
Setelah mendapatkan keterangan dari Laura. Polisi segera bergerak untuk menangkap Sasa. Cewek itu ditangkap dirumahnya tanpa perlawanan.
Dan hari ini, Miko datang mengunjungi Sasa di tahanan. Saat melihat Miko, Sasa langsung memeluk cowok itu. Penyesalan terbesarnya saat ini adalah mengkhianati cowok sebaik dan setulus Miko.
"Gimana kabar lo Sa?" Tanya Miko sambil menguraikan pelukan Sasa.
"Buruk." Jawab Sasa sambil menangis. Miko mengajak Sasa duduk lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Ya, apalagi kalau bukan hasil tes DNA. Dan bisa dipastikan, tidak ada kecocokan DNA Miko dengan janin dalam kandungan Sasa. Miko juga baru tahu jika Sasa sudah hamil 16 minggu.
Sasa meremat kertas itu. Dadanya terasa nyeri. Dari awal, sebenarnya dia sudah yakin jika anak itu anak Aiden. Tapi dia tak bisa apa apa. Dia terlalu takut dengan ancaman cowok itu. Sedikit banyak Sasa tahu perangai Aiden. Cowok itu psyco, dia bisa berbuat sesuatu diluar kendali. Dan bodohnya, Sasa justru lebih mencintai Aiden daripada Miko, cowok yang tulus mencintainya.
Tak bisa dipungkiri, jika sosok Aiden memang punya sejuta pesona yang mampu membuat kaum hama bertekuk lutut dihadapannya. Sasa bahkan sudah menyukai Aiden sejak awal bertemu cowok itu 3 tahun yang lalu. Mereka satu sekolah, dan Aiden satu tingkat diatas Sasa. Tapi karena bandel, cowok itu dikeluarkan dari sekolah. Setelah itu mereka tak pernah bertemu lagi.
Dan kehadiran Miko dalam hidup Sasa tak lebih hanya sebuah pelarian. Dia pikir bersama Miko, dia bisa melupakan Aiden, cinta pertamanya. Tapi nyatanya tidak, cinta itu tetap tumbuh subur untuk Aiden.
Dan satu tahun yang lalu, mereka bertemu kembali karena sebuah kebetulan. Miko sendiri yang mengajaknya ke ulang tahun Aiden. Dan dari itu, Sasa tahu jika Aiden adalah anak dari pemilik club malam tempat diadakannya pesta. Sejak itu Sasa sering datang ke club malam milik Aiden dan merayu cowok itu.
Tapi Aiden tetap sama, dia tak pernah menyukai Sasa. Sasa terus gencar mengejarnya hingga Aiden menawari Sasa menjadi partner ranjangnya tanpa status. Karena cowok itu sudah memiliki pacar yaitu Naomi.
Sejak itu mereka sering tidur bersama hingga Sasa hamil.
"Apa itu anak Aiden?" Tanya Miko.
Sasa mengangguk, dia malu pada Miko karena sudah berbohong dengan menagatakan jija anak itu anak Miko.
"Dia harus tanggung jawab Sa."
Sasa menggeleng. Dia tahu jika Aiden tak mungkin mau tanggung jawab. Yang ada cowok itu selalu menyuruhnya menggugurkan. Sebenarnya Sasa sudah pernah membeli jamu peluruh kandungan, tapi sepertinya janin itu tak ingin lepas darinya. Sasa tidak keguguran.
"Kenapa enggak Sa. Anak kamu butuh ayah. Dan Aiden ayahnya, dia harus tanggung jawab."
"Enggak Mik, aku akan membesarkan anak ini sendirian." Jawab Sasa sambil mengelus perutnya.
"Ini gak adil buat anak kamu Sa. Dia berhak memiliki orang tua yang lengkap."
Lagi lagi Sasa menggeleng sambil menangis. "Aku takut Mik. Aku takut Aiden bakal nyelakain aku dan anak aku. Aku pernah mau menggugurkannya. Tapi setelah itu aku menyesal. Dan sekarang, aku gak mau terjadi apa apa dengan dia." Ujar Sasa sambil menunduk dan mengelus perutnya yang sudah sedikit buncit.
"Astaga Sa." Miko memegangi kepalanya sambil membuang nafas kasar. Selama ini karena cinta, dia tak tahu perangai Sasa yang sebenarnya. Cewek itu ternyata lebih buruk dari perkiraannya. Selingkuh, menggurkan kandungan dan bahkan tega menusuk sahabatnya sendiri.
"Aiden gak mau tanggung jawab. Dan dia ngancem bakal habisin aku jika aku mengungkap tentang kehamilanku."
