
Killa memperhatikan jalanan sekitar. Rasanya ini bukan jalan pulang. Tapi apa mungkin Del salah jalan? Secara setahun lebih antar jemput Laura, takkan sampai lupa jalan.
"Kak." Tegur Killa sambil menoleh dan menepuk pelan paha Del. "Kayaknya salah jalan deh. Ini bukan jalan pulang kerumah."
"Emang siapa yang bilang mau pulang?" Jawab Del santai dengan mata tetap fokus ke depan.
"Loh, terus mau Kemana?"
"Jalan jalan dulu. Lama gak quality time sama kamu. Kangen ngedate kayak dulu."
"Tapi gimana dengan Deluna?" Sejak bergelar mommy, Killa tidak tenang meninggalkan bayi mungilnya terlalu lama.
"Tenang aja, dia kan sama mama. Pasti dijagain dengan baik sama mama." Ujar Del sambil menoleh ke arah Killa.
"Tapi kalau Deluna rewel, mau nyusu gimana?"
"Asip di kulkas kan banyak. Dah gak usah mikirin itu." Del memang terkesan lebih santai. Mungkin jiwa keibuan lebih kuat dari jiwa kebapakan. Jadi, ibu lebih worry tentang anak mereka terutama jika masih bayi.
"Tapi kak, aku gak tenang."
"Ya udah, kamu telepon mama gih. Pastiin Deluna baik baik aja atau gak?"
Killa setuju dan langsung menelepon mama mertuanya. Dan ternyata, baby mungil itu tengah tertidur pulas. Tak rewel sama sekali sehingga tidak merepotkan omanya.
Del menghentikan mobilnya disebuah taman kota yang cukup ramai. Maklumlah, hari ini weekend, jadi ramai.
Del meraih tangan Killa dan melingkarkannya dilengannya. Mengajak cewek manis itu berkeliling taman untuk sekedar mencari jajanan dan refresing. Dia sangat paham jika istrinya itu suka sekali kulineran.
"Mau apa?" Tanya Del.
Killa belum menjawab. Matanya masih sibuk memperhatikan sekeliling. Mencari apa yang sekiranya ingin dia makan.
"Itu." Killa menujuk sebuah gerai makanan. "Mau ayam pok pok, jamur crispy, sosis bakar dan susu." Jawab Killa sambil menunjuk gerai yang lain lagi.
"Banyak banget." Del menautkan alisnya.
"Kenapa? jangan bilang uang kamu gak cukup. Kebiasaan deh, kalau ngajak aku jalan selalu gak bawa uang." Killa jadi teringat kejadian saat beli boneka. Uang Del tak cukup hingga dia terpaksa beli si dekil. Boneka kucing kecil yang kumal.
"Sok tahu." Sahut Del sambil mencubit hidung Killa. "Bukannya gak ada uang. Tapi apa kamu bisa ngabisin makanan sebanyak itu?"
"Kan ada kamu yang bantu ngabisin." Jawab Killa sambil menyeringai kecil.
"Ok deh, yuk."
Merekapun segera menuju gerai makanan yang diinginkan Killa. Setelah mendapatkan semuanya, mereka duduk disebuah bangku panjang yang kebetulan kosong.
"Em... enak banget, cobain." Killa menyodorkan ayam pok pok kedepan mulut Del dan langsung dilahap oleh cowok itu. "Enak kan?" Tanya Killa saat Del mulai mengunyah ayam tersebut.
"Hm....enak." Jawab Del.
Melihat Del suka, Killa makin semangat menyuapi suaminya itu.
"Susunya gak enak. Kayaknya enakan punya kamu deh." Ujar Del setelah menyedot susu coklat yang tadi dibelinya bareng Killa.
"Masak sih kak? perasaan kita beli samaan. Masak rasanya beda?" Tadi mereka memang membeli rasa yang sama.
"Mau punya kamu aja."
"Nih." Killa menyodorkan susu coklatnya pada Del.
"Bukan yang itu. Tapi yang itu." Del menujuk dagu kearah dada Killa.
