DELMAR

DELMAR
TANGGUNG JAWAB



"Mah, mamah." Berteriak teriak dirumah sudah menjadi kebiasan Del sejak kecil. Walaupun udah dibilangin sampai bibir dower, tetep aja, kebiasaan itu tak bisa hilang dari diri Delmar.


"Apaan sih Del? hobi banget deh kamu itu teriak teriak." Omel Rain yang baru keluar dari kamarnya. Padahal kalau Cea dan Dilan yang nyariin, mereka pasti ngetuk pintu kamar mamanya, bukan teriak teriak gak jelas kayak Delmar.


"Mah, kapan sih boleh belanja kebutuhan baby, Del udah kepengen banget?" Ujar Del yang sedang duduk disofa ruang keluarga bersama Killa. Entah dapat bisikan dari mana, cowok yang biasanya gak hobi belanja itu, tiba tiba ingin shopping.


"Sabar, minggu depan acara tujuh bulanan. Habis itu baru boleh belanja." Jelas Rain sambil menghampiri kedua anaknya itu.


"Aturan dari mana sih ma, gak jelas banget. Perasaan udah sekolah 15 tahun gak ada nemu pelajaran kayak gitu." protes Del.


"Hah 15 tahun kak? gak kebanyakan ngitungnya?" tanya Killa. Perasan sekolah sampai SMA itu 12 tahun deh.


"Kan mulai PAUD Bi."


"Astaga, itu kamu hitung juga." Killa geleng geleng.


"Udah gak usah protes. Emang gak ada aturan tertulisnya, itu hanya bagian dari adat atau tradisi." Rain melanjutkan penjelasannya.


"Alasannya?" Del masih belum bisa menerima.


"Ya mama gak tahu jelasnya. Tapi menurut mama sih gini. Kalau dibawah 7 bulan, terjadi apa apa sama kandungan, otomatis janin itu meninggal. Sayangkan kalau udah terlanjur beli perlengkapan bayi. Tapi kalau diatas 7 bulan, kalau terjadi sesuatu dalam kandungan, bisa dilahirkan secara prematur. Itu artinya, kalau udah 7 bulan, kemungkinan hidupnya lebih besar."


"Gitu ya mah?" Del manggut manggut.


"Ya gak tahu juga sih. Kan cuma menurut mama. Udah sabar dulu, beli perlengkapan baby nya ntar aja." Saran Rain.


"Ya udah deh Bi. Gak usah shopping dulu. Mending kita baby moon aja. Mumpung aku belum mulai kuliah."


"Bagus itu, biar Killa bisa lebih fresh, lebih segar. Kata dokterkan harus rilex pikirannya. Gimana kaki kamu sayang, masih bengkak?" Tanya Rain sambil melihat kearah tungkai Killa.


Sejak 2 hari yang lalu, kaki Killa mulai membengkak. Kata dokter, Killa mengalami preeklamsia. Jadi paling tidak, 2 minggu sekali Killa harus check up.


"Masih ma, tapi gak sakit kok."


"Ya udah, jangan lupa obatnya diminum dengan teratur. Jangan stress, biar kamu bisa melahirkan tepat waktu."


"Iya mah."


"Ya udah mama kekamar dulu, mau siap siap ke Oceano cafe." Ujar Rain sambil meninggalkan dua anaknya itu.


"Kita babymoon ya Bi, deket deket sini aja, ke puncak misalnya. Aku ada vila disana." Ajak Delmar sambil rebahan dipangkuan Killa.


"Harus banget ya kak pakai babymoon. Kalau cuma mau ke vila doang, apa bedanya sama dirumah aja."


"Ya beda dong, kan suasananya lain Bi. Lagian pengen deh aku tuh punya quality time berdua sama kamu. Kalau dirumahkan banyak orang. Mau Ngapa ngapain langsung diteriakin sama mama. Del, masuk kamar." Ucap Del sambil menirukan gaya bicara mamanya.


