
Setelah memborong banyak makanan dan minuman, mereka berempat duduk dibawah payung besar dengan meja bundar ditengahnya.
"Cantik banget, sayang mau makan." Killa menatap nanar eskrim ditangannya. Tak tega mau memakan es krim berbentuk bunga mawar yang sedang viral itu.
"Cepetan dimakan, keburu meleleh." Ujar Delmar yang mulai kesal. Dia rela panas panasan ngantri es krim itu, eh sekarang bukannya dimakan, malah cuma dipantengin doang.
"Sayang." Ucap Killa
"Kamu gak sayang sama aku yang udah ngantri panjang, panas panasan?" Kesal Del
"Maaf." Ujar Killa sambil memeluk pinggang Del dengan satu tangannya. " Ya udah aku makan." Setelah menghela nafas berat, dengan sangat terpaksa Killa memasukkan es krim itu kedalam mulutnya.
"Emm.... enak banget kak, nih cobain." Killa menyodorkan es krim cone bentuk mawar itu kedepan mulut Del dan langsung dicomot oleh cowok itu.
"Iya, enak banget." Sahut Del sambil mencomot lagi.
Naomi yang melihatnya jadi ikut kepengen. Nyesel dia tadi gak ikutan beli.
"Ngincip dong." Ujar Naomi.
"Jangan." Seru Aiden. "Bekasan Del mau kamu comot juga. Gak rela aku yang, kamu ngincipin bekas bibirnya Del. Aku beliin aja kalau kamu pengen." Tawarnya.
"Gak usah deh Ay, antrinya panjang banget, ntar kamu kepanasan."
"Demi kamu, kepanasan gak ada artinya buat aku. Lupa kamu, kalau bunuh diri aja aku rela demi kamu."
Delmar memutar kedua bola matanya malas mendengar gombalan Aiden. Tapi bukan gombalan juga sih, emang nyatanya dia rela bunuh kok.
"Kamu itu Ay, bunuh diri kok jadi jadi hobi. Dikit dikit mau bunuh diri. Gak sayang sama nyawa?" Omel Naomi.
"Enggak, aku kan sayangnya sama kamu doang." Jawab Aiden sambil menarik gemas kedua pipi Naomi.
"Bo'ong tuh Nom." Celetuk Delmar sambil menyebikkan bibirnya.
"Jangan dengerin dia yang. Del mah iri sama aku. Karena kamu lebih milih aku daripada dia." Ledek Aiden sambil melirik sinis kearah Delmar.
"Dih iri katanya aku Bi." Ucap Del sambil menatap Killa. "Kalaupun Nom pilih gue, guenya yang gak mau."
"Ya udah gue beliin dulu ya Yang." Aiden ingin beranjak tapi ditahan oleh Nom.
"Gak usah Ay, udah banyak banget nih makanannya. Entar gak habis malah mubadzir." Seru Naomi. "Duduk aja, aku suapin mochi mau ya?"
"Hm." Jawab Aiden sambil duduk kembali dan membuka mulutnya saat Naomi menyodorkan mochi kearahnya.
"Enakkan, manisnya pas." Ujar Naomi.
"Enak karena disuapin kamu. Kalau enggak mah aku gak doyan makan ginian." Jawab Aiden sambil memainkan jari jari tangan kiri Naomi.
"Kamu mau apa lagi Bi, mumpung masih disini? Jangan sampai ada yang gak keturutan, ntar anak kita ngiler." Ucap Delmar sambil mengusap lembut perut Killa.
"Ini aja udah banyak banget kak. Entah bisa ngabisin atau enggak." Jawab Killa sambil makan kentang ulir yang berukuran sangat panjang.
"Yang, kamu kayak gitu juga dong." Ujar Aiden sambil menunjuk dagu kearah Killa..
"Gitu juga gimana?" Naomi tak paham.
"Hamil, biar cepet bisa aku nikahin."
Pletak
"Sakit yang." Aiden meringis sambil mengusap dahinya yang habis disentil Naomi.
"Habisnya, kalau ngomong sembarang."
"Nom, anterin gue ke toilet yuk." Ajak Killa sambil menatap Naomi.
"Yuk, gue juga kebelet." Jawab Naomi sambil beranjak dari duduknya.
Setelah keduanya pergi, kini tinggal Delmar dan Aiden ditempat itu. Mumpung tinggal berdua, Aiden mengeluarkan rokok dan segera menyulutnya, begitu pula dengan Del. Sepertinya kedua cowok itu sudah sejak tadi menahan hasrat menghisap candunya itu.
"Lo masih berhubungan dengan Sasa?" Tanya Delmar sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"Enggak." Jawab Aiden santai.
"Baguslah, gue kasian aja sama Nom kalau lo masih terus terusan selingkuh."
