
Tut tut tut
Delmar shock saat Killa memutus sambungan teleponnya. Seperti bukan Killa. Killa yang dia kenal adalah cewek bucin yang bakal selalu ada buat dia kapan dan dimanapun. Tapi yang barusan, cewek itu bahkan tanpa perasaan memutus sepihak sambungan teleponnya.
"Sebucin bucinnya cewek, kalau disakitin terus, bakalan move on."
Kata kata itu kembali terngiang dikepala Del. Tiba tiba dia merasa takut, takut jika Killa benar benar udah move on dari dia.
Del kembali menelepon Killa. Tapi kali ini, yang menjawab operator, karena telepon Killa tidak aktif. Del makin depresi, ingin rasanya dia membungkam mulut operator itu.
"Dekil, kayaknya emak lo udah gak sayang lagi sama bapak. Dia udah move on. Udah lupa sama kita. Dia seneng seneng di Malang, gak ingat kita sama sekali." Del yang lagi mabuk udah kayak orang gila ngajak ngomong si Dekil.
"Bapak kangen emak lo. Kok bisa ya? masak sih cinta? kayaknya gak mungkin deh. Bapak gak cintakan sama emak?"
"Jawab dong, jangan diem aja."
Kalau dekil ngejawab, yang ada lo malah lari terbirit birit. Tapi maklumlah, namanya juga orang lagi mabuk. Otaknya udah gak bisa mikir.
...*****...
Killa mengaduk aduk mie ayam yang ada didepannya. Pikirannya yang kacau membuatnya kehilangan selera makan. Malam ini Killa tak ingin makan diluar, dia memesan makanan online dan makan di kosan Fariz.
"Kenapa? gak enak?" Tanya Fariz yang melihat Killa tak berselera makan.
"Enak kok." Jawab Killa datar.
"Kalau enak kenapa gak dimakan? Gak usah bohong sama mas. Kamu pasti mikirin suami kamu."
Biasanya otak Killa memang terprogam otomatis untuk memikirkan Delmar. Tapi sekarang, dia tidak sedang memikirkan cowok itu. Dia memikirkan janin dalam kandungannya.
Kemarin saat kakaknya kerja, Killa pergi kerumah sakit untuk periksa kandungan. Akhir akhir ini dia sering mengalami sakit kepala. Bahkan kemarin dia merasa mual dan muntah. Padahal sebelumnya dia tak pernah mual.
"Kil, maaf kalau Mas ikut campur masalah rumah tangga kamu. Tapi kalau kamu memang tak nyaman tinggal dirumah suamimu, kammu bisa tinggal disini, bersama Mas." Ujar Fariz.
"Killa nyaman kok mas disana." Jawab Killa sambil berusaha tersenyum.
"Gak usah bohong. Mas tahu bagaimana hubungan kamu dengan suami kamu. Juga tentang suami kamu yang selingkuh itu."
Killa terkejut mendengarnya. Dia sudah menutupi rapat rapat tentang masalahnya dengan Del, tapi kenapa Fariz sampai bisa tahu..
"Darimana mas tahu?"
"Kamu gak perlu tahu dari mana. Yang pasti mas tahu semua. Jangan pernah mikir jika kamu sendiri, kamu punya Mas. Kamu bisa tinggal disini sama mas. Berhenti sekolah dulu sampai kamu melahirkan, setelah itu kamu bisa lanjut sekolah lagi. Dan masalah anak, itu terserah kamu. Mau kamu rawat sendiri atau kamu kasih ke ayahnya."
Ucapan Fariz terdengar sangat menyejukkan hati Killa. Membuatnya takagi merasa sendiri. Cewek itu menangis, bahagia karena masih ada yang menyayanginya dengan tulus.
"Kamu mau kan tinggal disini dengan mas?"
Killa tak bisa menjawab, dia bingung. Dia takut salah dalam mengambil keputusan.
...*****...
Del yang baru pulang sekolah langsung tersenyum saat melihat orang yang dia rindukan ada didepan mata. Killa duduk ditepi ranjang. Cewek itu terlihat sedang bermain main bersama Dekil.
"Kirain udah lupa sama dekil?" Ucapan Del membuat Killa menoleh. Saking asyiknya bermain dengan dekil, dia sampai tak menyadari saat Del masuk kedalam kamar.
"Kangen gak sama bapaknya dekil?" Godanya sambil berjalan kearah Killa.