"Bisa aja kamu kak." Sahut Killa sambil terkekeh.


"Pengen banget aku tuh berdua doang sama kamu. Bebas mau ngapa ngapain. Mau ml di dapur, di ruang tamu, diatas meja makan, bebas."


Killa langsung geleng geleng mendengarnya. Heran, punya suami kok otaknya itu itu aja.


"Kamu tuh, pikirannya gak pernah jauh dari itu." Ujar Killa sambil mengetuk kepala Del menggunakan telunjuknya. "Kalau gitu bukannya fresh atau rilex, yang ada akunya malah kecapekan."


"Katanya mau jadi istri terbaik. Mau nyenengin suami?"


"Emang yang namanya nyenengin suami cuma begituan doang? masih banyak cara lain juga kali kak."


"Tapi suami kamu senengnya gituan doang. Aku mah gak perlu kamu pinter masak, pinter cari duit atau pinter beberes rumah. Cukup pinter nyenengin aku diranjang doang."


"Dih, dasar otak mesum." Killa memelototi Del sambil mencubit lengan cowok yang sedang tiduran dipahanya itu.


"Kalau dilihat dari bawah gini, kamu makin cantik deh Bi. Makanya aku suka banget pas kamu diatas."


"Gombal mulu deh kamu."


"Beneran Bi, ngeliat wajah kamu dari bawah gini, auto bikin aku sang*." Delmar menganggkat wajahnya ke atas lalu mencium Killa yang sedikit menunduk.


"Del, masuk kamar." Teriakan Rain membuat Delmar seketika melepaskan ciumannya..


"Tuh kan Bi, baru juga diomongin, udah teriak." Ujar Del sambil garuk garuk kepala.


...*****...


Malam ini seperti biasanya. Genk empat sekawan itu kumpul dirumah Rey. Bersenda gurau, ngerokok, minum sambil bahas hal yang gak penting. Unfaedah gitulah pokoknya bahasan mereka.


"Lo gak minum Del?" Yang Rey yang sejak tadi hanya melihat Del minum soft drink saja.


"Enggak, gue mau nguranin minum. Malam ini udah janji sama Killa gak pulang mabok."


Killa sudah mewanti wanti Del agar gak mabuk malam ini. Kalau sampai dilanggar, bakal gak dijatah selama sebulan. Berabe kan, makanya Del nahan diri buat gak minum.


"Suka suka lo lah mau ngomong apa. Daripada gue gak dapet jatah."


"Set dah... jadi itu alasan utamanya."


Manu sejak tadi memperhatikan Miko. Cowok itu terlihat lain. Sejak datang tadi, dia tak banyak bicara, wajahnya juga terlihat muram. Raganya memang disana, tapi pikirannya seolah ada ditempat lain.


"Lo lagi ada masalah Mik?" Tanya Manu.


"Enggak." Jawab Miko sambil menegak minumannya.


"Gak usah bohong. Sama kita kita mah gak usah ada yang disembunyiin. Kalau ada masalah mending cerita. Siapa tahu kita dapat cari solusinya bareng." Ujar Manu, cowok paling bijak diantara teman satu genk nya.


"Iya Mik, gue perhatian lo sejak tadi diem mulu. Ada masalah apa sih? soal kuliah? Bukannya lo udah diterima di kampus yang sama dengan Sasa ya?" Sahut Delmar.


"Jangan bilang lo putus sama Sasa? muka lo kusut banget." Timpal Rey.


"Gue......" Miko menjeda ucapannya, membuat teman temannya kian penasaran. "Gue mau nikah."


"Apa! " Pekik ketiga temannya kompak.


"Lo gak salah ngomong Mik?" Tanya Del.


"Lo udah kebelet apa gimana sih, baru lulus udah mau nikah aja. Eh, gak mungkin kebelet juga kali, orang lo belum nikah aja udah kawin mulu sama Sasa." Celoteh Rey.


