
6 TAHUN KEMUDIAN
Hari ini digelar sebuah resepsi pernikahan dipinggir pantai. Delmar sekeluarga beserta teman temanya berkumpul disana. Semua tampak tampan dan cantik dengan balutan baju bridesmaid dan groomsmen.
Ya, hari ini pernikahan Rey dan Amara. Akhirnya setelah lama mencari, Rey menemukan juga tambatan hatinya.
Semua acara berjalan lancar, tamu yang diundang memang tidak banyak. Resepsi out door yang didominasi warna putih itu tampak megitu memukai.
3,2,1
Semua kompak menghitung sebelum mempelai melemparkan buket bunganya.
Pluk
Buket berwarna putih itu terlempar melenceng dan jatuh ke tangan cewek cantik berbalut gamis putih dan hijab senada, dia adalah Naomi.
Naomi memang bukan bagian dari bridesmaid, dia hanya datang untuk menghadiri pesta.
Raut wajah para undangan yang mengharap bunga tampak sangat kecewa karena tak dapat. Sedangkan Naomi, gadis itu bahkan tak tampak bahagian meski dia mendapatkan bunga itu.
"Cie....cie... Kayaknya bentar lagi nyusul nih." Goda Killa yang kebetulan berada tak jauh dari Naomi.
"Apaan sih Kil. Gue masih belum kepikiran kesana. Calon aja gak ada." Jawab Naomi santai.
"Mik sini." Delmar melambaikan tangan ke arah Miko. Dengan senyum lebarnya, cowok itu segera menghampiri Del.
"Paan sih?" Tanya Miko.
"Nih, ada yang nyari pasangan. Kali aja kalian cocok. Sama bang duda gak masalah kan Nom?" Goda Del dengan seringainya.
Miko memang sudah lama menduda. Pernikahannya dengan Laura hanya berjalan sekitar setahun. Nikah muda tidak semudah yang dibayangkan. Dan tak semudah seperti yang biasa kita baca dinovel. Banyak sekali permasalah yang muncul. Sedangkan mereka belum dalam posisi siap untuk menghadapi semua itu.
"Ogah." Tolak Naomi mentah mentah. "Masak gue gadis dapat duda. Dah gitu gue masih perawan. Garis bawahi, PERAWAN. Karena gak semua gadis itu perawan." Naomi menegaskan kata katanya. Dia sangat bangga karena dijaman seperti ini, dia masih bisa mempertahankan mahkotanya itu.
"Menghina duda lo? Gue sumpahin dapat jodoh duda." Ujar Miko.
"Sumpah lo mah gak mempan Mik." Sahut Naomi sambil mengibaskan tangannya. Seolah perkataan Miko itu hanya angin lalu yang akan hilang tak berbekas.
"Duda itu lebih hot, lebih berpengalaman. Rugi lo nolak duda." Miko mengunggulkan dirinya sendiri.
"Rugi pala lo. Yang ada gue yang rugi jika dapat duda. Masak gue masih segelan dapat bekas pakai."
"Ngobrolin apaan sih?" Tanya Manu yang baru gabung. Dia datang dengan Deluna dalam gendongannya. Diantara semua teman Del, Deluna paling dekat dengan Manu.
"Jodohin mereka, kali aja cocok. Eh malah kayak Tom and Jerry." Jawab Delmar sambil menatap Miko dan Naomi bergantian.
"Sini sayang, sama mommy." Killa mau menurunkan Deluna dari gendongan Manu, tapi bocah kecil itu menolak.
"Gak mau, mau digendong om ganteng aja." Jawab Deluna sambil mengeratkan pelukannya dileher Manu.
"Masih gantengan daddy banyak sayang." Del tak terima Deluna memuji pria lain.
"Eh, ngomong ngomong lo gak bawa pasangan Man?" Tanya Naomi.
"Jomblo abadi mana punya pasangan." Ledek Del sambil terkekeh.
"Kejam lo, ngatain temen sendiri." Bela Miko.
"Lagian, betah banget ngejomblo. Gak pengen apa punya pasangan. Trek aja gandengan, lah lo?" Delmar masih saja meledeki Manu.
"Nih gandengan gue. Iya kan baby?" Manu bertanya pada Deluna.
"Iya, Om Manu pacarnya baby." Jawab Deluna sambil tersenyum girang. Membuat semua orang disana langsung melongo terlebih Del dan Killa.
