DELMAR

DELMAR
SENDIRI



Killa pov


Aku keluar dari kamar Kak Del dengan perasaan hancur. Bayangkan, dia bilang secara langsung kalau hanya mau tubuhku bukan aku. Aku hanya dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja, kasarnya, aku hanya sebagai pemuas naffsu.


Aku duduk dilantai kamar tamu. Jangan kalian kira aku sedang menangis. Enggak, bahkan air mata pergi meninggalkanku. Mungkin dia sudah bosan, sudah bosan terus terusan aku buang untuk menangisi seseorang yang sama sekali gak mengharapkanku, gak menghargaiku dan hanya bisa menyakitiku.


Aku tak punya siapa siapa hanya untuk sekedar memberiku makan atau menampungku. Orang tuaku sendiri saja sudah membuangku. Hanya keluarga ini yang mau menerimaku, memberiku makan dan membiayai sekolahku.


Seberat apapun dirumah ini, aku akan tetap bertahan. Demi apa? tentu demi anakku. Dia ada karena kesalahan, tapi dia tidak salah. Dan aku berjanji akan memberinya kehidupan yang layak. Aku yakin, dirumah ini, bersama keluarga ayahnya, dia akan mendapatkan kehidupan yang layak dan kasih sayang yang berlimpah.


Semua yang tinggal dirumah ini adalah orang baik. Aku yakin mereka semua tulus. Bahkan Kak Del sekalipun, dia orang baik, walau selalu menyakitiku. Bukan salah dia, aku yang salah karena menempatkan diriku pada tempat yang menyakitkan.


Dia sudah memperingatkan aku agar tak mencintainya. Tapi aku terlalu percaya diri, terlalu yakin jika suatu saat dia bisa jatuh cinta padaku. Aku terlalu sombong karena merasa kuat, bisa menahan semua luka. Nyatanya aku tak sekuat itu.


Kepalaku tiba tiba terasa sangat sakit. Rasanya sangat berat. Semoga saja hanya sakit kepala biasa, tak ada sangkut pautnya dengan janin dalam kandunganku. Walaupun dokter pernah bilang, jika sangat rawan hamil diusia sangat muda sepertiku.


Aku beranjak menuju ranjang. Berharap dengam tidur, sakit ini akan hilang dengan sendirinya.


...*******...


Pagi ini, aku dilema antara sekolah atau bolos. Aku yakin jika sekolah, pasti banyak yang membullyku. Tapi kalau aku bolos, akan sampai kapan? apa yang harus kukatakan pada mama jika dia bertanya kenapa aku bolos?


Ah, daripada bingung mencari alasan, lebih baik sekolah saja. Kalaupun hari ini membolos, besok saat masuk, tetap aja aku di hujat satu sekolah.


Aku berjalan cepat menuju kelas. Berusaha menulikan telinga, walaupun tetap saja aku bisa dengar gunjingan mereka. Karena mereka bukan berbisik, melainkan koar koar. Membullyku secara langsung dan terang terangan.


"Kil, lo baik baik aja kan?" Tanya Shani. Sabahabatku itu terlihat cemas. Dan itu sudah membuatku tersenyum, setidaknya masih ada yang care padaku. Tulus, bukan dibuat buat.


"Aku gak papa kok Shan." Tentu saja bohong, karena sejujurnya, aku tidak baik baik saja.


Aku melihat ke arah Laura. Beberapa siswa tampak mengerumuninya. Sepertinya dia mendapatkan banyak simpati dan dukungan. Aku bisa mendegar semua yang mereka ucapkan.


Saat Pak Bara, guru matematika masuk. Semuanya kembali ketempat masing masing. Sedikit membuatku lega karena tak perlu lagi mendengar suara suara yang memojokkanku.


Saat Pak Bara menjelaskan, seorang guru Bk datang. Dia memanggil aku dan Laura ke ruang guru. Aku merasakan firasat yang buruk.


