
Suasana ruang guru seakan mencekam bagi Killa. Kesan horornya sudah melebihi wahana rumah hantu.
Para guru sedang berbincang bincang membicarakan tentang nasib Killa. Sedangkan Killa, cewek itu terus merapalkan doa dalam hati. Berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya bertahan untuk bisa mengikuti ujian kenaikan kelas.
Suasana berubah hening saat dua orang masuk kedalam ruang guru. Semua mata langsung tertuju pada orang yang sudah tidak asing itu.
"Pak Sean, Bu Raina." Sapa Kepala sekolah dengan mimik terkejut melihat kedatangan kedua orang itu. Seingatnya, dia tak ada janji dengan wali murid Delmar.
Ya, orang yang tadi ditelepon Killa adalah Rain. Menurut cewek itu, hanya mertuanya yang bisa mengatasi masalah ini.
Hampir semua guru mengenal Sean dan Rain, selain karena Delmar yang selalu mendapat penghargaan juara umum. Juga karena mereka adalah salah satu donatur disekolah itu.
"Kenapa tak memberitahu saya jika akan datang. Apa ada sesuatu yang penting? mari ikut keruangan saya, kita bicara disana saja." Ujar Pak Kepsek sambil mengulum senyum kepada Sean dan Rain.
Tatapan mata Rain langsung tertuju pada Killa. Air matanya menetes melihat kondisi Killa yang menyedihkan. Rambut basah dan kusut, baju sedikit berantakan, mata bengkak dan tubuh yang gemetaran. Buru buru Rain menghampiri Killa lalu duduk disebelahnya.
"Sayang." Gumam Rain sambil memeluk Killa.
"Mah, tolongin Killa." Lirih Killa ditengah isak tangisnya.
Semua mata disana terbelalak mendengar Killa menyebut Rain mama. Setahu mereka Rain dan Sean adalah wali murid Delmar, bukan Killa.
"Udah jangan nangis, biar mama sama papa yang menyelesaikan semuanya." Ujar Rain sambil menghapus air mata Killa.
Interaksi antara Rain dan Killa tentu saja menarik perhatian semua pasang mata disana.
"Anda mengenal Killa?" Tanya kepala sekolah.
"Killa, gadis itu adalah menantu kami." Jawab Sean.
Kepsek sekaligus semua guru melongo mendengarnya. Menantu? Apa tidak salah?
"Maaf Pak, saya kurang paham." Sahut kepsek.
Sean mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dia menunjukkan foto pernikahan Delmar dan Killa. Serta sebuah surat seperti sebuah pernyataan yang menyatakan jika keduanya sudah menikah secara agama. Ditandatangani oleh Del, Killa, wali, saksi serta seorang pemuka agama yang menikahkan mereka.
Kepsek dan para guru masih bingung? mereka sudah menikah? Apakah ini benar? Tapi foto itu menunjukkan bukti konkret pernikahan siri itu.
"Mereka berdua sudah menikah kurang lebih 4 bulan yang lalu. Sesuai tanggal yang tertera disurat itu." Sean menjelaskan.
"Tapi bagaimana mungkin? mereka masih sekolah?" Tanya Bu Asti, guru Bk. Dia benar benar butuh penjelasan saat ini.
"Mereka menikah karena wasiat. Kakek Delmar dan Killa menginginkan kedua cucunya menikah. Dan karena ayah Killa sakit keras, beliau menginginakan Killa segera dinikahkan dengan Delmar sebelum beliau meninggal." Tutur Sean.
Rain memejamkan matanya sambil menggenggam erat tangan Killa. Dalam hati dia merutuki keputusannya dan Sean yang menggunakan nama almarhum ayah Killa hanya untuk menutupi kebejatan anak mereka, Delmar.
Miris memang, demi anak, mereka tega mencatut nama ayah Killa yang sudah meninggal. Tapi orang tua mana yang tega anaknya dicap sebagai pemerkosa.
"Konyol, alasan kalian sangat tidak masuk akal. Hanya demi wasiat kalian tega menghancurkan masa depan anak kalian." Seru Bu Asti penuh emosi. Bu Asti adalah salah satu orang yang sangat menentang pernikahan dini. "Lihat dia." Bu Asti menunjuk ke arah Killa. "Gadis kecil yang masih dibawah umur hamil karena perjodohan konyol itu. Kenapa kalian sebagai orang tua tega menghancurkan masa depannya?"
