
Killa segera keluar saat mendapat pesan dari Del jika cowok itu sudah menunggu didepan. Shani yang kepo mengikuti Killa hingga ke halaman.
Melihat Delmar yang memarkir motornya agak jauh dari rumah Shani, Killa segera menghampirinya.
"Lama banget sih." Omel Del yang tampak kesal.
"Maaf."
"Buruan pakai." Ucapnya sambil menyodorkan helm kearah Killa.
Tak ingin Del makin marah, Killa buru buru memakainya lalu naik atas motor. Didepan rumahnya, Shani melihat dengan tak percaya. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Killa pulang bersama Delmar.
"Gue bingung Kil, mau seneng atau sedih ngeliat lo. Lo pasti seneng akhirnya bisa deket apalagi sampai nikah sama Kak Del. Tapi lo juga pasti sedih karena hamil diluar nikah dan diusir bokap lo." Shani bermonolog..
Sesampainya dirumah, Killa segera ditarik Del masuk kedalam kamar. Tatapan cowok itu sangat mengerikan, hingga membuat Killa diselimuti hawa horor.
"Darimana aja lo?" Tanya Del dengan nada tinggi saat mereka sudah berada didalam kamar.
"Dari rumah Shani."
"Lo tadi pulang sama Fando kan?"
Killa mengangguk pelan. Tak mungkin baginya untuk berbohong, karena percuma saja, Del sudah tahu. Killa berusaha terlihat berani. Sesuai yang dikatakan Shani, dia tak boleh terlalu menunjukkan cintanya pada Delmar.
"Lo gak ada takut takutnya ya Kil jadi cewek. Masih berani lo pulang bareng dia. Lupa kalau dia pernah ngelecehin lo?" Teriak Del sambil menatap tajam ke arah Killa.
"Kakak juga pernah ngecelecih Killa, bahkan lebih parah." Jawab Killa dengan lantang, seolah sedang menantang Delmar. Padahal dalam hatinya megap megap karena takut.
"Killa." Teriak Del sangat keras, hingga membuat Killa terjingkat kaget. Dia tak menyangka jika Killa berani mengatakan itu. Rahang Del tampak mengeras, matanya mulai memerah, terlihat sekali aura bengis wajahnya.
"Apa ini?" Del manarik tangan Killa kasar saat melihat coretan angka dilengan bagian bawah dekat pergelangan tangan.
"Bukan apa apa." Killa seketika gugup , dia menarik tangannya lalu menyembunyikan di belakang tubuh.
Tapi bukan Del namanya jika diam begitu saja. Cowok itu menarik kasar tangan Killa dan melihat dengan seksama coretan di lengan bawah cewek itu.
"Nomor telepon siapa?" Tanya Del dengan tatapan mematikan dan aura horor. Killa merinding sambil meremas roknya. Dia merutuki kebodohannya karena lupa menghapus nomor telepon Fando.
"Gue tanya sekali lagi. Nomor siapa?" Teriak Del dengan sangat keras.
"Kak Fando." Jawab Killa dengan suara bergetar karena takut.
"Bangsat." Del langsung menarik Killa masuk kekamar mandi lalu menyiram tangan cewek itu. Memberinya sabun lalu menggosok dengan keras hingga tulisan itu hilang tak berbekas. Sekarang tinggal bekas kemerahan karena gosokan yang keras tadi.
"Gue Beliin lo ponsel bukan untuk menyimpan nomor Fando. Awas kalau lo berani berhubungan dengan Fando." Ancam Del sambil memegang kedua bahu Killa.
"Kenapa?"
"Kenapa lo bilang?" Del terlihat makin murka.
"Iya, apa alasannya, kenapa aku gak boleh dekat dengan Kak Fando? Kakak bisa dekat dengan Laura. Aku juga bisa dekat dengan Kak Fando." Entah dapat keberanian darimana Killa bicara seperti itu. Yang pasti, dia siap menerima semua konsekuensinya.
"Elo suka sama Fando?"
"Iya." Gumam Killa lirih sambil menunduk. Mata Del membulat sempurna, dia seakan tak percaya mendengar jawaban Killa.
"Elo suka sama Fando?" Del mengulangi lagi pertanyaannya dengan nada yang lebih ditekan.
"Iya."
BUGH
"Ahhh..... " Teriak Killa sambil menutup matanya. Tubuhnya mengalami tremor, jantungnya berdetak sangat cepat. Cewek itu sangat ketakutan karena dia pikir Del akan memukulnya.
Punggung tangan Del berdarah karena memukul dinding tepat disebelah wajah Killa. Cowok itu tak bisa menahan emosi saat Killa mengatakan menyukai Fando.
Killa merasakan perutnya keram. Tubuhnya lemas hingga merosot kebawah. Killa terduduk dilantai kamar mandi sambil menangis ketakutan. Dia tak menyangka kalau reaksi Del akan seperti ini. Sungguh, diluar dugaannya.
Del berusaha meredam emosinya. Dia menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Del membasuh tangannya yang berdarah diwastafel lalu keluar dari kamar mandi meninggalkan Killa yang masih menangis sendirian.
