DELMAR

DELMAR
KETAHUAN



Delmar tampak sangat gelisah dalam tidurnya. Keringatnya bercucuran walaupun ruangannya ber ac. Cowok itu terus memanggil manggil nama Killa. Membuat Killa cemas dan mendekati suaminya yang tertidur disofa.


"Kak, bangun kak." Killa duduk ditepi sofa sambil menepuk nepuk pelan pipi Del. Dia juga menyeka keringat yang membasahi wajah cowok tampan itu.


"Killa." Lirih Del sambil membuka matanya perlahan. Dia melihat Killa duduk disebelahnya sambil tersenyum kearahnya.


Del tak bisa menahan air matanya. Dia bangkit lalu memeluk Killa.


"Killa, ini beneran kamu kan Kil. Kamu gak pergi ninggalin aku kan?" Ujar Del sambil terisak, membuat Killa heran dengan tingkah suaminya itu. "Jangan pergi, jangan tinggalin aku." lanjutnya.


"Kak, kamu kenapa?" Tanya Killa sambil berusaha menguraikan pelukan Del.


"Jangan dilepas, aku masih mau peluk kamu." Ujar Del. Dia benar benar masih takut sekarang. Mimpi itu terasa begitu nyata. Bahkan sakitnya masih terasa saat dia sudah terjaga.


"Aku ingin terus memelukmu seperti ini. Jangan pergi, jangan tinggalin aku." Delmar menyandarkan kepalanya dibahu Killa sambil sesenggukan. Sekarang Killa yakin, jika suaminya itu baru aja mimpi buruk, hingga dia tampak sangat kacau seperti ini.


"Ada apa kak? kenapa kamu sampai keringetan, padahal ruangannya dingin? Kamu mimpi buruk?" Tanya Killa.


"Jangan tinggalin aku Bi, Please." Sejak tadi hanya kata kata itu yang terucap dari mulut Del.


"Aku gak akan ninggalin kamu, tapi ini sakit, lepas." Pelukan Del membuat bekas operasi caesarnnya sakit.


"Aku gak akan ngelepasin kamu. Aku ingin selalu memelukmu seperti ini terus." Dengan bodohnya Del malah makin mengetatkan pelukannya.


"Kak lepas, sakit." Killa memukul mukul punggung dan lengan Del agar cowok itu melepaskannya.


"Kak Del perut aku sakit." Teriak Killa sambil mencubit pinggang Del kuat kuat. Membuat Del kesakitan dan akhirnya melepaskan pelukannya.


"Bekas operasi caesarku sakit karena kamu tekan kayak tadi." Ujar Killa sambil memegangi perutnya dan meringis kesakitan.,,


"Astaga, maaf Bi." Delmar seketika sadar jika dia sudah menyakiti Killa. Dia panik, takut jika bekas operasi Killa berdarah atau malah terbuka.


"Cepet panggilin dokter. Aku takut bekas caesarku kenapa napa. Cepetan kak." Titah Killa panik. Ini pertama kalinya Killa menjalani operasi, cewek itu sedikit paranoid , takut jika terjadi sesuatu pada bekas operasinya.


"Iya, iya." Delmar Segera menekan alat yang ada disamping ranjang Killa untuk memanggil dokter. Delmar menganggat Killa yang sedang duduk disofa menuju ke atas ranjang dengan sangat hati hati.


"Maaf sayang, maaf." Del menggenggam tangan Killa sambil mencium kening dan pipi cewek itu berkali kali.


Beberapa saat kemudian dokter dan suster datang. Mereka segera memeriksa Killa. Dan untungnya tak terjadi apa apa pada luka bekas operasi caesarnya. Setelah diberi obat penahan sakit, Killa merasa mendingan.


Setelah dokter dan suster keluar, Del segera duduk disisi ranjang sebelah Killa.


"Masih sakit?"


"Sedikit." Jawab Killa. "Lagian kamu tadi kenapa sih kak? Bangun tidur kayak orang linglung gitu?"


"Aku mimpi buruk, aku mimpi kamu meninggal. Aku sangat takut Bi, aku takut kamu beneran ninggalin aku." Delmar merasa jika ini adalah mimpi terburuknya sepanjang hidup. "Ini gara gara kamu tadi ngomongnya ngelantur, aku jadi sampai kebawa mimpi."


"Maaf, tapi aku beneran mimpi ketemu ayah."


"Nyembunyiin apa maksud kamu?" Killa mengernyit bingung.


"Kondisi kamu baik baik aja kan? Gak ada komplikasi serius kan?"


Killa menggeleng, membuat seketika merasa benar benar lega.


"Syukurlah kalah kamu baik baik saja. Aku takut terjadi sesuatu padamu." Del merangkul bahu Killa, membuat cewek itu sedikit bergeser agar Del bisa duduk nyaman disebelahnya.


