
Pov Killa
Aku bersandar dibahu Kak Del sambil melingkarkan tanganku dilengannya. Kami tengah duduk di sofa sekarang, dan dia sedang asik bermain game diponselnya. Dulu, dulu sekali saat pertama aku melihat Kak Del. Tak pernah terpikirkan akan bisa sedeket ini dengannya. Tepatnya saat masa orientasi siswa alias mos. Saat itu pertama kali aku ngelihat Kak Del. Dia ketua osis pada masa itu, dan sumpah, pesonanya sungguh luar biasa.
Aku selalu mencuri curi pandang kearahnya. Dan, ya, hanya melihatnya saja sudah bisa membuatku tersenyum senyum sendiri. Dulu, awalnya aku adalah seorang army, aku fans berat V bts. Hobiku setiap hari adalah ngehaluin dari pacaranya V.
Tapi semua berbeda setelah aku melihat kak Del. Tidak ada lagi V sebagai objek haluku, melainkan ganti Kak Del. Dimataku, hatiku, dan pikiranku, hanya ada Kak Del. Sampai sampai Shani lelah menyadarkanku tentang satu fakta, kalau Kak Del sedang mengincar seorang cewek angkatanku. Dia adalah Laura. Ya, aku memang tak ada apa apa jika dibanding Laura, cewek tercantik seangkatanku itu. Belum lagi gosip tentang Kak Del yang punya hubungan dengan Jessica.
Aku hanya berani menatap Kak Del dari jauh. Mengaguminya, dan mengkhayalkan jadi pacaranya. Mengajaknya bicara atau kenalan, mana berani. Tapi semuanya berubah sejak malam itu. Suatu malam yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidup, dimana mahkotaku direnggut paksa oleh orang yang aku cintai tapi dia tak mengenalku.
Hari itu, aku selesai bimbel jam 8.30 malam. Tapi karena tadi sore terjadi perang hebat antara ibu dan ayah, aku jadi enggan pulang. Aku membuka HP dan melihat konser bts, tanpa aku sadari, ternyata sudah sangat larut. Biasanya jam 9 ada sekuriti yang mengecek dan mengunci pintu, tapi hari ini, aku tak nampak Pak Parjo, apa mungkin dia sedang cuti. Ah sudahlah, buru buru aku mengemasi bukuku.
"Beb kamu dimana?" Aku mendengar suara seorang cowok dan langkah kaki. "Ra, kamu dimana?" Suara itu seperti sering aku dengar.
Aku selesai mengemas buku dan ingin keluar, tapi aku terkejut saat melihat Kak Del berdiri diambang pintu.
"Beb kamu disini. Aku nyariin kamu dari tadi."
"Nyariin aku?" Aku mengernyit bingung. Untuk apa dia nyariin aku? dan tunggu, dia manggil aku Beb, gak salah?
Kak Del berjalan mendekatiku, membuat jantungnya seketika berdegup kecang. "Yuk pulang." Ujarnya sambil menarik tanganku. Aku bisa mencium bau alkohol yang sangat menyengat. Selain itu mata Kak Del tampak sangat merah, jalannya pun sempoyongan. Aku menebak, dia tengah mabuk saat itu.
Aku yang mulai takut segera menghempaskan tangannya dan beringsut mundur beberapa langkah. Dia kembali mendekat dan ingin menarik tanganku, tapi karena jalannya yang sempoyongan, dia malah menabrak meja dan jatuh menimpaku.
Untuk beberapa detik kami saling bertatapan. Tubuhnya menindih tubuhku, dan jangan lupakan jantungku, rasanya jantung ini mau meledak. Tak bisa kupungkiri, kak Del memang sangat tampan.
"Kamu cantik sekali malam ini Beb." Ujar nya sambil membelai wajahku dengan punggung tangannya. Aku yang merasakan berat mulai sadar jika Kak Del masih dalam posisi menindihku. Aku mendorong dadanya agar dia bangkit, tapi bukannya bangkit, dia malah mencium bibirku.