Semua ini gara gara ide bodoh Shani. Cewek itu menyuruh Killa pura pura suka pada Fando agar Del cemburu. Shani berani bertaruh jika Delmar menyukai Killa. Sedangkan Killa yang tak percaya, mencoba mengikuti saran Shani untuk membuat Del cemburu.
Setelah kram diperutnya mereda, Killa bangun lalu mencuci mukanya. Jantungnya masih saja bedegup kencang. Belum pernah dia melihat Delmar semarah ini.
...******...
Killa menggeliat pelan saat tidurnya terusik oleh suara barang yang jatuh. Delmar yang ingin mengambil parfum tak sengaja menyenggol parfum milik Killa hingga jatuh ke lantai dan menimbulkan dentingan keras.
Killa membuka matanya dan melihat jam dinding. Ternyata sudah pukul 8 malam. Setelah adengan Del mengamuk dikamar mandi tadi, Killa terus tidur.
"Kakak mau kemana?" Tanya Killa dengan suara serak khas bangun tidur saat melihat Del sudah terlihat rapi.
Killa segera bangun dan berjalan mendekati Del.
"Kakak marah sama Killa?"
"Menurut lo?" Tanya Delmar balik.
"Marah."
"Terus ngapain nanyak." Delmar malah nyolot.
Killa menghela nafas. Ngomong dengan Del yang berada dalam marah mode on sungguh menakutkan. Setiap di tanya, jawabnya salalu ngegas, selalu teriak hingga membuat jantungan dan telinga berdengung.
"HP lo gue sita."
"Hah." Killa melongo.
"Gue Beliin lo hp bukan buat SELINGKUH." Del menekankan kata kata selingkuh, seolah Killa menjadi satu satunya pihak bersalah. Del lupa kalau dialah yang selingkuh tiap hari.
"Ya udah terserah." Jawab Killa lemas. Nasib, punya HP mahal hanya bertahan beberapa hari, bahkan tak sampai seminggu.
"Apa sandinya?"
"Tanggal pernikahan kita."
"Tanggal berapa? gue lupa."
Killa menghela nafas lalu menjawab, "lima, bulannya dan tahunnya gak lupakan?" Sindir Killa secara halus.
Del diam saja, kalau bulannya dia tak lupa, kan masih beberapa bulan yang lalu. Kalau tahunnya sampai lupa, namanya kebangetan, karena belum ganti tahun.
"Kakak mau kemana sih?" Killa kembali bertanya.
"Ngumpul sama temen temen."
"Gak balapan liar lagi kan?"
"Kalau iya emang apa urusan lo?" Del lagi lagi nyolot.
"Please, jangan kak. Jangan bahayain diri kamu sendiri."
"Suka suka gue." Sinis Del sambil mengambil kunci motor yang ada diatas nakas.
"Kak." Killa mencekal pergelangan tangan Del. "Gak usah pakai mabuk ya, please."
"Apaan sih lo." Del menarik tangannya kasar. "Gak usah ngatur hidup gue." Bentak Del yang makin kesal.
"Killa gak mau kakak sampai kebablasan."
"Maksud lo?" Del menatap Killa garang hingga membuat Killa sedikit gemetaran.
"Killa gak mau kakak mengulangi kesalahan yang sama. Jangan sampai ada cewek lagi yang mengaku hamil dan minta pertanggungjawaban kakak. Cukup Killa saja." Entah kenapa Killa menjadi parno, takut kalau sampai Del mabuk mabukan dan berakhir dengan tanam benih lagi.
"Lo pikir gue sebejat itu?" Del yang tak terima mencengkeram erat kedua pundak Killa.
"Enggak kak." Killa menggeleng. "Bukan begitu maksud Killa. Killa hanya takut kakak melewati batas. Perasaan Killa gak tenang kak." Ujar cewek itu dengan mata mulai berkaca kaca.
"Bulshitt, gak usah sok care sama gue." Sinis Del sambil berlalu meninggalkan Killa.
Killa mengelus dadanya. Kesabaranya harus dinaikkan ke level tertinggi kalau menghadapi Del yang lagi uring uringan.
"Tunggu." Killa berlari lalu menarik tangan Del.
"Apaan sih elo Kil. Gue udah ditunggu anak anak. Jangan bawel deh lo jadi istri." Bentak Del sambil melepaskan pegangan tangan Killa.
"Perasaan Killa gak enak kak. Bisa gak sih kakak dirumah aja Malem ini."
Del tak menghiraukan Killa dan segera keluar dari kamar. Tapi Killa masih saja mengejar cowok itu.
"Kak tunggu." Killa berlari lebih cepat lalu menghadang jalan Delmar.
"Apaan lagi sih Kil, sumpah, lo ngeselin banget."
"Apapun yang akan kakak lakukan diluar sana. Cukup ingat satu hal. Ada istri dan calon anak kakak yang menunggu dirumah. Sebentar lagi kamu akan jadi ayah. Jangan sampai melakukan hal diluar batas." Killa memperingatkan.
Killa menarik tangan Del dan meletakkan diperutnya. "Ingat, sebentar lagi kamu akan jadi ayah."
"Berisik." Desis Del sambil menarik tangannya dari perut Killa lalu pergi.