DELMAR

DELMAR
SURPRISE YANG LAIN



Suara alarm membangunkan Killa dari tidurnya yang hanya beberapa jam saja. Buru buru cewek itu mengambil benda berisik itu dan mematikannya agar tak menganggu tidur nyenyak sang suami.


Pelan pelan Killa mengangkat lengan Del yang melingkar diperutnya. Cewek itu harus segera bersiap kesekolah.


"Mau kemana?" Tanya Del dengan suara serak khas bangun tidur. Ternyata cowok itu juga terbangun karena suara berisik alarm.


"Sekolah."


"Gak usah sekolah." Gumam Delmar sambil kembali merengkuh Killa kedalam dekapannya.


"Hari ini aku ulangan kak." Ujar Killa sambil berusaha lepas dari dekapan Del. Saat ayahnya meninggal, Killa beberapa hari gak sekolah, alhasil banyak ulangan harian yang belum dia ikuti. Dan hari ini jadwalnya ulangan harian.


"Gak juara gak papa, yang penting naik. Udah gak usah sekolah. Kamu baru tidur beberapa jam." Semalam mereka baru kembali dari cafe jam 3 lebih.


"Gak bisa gitu dong. Udah yah aku mandi dulu."


"Enggak." Del malah mengeratkan pelukannya sambil menyorok keceruk leher Killa dan menciuminya.


"Geli kak." Killa berusaha menjauhkan Delmar dari lehernya. "Jangan diisep, ntar merah."


"Semalam aku gak dapet jatah loh Bi." Rengek Delmar sambil menurunkan kepalanya ke dada Killa.


"Salah sendiri gak bangunin aku."


"Kamu ketiduran di mobil, dan kita baru sampai dirumah hampir jam 4. Mana tega aku bangunin kamu."


Senyum Killa mengembang mendengarnya. Sikap Delmar yang tidak egois lagi membuatnya makin yakin kalau cowok itu sudah benar benar berubah dan mencintainya.


Tangan Killa terulur membelai kepala Del yang sedang sibuk membuat kissmark di dadanya.


"Entar malem aku kasih dobel, sekarang biarin aku sekolah dulu ya." Pinta Killa dengan lembut. Berharap Delmar tak lagi menahannya.


"Sekarang aja." Sahut Del sambil menelusupkan tangannya ke dalam daster Killa.


"Aku bisa telat kalau sekarang." Tolak Killa sambil menahan tangan Del agar tak kebablasan. "Kak please, jangan sekarang ya."


"Hm baiklah. Ya udah siap siap sana, aku anter." Del mulai melepaskan belitan tangannya.


"Gak usah, aku dianter Pak Joe aja. Kakak pasti masih ngantuk. Tidur lagi aja." Killa mengecup kening Delmar lalu turun dari ranjang dan segera menuju kamar mandi.


Selesai bersiap siap, Killa menoleh ke arah Del. Cowok itu terlihat sudah tertidur pulas kembali. Tak ingin mengganggunya, Killa buru buru turun agar tak ditinggal Cea dan Dilan.


"Pagi." Sapa Killa dengan senyum ceria pada seluruh kelurga Del yang sudah kumpul di meja makan.


"Pagi sayang. Selamat ulang tahun ya." Rain menghampiri Killa lalu memeluk menantunya. Mencium kedua pipinya dan terakhir keningnya. Mamah Rain emang mertua idaman banget.


"Makasih mah."


"Selamat ulang tahun ya sayang." Sean yang sedang menikmati secangkir kopi turut mengucapkan juga.


"Makasih Pah."


Rain menuntun tangan Killa agar segera duduk dan sarapan. Perhatian seperti inilah yang membuat Killa betah tinggal dirumah ini.


"Nanti malam, mamah mau ngadain syukuran kecil kecilan buat kamu."


"Gak usah mah, Killa gak mau ngerepotin." Tolak Killa.


"Gak ngerepotin kok. Semua anak mama selalu dibikinin acara syukuran kalau ulang tahun. Sekarangkan kamu udah jadi anak mama."


Semua? tapi kenapa ulang tahun Delmar tiga bulan yang lalu tidak? Pertanyaan itu yang tiba tiba muncul dibenak Killa. Bahkan tidak ada satu orangpun dikeluarga ini yang terlihat memberinya ucapan selamat ulang tahun.


Hanya Killa saja yang mengucapkan dan memberi kado. Tapi entah dibuka atau tidak kado itu, Killa juga tak tahu. Pasalnya Del segera memasukkannya kedalam laci dan sampai sekarang, Killa tak pernah melihat Del memakai kado darinya itu.


"Jangan lupa undang keluarga kamu ya. Nanti kakek juga kesini, sekalian sama teman teman mama dan papa."


"Iya mah." Jawab Killa sambil mengangguk.