"Kebiasaan kamu." Killa memukul pelan lengan Del. "Kalau ngomong suka ambigu, gak jelas." Omel cewek itu dan hanya ditanggapi dengan kekehan oleh Del. Dia emang suka banget menggoda istrinya.
"Malam ini indah banget ya Bi." Ujar Del sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. "Kamu bisa ngitung gak, ada berapa bintang dilangit?"
"Ya gak bisalah kak, banyak banget." Jawab Killa.
"Sama kayak cinta aku kekamu. Gak bisa dihitung, banyak banget."
Blush
Lagi lagi Killa dibuat blushing oleh Del. Entah kenapa cowok itu jadi hobi ngegombal sekarang.
"Kamu mah gombal mulu." Ujar Killa sambil tersipu malu lalu memasukkan sosis bakar kemulutnya.
"Kamu gak lagi sambil bayangin punya aku kan?" Goda Del sambil menaikkan satu alisnya.
"Ih, apaan sih, enggaklah." Sangkal Killa.
"Kali aja kamu makan sosis sambil bayangin ngebeje in punya aku." Ledek Del sambil terkekeh.
"Otak aku gak ngeres kayak kamu."
"Masak sih?" Goda Del sambil mendekatkan wajahnya kewajah Killa hingga berjarak hanya beberapa senti saja. Membuat jantung Killa bekerja dua kali lebih cepat.
"Kak Del, malu ih dilihatin orang." Killa mendorong dada Del agar sedikit menjauh. Gak bisa dibiarin terus terusan dalam posisi ini. Bisa bisa tabrakan bibir tak terelakkan.
"Kalau disini sok sok malu. Kalau dikamar, beuh....diajak ganti gaya apapun mau."
"Ihhhh....apaan sih." Desis Killa yang mulai kesal karena digodain mulu. Sebenarnya bukan kesal, lebih pada malu.
"Aku ada sesuatu buat kamu." Ujar Del sambil merogoh sesuatu yang ada di kantong jas semi formalnya.
"Apaan sih?" Killa penasaran.
"Kok pakai tutup mata?"
"Udah nurut aja."
Tak ada pilihan lain. Killa akhirnya menuruti permintaan Del. Toh hanya menutup mata. Gak ada susah susahnya dan gratis.
Del meraih tangan kanan Killa dan meletakkan sesuatu disana. "Buka." Titahnya.
Killa perlahan membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah liontin inisial A mirip miliknya dulu. Ternyata Del memberinya kalung emas putih dengan liontin huruf inisial A.
"Ini punyaku dulu kan kak?" Tanya Killa sambil memperhatikan liontin tersebut. Liontin yang sengaja dia letakkan digenggaman Del agar cowok itu mengingatnya.
"Iya."
"Jadi masih kamu simpan."
"Aku penasaran aja dulu. Gimana ceritanya liontin itu ada digenggamanku. Dan aku yakin, itu bukan milik Laura. Dan kenapa hanya liontin? kenapa gak ada kalungnya?"
"Kalungnya putus malam itu. Dan aku sengaja naruh liontin ini agar kamu ingat apa yang sudah kamu lakukan ke aku."
"Maaf." Del melingkarkan lengannya dibahu dan pinggang Killa lalu mendekap cewek itu didadanya. "Sekali lagi maaf untuk malam itu. Maaf ka__" Del tak melanjutkan ucapannya karena Killa menaruh telunjuknya di bibir Del.
"Gak usah bahas itu lagi. Aku udah maafin kamu. Gak usah merasa bersalah lagi."
"Makasih." Ujar Del sambil membenamkan kepalanya diceruk leher Killa. "Makasih karena udah memaafkanku. Makasih karena udah mencintaiku dan dengan sabar mau menungguku. Aku tahu gak mudah perjuangan kamu untuk menungguku berada dititik ini. Makasih Bi, makasih." Lanjut Del sambil meneteskan air mata.
"Aku juga makasih, karena pada akhirnya kamu datang juga. Penantianku dan usahaku jadi gak sia sia." Ujar Killa sambil menyeka air mata Del. Entah kenapa, suasana seakan menjadi syahdu. Bahkan nyanyian pengamen jalanan seolah menjadi back sound yang sangat merdu.
