DELMAR

DELMAR
BUTUH WAKTU



"Bawa kedapur aja makanannya, mungkin Killa ada disana." Titah Del pada sekuriti yang membawa makanan itu. Ada perasaan tak temang dihatinya. Takut kalau sampai statusnya dengan Killa terbongkar


"Jadi bener Killa ada disini?" Tanya Laura penuh selidik.


"Iya, dia nungguin Dilan." Jawab Del berbohong. Kayaknya hari ini hari bohong nasional buat Del. Sejak pagi dia terus berbohong.


"Killa sering banget ya Del kesini? perasaan tiap gue kesini ada dia." Ujar Rey sambil mengernyit heran. Ya iyalah selalu ada, orang dia tinggal disini, wkwkwk.


"Oh iya kak, aku bawain tiramisu kesukaan kamu. Kita makan bareng bareng yuk." Ujar Laura sambil membuka bungkusan yang dia beli sebelum kerumah Del.


"Panggil Killa kesini napa, sekalian makan bareng bareng. Lagian dia ngapain sih didalem, kan Dilan belum pulang?" Ucap Rey sambil menyomot sepotong tiramisu yang dibawa Laura.


"Dia kayaknya bantuin mama didapur deh, biarin aja." Jawab Del.


Wajah Laura seketika berubah. Dia tak menyangka kalau Killa sedekat itu dengan mamanya Del. Sedangkan dia sama sekali tak mengenalnya. Pernah bertemu beberapa kali di Oceano cafe, tapi hanya sekedar sai hai saja. Tak pernah ada perkenalan yang mendalam.


"Bik, saya mau ke toilet, bisa ditunjukin dimana?" Tanya Laura pada Bik Siti yang kebetulan datang membawa minuman dan cemilan.


"Baik non, ayo saya antar." Jawab Bik siti sopan lalu mengajak Laura masuk kedalam.


Sebenarnya bukan toilet tujuan utama Laura. Dia ingin melihat yang dilakukan Killa bersama mamanya Del. Ada perasaan tak rela saat tahu Killa dekat dengan mamanya Del. Harusnya dia yang dekat, bukan Killa.


"Killa." Sapa Laura yang kebetulan melihat Killa berada dimeja makan sedang menikmati salad buah yang baru datang tadi.


"La, Laura." Seketika Killa menjadi gugup. Dia bahkan tak tahu jika teman Del yang datang ternyata Laura.


"Ayo non, toiletnya disana." Ujar Bik siti sambil menunjuk ke arah toilet.


"Iya bik, nanti saya kesana. Saya mau ngobrol dulu dengan teman saya."


Laura menatap Killa dari atas kebawah. Senyum meremehkan terbit dibibirnya. Bagaimana tidak, Killa hanya memakai daster rumahan bergambar bt21 dengan rambut dicepol keatas. Sangat tidak sesuai dengan dandanan seorang cewek yang main kerumah pacarnya.


"Gak ada baju lain yang lebih bagus apa? Kayak gini dandanan lo saat main ke rumah pacar?" Laura melipat kedua tangannya didada sambil geleng geleng.


"Emang kenapa? ada yang salah?"


Mendengar itu, laura segera membalikkan badan dan mendapati Dilan dan Cea sudah berdiri dibelakangnya. Mereka berdua baru pulang dari tempat bimbel.


"Gak usah ngurusin cewek gue. Gue suka sama dia bukan karena bajunya atau dandanannya. Gue suka sama dia karena hati dia sangat tulus. Hati dia bersih, gak kayak lo, RATU BULLI." Dilan menekankan kata katanya. Dia geram mendengar ucapan Laura yang terkesan merendahkan Killa.


Sejak kedatangan teman teman Delmar waktu itu, Killa menceritakan tentang kebohongan Del yang mengatakan jika dia pacar Dilan. Dan sejak saat itu, Dilan sudah tahu kalau harus berpura pura menjadi pacar Killa saat ada teman Del.


"Jangan salah paham Dil. Gue gak bulli dia, gue cuma nanya aja." Laura berkilah, seketika dia menjadi gugup. Tujuannya kesini adalah untuk mendekatkan diri dengan keluarga Delmar, buka malah cari masalah dengan adiknya.


"Kita gak budeg kali. Kita dengar sendiri lo ngehina kak Killa." Sahut Cea tak kalah garang. Cewek itu memandang Laura dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat.


