DELMAR

DELMAR
BERBAGI SUAMI



Sudah satu minggu Delmar ditahan. Dan itu membuat Killa makin hancur. Dia kangen cowok itu, kangen suami yang begitu dia cintai.


Killa memperhatikan beberapa lingerie yang tergeletak diranjangnya. Itu adalah hadiah dari Del. Ya, paket hari itu berisi lingerie. Del dengan otak mesumnya sengaja membelikan berbagai macam model dan warna lingerie untuk Killa. Untuk babymoon mereka di puncak.


Lingerie tak beruntung itu tak berlabuh di badan Killa, justru berakhir sebagai lap air mata. Karena Killa tak bisa berhenti menangis sejak Del ditahan.


"Kak, makan yuk." Ajak Cea yang baru masuk kekamar Killa.


"Gak lapar." Jawab Killa sambil menggeleng pelan.


"Kasihan debaynya kalau kakak gak makan. Kak Del pasti juga gak mau kalau anaknya kelaparan. Makan ya kak." Bujuk Cea.


Killa membenarkan ucapan Cea. Delmar pasti tak ingin sampai terjadi sesuatu pada anaknya. Dengan berat, Killa mengangguk lalu ikut Cea turun kebawah.


"Sayang, makan yuk. Mama sudah nyuruh Bik Siti bikinin chicken katsu kesukaan kamu." Ujar Rain sambil menarik kursi untuk Killa.


"Makasih mah." Ucap Killa. Sebenarnya dia sama sekali tak ***** makan. Tapi dia tak boleh egois, janin dalam kandungannya butuh makan.


Melihat apel dimeja makan mengingatkan Killa pada Del. Pada kesukaan cowok itu. Membuat pipi Killa yang baru mengering beberapa menit kembali basah.


"Kak Killa." Cea menggenggam tangan kiri Killa yang berada diatas meja. "Jangan nangis terus ya, kasian debay, dia pasti ikut sedih."


Killa mengangguk, tapi air matanya sama sekali tak mau berhenti. Terus dan terus mengalir.


Rain mengalihkan pandangannya kerah lain. Dia tak sanggup menatap Killa. Hatinya hancur, dia bisa membayangkan perasaan Killa. Cewek itu hamil besar, tapi suaminya malah mendekam ditahanan.


"Gimana kabar Laura mah? Ini sudah satu minggu, apa dia masih belum sadar juga?" Tanya Killa. Hampir setiap hari dia bertanya pada Sean apakah Laura sudah sadar, dan jawabannya selalu sama, belum dan belum.


"Laura sudah sadar sayang."


"Benarkah?" Wajah Killa seketika berubah, binar kebahagiaan mulai terbit. "Apa Laura udah bilang siapa yang nusuk dia? kapan Kak Del bebas mah?" Killa tampak antusias..


"Hmmm.. "Rain bingung harus menjawab. "Laura masih belum bisa ditanyai sayang. Kondisinya masih belum stabil. Sabar ya, Del pasti segera bebas."


Senyum Killa pudar mendengarnya. Sabar, sampai kapan dia harus sabar. Satu minggu saja usah terasa bagai setahun lamanya. Dia tak bisa lagi menahan rindunya pada Del..


"Mah, besok Killa boleh kan jenguk Kak Del?"


"Iya sayang, besok kita kesana." Jawab Rain sambil mengangguk. Sebenarnya setiap hari Killa merengek ingin menjenguk Del, tapi Rain selalu mencegah karena kondisi Killa tidak fit. Kaki cewek itu makin bengkak, bahkan tangan dan wajahnya juga sedikit mengalami bengkak.


...*****...


Killa dan Manu berjalan menyusui lorong rumah sakit. Mereka sedang menuju tempat Laura dirawat.


Killa yakin ada yang disembunyikan mertuanya. Tak ingin terus bertanya tanya, dia menghubungi Manu dan meminta cowok itu mengantarkannya menemui Laura.


Jantung Killa berdegup kencang saat berada didepan pintu ruang rawat Laura. Takut, gelisah semuanya bercampur menjadi satu.


"Lo yakin mau masuk?" Tanya Manu saat melihat keraguan diwajah Killa.


"Hm." Jawab Killa sambil mengangguk. Masalah ini tak bisa ditunda lagi, harus segera selesai agar Delmar bisa bebas.


Ceklek


Killa melihat Laura yang sedang duduk diatas brankar sambil disuapi oleh mamanya. Untuk beberapa saat, keduanya, Killa dan Laura saling menatap. Bergeming dan sibuk dengan pikirannya masing masing.


"Siang tante, Ra." Sapaan Manu membuyarkan lamunan Killa dan juga Laura.


"Silakan masuk? ada kepentingan apa?" Tanya mama Laura. Wanita itu sepertinya lupa dengan wajah Killa. Cewek yang dulu pernah bertemu dengannya diruang guru. Mungkin karena sekarang perut Killa besar dan juga wajahnya sedikit bengkak.


"Kami ingin menjenguk Laura tante." Jawab Manu sambil menarik lengan Killa menuju Laura dan mamanya..


"Apa kabar Ra?" Tanya Killa.


"Seperti yang lo lihat." Jawab Laura datar.


"Mah, bisa minta tolong belikan cake kesukaan Laura. Mumpung ada teman teman Laura, jadi Laura gak sendirian." Pinta Laura.


