
Malam ini Delmar ke rumah Killa untuk mengikuti tahlilan. Dia memakai celanan bahan warna hitam dan koko lengan pendek warna putih. Sengaja tak memakai sarung karena dia tidak bisa caranya memakai sarung. Parah bangetkan?
Killa memperhatikan dari jauh saat suaminya itu duduk bersila diantara para tamu tahlilal. Wajahnya yang memang good looking membuatnya terlihat menonjol diantara tamu yang sebagian besar adalah bapak bapak.
Senyum Killa mengembang, hatinya terasa sejuk melihat Delmar memakai koko. Bahkan aura ketampanan makin bersinar dengan baju itu. Buru buru Killa mengalihkan pandangan ke tempat lain. Bisa bisa dia beneran gagal move on kalau begini.
Seusai tahlilan, Killa menemui Del yang masih duduk lesehan diruang tamu.
"Kamu mau langsung pulang?" Tanya Killa.
"Gak boleh apa aku nginep disini?" Cowok itu balik bertanya. Bukan bertanya, lebih pada memohon.
"Banyak saudara aku yang dari jawa nginep disini. Mereka gak tahu tentang pernikahan kita. Lagian juga gak ada kamarnya. Mending kakak pulang aja." Killa menjelaskan.
"Ngusir nih?" Gerutu Del.
"Iya, maaf."
"Padahal aku tuh gak bisa jauh jauh dari kamu Bi." Manjanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Killa.
"Gak usah lebay deh." Sahut Killa sambil mendorong kepala Delmar agar menjauh dari bahunya.
"Aku udah putus sama Laura." Ujar Del dengan ekspresi datar. Tak seperti cowok yang baru putus cinta.
Killa tercengang mendengarnya. Ada rasa bahagia, tapi tak terlalu juga. Mungkin karena cintanya sudah tak sebesar dulu.
"Kamu kok diem aja sih Bi? komentar napa? Yang kritis, kayak netijen."
"Bingung aja mau komen apa?"
Huft, Delmar membuang nafas kasar. Padahal harapannya tak seperti ini. Harapannya Killa akan memeluknya dan bilang terimakasih sambil tersenyum manis. Nyatanya tanggapan Killa malah B aja.
"Emamgnya dia mau kamu putusin?"
"Ya gak mau lah. Mana ada cewek yang mau aku putusin. Aku tuh udah mengenal yang namanya pacaran sejak jaman SD. Dan satu kalipun, gak ada cewek yang mau aku putusin." Ucapnya dengan bangga. "Kecuali kamu." Lanjutnya dengan tidak bersemangat.
Killa ingin tertawa melihat ekspresi Delmar. Membuat Killa ingin sekali menggodanya.
"Kasihan banget sih yang baru putus cinta. Mana yang sakit? disini?" Killa menyentuh dada Del, "Atau disini, dihati?" Killa meletakkan telapak tangannya di perut kanan atas cowok itu. "Pastinya hatinya ya??? patah bang?" Goda Killa sambil terkekeh geli.
"Gak lucu." Seru Delmar sambil melotot dan mengcak acak rambut Killa.
"Seneng gak aku udah putus sama Laura?"
"B aja."
"Dih, gitu amat sih. Pura pura seneng napa. Bikin kesel aja." Geram Del sambil membuang nafas kasar.
"Ya udah deh aku seneng." Ujar Killa sambil tersenyum.
"Gitu dong." Jawab Del sambil menarik hidung mancung Killa. "
"Kak Del, aku bisa jadi pinokio kalau kamu tarik gini." Gerutu Killa sambil memegangi hidungnya yang terasa panas.
"Ternyata bener, aku gak cinta sama Laura. Buktinya aku gak sakit hati saat putus dari dia." Del tertawa pelan. Menyadari kebodohannya yang tak bisa membedakan antara cinta dan obsesi. Tapi kedua hal itu memang sangat sulit dibedakan.
"Aku udah gak selingkuh. Jadi kamu juga gak boleh selingkuh. Putusin Fando." Ucap Del dengan nada tegas.
Putusin Fando? emang kapan jadiannya, batin Killa.
"Gak mau." Killa sengaja mengerjai cowok itu.
"Harus mau."
"Gak boleh maksa."
"Boleh."
"Huft, capek." Lirih Killa.
"Perasaan duduk doang, kenapa capek?"
"Capek kalau harus debat sama kamu. Maunya selalu menang." Killa mengerucutkan bibirnya, membuat Del harus menahan diri. Menahan agar tak kelepasan mencium istrinya itu.
Ah, sepertinya Delmar tak sekuat itu. Cowok s*ngean itu mana kuat lihat bibirnya Killa.
Cup, sebuah kecupan singkat mendarat dibibir Killa. Membuat empunya bibir, melotot sambil mencubit pinggang Delmar. Membuat Del meringis sambil meliukkan tubuhnya agar Killa melepaskan cubitannya.
"Hem, hem."
Suara deheman membuat Killa langsung melepaskan cubitannya.
"Kayaknya ada yang lagi mojok berdua. Hati hati, orang ketiganya setan." Ucap Seorang cewek yang kira kira sepantaran dengan Killa.
