
Acara makan malam di rumah Killa terasa begitu kaku. Tak ada acara mengobrol, yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring. Sepertinya kehadiaran Delmar lah yang membuat suasana menjadi seperti itu.
Delmar beberapa kali menyenggol kaki Killa yang berada dibawah meja. Tatapan matanya terus mengkode Killa agar cewek itu segera bicara dengan ibunya.
"Bu." Akhirnya Killa membuka suara.
"Iya, nak." Jawab sang ibu sambil menganggat wajahnya menatap Killa.
"Em... Malam ini, boleh gak Kak Del nginep disini?"
"Enggak." Jawab Fariz dengan tegas. Membuat ibunya yang hendak buka suara jadi diam kembali.
"Kenapa?" Tanya Killa.
"Warga disini gak ada yang tahu tentang pernikahan kalian. Jadi gak usah cari masalah."
Del mengepalkan tangannya yang berada dibawah meja. Ingin sekali dia membantah ucapan Fariz. Tapi dia takut Fariz akan semakin membencinya. Dan hal itu sudah pasti merugikannya.
"Tapi Mas."
"Gak ada tapi tapian. Setelah makan malam, suruh suami kamu pulang." Ujar Fariz sambil mengaduk nasinya. Sepertinya dia enggan sekali melihat wajah Del yang saat ini duduk dihadapannya.
"Ya udah kita pulang aja kalau aku gak boleh Nginep disini." Del beranjak dari duduknya dan menarik tangan Killa agar cewek itu segera berdiri.
"Lepasin." Seru Fariz. "Gak usah maksa maksa Killa. Dia akan tinggal disini dengan gue dan ibu."
"Killa itu istri saya. Jadi ____"
"Kamu boleh nginep disini." Potong ibu Killa. Dia tak mau melihat anak dan menantunya ribut..
"Tapi Bu." Fariz tak terima.
"Sudahlah Riz. Suka tidak suka, mereka sudah menikah. Jadi kita tak bisa terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka."
Kali ini Fariz terpaksa mengalah. Walaupun dia sebenarnya tidak rela adiknya bersama cowok yang telah memperkosanya. Dan yang lebih bikin dia kesel lagi, cowok itu selingkuh saat sudah menikah dengan Killa.
Sedangkan Delmar berada diatas angin karena dibela ibu mertuanya.
"Em.... ada satu lagi bu." Ujar Killa.
"Apa nak?"
Killa tampak ragu untuk mengatakannya. Dia beberapa kali menghela nafas sambil meremas bajunya.
"Besok Killa akan pulang ke rumah saya." Jawab Del. Dia tak sabar melihat Killa yang tak buru buru bicara.
"Enggak." Tolak Fariz sambil membanting sendok dan garpunya. Killa dan ibunya sampai terjingkat kaget lalu mengelus dada.
"Tapi dia istri saya. Jadi dia harus ikut saya." Sahut Del. Dia berusaha untuk tetap bersikap sopan. Walaupun sebenarnya dia sudah sangat kesal pada Fariz.
Rahang Fariz terlihat mengeras begitu pula dengan Del. Killa dan ibunya jadi cemas. Pasalnya kedua orang itu sama sama berwatak keras.
"Lo boleh nginep disini kapanpun. Tapi Killa tetap tinggal disini."
"Enggak, saya akan tetap bawa Killa pulang besok." Ujar Del.
"Killa mau pulang mas." Cewek itu akhirnya membuka suara. Karena kalau dibiarkan Fariz dan Del bisa bisa berkelahi.
"Serahkan saja keputusannya pada Killa." Sahut sang ibu.
"Tapi Bu." Fariz tak terima.
"Killa bahagia kok Mas disana. Semua baik sama Killa. Please, ijinin Killa ikut suami Killa."
"Baiklah, kalau itu mau kamu." Fariz segera beranjak dan meninggalkan meja makan walaupun makanannya belum habis.
...******...
Del membolak balikkan tubuhnya berkali kali. Dia sama sekali tak bisa memejamkan matanya.
"Bisa diam gak sih Kak. Aku mau tidur jadi gak bisa kalau kamu gerak terus." Protes Killa yang ngantuk berat setalah olahraga ranjang. Ranjang yang sempit membuat Killa terganggu dengan pergerakan Delmar.
"Kamar kamu panas banget Bi, dah kayak neraka." Sahut Del sambil mengibas ngibaskan tangannya disekitar lehernya.
"Kayak kamu tahu aja gimana panasnya neraka." Sindir Killa.
"Kenapa sih gak pasang ac?"
"Kami bukan keluarga sultan kayak kamu. Bayar listrik mahal kalau pakai ac."
Del turun dari ranjang lalu memakai boxer nya. Cowok itu mengambil rokok dari saku celananya lalu berjalan menuju jendela.
"Mau ngapain kamu?" Tanya Killa saat Del membuka jendela.