"Enggak." jawabnya datar.
"Jangan bohong. Gue tahu lo kangen gue. Kelihatan tuh dimuka lo. Muka muka kangen."
Killa diam saja, cewek itu tetap pada ekspresi datarnya. Dan itu sungguh mengganggu pikiran Del. Takut, takut kalau Killa sudah benar benar move on.
"Elo beneran gak kangen gue?" Tanya Del lagi.
Killa menggeleng. Ekspresi cewek itu terlihat lain. Beda dengan Killa yang Delmar kenal selama ini.
"Ada apa?" Del memberanikan diri bertanya. Walau sebenarnya dia takut dengan jawaban yang akan keluar dari mulut Killa.
"Ceraikan Killa sekarang juga."
Jantung Delmar seperti berhenti berdetak. Kejutan dari Killa sungguh luar biasa. Hingga membuat dirinya langsung jantungan.
"Gak usah becanda, gak lucu." Del tersenyum absurd. Rasanya mustahil seorang Akilla luna meminta cerai pada Delmar Kalandra.
"Killa serius, Killa mau kita bercerai."
"Elo gak kasian sama anak lo? dia belum lahir lo udah minta cerai. Kalau emang mau lo kayak gitu, kenapa dulu minta dinikahin. Harusnya lo gak perlu datang kehidup gue. Harusnya lo gak perlu minta gue nikahin kalau ujung ujungnya lo minta cerai." Delmar mulai terlihat emosi. Bukan, bukan emosi, tapi kalut. Dia tak siap lahir batin untuk bercerai.
"Maaf, Killa udah mengambil keputusan yang salah waktu itu. Harusnya Killa gak pernah datang dikehidupan kamu." Ujar Killa dengan mata berkaca kaca.
"Jadi lo nyesel nikah sama gue?"
"Iya."
Jleb, sesakit itu rasanya. Seperti tertusuk pisau yang sangat tajam. Luka tapi tak berdarah. Dan itu lebih menyakitkan dari apapun.
"Ceraikan Killa saat ini juga. Jatuhkan talak pada Killa." Mohon cewek itu sambil menatap Del.
"Enggak, gue gak mau." Del membuang pandangannya ke arah lain. Dia tak siap menatap mata Killa yang menyiratkan perpisahan.
"Kenapa?"
"Karena gue cinta sama lo."
"Tapi Killa udah gak cinta sama kamu."
"Bohong, lo masih cinta sama gue."
"Enggak." Killa menggeleng cepat.
"Lo masih cinta sama gue." Seru Del dengan suara tinggi.
"Lepasin Killa, Killa udah gak cinta sama kamu. Ceraiin Killa sekarang juga."
"Enggak, gue gak mau. Enggak, enggak."
Del terbangun dari tidurnya dengan nafas terangah. Mimpi itu terasa begitu nyata.
Del berlari keluar kamar menuju kamar tamu. Tapi nihil, tidak ada Killa disana. Harusnya hari ini Killa sudah mulai sekolah. Karena tanggal skrosingnya sampai kemarin.
Tapi kenapa Killa belum pulang? Apakah dia tidak pulang selamamya? Apa itu artinya Killa minggat seperti yang diucapkan papa Sean? Kepala Del makin pusing memikirkan kemungkinan kemungkinan buruk.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Rain yang melihat Del mematung diambang pintu kamar tamu. Kondisinya sangat berantakan, rambut acak acakan dan lingkar mata yang menghitam..
Semalam bahkan Del tidur hampir pagi karena menunggu Killa pulang. Tapi nyatanya yang ditunggu tak kunjung pulang.
"Killa belum pulang mah?" Tanyanya dengan suara lemas.
"Belum sayang, mungkin urusannya belum selesai."
"Tapi harusnya dia udah sekolah hari ini. Masa skorsingnya udah selesai."
"Apa skrosing?" Pekik Rain yang kaget.
Del baru menyadari jika dia keceplosan..
"Apa maksud kamu? Killa diskors?"
"Iya."
Del lalu menceritakan detail penyebab Killa diskors. Rain hanya geleng geleng, dia tak yakin Killa melakukan hal itu.
"Mah, apa Killa benar benar minggat seperti yang dikatakan papa?"
"Hus, gak boleh ngomong gitu. Killa pasti pulang."
"Kalau hari ini dia gak pulang. Del bakal nyusulin dia ke Malang."