
Delmar sampai di rumah Rey saat ketiga temennya sudah pada ngumpul. Tempat itu memang sudah seperti basecamp buat mereka, pasalnya Rey hanya tinggal sendiri. Orang tuanya sibuk bekerja di luar kota dan kakaknya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya.
"Udah gak marah lo sama gue?" Tanya Del pada Manu yang terlihat juga ada disana.
"Gue gak marah, cuma kesel sama lo." Jawab Manu sambil meminum minumannya. Kalau lagi kumpul gini, mereka sudah tidak bisa jauh dari yang namanya minuman keras. Barang haram yang jadi santapan mereka tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa takut jika tiba tiba malaikat maut datang menjemput.
"Njirr Udah dong, Lo gak usah mulai Del. Gue udah ngerayu Manu buat mau dateng, jadi lo gak usah bahas yang lalu lalu. Mending kita seneng seneng ngerayain hari kelulusan." Ujar Miko yang jengah jika sahabatnya berantem. Baginya, persahabatan mereka adalah segalanya.
"Kelulusan kata lo." Rey terkekeh geli. "Emang lo lulus?"
Bugh
Miko langsung menoyor kepala Rey. "Semuanya lulus begok. Sekarang nilai harian juga dipertimbangkan. Jadi Kriteria lulus bukan cuma dari hasil ujian akhir doang."
"Kata siapa?"
"Bapak gue." Kesal Miko sambil memelototi Rey.
Del mengambil minuman dan meneguknya sedikit. Hari ini dia memang sudah dapat ijin keluar dari papanya. Dengan syarat gak bikin ulah yang kelewat batas.
"Lo kenapa? perasaan ujian udah selesai, kenapa tuh muka masih kusut aja?" Tanya Miko sambil menatap Del yang terlihat banyak pikiran.
"Menurut kalian, mungkin gak sih jatuh cinta pada dua orang dalam satu waktu?" Tanya Del.
"Mungkin aja." Jawab Rey tanpa mikir, dia kan gak punya otak, mana bisa mikir.
"Lo lagi jatuh cinta?" tanya Miko.
"Maybe." Jawab Del. Dia sendiri tak yakin dengan perasaannya.
"Jangan bilang lo suka sama Naomi?" Rey menimpali. Semua teman Del tahu jika dia dijodohkan dengan Naomi.
"Ngomongin Naomi, gue jadi inget Aiden. Beberapa hari yang lalu, dia jatuh dari balkon lantai dua rumahnya." Ujar Miko.
"Mati?" Tanya Rey frontal..
"Sayangnya dia masih hidup. Orang jahat mah matinya susah, cuma patah tulang aja." Ucapan Miko mengingatkan Del pada cibiran Fando. Emang benar ya, kalau orang jahat matinya susah? teori darimana sih itu? jangan bilang dari sinetron.
"Jahat banget lo, sahabat gak mati lo bilang sayangnya. Jangan jangan lo berharap dia mati?" Rey geleng geleng.
Ya, gue harap dia mati. Biar gak ganggu gue sama Sasa lagi, batin Miko.
Sebenarnya Miko tahu persengkuhan antara Aiden dan Sasa, tapi karena cintanya pada Sasa, dia masih memaafkan cewek itu.
"Dia bukan bocah, kenapa bisa sampai jatuh dari balkon?" Tanya Manu.
"Tauk, bunuh diri kali karena diputusin Naomi. Tuh anakkan sedikit gila kalau menyangkut Naomi." Jawab Rey.
"Tunggu, tinggu. Jangan jangan Naomi mutusin Aiden gara gara lo Del. Lo beneran suka sama Naomi?" Rey mendadak menatap Del serius.
"Bacot lo. Kalau Aiden diputusin Nom, itu udah yang terbaik. Dia udah terlalu banyak nyakitin Nom. Kenapa malah lo hubung hubungin sama gue. Gue dan Nom murni sahabat, gak ada perasaan cinta diantara kami." Del sok sok an ngerti perasaan Naomi yang tersakiti. Dia lupa kalau dia dan Aiden sebelas dua belas. Istri lo tuh bang, selalu lo sakitin, pakai ngatain Aiden. Amnesia kayaknya si Del.
"Beneran bukan Naomi kan yang lo suka Del?" Miko menatap penuh tanya pada Del.
"Bukan."
"Lalu?"
"Jangan bilang kalau lo suka sama Killa?" Tebak Manu. Selamat Manu, kamu dapat hadiah piring cantik karena tebakan kamu benar.
"Sok tahu." Sahut Del tanpa mau menatap Manu.
"Gue beneran kepo, siapa sih yang lo suka selain Laura?" Sekarang ketiga temennya itu manatap Del penuh tanya. Membuat Del seakan menjadi tersangka dipersidangan yang sedang ditunggu kejujurannya.