"Lo kenapa sih Ce? kayaknya gak suka banget sama gue? Lo bisa baik ke Killa, kenapa sama gue enggak? gue salah apa sama lo?"


"Lo mau tahu salah lo?" Tanya Cea sambil berkacak pinggang. Tatapannya sudah seperti mau menelan Laura hidup hidup. Persis kayak mak mak yang lagi ngelabrak pelakor.


"Udah Ce, gue gak papa kok." Killa menghampiri Cea lalu menepuk pelan punggungnya. Mencoba menenangkan cewek yang sedang emosi itu. Entah apa alasan utamanya, sejak dulu Cea tak pernah menyukai Laura. Dia seperti memendam dendam kesumat pada cewek itu.


"Cewek sok kecakepan kayak dia jangan dikasih hati. Jangan dikasih panggung dirumah ini." Ujar Cea menggebu gebu, seperti para demonstran yang sedang unjuk rasa didepan gedung DPR.


"Apa maksud lo ngomong gitu? gue gak diterima dirumah lo?" Mata Laura tampak mulai berkaca kaca. Dia tak habis pikir dengan ucapan Cea barusan. Apa itu artinya dia ditolak dirumah Del?


Laura menatap sinis kearah Killa, bisa bisanya cewek itu begitu dekat dengan keluarga Del, sedangkan dirinya ditolak mentah mentah.


"Gak usah drama mau nangis segala. Lo gak ada bakat akting jadi peran protagonis. Tampang lo gak mendukung. Lo terlalu cocok jadi peran antagonis. Dasar tukang BULLI." Cerca Cea sambil menarik ujung bibirnya.


Dilan diam diam menahan tawa. Dia tak mengira adik kecilnya yang baru berusia 13th udah bisa galak melebihi guru Sejarah disekolahnya.


"Lo gak kenal gue Ce, jadi lo gak bisa ngejudge gue seenaknya gitu." Laura tak terima, dia terlihat marah.


"Ck, gak kenal lo bilang. Gue bahkan udah tahu lo sejak SD." Cea menekankan kata katanya.


"Udah Ce." Dilan menepuk bahu Cea beberapa kali. "galak banget sih, Entar lo diaduin ke Kak Del." Ujar Dilan sambil tersenyum miring. Laura makin kesal, sepertinya kedua adik Del kompak tidak menyukainya.


"Dasar pelakor." Cibir Cea sambil memutar kedua bola matanya jengah.


"PELAKOR." Cea lebih menekankan lagi ucapannya.


"Cea." Bentak Del yang tiba tiba udah nongol disana. "Bisa sopan gak lo?"


"Dia yang gak sopan duluan kak. Dia ngehina Kak Killa." Protes Cea. Dia tak terima kakaknya membela Laura. Cea membuang nafas kasar sambil mengepalkan tangannya. Rasanya dia makin benci pada Laura.


"Ayo kita kedepan Ra." Ajak Del sambil menautkan jari jarinya pada jari Laura lalu membawa cewek itu kembali ke ruang tamu.


Mata Killa tertuju pada kedua tangan yang saling bertautan. Sakit, kenapa selalu seperti ini. Sekuat tenaga Killa menahan air matanya yang ingin terjun bebas. Kenapa kalau ada Laura dirinya selalu dicampakkan. Tapi saat berdua, dirinya seolah dibutuhkan.


"Dasar nenek lampir sok kecakepan, pelakor, tukang bulli." Cea memaki maki Laura yang sudah pergi bersama Del. Tangannya kedepan dengan lima jari yang membuka seolah olah dia sedang mencakar cakar Laura.


"Apa maksud Cea kak? kenapa dia bilang aku pelakor. Aku gak ngerebut kakak dari siapa siapa. Bukankah dulu Kak Del dengan Jessica gek pernah jadian?" Disebut pelakor, pikiran Laura justru mengarah pada Jessica mantan pacar Fando. Dulu Del memang dekat dengan Jessica sebelum jadian dengan Laura.


"Jangan dipikirin, bocah itu kalau ngomong suka ngaco." Ujar Del sambil membelai rambut Laura. Mencoba menenangkan cewek itu biar gak mikir lebih jauh.