"Baiklah, kalau begitu mama pergi dulu. Nitip jaga Laura ya." Ujar mama Laura sambil menepuk bahu Manu.


"Iya tante." Jawab Manu sambil mengangguk.


"Ada keperluan apa kalian kesini?" Tanya Laura sinis.


"Aku pikir, kondisimu sudah sangat baik. Jadi tak ada masalah jika kamu memberikan keterangan yang sebenarnya kepada polisi." Tutur Killa.


Laura mengernyit bingung. "Maksud lo?"


"Segera beri keterangan pada polisi agar Kak Del bisa bebas." Killa menjelaskan..


Laura tersenyum meremehkan sambil menetap Killa. "Sepertinya lo gak tahu apa apa? Gue usah ngasih keterangan pada polisi. Bahkan sudah beberapa hari yang lalu."


Mata Killa membulat sempurna. Jika memang sudah, kenapa Del belum bebas? Apa yang sebenarnya terjadi. Jadi benar, mertuanya menutupi sesuatu darinya.


"Tapi kenapa Delmar belum bebas?" Tanya Manu.


"Karena Kak Del yang telah nusuk gue."


"Bohong." Teriak Killa. "Kak Del tidak melakukan itu.Tega kamu memfitnah orang yang berniat menolongmu."


Laura terkekeh melihat Killa yang mulai tersulut emosi.


"Del gak mungkin ngelakuin itu." Sanggah Manu..


"Tapi kenyataannya, dia melakukan itu. Dan apa lo tahu alasannya Kil?" Laura menatap tajam ke arah Killa.. "Karena gue hamil. Gue hamil anak Kak Del." Ujar Laura dengan penuh penekanan.


"Bohong." Pekik Killa sambil menatap Laura tajam. "Kamu pembohong Laura. Itu bukan anak kak Del, bukan anak suamiku." Killa sedikit berteriak karena dia tak bisa lagi menahan emosi.


"Terserah lo percaya atau enggak. Yang pasti, ini anak Kak Del, calon adik bayi dalam kandungan lo."


"Enggak, enggak, gak mungkin." Teriak Killa sambil menutup telinganya.


Seketika tangis Killa pecah. Bagaimanapun usahanya untuk terlihat kuat didepan Laura. Nyatanya dia tak sanggup. Ucapan Laura sungguh menyakitkan.


"Gak usah bohong Ra, katakan yang sebenarnya." Ujar Manu, cowok ikut kesal karena ulah Laura.


"Kak Manu tahu sendiri kan gimana hubungan gue dengan Kak Del. Kita sudah sering making out, bahkan making love." Jawab Laura sambil tersenyum miring menatap Killa.


Jawabanku tetap sama. Aku gak pernah ngelakuin itu dengan wanita manapun kecuali kamu"


Ucapan Delmar selalu terngiang dikepala Killa. Dia sangat yakin, jika bayi dalam kandungan Laura bukan anak Delmar.


"Bohong." Pekik Killa dengan nafas naik turun sambil meremas ujung bajunya. Apapun yang dikatakan Laura, dia mencoba untuk tidak mempercayainya. Walaupun sebenarnya memengaruhi perasaannya.


Manu melihat wajah Killa kian pucat, cowok itu makin khawatir.


"Kita pulang Kil, kita ketempat Delmar saja." Manu tak ingin sampai terjadi sesuatu pada Killa. Emosi cewek itu terlihat naik, dan itu tak baik untuk kandungannya.


"Apa lo mau suami lo segera bebas?" Tanya Laura. "Gue punya penawaran."


Killa dan Manu yang berjalan keluar segera menghentikan langkah mereka.


"Suruh Kak Del nikahin gue. Gua bakal cabut tuntutan gue. Bokap gue adalah pengacara hebat, dia akan dengan mudah ngelepasin Kak Del dari tahanan."


Emosi Killa kian naik mendengarnya. Kedua tangannya mengepal kuat. Dan dengan kepercayaan diri tinggi. Killa berbalik menatap Laura.


"Jangan pernah bermimpi untuk nikah dengan Kak Del. Karena dia suamiku. Dan aku tak sudi berbagi suami dengan cewek murahan seperti kamu. Kau tak layak menjadi istri Kak Del." Ucap Killa dengan penuh penekanan.


Tangan Laura mengepal kuat dengan matanya yang mulai memerah. Cewek itu tak terima dengan ucapan Killa.


"Terserah apa yang lo bilang. Pada saatnya nanti, lo harus rela berbagi suami dengan gue. Atau yang lebih parah, lo akan diceraikan."


"Tutup mulutmu." Pekik Killa. "Mimpi kamu ketinggian. Lebih baik kamu segera sadar dan mengakui semuanya. Sebelum keadaan berbalik. Kak Del bebas, dan kamu yang akan dipenjaran karena fitnah dan memberi keterangan palsu."


"Hal itu tidak akan pernah terjadi. Karena bokap gue gak akan biarin itu terjadi. Buang keegoisan lo Kil. Bujuk Kak Del agar mau nikahin gue, agar dia bisa segera bebas."


"Mimpi." Teriak Killa lalu keluar dari ruangan Laura.


Killa menangis sejadi jadinya di luar rungan Laura. Pada kenyataan dia ta sekuat itu. Dia hanya tak ingin terlihat lemah didepan Laura.


"Sabar Kil, kita cari solusinya sama sama." Ujar Manu sambil menarik tubuh Killa kedalam pelukannya.