"Aku sempat takut saat kamu bilang otw. Aku takut kamu gak bakalan sampai ditempatku. Tapi___"
"Tapi aku akhirnya sampaikan?" Potong Del. "Akhirnya cintaku berlabuh juga dihati kamu." Lanjutnya sambil menatap kedua mata Killa. "Kamu tahu? aku sempat takut jika saat aku datang, cintamu sudah ditahap reda, karena ___"
"Gak akan pernah bisa reda." Gantian Killa yang memotong ucapan Del. "Cintaku gak akan pernah berada ditahap reda. Akan selalu pada tahap deras."
"Kamu tahu, aku sedang berada ditahap apa sekarang?" Tanya Del.
"Apa?" Killa takut untuk menebak. Takut jika ekspektasinya terlalu berlebihan.
"Banjir."
Senyum Killa seketika mengembang mendengarnya. Hatinya terasa dibanjiri dengan sejuta kehangatan. Ratusan kupu kupu seperti terbang disekitarnya sekarang. Tak bisa diungkapkan dengan kata kata. Itulah kebahagiaan yang Killa rasakan saat ini. Semesta seolah berpihak padanya.
Cup
Del tiba tiba mencium pipi Killa membuat wajah cewek itu kian memerah karena malu.
"Kamu cantik." Puji Del sambil merapikan rambut Killa kebelakang telinga.
Ini bukan mimpikan? Sumpah, tubuh Killa terasa ringan sekali, dia seperti mempunyai sayap dan terbang saat ini.
"Kamu gak mau makaiin?" Tanya Killa sambil memegangi kalung dari Del.
"Tentu saja." Del mengambil kalung itu dari tangan Killa lalu memakaikannya dileher jenjang istrinya itu. Setelah selesai, Del memperhatikan kalung tersebut. Terlihat sangat cocok sekali dipakai Killa. "I love u."
"I love u too." jawab Killa sambil memberikan senyuman termanisnya.
Del memajukan wajahnya hendak mencium Killa tapi segera didorong oleh cewek itu. "Tempat umum kak." Killa mengingatkan.
"Kalau sama kamu mah selalu bikin lupa tempat. Dunia milik berdua. Pengennya nyosor mulu kayak bebek."
"Halah, sekarang bisa bilang gitu. Besok pas sudah masuk kuliah. Lihat cewek cewek cantik, tauk deh." Jujur saja Killa sedikit takut mengingat senin ini Del akan masuk kuliah. Dikampus, Del pasti akan bertemu dengan cewek cewek cantik. Bahkan lebih cantik darinya.
"Gak usah insecure Gitu. Cintaku itu kayak kamera. Kalau udah fokus pada satu titik, yang lain ngeblur semua."
Lagi lagi Killa dibuat melayang karena gombalan recehnya Del.
"Aku memang gak bisa selalu ngawasin kamu setiap saat. Tapi ingatlah, ada aku dan Deluna yang selalu menunggumu dirumah."
"Aku akan selalu mengingatnya. Selalu ingat kemana arah pulang. Kamu dan Deluna adalah rumahku, tempatku untuk pulang." Sahut Del sambil membelai kepala Killa. "Aku beruntung banget punya istri kayak kamu. Udah cantik, baik dan sabar banget." Lanjutnya sambil menggenggam tangan Killa lalu menciumnya.
"Aku juga beruntung banget bisa jadi pemenang hati kamu." Sahut Killa tak mau kalah.
"I love you more Akilla Luna."
"I love you so bad Delmar kalandra."
.
.
TAMAT
.
Jangan di unfavorite dulu ya. Bakalan ada ekstra part beberapa bab.
Makasih buat yang sudah mengikuti novel ini dari awal hingga akhir.
**Please bagi yang baca, wajib banget LIKE , KOMEN kalau sempat dan penting banget buat FOLLOW author.
SALAM DARI DELMAR DAN KILLA 😘😘😘😘**