
Setelah mendudukkan Killa dikursi penumpang. Del segera memutari mobil dan masuk kemudian duduk dibagian kemudi. Cowok meletakkan tangannya diperut Killa. Sumpah demi apapun, cowok itu sangat cemas sekarang. Dia takut terjadi apa apa dengan anaknya. Apalagi saat melihat Killa yang pucat dan sedikit meringis.
"Kita kedokter ya?" Tawar cowok itu sambil meletakkan mengusap pelan perut Killa.
Killa menggeleng pelan. "Aku gak papa."
"Gak papa apanya." Teriak Del dengan emosi. "Lo tercebur ke kolam Kil. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama janin dalam kandungan lo." Del merasa frustasi saat ini. Belum pernah dia merasa sangat ketakutan seperti ini.
"Pulang, dingin." Ujar Killa pelan. Del membalikkan badannya dan mengambil tas ransel dikursi belakang. Tapi sayang, tak ada banji ganti didalamnya.
"Astaga, gue bisa gila kalau kayak gini." Gumam Del sambil mengacak acak rambutnya sendiri. "Sabar, kita cari baju ya."
Del segera menyalakan mesin dan melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Chloe. Tempat yang ingin dia tuju sekarang adalah toko baju. Terlalu jauh jika menuju rumah. Dia tak tega melihat Killa menggigil seperti ini.
Del berhenti didepan sebuah toko baju wanita. Cowok itu segera turun dan masuk kedalam toko untuk membeli pakaian.
Tak perlu waktu lama, Del kembali dengan sebuah paper bag ditangannya. Dia masuk kedalam mobil dan menyerahkannya pada Killa.
"Cepetan ganti. Disini gak jualan pakaian dalam. Jadi sementara gak usah pakai dulu."
Killa menyingkirkan jas milik Del yang menutupi tubuhnya. Jas itu ikut basah karena menempel pada tubuhnya yang basah.
"Hadap sana." Ujar Killa sambil menunjuk dagu kearah jendela.
"Astaga Kil, saat seperti ini lo masih malu malu. Lo udah menggigil kayak gitu. Gue bantuin ganti baju biar cepet." Del yang gak sabaran langsung membuka resleting gaun yang ada dipunggung Killa.
"Gak usah modus. Aku bisa sendiri." Tolak Killa sambil menyingkirkan tangan Del.
"Otak gue lagi lurus, gak ada niatan belok modusin lo."
"Tapi."
"Gak usah tapi tapian. Nolak, gue perkosa lo."
Killa langsung kicep mendengar ancamam Del. Dia akhirnya menurut saja saat Del membuka bajunya. Del memang sangat terampil dalam urusan unboxing. Buktinya dalam sekejab dia udah membuat Killa naked lalu memaikan gaun baru yang dia beli barusan.
Tak lupa Del juga membeli suiter rajut tadi. Membuat Killa merasa lebih hangat.
"Udah anget?" Tanya Del sambil membenarkan posisi sweeter rajut yang dipakai Killa.
"Lumayan."
Del mengambil kedua tangan Killa lalu menggosoknya perlahan sambil sesekali meniupnya agar hangat.
"Gimana, masih dingin? Mau gue angetin lagi?" Kayak sayur aja diangatin. Bahasamu Bang, bikin ambigu.
"Enggak, aku tahu kamu mau modus."
"Modusin istri gak dosa."
"Yang dosa itu selingkuh." Sindir Killa.
"Lo maksudnya?" Del malah menyindir balik. "Pamitnya mau ke acara sama Shani. Tahunya malah selingkuh."
"Kayak kamu enggak aja. Bilangnya cinta sama aku, tapi masih aja jalan sama Laura."
Astaga, kenapa jadi saling melemparkan tuduhan kayak gini sih. Kedua sama sama ingin menjadi yang paling bener, ogah dikatain selingkuh.
"Gue udah ngajakin lo kemarin. Tapi lo nya nolak. Kalau lo mau, gue pasti ngajak lo, bukan Laura."
"Alesan."
Del berdecak kesal. Susah sekali meyakinkan Killa kalau dia cinta sama cewek itu.