Setelah menyelesaikan sarapan, Killa langsung berangkat bersama Dilan dan Cea. Sepanjang perjalanan Cea terus menginterogasinya tentang acara semalam. Membuat Killa yang mengantuk jadi gak bisa tidur.


Saat masuk dikelas, dia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Laura. Tatapan itu seolah berkata, gue benci lo Kil, sangat benci.


Killa berusaha bersikap biasa. Wajar kalau Laura tidak terima, tapi cepat atau lambat, Killa yakin jika Laura bisa move on.


"Happy birthday my besti." Ucap Shani sambil merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Killa. "Tadi malem dapet kejutan apa dari suami tercintah." Bisik Laura.


"Mau tahu aja kamu." Jawab Killa sambil meletakkan tasnya dan duduk dibangku yang tinggal seminggu lagi dia tempati.


"Nyesel deh semalem gak lihat kamu live." Shani memanyunkan bibirnya. "Eh Btw, lo dapet kado apa dari kak Del?" Binar kepo tampak jelas diwajah Shani.


Killa mengangkat tangan sebelah kirinya sambil menggerakkan kecil jari jarinya. Memamerkan cincin dijari manisnya seperti orang yang baru dilamar.


"Bagus baget." Shani memegang telapak tangan Killa dan memperhatikan cincin cantik yang tersemat dijari manis sabahatnya itu.


Setelah itu guru datang. Killa pindah duduk didepan karena dia ulangan harian sendiri.


Bel istirahat membuat seorang Shani sangat bahagia. Dia ingin meminta traktiran pada sahabatnya yang sudah jadi mantu sultan.


"Kil, kekantin yuk traktirin gue." Ajak Shani penuh semangat.


"Boleh aja, bentar aku beresin buku dulu."


"Eh Kil, lo dicariin Dina. Dia Nangis Nangis tuh ditoilet deket kantin. Katanya ada yang mau diomongin sama lo. Buruan gih samperin kesana." Ucap Amanda.


"Dina? ngapain dia nyariin aku?" Tanya Killa sambil menatap Shani. Dina dulu adalah sahabat Killa dan Shani sejak SMP. Tapi setelah SMA dan beda jurusan, mereka jadi renggang dan jarang berkomunikasi.


"Tauk." Shani mengedikkan bahunya.


"Kita samperin dulu sebentar ya. Takut terjadi apa apa sama dia." Ujar Killa dan langsung diangguki oleh Shani. Killa mencari hoodinya yang dia simpan di laci meja. Tapi benda itu seakan menghilang begitu saja.


"Shan, hoodi aku kok gak ada ya?" Tanya Killa dengan raut cemas.


"Gak tahu Kil. Tanya sama Samuel aja, kan tadi dia yang duduk dibangku lo pas lo pindah kedepan."


Killa mengedarkan pandangannya mencari sosok Samuel. Tapi cowok itu sudah hilang entah kemana.


"Kil buruan, kasian Dina nungguin lo." Amanda kembali menyampaikan amanah dari Dina.


"Udah yuk, gak kelihatan kok." Bisik Shani.


Keduanya langsung menuju toilet yang dimaksud. Tapi tak ada tanda tanda keberadaan Dina disana. Killa yang mengira Dina ada disalah satu bilik toilet memanggil manggil nama cewek itu.


"Din, Dina, kamu dimana? Didalem ya?" Ujar Killa didepan salah satu bilik yang tertutup. Tapi bukan sahutan dari Dina yang didapat. Malah seauatu yang lain.


BYURRRR


"Awwww....." Pekik Killa saat dirinya diguyur dengan seember penuh air dari bilik toilet yang tertutup itu.


"Happy birthday Killa." Seruan teman teman sekelasnya membahana ditoilet. Siang ini, toilet cewek itu tidak hanya disisi oleh cewek, tapi cowok teman sekelas Killa juga ikut masuk. Dari seluruh siswa sekelas, hanya Shani yang tidak tahu tentang surprise ini.


"Lo hamil? kenapa perut lo buncit?"


Deg


Ucapan Laura bagai petir disiang bolong. Killa baru menyadari kalau dibalik baju seragam yang basah itu. Perut buncitnya tercetak sempurna.


"Iya ya."


"Iya Bener."


"Jadi yang Laura omongin itu Bener."


Acara surprise itu sudah direncakan oleh Laura. Dia sudah menyebarkan gosip tentang Killa yang hamil pada teman sekelasnya. Dan untuk membuktikan ucapannya, dia mengajak teman temannya untuk memberikan surprise ditoilet untuk Killa.


Darimana Laura tahu? tentu saat ulang tahun Chloe waktu itu saat Killa tercebur ke kolam. Dia tak sengaja melihat perut Killa yang buncit. Laura yakin jika perut itu bukan efek dari gemuk, karena tubuh Killa cenderung kurus. Selain itu, Laura curiga karena setiap hari Killa memakai hoodi, seolah ada yang dia tutupi dibalik baju besar itu.