuk temannya sendiri demi mendapatkan ayah untuk bayinya. Sedangkan ayah bayinya sendiri, tak mau tahu, tak punya hati nurani sedikitpun."
"Terserah tante mau bilang apa. Karena saya tidak akan pernah menikahi Sasa." Aiden tetap pada pendiriannya.
"Baiklah kalau itu keputusan kamu. Saya akan laporkan kamu ke polisi." Ibu Sasa menghapus air matanya lalu berjalan menuju pintu.
"Tunggu tante." Seru Naomi sesaat sebelum ibunda Sasa keluar. "Aiden akan tanggung jawab, jangan laporkan dia kepolisi. Dia akan datang untuk menikah dengan Sasa tiga hari lagi."
"Yang." Aiden menarik lengan Naomi agar menghadapnya. "Kenapa kamu ngomong gitu? Aku gak mau nikah sama Sasa. Aku lebih baik dipenjara." Seru Aiden sambil menatap kedua netra Naomi.
"Baiklah, saya tunggu tiga hari lagi. Tolong yakinkan pacar kamu agar mau tanggung jawab." Ibunda Sasa segera keluar dari apartemen Aiden.
Tubuh Naomi luruh ke lantai. Tangisnya pecah bersamaan dengan pulangnya ibu Sasa. Aiden ikut duduk dilantai lalu mendekap tubuh tubuh kekasihnya itu.
"Aku gak akan nikah sama siapapun kecuali kami yang. Aku gak mau, aku cuma mau kamu, cuma kamu." Ujar Aiden sambil mengetatkan pelukannya dan mencium pucuk kepala Naomi berkali kali. "Aku lebih baik dipenjara daripada menikahi Sasa."
"Apa kamu pikir, kalau kamu dipenjara, anak itu dengan otomatis bukan anak kamu?" Tanya Naomi ditengah tengah isak tangisnya. "Enggak Ay, enggak. Anak itu tetap anak kamu biarpun kamu dipenjara. Anak itu darah daging kamu. Anak itu butuh kamu. Butuh ayahnya." Ujar Naomi sambil menangkup kedua pipi Aiden dan menatap matanya.
"Tapi aku gak butuh dia, aku butuh kamu." Jawab Aiden dengan mata yang mulai berkaca kaca.
"Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Menikahlah dengan Sasa."
"Enggak yang, enggak, aku gak mau." Aiden terus menggeleng dengan air mata yang mulai turun.
"Aku mohon, menikahlah dengan Sasa. Kalau kamu tak mau melakukan demi anak itu, setidaknya, lakukan demi aku." Naomi memohon sambil menggenggam kedua tangan Aiden. Berat, ini sangat berat untuknya. Tapi dia tak ada piliha lain. Ada seorang cewek dengan janin dalam kandungannya yang lebih mengharapkan Aiden saat ini.
"Enggak yang, enggak."
"Aku gak akan mau ketemu kamu lagi jika kamu gak mau tanggung jawab. Aku benci laki laki yanng tidak bertanggung jawab. Aku benci pengecut. Dan Aidenku__" Naomi mengusap lembut wajah Aiden dengan punggung tangannya sambil terus menangis. "Aidenku adalah laki laki yang bertanggung jawab."
Aiden meraih tangan Naomi lalu menciuminya berkali kali. "Baiklah, aku akan menikahi Sasa. Tapi setelah dia melahirkan, kami akan bercerai. Dan saat waktu itu tiba, menikahlah denganku.
Naomi menggeleng. "Pernikahan bukan sebuah permainan Ay. Dan jodoh ada ditangan Tuhan. Kita saling mencintai, tapi mungkin kita tidak berjodoh."
Aiden menggeleng cepat. "Enggak yang enggak. Kamu udah janji tadi. Kamu hanya milik aku. Naomi hanya milik Aiden. Jadi kamu harus menikah denganku. Kamu harus jadi milikku yang." Aiden yang biasanya gagah pemberani, hari ini tampak sangat rapuh. Dia menangis, menangisi takdir yang membawanya menjauh dari cintanya. Tapi sekali lagi, bukan salah takdir, dia sendiri yang salah disini.
"Maaf, aku tak bisa menepati janjiku, karena kamu lebih dulu mengingkarinya. Kamu sendiri yang telah menghancurkan rencana masa depan depan kita. Kamu Ay, kamu." Naomi memukul mukul dada Aiden kemudian memeluknya erat. Karena setelah ini, mungkin dia tak akan bisa lagi memeluk Aiden.
Naomi bangkit lalu memakai hijab dan mengambil sling bagnya. Dia menghapus air mata, menghela nafas perlahan lalu menghampiri Aiden.
"Aku mencintaimu Ay, sangat mencintaimu. Menikahlah dengan Sasa." Naomi berjinjit lalu menangkup kedua pipi Aiden. Mencium bibirnya dengan lembut, sebagai tanda perpisahan mereka.
Setelah berakhirnya ciuman itu. Naomi segera melangkah menuju pintu.
"Tunggu yang." Aiden menarik pergelangan tangan Naomi. "Aku mencintaimu." Ujar cowok itu.
"Ya, aku tahu." Jawab Naomi lalu keluar dari apartemen Aiden.
Kamu tahu Ay, kamu adalah cinta pertamaku. Aiden Airlangga Kusuma, nama yang selalu aku sebut dalam setiap doaku. Nama yang selalu aku pinta agar dijadikan sebagai jodohku. Nama yang tak pernah hilang dari hatiku meski berkali kali kamu sakitin aku.
Sepertinya, aku harus mulai berhenti menyebut namamu dalam doaku. Berhenti memintamu menjadi jodohku. Karena tak mungkin, aku meminta suami orang menjadi jodohku.
Selamat tinggal Ay. Aku mencintaimu, bahkan setelah semua yang kamu lakukan padaku. Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Tapi entah berapa lama aku akan bisa melupakanmu.
UDAH UP DUA BAB NIH, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN HADIAH BUAT AUTHOR. YANG BELUM FOLLOW AUTHOR, BURUAN FOLLOW YAAAA......