Sedangkan Rey, dia gak mau ikut campur urusan mereka. Dia malah enak enakan main game sambil makan tiramisu.


"Eh ada tamu." Ujar Rain saat baru keluar kamar bersama Sean. Kedua orang itu terlihat sangat rapi seperti mau keluar. Melihat kedua orang tua Del, Rey buru buru meletakkan kue dan memperbaiki posisi duduknya.


"Sore Om, Tante." Sapa Laura dan Rey hampir bersamaan.


Sean dan Rain hanya menanggapi dengan anggukan dan tersenyum.


"Kita kesini mau jenguk Kak Del." Ujar Laura dengan sopan sambil tersenyum.


"Kamu Rey kan?" Tanya Sean sambil menunjuk Rey. Dia masih ingat dengan wajah teman Del yang dulu sama sama keciduk polisi.


"I, iya Om." Rey seketika gugup. Dia memang sering main kerumah Del, tapi jarang sekali bertemu Sean. Jantungnya tiba tiba berdegup kencang seperti habis maraton, padahal hanya ditanya nama saja.


"Kamu juga teman sekelasnya Del?" Tanya Sean sambil menatap Laura.


"Bukan Om, saya pa___"


"Dia teman sekelas Del saat kelas XI, sekarang udah gak." Del segera memotong ucapan Laura yang mau bilang jika dia pacaranya. Seketika Laura menoleh pada Del, raut kekecewaan tampak jelas dimatanya.


"Maaf ya, om dan tante harus segera pergi, ada acara diluar. Del, jangan lupa ajak teman teman kamu makan. Mama harus menemani papa ketemu klien dari luar negeri. Baik baik dirumah." Pesan Rain dan langsung diangguki oleh Del.


"Kakak kok ngomong gitu sih? Kenapa kakak bilang Laura teman, bukan pacar?" Laura menatap Del penuh kecewa. Matanya terlihat mulai berkaca kaca.


"Gue keluar dulu ya, mau ngobrol sama Pak Joe." Rey buru buru kabur melihat situasi yang makin panas. Dia yakin seratus persen akan ada perang setelah ini.


"Gak sekarang Ra, belum saatnya." Jawab Del sambil memegang tangan Laura tapi langsung dihempas oleh cewek itu.


"Lalu kapan saatnya?" Pekik Laura tertahan. "Dilan saja berani mengenalkan Killa, lalu kenapa kakak tidak? Apa Laura gak layak jadi pacar kakak?" Tanya Laura sambil menusuk nusukkan telunjuknya ke dada Delmar.


"Bukan begitu Ra." Del menghapus air mata Laura lalu menarik cewek itu dalam dekapannya. "Maaf, tapi beri gue waktu."


"Tapi sampai kapan kak? Aku iri sama Killa. Aku iri melihat dia yang diterima dengan sangat baik dikeluarga kamu. Aku juga pengen kayak dia." Ujar Laura sambil menangis dan menggebuk pelan dada Del.


"Apa kelebihan Killa dari aku kak? Kenapa dia begitu mudah dekat dengan keluarga kamu?"


"Jangan membandingkan dirimu dengan dia. Kamu lebih segalanya."


JLEB


Killa yang mendengarnya serasa ditusuk pisau yang sangat tajam. Dadanya terasa amat sesak, hingga bernafaspun terasa susah. Ya, Killa berdiri tak jauh dari mereka, cewek itu memperhatikan Del dan Laura dari tempat yang tak terlihat oleh keduanya.


"Gue butuh waktu. Please, untuk saat ini jangan paksa gue." Ujar Del sambil menangkup kedua pipi Laura. Dia bahkan mengabaikan lengannya yang terasa perih.


"Jangan pernah tinggalin aku kak, aku sayang banget sama kamu." Ujar Laura sambil melingkarkan tangannya dipinggang Del.


"Aku juga beb." Del mendekatkan wajahnya pada Laura lalu mengecup singkat bibir cewek itu. Tapi saat Del ingin menjauh, Laura justru mengeratkan pelukannya dan mencium Del. Keduanya larut dalam ciuman mesra tanpa tahu jika ada seoranng cewek yang sedang memperhatikan mereka. Killa menangis sambil memegangi perutnya yang terasa keram.


"Jangan dilihat."


Dilan membalikkan tubuh Killa lalu membenamkan wajah cewek itu didadanya.