Kata kata itu yang sejak dulu sangat ingin Killa dengar. Dulu mungkin dia akan lompat lompat kegirangan saat mendengarnya. Tapi saat ini, justru membuat dia galau. Dia sudah memutuskan untuk move on. Tapi kenapa Del seolah terus mendekat padanya. Ini bisa gawat, kalau diterusin, bisa bisa dia gagal move on.
"Kok lo biasa aja dengernya? gak kasih respon apa apa gitu?" Ekspresi datar Killa sungguh diluar dugaan Del. Membuat cowok itu sibuk menerka nerka isi otak Killa.
"Terus aku harus gimana? lompat lompat, salto, atau teriak teriak gitu? Aku masih waras, belum mau dikira orang gila."
"Ya gak gitu juga Kil. Emang lo gak seneng denger gue mau putusin Laura?"
"Biasa aja."
Astaga, Del sungguh ingin meneriaki Killa saat ini. Bisa bisanya keputusan yang begitu besar dianggap biasa saja oleh Killa.
"Bukankah, sejak dulu lo pengen gue putusin Laura?"
"Iya, sejak dulu hingga beberapa hari yang lalu. Tapi sekarang, aku udah gak peduli. Pernikahan kita tinggal beberapa bulan. Jadi aku gak peduli kamu sama Laura atau gak?"
"Selamanya." Ralat Del sambil menggenggam kedua tangan Killa.
"Apanya?"
"Pernikahan kita. Gue mau pernikahan kita untuk selamanya."
Killa menarik tangannya dari genggaman Del. "Tapi aku udah gak mau. Aku ingin kita berpisah setelah anak ini lahir." Ujar Killa sambil mengelus perutnya.
"Kenapa?"
"Karena aku udah gak cinta sama kamu."
"Bohong, gue bisa lihat dimata lo. Lo masih cinta sama gue. Please, beri gue kesempatan kedua. Gue pengen memperbaiki pernikahan kita. Kita mulai dari awal. Demi dia." Del mengusap pelan perut Killa. Dia yakin, Killa masoh mencintainya. Apalagi ada anak dalam kandungan Killa. Anak itulah yang diyakini Del akan menjadi pengikat dirinya dan Killa.
"Tapi aku udah capek. Capek kamu sakitin terus."
"Gue emang gak bisa janji gak nyakitin lo lagi. Tapi gue akan berusaha untuk menjadi suami yang terbaik, buat lo dan anak kita. Gue tahu gue salah. Tapi bukankan manusia itu tempatnya salah. Tuhan aja maha pengampun, masak lo umatnya enggak sih?"
"Aku udah maafin kamu. Bahkan walaupun kamu gak minta maaf. Tapi keputusanku udah bulat. Aku mau kita pisah setelah anak ini lahir." Killa kekeh dengan pendiriannya.
"Enggak, gue gak mau."
"Terserah kamu mau atau enggak. Aku gak peduli."
"Lo gak kasihan sama anak kita?"
Killa tersenyum miring mendengar ucapan Del. "Bukankah biasanya kamu yang selalu bilang, jangan gunain anak sebagai alasan. Tapi kenapa sekarang kamu gunain anak untuk kepentingan kamu sendiri?"
Seperti menjilat ludah sendiri. Itulah yang sedang Del rasakan sekarang. Tapi biarlah, dia tak mau peduli dengan itu. Yang terpenting baginya sekarang adalah mempertahankan rumah tangganya.
"Rumah tangga kita tidak diawali dengan niat yang baik. Mungkin memang sudah sepatutnya untuk diakhiri." Ujar Killa.
Dulu lo yang berjuang untuk meluluhkan hati gue. Mungkin sekarang saatnya gue yang berjuang. gumam Del.
"Kita jalani saja dulu. Jangan bahas perpisahan lagi. Kita putuskan semuanya saat dia udah lahir." Ujar Del sambil mengelus perut Killa.
"Aku mau pulang." Lirih Killa.
"Ya udah kita pulang." Del menghidupkan mesin mobilnya lalu mengendarai pelan pelan. "Lapar gak? mau mampir beli makan?" Tawar Del.
"Enggak."
Huft, sepertinya Del harus berjuang keras demi mengambil hati Killa lagi.