Saat aku masuk, ada kepala sekolah, Bu Dea, wali kelasku. Guru Bk dan seorang wanita paruh baya yang cantik.


"Laura, duduk sini sayang." Wanita yang tak kukenal itu menepuk sofa disebelahnya.


"Iya ma." Astaga, ternyata dia mamanya Laura. Pantas saja wajah mereka tampak mirip.


"Killa, silakan duduk." Bu Asti guru Bk menyuruhku duduk.


"Saya sudah memanggil orang tuamu kemari. Mungkin sebentar lagi mereka datang." Ujar Pak kepsek.


"Sepertinya orang tuanya tidak datang." Ujar mama Laura setelah hampir setengah jam kami menunggu. "Sebaiknya kita mulai saja pembicaraan ini." Lanjutnya.


"Baik Bu." Jawab Bu Asti.


"Killa, kamu pasti tahu alasan kenapa kamu dipanggil kemari. Mengenai vidio itu, kami semua sudah melihatnya. Dan tindakan kamu pada Laura, sangat tidak dibenarkan." Jelas Bu Asti.


"Vidio itu editan Bu, kejadian sebenarnya tidak seperti itu." Aku membela diri.


"Bohong Bu, Pak. Kejadiannya memang seperti itu. Killa menampar saya dan mendorong saya hingga jatuh. Bahkan Kak Delmar melihat sendiri kejadiannya."


"Benar saya menamparnya, tapi dia lebih dulu menampar saya." Aku masih berusaha membela diri.


"Itukan Pak, dia mengaku menampar Laura." Mama Laura berdiri dan menatapku tajam. Seolah olah ingin menghajarku sebagai perwujudan balas dendam.


"Tapi dia dulu yang menampar saya."


"Gak ada bukti Laura menampar kamu. Itu swmua jelas cuma akal akalan kamu biar tidak disalahkan. Kamu jangan mencoba mencoba mencari pembenaran. Kamu jelas salah disini." Mama Laura terlihat makin marah.


"Sabar Bu." Bu Dea mencoba membuat situasi tak semakin panas.


"Pak Kepala sekolah, di vidio itu suda jelas bagaimana kejadiannya. Dan saya minta, Killa dikeluarkan dari sekolah ini." Ucapan mama Laura membuat mataku membulat sempurna.


"Semua bisa dibicarakan baik baik Bu. Masalah ini sebaiknya diselesaikan dengan jalur kekeluargaan." Kata Bu Dea.


"Kekeluargaan? bahkan keluarganya tidak datang. Sepertinya mereka tidak merasa bersalah dengan kelakuan anak mereka." Ucapan mama Laura mengingatkanku jika aku benar benar sendiri saat ini. Keluarga? mana keluargaku? aku bahkan tak punya keluarga. Ya, semenyedihkan itu nasibku.


"Killa, bisa hubungi ayah atau ibu kamu. Suruh mereka segera datang." Pak Kepsek memerintahku.


Aku mengangguk, lalu pura pura telepon. Ya hanya pura pura, karena nomorku sudah diblok oleh ayah maupun ibu.


"Gak diangkat Pak." Bohongku.


"Sudahlah Pak, lebih baik Keluarkan dia dari sekolah ini. Kalau tidak, saya akan melaporkan kasus ini ke polisi."


Aku makin shock mendengar kata polisi. Nasibku sudah menyedihkan. Dan aku tak. mau berakhir dipenjara. Aku gemetaran, aku takut.


"Tolong jangan bawa bawa polisi Bu. Saya tidak mau masalah ini sampai diselesaikan diluar sekolah." Kata Pak Kepsek. Dia jelas saja tak mau citra sekolah menjadi buruk jika kasus ini makin diperpanjang hingga ke polisi.


"Maaf saya terlambat."


Aku menoleh saat mendengar suara yang sangat familiar. Seseorang yang aku rindukan, berdiri diambang pintu dengan senyuman yang mampu menghilangkan 50 persen ketakutanku saat ini.