"Ngerokok bentar." Jawabnya sambil mengambil sebatang rokok dari bungkusnya.
"Aku gak suka bau rokok."
"Makanya jendelanya aku buka biar asapnya keluar." Jawabnya sambil menyulut rokok yang terselip diantara bibirnya.
"Gitu banget sih Bi. Padahal sekarang udah pengen lagi loh."
"Ya udah kalau gitu matiin rokoknya."
"Nanggung, tunggu ini habis dulu." Jawab Del sambil mengangkat rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan tengahnya.
"Nanggung kalau cuma habis sebatang, sekalian aja habisin satu pack." Sindir Killa.
"Jangan marah gitu dong. Ya udah gak ngisep rokok lagi." Ujar Del sambil mematikan rokoknya. "Tapi 9.9 sampai pagi ya." Goda Del sambil berjalan mendekati Killa.
"9.9 ??? apaan? Belanja online?" Killa tak paham dengan istilah itu.
"Sembilan sembilan Bi."
"Iya apaan aku gak ngerti."
"Bahasa inggris."
"Nine Nine." Killa berusaha mencerna, hingga akhirnya dia paham. " ***** maksud kamu?"
Delmar mengangguk sambil terkekeh.
"Ogah, bisa lecet kalau sampai pagi." Tolak Killa.
"Mau ya, mau ya." Rengek cowok tak tahu diri itu sambil buru buru mengenakan bajunya.
"Mau kemana kamu?" Tanya Killa yang melihat Delmar memakai pakaiannya.
"Dih, takut banget aku tinggalin." Jawab Del sambil tertawa ringan. " Ke kamar mandi sebentar, gosok gigi dulu biar ilang bau rokoknya. Katanya kamu gak suka."
"Hm."
"Tungguin jangan tidur dulu." Delmar buru buru keluar kamar. Selain karena panas, letak kamar mandi yang berada diluar kamar juga menjadi alasan Del tak betah di rumah Killa.
...******...
Killa kaget saat Pak Joe menjemputnya sepulang sekolah. Padahal tadi pagi saat mengantar, Del bilang akan menjemputnya dan mengajaknya pulang.
"Kak Del mana pak?" Tanya Killa.
"Gak tahu non, dia cuma nyuruh saya buat jemput non Killa." Jawab Pak Joe.
"Oh... " Terlihat sekali raut kecewa diwajah Killa.
Dalam perjalanan pulang, Killa mencoba menelepon Del, tapi ponsel cowok itu tidak aktif. Lalu Killa mengirim pesan, agar saat ponsel cowok itu aktif, pesannya bisa langsung masuk.
Sesampainya dirumah, Killa segera berkemas agar saat Del menjemputnya nanti, dia sudah siap.
Tapi sampai habis magrib, Del tak kunjung datang. Ponselnya juga masih belum aktif. Sampai Killa cemas dibuatnya.
"Suami kamu belum datang nak?" Tanya sang ibu pada Killa yang sedang mondar mandir diteras.
"Belum bu." Jawab Killa.
"Udah coba kamu hubungi?"
"Ponselnya gak aktif."
"Coba aja telepon mamanya atau adiknya."
"Udah bu, tapi kata adiknya, kak Del gak ada dirumah sejak siang tadi. Killa cemas bu, takut terjadi apa apa sama dia."
"Paling dia udah berubah pikiran. Gak jadi ngajak kamu pulang. Oleng kali dia lihat cewek yang lebih cantik." Cerocos Fariz yang entah sejak kapan mendengarkan percakapan Killa dan ibunya.
"Killa yakin dia gak gitu." Sangkal Killa.
"Gak gitu gimana. Selama ini aja dia selingkuh terus."
"Sekarang dia udah gak selingkuh lagi kok."
"Dan kamu percaya?" Fariz tersenyum meremehkan. "Jangan mudah percaya sama cowok kayak dia." Fariz terus menjelekkan Delmar.
Mata Killa mulai berkaca kaca. Berbagai prasangka buruk mulai hinggap dikepalanya. Benarkah Delmar telah oleng???
Enggak, gak mungkin. Killa berusaha menepis prasangka itu. Tak baik menuduh suaminya sendiri yang tidak tidak.
Sampai jam sepuluh lebih Killa masih menunggu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang.
"Sayang, mending kamu tidur aja. Mungkin suami kamu jemput besok. Bumil gak baik begadang."
"Killa masih mau nunggu kak Del. Dia udah janji ngajak Killa pulang hari ini Bu."
"Nungguin dikamar aja ya. Disini dingin, banyak nyamuk." Ujar sang ibu sambil membelai rambut Killa penuh kasih sayang.
"Baiklah bu." Killa menurut dan segera masuk kamar.
Kamu kemana sih kak? Tadi pagi kamu bilang mau jemput aku pulang. Tapi kenapa kamu gak datang. Jangan bikin aku kecewa lagi sama kamu. Gumam Killa sambil menangis didalam kamarnya.