"Siapa kamu Kil?" Tanya cewek itu sambil menunjuk dagu kearah Delmar. Dia adalah sepupu Killa yang bernama Ghea.
"Eemmmm.... pacar aku."Jawab Killa.
"Pacar ya." Gumam Ghea lirih. Tampak raut kecewa diwajahnya. "Aku Ghea, sepupunya Killa yang tinggal di Solo." Sapa Ghea sambil mengulurkan tangan ke arah Delmar.
"Delmar." Sahut Del sambil menjabat tangan Ghea dan buru buru melepasnya. Pasalnya mata Ghea tal berkedip saat menatap Del.
"Kamu darimana Ghe?" tanya Killa. Sengaja ingin mengalihkan tatapan mata Ghea dari Del.
"Jalan jalan disekitar sini sama Genta." Genta adalah adiknya Ghea. "Yang diluar itu pagar itu mobil kamu?" Tanya Ghea sambil menggeser duduknya mendekat ke arah Del.
"Iya." Jawab Del singkat sambil bergeser menjauhi Ghea dan merapatkan duduknya pada Killa.
"Bagus banget mobil kamu? anak orang kaya ya? ajakin aku jalan jalan dong besok. Keliling Jakarta, gitu." Pinta Ghea dengan tak tahu malunya. Justru Killa yang malu dengan tingkah Ghea.
"Gak bisa." Jawab Del tanpa basa basi.
"Kenapa?"
"Cewek gue posesif, dia cemburuan." Jawab Del sambil merangkul bahu Killa. Membuat Killa salah tingkah diperlakukan seperti itu didepan Ghea.
"Masak jalan sama sepupunya sendiri cemburu? kebangetan kamu Kil." Ejek Ghea sambil menatap sinis kearah Killa.
"Killa..." Terdengar panggilan dari ibunya yang berada didapur.
"Aku kedalam bentar ya Kak. Dipanggil ibu." Pamitnya lalu pergi kebelakang. Membuat Ghea seketika tersenyum karena dia hanya berduaan dengan Delmar sekarang.
"Udah lama sama Killa?" Tanya Ghea.
"Udah."
"Suka ya modelan kayak Killa? Gak pengen yang lebih seksi gitu. Yang lebih hot." Lirihnya dekat telinga Del dengan nada sensual. Membuat Del makin tak nyaman dekat dengan Ghea.
"Bisa gak sih ngomongnya gak usah deket deket gue?" sinis Delmar.
"Kenapa? panas ya?" Goda Ghea sambil menarik keatas satu alisnya.
"Panas?" Del menahan tawa. "Jijik gue." Sarkas Del. Cowok itu memang tak suka basa basi. Hingga kadang omongannya terkesan sangat kasar.
"Gak usah muna deh jadi cowok. Cowok itu ibarat kucing, kalau dikasih ikan asin gak bakal nolak." Ujar Ghea penuh percaya diri sambil memainkan rambutnya. Dari bahasa tubuhnya, terlihat sekali cewek itu sedang menggoda Del.
"Gue kucing persia, gak doyan ikan asin, doyanan gue salmon." Balas Del dengan senyum mengejek. Dia sangat hafal dengan gelagat cewek cewek penggoda modelan kayak Ghea.
"Sombong banget sih?"
"Gue ganteng, kaya, pinter, wajarlah sombong. Kalau jelek, miskin terus sombong, gak tahu diri namanya." Del menekankan kata katanya, seolah sedang menyindir Ghea.
Ghea tampak sangat kesal lalu pergi meninggalkan Delmar. Membuat Delmar tersenyum puas karena bisa mengusir ikan asin.
"Mana Ghea?" Tanya Killa yang baru keluar dari dapur.
"Udah minggat. Sepupu kamu ganjen banget sih Bi. Gerak geriknya dah kayak uler keket, bikin gue pengen nginjek aja." Adu Delmar.
Killa terkekeh mendengarnya. Sebenarnya dia tadi juga melihat gelagat Ghea yang seperti sedang menarik perhatian Del.
"Udah malem, cepetan pulang gih."
"Masih pengen disini."
"Udah Malem kak."
"Huft, ya udah deh." Ujar Del pasrah. "Anterin aku kedepan yuk." lanjutnya sambil beranjak dari duduk.
Killa mengantarkan Del sampai dimobil yang terparkir diluar halaman setelah cowok itu berpamitan pada mertuanya.
"Pulang sama aku aja yuk. Gak ada siapa siapa dirumah, semuanya ke Singapur. Besok pagi aku antar kesini lagi." Tawar Del sambil menggenggam tangan Killa.
"Aku pengen sama ibu dulu kak. Kasihan dia baru ditinggal ayah."
"Ya udah deh, besok aku kesini lagi. Jangan lupa jaga kesehatan. Jaga si baby juga, jangan sampai kecapekan." Pesan Del sambil mengelus perut Killa.
"Iya." Jawab Killa sambil tersenyum.
"Oh iya, nomor aku jangan diblok dong Bi."
"Iya, nanti aku buka blokirannya."
"Gitu dong. Ya udah aku pulang." Pamit Del lalu mencium kening Killa. Membuat Killa seketika menengok kiri kanan, takut ada yang melihat.