"Kuliah dulu Bro, sukses dulu baru nikah. Jangan niru Del, dia mah sultan. Gak kerja juga bisa nafkahin istrinya." Manu menyahuti.


"Sasa hamil."


"Apa!" Lagi lagi ketiga temannya kompak berseru.


"Sasa hamil, dia minta gue tanggung jawab." Gumam Miko.


"Lo yakin itu anak lo?" Sahut Del.


"Ya anaknya lah, orang kawinnnya sama Miko, gak mungkinkan anak gue." Yang ditanya Miko, malah Rey yang jawab. Rey dan Manu memang tak tahu perihal Sasa yang selingkuh.


Awalnya Del tahu dari Naomi. Selanjutnya dia memberitahu Miko. Tak ingin sahabatnya itu terus dikhianati.


"Mending lo tes DNA dulu. Pastikan apa benar itu anak lo." Del tak bisa terima jika Miko harus tanggung jawab atas kehamilan Sasa tanpa tahu anak siapa yang ada dalam kandungan cewek itu. Memurut Del, belum tentu itu anak Miko bisa jadi anak Aiden.


"Kenapa lo ngomong gitu Del? " Manu penasaran.


"Sasa selingkuh sama Aiden."


Manu dan Rey langsung melongo. Padahal selama ini, Miko dan Sasa tampak baik baik saja. Selain itu, Miko dan Aiden juga berteman. Bahkan tak pernah terlihat kecanggungan saat keduanya bertemu.


"Anj*ng itu si Aiden. Punya temannya diembat juga. Kayak gak ada cewek lain lagi didunia ini. Cowok kayak gini, minta sunat lagi kek nya." Rey ikutan kesal. Walaupun bukan dia yang dikhianati, tapi Miko adalah sahabatnya.


"Lo bilang selalu pakai pengaman kan?" Tanya Manu.


"Hem." Miko mengangguk.


"Terus gimana bisa hamil?" Rey terlihat bingung. "Gue selalu pakai, gak pernah tuh ada kejadian yang hamil terus minta tanggung jawab."


"Ya mungkin aja kond*m yang gue pakai bocor."


Jawab Miko datar, seolah tak ingin mempermasalahkan tentang itu.


"Kemungkinan itu sangat kecil Mik. Bener kata Del, mending lo tes DNA dulu." Sahut Manu.


"Buat apa? Toh pada kenyataannya gue orang pertama yang ngerusak Sasa. Kita udah ngelakuin hal itu lebih dari setahun. Dan sekarang saat dia hamil, apa pantes gue bilang itu bukan anak gue?"


Mereka bertiga terdiam. Ada benarnya juga ucapan Miko. Miko dan Sasa ngelakuin itu buka sekali dua kali, tapi udah gak keitung. Dan saat cewek itu hamil, apa pantas jika Miko menolak tanggung jawab.


"Tapi gimana jika itu bukan anak lo? Gimana kalau anak Aiden? Lo denger sendirikan apa yang dibilang Nom. Nom mergokin mereka pas ngelakuin itu di apartemen Aiden." Del masih belum bisa terima dengan keputusan Miko..


"Apa Sasa yakin jika itu anak lo? Jangan jangan dia sendiri gak tahu itu anak siapa?" Rey menimpali.


"Sasa bilang, itu anak gue. Dan gue gak mau mempermasalahkan lagi. Dia janji gak akan pernah selingkuh lagi kalau gue nikahin dia."


"Gak usah percaya sama lonT kayak dia." Seru Del.


"Tutup mulut lo Del." Bentak Miko yang tak terima kekasihnya disebut lonT. "Lo udah kayak orang paling bener aja nyebut Sasa kayak gitu. Lo lupa, kalau lo juga bejat. Beruntung Killa dan orang tua lo menutupi kebejatan lo. Kalau enggak, orang satu sekolah bakalan tahu kalau lo itu merkosa Killa sampai di hamil."


"Bangsat."


BUGH


Delmar yang emosi langsung memukul Miko hingga tersungkur kelantai.