Bau alkohol dari mulutnya membuatku ingin muntah, dan kepalaku juga mulai pusing. Aku memang tak bisa tahan dengan bau alkohol.
Semakin lama, ciuman itu makin brutal, dia ******* bibirku, menggigitnya kecil dan mulai menerobos kedalam rongga mulutku. Lidahnya mulai bermain main disana, membelai lidahku dan menghisapnya.
Aku tak tahan lagi, perutku mual dan kepalaku makin pusing. Dengan kekuatan yang masih ku punya, aku berusaha mendorong dada kak Del. Tapi percuma, tenanganya lebih besar dariku.
Dia melepaskan bibirku, membuatku segera mengambil oksigen sebanyak banyaknya. Aku pikir semuanya sudah selesai, tapi aku salah, ciumannya turun ketelinga dan leherku, menggigit disana dan membuatku merasakan sensasi aneh yang luar biasa.
"Kamu wangi sekali Beb." Ujarnya sambil terus menciumi ceruk leherku.
Tangan Kak Del mulai meremas dadaku, membuatku makin ketakutan.
"Jangan kak, aku mohon lepaskan." Isakku sambil berusaha berontak. Bukannya melepaskan, Kak Del malah mengunci kuda tanganku keatas. Dia menyibakkan kaosku dan menarik br* ku hingga kedua dadaku terlepas dari penutupnya.
"Berhenti berontak Beb, kamu hanya membuat juniorku makin tegang." Ujarnya sambil menatap sayu kearahku.
Kenapa dia terus memanggilku Beb? jangan jangan, dia pikir aku adalah Laura.
"Jangan, aku mohon jangan lakukan ini." Tuturku sambil terus menangis saat dia mulai memainkan dadaku. Rasanya sungguh memalukan, aku malu sekali. Seumur hidup, baru kali ini ada pria yang menyentuh bagian sensitif yang selalu aku tutupi itu.
Aku menjerit saat Kak tangan Kak Del masuk kedalam rokku. Dia buru buru menciumku agar aku tak berteriak lagi. Dan dengan kasar dia menarik cd ku hingga koyak lalu membuangnya.
Aku merasakan kepalaku makin pusing. Bau alkohol benar benar membuatku sakit kepala dan mau muntah. Aku tak ada tenaga lagi untuk melawan. Aku merasa sangat lemas. Pandanganku juga mulai berkunang kunang.
Kak Del mengunci pergerakanku dengan duduk diatas pahaku. Dan aku makin ketakutan saat dia membuka celananya. Aku bisa melihat milik Kak Del yang sudah berdiri sempurna. Aku takut, sungguh takut. Aku terus menangis dan menggeleng, berharap dia akan iba dan menghentikan semua ini.
"Jangan kak, aku mohon jangan lakukan itu."
"Jangan kak, aku bukan Laura. Aku mohon jangan. Tolong, tolong aku." Dengan sisa sisa kekuatan, aku berteriak minta tolong.
Tapi dia mengabaikan ku, dia malah melebarkan kakiku dan menyatukan milik kami.
"Sakit." Teriakku saat miliknya menerobos milikku yang masih belum pernah dijamah siapapun. Aku merasakan sakit yang luar biasa, sakit dibagian inti sekaligus dihatiku. Kenapa nasibku seperti ini. Aku selalu berusaha menjaga diri, bahkan aku tak pernah pacaran. Tapi kenapa aku malah mendapatkan pelecehan seperti ini. Dan kenapa yang melakukannya adalah cowok yang paling aku kagumi. Cinta pertamaku.
"Cukup, hentikan. Tolong berhenti." Aku tak tahan lagi menahan sakit dia bagian intiku.
Bukannya berhenti dia malah mempercepat temponya.
"Enak sekali Beb. Kau sungguh nikmat." Racaunya. Dia sangat menikmati, berbanding terbalik dengan aku yang sangat kesakitan. Aku jadi bingung, kenapa banyak orang yang yang menyukai s*x, padahal sangat menyakitkan seperti ini.