"Tolong tarik kembali ucapan Ibu." Rain segera menyela ucapan Bu Asti. "Saya yakin, tak ada satupun orang tua didunia ini yang menginginkan masa depan anak mereka hancur, bagitu pula dengan kami. Kami hanya berada disituasi terjepit saat itu. Almarhum ayah Killa hanya ingin melaksanakan wasiat otang tuanya sebelum beliau wafat. Tolong pikirkan perasaan beliau saat itu. Beliau sakit keras, dan tak akan tenang sebelum wasiat itu terlaksana."
Ya Allah, ampuni dosa saya atas kebohongan ini. Gumam Rain dalam hati..
"Apapun alasannya, tindakan ini tidak dibenarkan oleh negara. Anak dibawah umur tidak boleh menikah." Bu Dea ikut geram dengan tindakan menikahkan anak dibawah umur. Ingin rasanya dia melaporkan ke komnas perlindungan anak jika memang benar kedua anak itu atau salah satunya terpaksa dalam pernikahan itu.
"Saya tahu Bu, kami memang salah sebagai orang tua. Tapi kami sudah menanyakan kepada kedua anak tersebut. Dan mereka menyetujuinya." Sahut Sean. Dia tak menyangka jika kebohongan demi menyelamatkan nama baik Delmar justru berbuntut panjang. Dia malah berdebat tantang masalah pernikahan dini dengan pihak sekolah.
"Tidak mungkin." Seru Bu Asti. "Tidak mungkin anak remaja seperti mereka mau dinikahkan dini. Saya yakin, mereka masih ingin menikmati masa muda. Masih ingin bersenang senang dengan teman teman mereka. Bukan menikah dan punya anak."
"Saya tidak terpaksa Bu. Saya memang bersedia menikah." Killa buka suara, membuat Bu Asti dan Bu Dea menatap nanar kearah gadis itu.
Bu Dea mendekati Killa. "Jangan takut nak, katakan jika memang kamu dipaksa menikah oleh kedua orang tuamu. Bu guru akan membantumu, jika memang kamu merasa tertekan."
Killa menggeleng. "Tidak ada yang memaksa saya maupun Kak Delmar. Kami saling mencintai, dan kami ikhlas menjalankan amanah kakek kami." Killa mengikuti skenario yang telah dibuat mertuanya.
Suasana yang awalnya tegang itu tiba tiba hening. Semua sibuk dengan pikirannya masing masing. Hingga akhirnya kepsek buka suara.
"Kami tidak bisa berbuat apa apa jika pernikahan ini sudah disepakati kedua belah pihak keluarga. Tapi satu hal yang harus saya sampaikan. Sudah menjadi peraturan disini, siswi yang hamil akan dikeluarkan."
Ditengah perdebatan itu, ponsel Killa terus bergetar, tertera nama Delmar disana.
"Kami akan menerima keputusan itu." Sahut Rain. "Tapi setidaknya, Ijinkan Killa mengikuti ujian kenaikan kelas. Agar dia tidak perlu mengulang lagi satu tahun. Killa akan melanjutkan kelas XII dengan home schooling. Saya yakin kalian semua para pendidik tak menginginkan masa depan Killa hancur kan? oleh sebab itu, biarkan dia mengikuti ujian minggu depan."
Kepsek dan para guru saling perpandangan dan mengeluarkan pendapat. Ada yang setuju dan ada yang tidak.
"Kami tahu tindakan kami menikahkan mereka itu suatu kesalahan. Tapi kami akan menebusnya dengan menjadikan Killa dan Delmar orang sukses." Sean ingin menyakinkan para guru.
"Baiklah Pak, Bu, kami akan membicarakan masalah ini dulu. Secepatnya kami akan menginfokan pada kalian keputusannya." Ujar Kepsek.
"Terimakasih Pak. Apa sekarang, kami bisa membawa menantu kami pulang?" Tanya Rain.
"Silakan bu."
Akhirnya Sean dan Rain bisa bernafas lega sekarang. Setelah seorang siswa membawakan tas milik Killa. Mereka bertiga segera keluar meninggalkan ruang guru.
Dan berita tentang pernikahan Del dan Killa langsung menyebar disekolah. Entah dari mana asalnya, berita itu bagai debu yang tertiup angin. Menyebar sangat cepat.
Disisi lain, ada seorang cewek yang menangis diatas rooftop sekolah. Ingin rasanya dia menghempaskan diri kebawah agar sakit hatinya hilang bersama nyawanya yang hilang.
Air matanya terus mengalir menatap benda kecil pipih yang dia pegang. Dua garis merah terlihat disebuah alat yang tak lain tak bukan adalah testpack.