"Lo ada di tahanan Sa. Disini banyak polisi yang ngawasin. Aiden gak bakal bisa macet macem. Percaya sama gue Sa. Aiden gak akan bisa lari dari tanggung jawab kali ini. Ungkap semuanya pada polisi."
"Aku takut Mik."
"Takut?" Miko tersenyum getir. "Lo berani nusuk Laura, tapi lo takut minta tanggung jawab Aiden?" Miko geleng geleng.
"Aku gak sengaja Mik. Sumpah, aku gak ada niat nusuk Laura. Aku hanya berniat ngancem dia supaya takut. Tapi semua berjalan diluar kendaliku."
Flashback
Laura terus terlari hingga dia sampai disebuah gedung kosong yang terbengkalai dan membuatnya tak bisa berlari lagi.
"Siapa lo?" Teriak Laura dengan tubuh gemetar karena takut. Apalagi dua hari yang lalu dia mendapat sms ancaman dari nomor yang tidak dia kenal.
"Lo gak perlu tahu siapa gue. Yang perlu lo lakuin cuma gugurin kandungan lo." Jawab si penguntit.
Laura tidak bodoh, dari suaranya dia tahu jika yang ada didepannya itu adalah seorang cewek. Postur tubuhnya juga tak terlalu besar. Laura sangat yakin jika dia adalah perempuan.
"Kalau gue gak mau?" Laura pura pura berani.
"Gue bakal habisin lo." Orang itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku hoodinya.
Laura sangat ketakutan, tapi dia sudah menelepon Del dan polisi. Jadi menurut Laura, dia hanya perlu mengulur waktu agar polisi dan Del bisa menangkap orang itu. Karena jujur, Laura sangat penasaran dengan wajah dibalik masker itu.
Suaranya tampak aneh, seperti sengaja disamakarkan. Dan hal itu sedikit membuat Laura berfikir, jika mungkin dia kenal dengan orang dihadapannya itu.
"Siapa lo?" Laura kembali bertanya.
"Gugurin kandungan lo. Atau kalau enggak, gue bakal habisin lo sekarang juga." Ancamnya.
"Tolong jangan lakukan itu. Saya mohon lepaskan saya. Saja berjanji akan menggugurkan anak ini." Ujar Laura dengan wajah mengiba sambil mendekati orang tersebut. Cewek licik itu tidak kehilangan akal untuk membuat musuh lengah.
"Apa kamu janji."
"Ya, saya janji." Laura makin dekat, dan saat orang itu menyimpan pisaunya, Laura segera menarik masker yang dipakai orang tersebut. Dan seketika mata Laura membulat sempurna.
"Sa, Sasa." Gumam Laura lalu membekap mulutnya sendiri. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Kenapa lo lakuin ini ke gue Sa?" Teriak Laura yang emosi.
"Karena gue gak mau lo merebut Miko dari gue. Miko ayah dari anak gue. Dia bakal nikah sama gue." Teriak Sasa.
"Bulshit. Emang lo yakin dia anak Miko? Bukannya lo sering tidur dengan Aiden. Dan lo sendiri yang suka curhat sama gue kalau Aiden jarang mau pakai pengaman. Miko ayah dari anak gue. Dan gue yang bakalan nikah sama dia." Ujar Laura.
"Enggak, gue gak bakalan biarin itu terjadi. Miko ayah anak gue." Sasa maju dan mengacungkan pisaunya kehadapan Laura.
"Gue bakal kasih tahu Miko kalau lo hamil anak Aiden." Ancam Laura
"Diam." Pekik Sasa dengan nafas terdekat. "Gue gak bakalan biarin itu terjadi." Sasa mendekatkan pisaunya keleher Laura. "Lo gak bodohkan? Jika pisau ini menggorok leher lo, lo bakalan Mati."
Laura gemetaran, jarak pisau itu terlalu dekat dengannya. Oh Tuhan, tidak, dia belum mau mati.
"Kak Del." Gumam Laura saat mendengar suara motor. Dia yakin jika Delmar yang datang.
"Kurang ajar." Sasa mulai panik.
Melihat Sasa panik, Laura berusaha merebut pisau itu, tapi Sasa berusaha mempertahankannya. Terjadilah perebutan hingga tanpa sengaja pisau itu menusuk dada Laura.
Sasa yang Shock langsung berlari meninggalkan Laura. Dia yang ketakutan berusaha mencari tempat untuk sembunyi.
"Ra, Laura. Lo dimana?" Sasa bisa mendengar teriakan Delmar. Dari tempat persembunyian Sasa melihat Delmar menemukan Laura yang sudah tak sadar. Dan kemudian polisi datang menangkap Del.