"Dih, anak lo yang ngajak gue pacaran." Sangkal Manu. Enak aja dia yang di katain. Orang Deluna sendiri yang memintanya menjadi pacarnya.
Flashback
Seorang gadis kecil dengan tas dipunggung berjalan gontai kearah gerbang sekolahan SD Cendekia. Wajahnya tampak muram, tak ada keceriaan seperti biasanya.
"Baby." Teriak seseorang sambil melambaikan tangan kanannya kearah bocil itu.
"Om Manu." Seketika senyumnya terbit. Gadis kecil itu langsung bersemangat. Dia berlari kearah Manu dan menghambur ke pelukan pria itu. Baby adalah panggilan sayang Manu pada Deluna.
Manu menganggat bocah itu lalu mencium kedua pipinya yang gembul. Walaupun sudah setengah hari sekolah. Aroma parfum bayi masih menempel ditubuhnya.
"Kok Om Manu yang jemput?" Tanya Deluna. Biasanya selalu mommy atau daddy nya yang jemput. Kalau tidakpun, pasti Oma atau Opanya.
"Iya, tadi mommy kamu telepon om. Minta tolong om buat jemput kamu. Mommy masih sibuk, daddy juga. Sekarangkan sekolah baby dekat dengan tempat kerja om."
Deluna baru masuk SD beberapa hari yang lalu. Kebetulan sekolahnya dekat dengan studio foto milik Manu. Setelah lulus S1, Manu menjadi fotografer.
"Yey......jadi sekarang baby bisa sering main ke tempat om dong." Girang bocah itu. Dia memang dekat dengan Manu. Manu yang begitu memanjakannya membuat Deluna sangat nyaman bersama dia. Apalagi sejak Dilan dan Cea kuliah di Singapura, dia makin dekat dengan Manu. Karena hanya pria itu yang sering mengajaknya main.
Manu mendudukkan Deluna dijok motor bagian depan. Dia membonceng Deluna dengan posisi bocah itu depan. Hanya lima menit, mereka sudah sampai distudio Manu.
"Tadi om lihat mukanya muram, ada apa?" Tanya Manu sambil mengambilkan camilan untuk Deluna yang duduk disofa.
Seketika muka Deluna kembali ditekuk. Dia jadi teringat kejadian disekolah tadi.
"Gak mau cerita nih?" Goda Manu sambil menangkup kedua pipi Deluna.
"Baby benci sama Arash." Ujar bocil itu dengan lantang. Tampak sekali raut jengkel diwajahnya.
"Siapa Arash?"
"Teman baby disekolah. Dia jelek, gendut, cengeng. " Deluna menghujat anak itu dengan menggebu gebu.
"Gak boleh gitu sama temannya."
"Baby benci sama dia. Gara gara dia baby diledekin satu kelas." Deluna hampir menangis mengingat kejadian disekolah tadi.
"Emangnya dia Ngapain kamu? Entar biar om samperin. Om bilangin sama dia biar gak ganggu kamu."
"Dia ngasih aku pensil yang ada gambar unicornnya."
"Itu kan sekakaan kamu."
Deluna menggeleng. "Masalahnya, dia ngasih pensil sambil bilang suka sama baby. Terus dia juga bilang Deluna, kamu mau gak jadi pacar aku?" Deluna menirukan perkataan Arash.
Gara gara hal itu Deluna diejek satu kelas. Semua anak mengatainya pacar Arash. Tentu saja Deluna sangat malu. Apalagi Arash yang bertubuh gendut dan cengeng. Tadi saja, saat ditolak Deluna, bocah itu langsung menangis kencang, membuat Deluna makin malu.
Manu tak bisa menahan tawanya. Tak menyangka jika bocah kelas 1 SD sudah mengerti pacaran bahkan nembak.
"Hiks hiks hiks." Deluna menangis, membuat Manu berhenti tertawa.
"Hey, kenapa menangis?" Tanya Manu sambil mengusap air mata Deluna.
"Baby gak mau sekolah lagi. Baby malu, semua teman memanggil baby pacarnya Arash. Baby gak mau, baby gak mau punya pacar jelek, gendut, nangisan. Baby maunya punya pacar kayak Om Manu."
"What." Pekik Manu sambil melotot.
"Om Manu mau gak jadi pacarnya Baby?"
Manu menatap Deluna cengo. Bocah 6 tahun sedang menambaknya sekarang. Oh Tuhan, kenapa selucu ini hidupnya. Disaat semua temannya sudah menikah, dia malah ditembak bocah.