"LAURA." Pekiknya bersamaan dengan kurasakannya cairan hangat yang memenuhi bagian intiku.
Setelah itu dia menarik miliknya, membetulkan celana lalu berbaring disebelahku. Dengan tubuh yang masih lemas, aku merapikan pakaianku. Aku melihat ke arahnya, matanya terpejam dengan nafas yang mulai teratur.
Sakit sekali rasanya, bisa bisanya dia enak enakan langsung tidur setelah memperkosaku. Aku berusaha bangun dengan menahan perih diarea intiku.
Aku melihat kalung pemberian Mas Fariz putus dan terjatuh dilantai. Aku mengambil liontin huruf A lalu meletakkannya digenggaman Kak Del. Semoga dia ingat apa yang sudah dia lakukan padaku malam ini. Dalam hati kecilku, aku berharap dia akan minta maaf dan bertanggung jawab jika aku sampai hamil. Aku tidak bodoh, aku tahu kak Del menyemburkan sp*rmanya didalam, dan itu bisa menyebabkan kehamilan.
Aku merasa sangat hancur malam itu. Tapi aku berusaha tampak biasa, tak ingin ibu atau ayah sampai tahu.
Aku terpuruk beberapa hari. Tapi beda dengan Kak Del. Dia tampak biasa, bahkan saat bertemu denganku disekolah, dia bersikap biasa. Tak ada canggung atau gelagat aneh. Dia masih seperti dulu, seperti Kak Del yang tidak mengenalku.
Muncul pernyataan dibenakku, apa mungkin, dia tak ingat kejadian malam itu? Ya, nampaknya seperti itu karena dia mabuk. Dan aku, aku memilih memendam sendiri semua itu. Tiap hari menangisi nasib sial yang menimpaku.
"Mikirin apa sih? kok diam aja dari tadi?" Kak Del menyadarkanku dari lamunan tentang malam itu.
"Mikirin kamu." Jawabku sambil mencium pipinya. "Aku cemburu sama ponsel kamu. Sejak tadi kamu merhatiin itu mulu, akunya dicuekin." Aku memasang wajah cemberut, pura pura ngembek.
"Maaf, maaf." Dia meletakkan ponselnya lalu mengecup bibirku singkat. "Udah jangan cemberut lagi. Lagi pengen sesuatu gak? pengen makan apa gitu? biar aku beliin." Tawarnya.
"Enggak, gak pengen apa apa. Cuma lagi pengen disayang aja." Ucapku manja. Sekali kali manja pada suami gak masalah kan?
"Ish Ish ish, lagi ada yang pengen disayang nih." Dia mencubit gemas kedua pipiku lalu menghujani wajahku dengan ciuman. "Aku sayang kamu, sayang banget." Tuturnya sambil menangkup kedua pipiku dan menatap kedua mataku.
"Makasih."
"Loh, kok makasih? kamu gak sayang sama aku?"
"Enggak." Jawabku datar sambil menggeleng.
Ekspresi Kak Del seketika berubah. Dia melepaskan tangannya dari wajahku. Sejak mimpi buruk kemarin, Kak Del sedikit baperan.
"Aku gak sayang, tapi sayang banget." Lanjutku sambil menggenggam tangannya.
Aku lihat bibirnya melengkung ke atas. Dia tersenyum lagi. "Jangan pernah tinggalin aku. Kalau nanti kamu udah bosan denganku, udah gak sayang, jangan tinggalin aku. Beri aku kesempatan untuk membuatmu kembali jatuh cinta padaku." Pintanya sambil merangkul pundakku dan mencium pucuk kepalaku.
Aku gak akan pernah bosan mencintaimu. Melihatmu takut kehilanganku, membuatku bahagia. Setidaknya aku sudah sangat penting buat kamu. Tanpa kamu tahu, aku jauh, dan jauh lebih takut lagi kehilangan kamu.
"Iya." Jawabku sambil mengangguk.
Kak Del memegang tengkukku lalu mencium bibirku dengan lembut.