Killa menarik kepala Del agar bersandar dibahunya. Dia membelai kepala Dal dan satu tangannya lagi menggenggam tangan cowok itu. Killa ingin memberikan kenyamanan karena dia tahu kalau suaminya itu sedang tidak baik baik saja sekarang. Cowok itu masih terbawa suasana mimpi buruknya.


Tapi dengan adanya mimpi itu, setidaknya Del bisa lebih sadar jika dia begitu mencintai Killa dan takut kehilangannya.


"Setelah kamu selesai nifas, kita langsung konsul ke dokter tentang alat kontrasepsi yang bagus. Aku gak mau kamu hamil lagi. Cukup Deluna saja, aku gak mau punya anak lagi. Aku gak mau membahayakan nyawa kamu."


"Kamu sepertinya masih terbawa mimpi kak. Aku baik baik saja kok. Dan aku juga tidak keberatan punya anak lagi. 2, 3, atau bahkan 4." Jawab Killa sambil membelai wajah Delmar dengan punggung tangannya.


"Enggak, pokoknya enggak, cukup satu saja." Delmar meraih tangan Killa yang berada diwajahnya lalu menciumnya berkali kali.


"Aku janji, gak akan biarin kamu berada dalam posisi seperti kemarin lagi. Aku gak mau kamu berjuang nyawa demi melahirkan anak kita lagi. Aku gak mau. Aku gak mau kamu hamil lagi."


Killa menghela nafas. Sepertinya dia harus mengiyakan saja ucapan Del. Del masih terbawa suasana. Killa yakin, dengan berjalannya waktu, suaminya itu akan menginginkan anak lagi.


Lagipula berdebat dengan Del hanya akan menambah pusing saja. Lebih baik mengalah demi menjaga kestabilan tekanan darah agar tidak naik.


"Bi, aku cinta sama kamu." Tutur Del sambil menatap kedua mata Killa dan menangkup kedua pipi istri manisnya itu.


"Aku juga kak, aku juga cinta sama kamu." Jawab Killa sambil memberikan senyuman termanisnya.


Del memajukan wajahnya, menggesek gesekan hidungnya dengan hidung Killa. Keduanya sama sama tertawa. Killa bisa merasakan jika Del sudah benar benar mencintainya sekarang. Killa tak pernah putus asa berdoa agar suaminya bisa tulus mencintainya. Dan akhirnya, Tuhan menjawab doa doanya. Apa yang sangat Killa impian, akhirnya menjadi kenyataan. Bagaimanapun, perjuangannya tidak mudah untuk bisa sampai ditahan ini.


Del mencium bibir Killa, mencium bibir yang selalu membuatnya ketagihan itu. Killa tidak menolak, membiarkan saja Del menikmati bibir dan mulutnya. Toh, dia juga tidak mau munafik, dia juga sangat menikmatinya. Del melepaskan ciumannya saat merasa Killa kehabisan oksigen, tapi setelah itu, dia kembali mencium Killa seakan akan tak ada niat untuk mengakhiri ciuman itu.


"Astagfirullah hal adzim." Pekik seorang suster yang baru masuk sambil mengelus dadanya. "Istigfar Mas, istrinya baru saja melahirkan, kok sudah diajak bercumbu."


Killa sontak merasa sangat malu. Mukanya merah padam. Sedangkan Del, cowok itu turun dari ranjang. Ekspresinya biasa saja, tak ada raut malu sama sekali. Dia tak merasa bersalah, toh yang dia cium istrinya sendiri, bukan istri orang.


"Pantesan tadi istrinya kesakitan, pasti habis mecem macem." Tuduh suster itu tanpa perasaan. Sebagai seorang wanita, dia tidak suka pada suami yang suka macam macam saat istrinya masih dalam posisi tak bisa diajak macam macam.


"Enggak kok sus, kami gak habis Ngapain Ngapain. Tadi emang tiba tiba sakit saja perut saya." Sangkal Killa. Malu banget dia kalau bilang perutnya sakit karena dipeluk terlalu erat oleh suaminya.


"Lain kali kalau suaminya minta macem macem langsung tolak aja mbak. Kalau dibiarin makin ngelunjak. Awalnya minta cium saja, lama lama minta lebih." Suster itu masih saja terus berceramah, membuat Del memutar kedua bola matanya jengah.


"Apaan sih sus, kok malah panjang lebar gini. Orang kita cuma ciuman doang, gak habis ngapa ngapain." Del membela diri. Ogah banget dia dituduh mau minta macem macem. Gini gini, biarpun sang*an, dia paham kalau orang nifas gak boleh diajak begituan.


.


Kemarin niatnya author hanya pengen ngeprank doang, biar readers pada Baper. Tapi sayangnya, malah ada beberapa orang yang langsung unfavorite 😭😭😭