"Kebanyakan atau lo. Yang bener cuma satu, lo serakah jadi cowok. Kalau semua mau lo embat, gue kebagian apa?" Celetuk Rey.
"Tapi mungkin aja sih." Miko manggut manggut..
"Pastiin dulu perasaan lo sebelum lo yakin itu cinta. Kadang obsesi kita sebut cinta. Kadang kasihan juga bisa kita artikan cinta."
Apa gue cuma kasihan sama Killa. Secara gua udah ngerusak dia. Udah buat masa depan dia abu abu.
Del melanjutkan minum karena kepalanya makin pusing.
"Pernah dengar gak istilah, pilihlah yang kedua jika kalian jatuh cinta pada dua orang sekaligus?" Tanya Miko.
"Kenapa yang kedua? harusnya yang pertama dong, biar dianggap setia." Tanya Rey. Pertanyaan itu juga mewakili Del. Dalam hati dia juga mempertanyakan ucapan Miko. Kenapa yang kedua?
"Karena kita tidak akan jatuh cinta pada yang kedua jika kita benar benar mencintai yang pertama."
Apa itu artinya gue gak Bener Bener mencintai Laura? Del makin gusar.
"Kalau gitu caranya, gak ada orang yang setia dong. Kanapa mesti milih yang kedua. Bayangin perasaan yang pertama. Lo kayaknya di pihak pelakor deh Mik." Cibir Rey yang gak setuju dengan teori Miko.
"Bukan dipihak pelakor begok. Intinya gini, kalau benar benar cinta, kita gak akan pernah jatuh cinta lagi. Entah itu kepelakor atau siapapun. Dan kalau sampai kita jatuh cinta lagi, perlu dipertanyakan. Apakah cinta kita udah udah mulai ambyar. Atau barang kali kita memang tak pernah mencintai yang pertama. Betul kata Manu, kita harus pastikan dulu perasaan kita. Cinta sama obsesi beda tipis."Jelas Miko.
"Elo yakin cinta sama Laura? bukan hanya obsesi. Kita semua tahu gimana lo. Sejak dulu lo selalu ingin jadi yang utama. Dan karena Laura yang paling cantik dan populer, otomatis kan lo terobsesi sama dia. Selain itu dia juga inceran cowok cowok 48 sejak dia awal masuk. Dan jiwa lo yang selalu ingin jadi yang TER itu pasti memaksa lo untuk bisa dapetin Laura. Untuk menunjukkan pada dunia jika lo pemenangnya. Jika lo yang terhebat." Begitulah kesimpulan yang ditarik oleh seorang Immanuel alias Manu.
"Bener kata Manu, gue rasa lo cuma terobsesi sama Laura. Beda kalau lo jatuh cinta sama cewek biasa saja, itu baru beneran lo jatuh cinta."Miko menimpali.
"Lo suka sama Killa?" Tanya Manu dengan tatapan yang dalam pada Delmar.
"Laura." Ujar Del saat matanya tak sengaja melihat Laura dan Sasa datang.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Cewek yang mereka bicarakan tiba tiba muncul bersama Sasa. Seperti jailangkung yang datang tak diundang.
"Umur panjang lo, dibicarain langsung nongol." Celetuk Rey yang langsung mendapat cengkeraman kuat dibahunya oleh Miko.
"Lagi ngomongin gue? ngomongin apaan?" Tanya Laura sambil mengambil tempat tepat disebelah Delmar. Mereka sedang duduk lesehan saat ini. Rey kicep saat ditatap tajam oleh ketiga temannya. Dia yang ember tak berani ngomong apa apa lagi.
"Ngomongin apaan sih Yang, kepo deh?" Tanya Laura manja sambil bergelayut dilengan Del.
"Halah biasalah cowok, yang diomongin gak jauh jauh dari cewek seksi. Apalagi mereka Inikan otaknya mesum." Ujar Del sambil menatap ketiga temannya.
"Emang lo enggak?" Balas ketiganya kompak sambil menatap Del tajam.
"Enggak separah kalian, terutama lo Rey."
"Kok lo tiba tiba kesini beb?" Tanya Miko pada Sasa yang sekarang duduk disebelahnya.
"Nemenin Laura tuh, katanya kangen sama Del." Jawab Sasa sambil menunjuk dagu kearah Laura.
"Darimana lo tahu kita ada disini?" Tanya Del oada Laura. Seingatnya dia gak bilang kalau mau kumpul di tempat Rey.
"Emmmn, Kak Rey yang bilang."
Ketiga temannya langsung menatap Rey tajam. Padahal mereka kumpul pengen seneng seneng dengan sahabat saja, bukan dengan pacar.
Rey hanya bisa nyengir gak jelas sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V
"Peace." Ucap Rey tanpa mengeluarkan kata..
"Harusnya nama lo itu Reyna, lo lebih cocok jadi cewek, ember." Kesal Miko.