"Njirr... gue selingkuh?" Aiden menunjuk dirinya sendiri. "Gue gak pernah selingkuh kali Del, gue cuma ons sama cewek buat nyalurin hasrat gue doang, gak lebih. Gak ada cinta atau perasaan apapun sama lont lonT itu." Ujar Aiden tanpa rasa bersalah. Selama ini, dia gak pernah ngerasa menduakan Naomi, karena dihatinya hanya ada nama cewek itu. Memang dasar cowok gila.
"Mungkin menurut lo itu hanya ons biasa. Tapi bagi Nom, itu udah dalam ranah selingkuh Den. Cewek mana yang gak sakit hati kalau cowoknya tidur dengan cewek lain?"
"Kadang, gue kepikiran pengen memperkosa Nom biar dia hamil terus gue nikahin. Kayak cara lo."
"Busyet gue gak kayak gitu kali." Sangkal Delmar.
"Halah, gue udah tahu semua."
Sialan, pasti Nom Nom ember itu yang cerita.
"Tapi balik lagi, gue gak tega ngerusak dia. Dia terlalu berharga buat gue. Jangankan memperkosa dia, ngeliat dia digigit semut aja, udah pangen gue mutilasi tuh semut."
"Sadis lo."
"Eh Del lihat tuh." Aiden menunjuk ke arah antrian didepan penjual rujak manis. "Itu bukannya cewek lo?"
Delmar memicingkan matanya ke arah yang ditunjuk Aiden. Dan seketika, matanya menangkap sesosok cewek yang pernah ada dihatinya, yaitu Laura.
"Dasar begok, mantan bukan pacar." Ralat Delmar.
"Lucu, bini lo yang hamil, tapi mantan lo yang beli rujak mangga. Ada ikatan batin kali ya." Ujar Aiden sambil terkekeh.
"Emang cuma wanita hamil aja boleh beli rujak. Tuh ada emak emak juga bali. Pikiran lo aja yang terlalu mengait ngaitkan." Delmar menanggapi dengan santai.
"Masak sih?" Aiden menyeringai.
"Ada Sasa Bro." Seru Delmar sambil menepuk pundak Aiden.
Huk huk huk
Aiden yang sedang meneguk minuman cup langsung kesedak. Matanya nyalang mencari sosok yang baru disebut Delmar.
"Becanda, tegang banget muka lo pas gue nyebut nama Sasa." Ledek Del sambil terkekeh geli.
"Anj*ng lo, gak lucu tau." Kesal Aiden sambil membuang puntung rokok lalu menginjaknya sadis.
Mendengar nama Sasa membuat emosinya tiba tiba tersulut.
...******...
Hari ini hari terakhir ujian, itu artinya, hari terakhir pula bagi Killa bersekolah umum. Karena selanjutnya dia akan home schooling.
"Kil, gue pasti kangen banget deh entar sama lo." Tutur Shani sambil merangkul pundak Killa yang duduk disebelahnya.
"Ya kalo kangen main ke rumahku Shan. Gitu aja kok repot."
"Emang dibolehin ama mertua lo. Gue sering ngeri deh Kill kalau ngebayangin tinggal sama mertua. Mertuakan rata rata jahat, nyinyir, julid, ngeri deh pokoknya." Shani bergidik membayangkan.
"Mertua aku gak kayak gitu. Mama Rain itu baik, cantik dan pokoknya mertua idaman banget deh." Jawab Killa.
"Masak sih Kil?"
"Makanya main kerumah Kak Del, biar aku kenalin sama mama."
"Kapan kapan deh aku main." Jawab Shani dengan antusias. "Oh iya Kil, lo denger gosip tentang Laura gak sih?" Bisik Shani sambil melirik ke arah Laura.
"Gosip apaan?"
"Ada yang mergokin Laura muntah muntah Ditoilet. Kayaknya dia hamil deh. Lo nyadar gak sih, kalau sekarang dia itu pendiem, murung gak kayak dulu yang petakilan dan suka tebar pesona."
"Muntah belum tentu hamil. Kali aja dia masuk angin. Aku aja gak pernah muntah muntah walau hamil." Killa mencoba Perpikir positif.
"Lo yakin dia masuk angin? kok gue yakinnya doa hamil ya."
"Sok tahu." Celetuk Killa.
Berbagai macam pikiran mulai meracuni otak Killa gara gara omongan Shani. Apa benar Laura hamil? Kalau memang benar, anak siapa? Bukankah cowok terakhir Laura adalah Delmar. Jangan jangan anak Delmar?
Killa seketika merasakan kepalanya berat. Mungkin tekanan darahnya naik gara gara overthinking.
"Lo kenapa Kil?" Shani melihat wajah Killa yang pucat.
"Kepala aku pusing banget Shan."
"Aku anter ke UKS ya?"
"Enggak, bentar lagi ujian terakhir dimulai. Aku chat Kak Del aja biar jemput aku. Aku kerjain cepet setelah itu pulang duluan." Jawab Killa sambil memijit mijit keningnya.