
Mata Celin membulat sempurna, dengan telapak tangan yang membekap mukutnya sediri. Kakinya lemas mendengar Laura mengatakan anak kita.
Celin yang baru kembali dari kantin tak sengaja mendengar obrolan antara Laura dan Miko. Sebagai ibu, dia merasa telah gagal mendidik anak. Dia tak menyangka jika diusianya yang bisa dibilang belum dewasa, Laura bisa melakukan tindakan sejauh ini. Dan ini sudah melanggar hukum.
Celin masuk kedalam ruangan dan langsung menampar Miko.
PLAK
Wanita itu tampak sangat murka.
"Ada apa mah?" Tanya Laura panik.
"Ada apa kamu bilang." Teriak Celin sambil menatap Laura tajam. "Kenapa kamu ngelakuin ini Ra, kenapa?" Celin masih saja berteriak.
"Mama mendengar obrolan Laura dengan Miko?" Tanya Laura gugup. Wajah cewek itu seketika pucat pasi.
"Iya, dan mama cukup jelas mendengar saat kamu mengatakan anak itu anak kalian berdua." Celin menujuk Laura kemudian Miko. Perempuan setengah baya itu mulai menitikkan air mata. Dia ingat bagaimana dia menyumpahi Del dan bertengkar dengan Rain demi membela putrinya yang ternyata tak lebih dari seorang pembohong.
"Saya akan tanggung jawab tante. Saya akan menikahi Laura."
PLAK
Celin kembali menampar Miko. "Gara gara ulah kamu, putrinya melakukan kebodohan dengan memfitnah orang lain. Dan gara gara kamu juga, masa depan putriku dipertaruhkan. Laura bisa dipenjara karena kasus ini. Dia sedang hamil, dan kalau sampai dia dipenjara, hiks hiks." Celin bahkan tak sanggup meneruskan ucapannya.
"Jangan salahkan Miko mah, dia tak salah. Ini murni salah Laura." Ujar Laura sambil menangis.
"Dan yang menusuk kamu, apakah dia benar Delmar?"
"Bukan." Jawab Laura sambil menggeleng takut.
Celin makin lemas, putrinya sungguh sudah diluar batas kali ini. Celin menatap Miko, tampak sekali kilatan amarah dimatanya.
"Kemana saja kamu selama ini? kenapa baru muncul sekarang? Kalau saja kamu mengakui anak kamu sejak awal, semua tak akan seperti ini." Teriak Celin sambil memukuli lengan Miko.
"Maaf tante, saya tidak tahu kalau Laura hamil. Dan saya berada di Kalimantan sejak seminggu yang lalu. Saya baru tahu tentang kasus ini." Ucap Miko penuh penyesalan.
"Kalimantan." Gumam Laura. Dia tahu jika keluarga Sasa ada diKalimantan. "Jangan jangan kamu dan Sasa?" Laura menutup mulutnya sendiri sambil geleng geleng.
"Enggak Ra, enggak. Gue dan Sasa gak nikah disana." Jelas Miko.
"Nikah? Sasa? Apa maksudnya ini?" Celin makin dibuat bingung.
"Gue memang berencana menikahi Sasa. Tapi setelah tahu kamu hamil. Gue langsung mendesak Sasa buat tes DNA. Awalnya dia menolak, tapi akhirnya dia mau melakukannya."
"Dan hasilnya?" Laura sangat penasaran.
"Belum keluar. Tapi gue yakin, bukan anak gue." Jelas Miko.
Mario yang baru masuk terkejut melihat anak dan istrinya menangis.
"Ada apa mah?" Tanya Mario cemas.
"Pria itu yang menghamili Laura." Jawab Celin sambil menunjuk kearah Miko.
"Tapi, bukankah itu anak Delmar?" Mario bingung.
"Bukan Pah. Laura berbohong, dia memanfaatkan keadaan untuk memfitnah Delmar. Kenyataannya, pria ini yang telah menghamili Laura." Jelas Celin.
Amarah Mario langsung memuncak. Pria baruh baya itu menyerang Miko dan memukuli tanpa ampun. Sedangkan Miko hanya pasrah tanpa ada niatan membalas sedikitpun.
"Pah stop Pah. Jangan pukuli dia." Teriak Laura sambil menangis histeris. Dia turun pelan dari ranjang dan berniat menghentikan papanya tapi dicegah oleh Celin. Dia tak mau Laura ikut kena pukul, apalagi kondisi Laura yang masih dalam tahap pemulihan pasca operasi.
"Pah hentikan. Laura mohon hentikan Pah. Ini bukan salah Miko. Ini salah kami berdua." Laura terus memohon sambil menangis.
Rupanya kegaduhan itu terdengar sampai keluar. Beberapa suster dan dokter masuk keruangan itu dan menghentikan Mario yang dengan brutal memukuli Miko.
"Tolong jangan membuat keributan, ini rumah sakit." Ujar salah seorang dokter.
Seketika Laura berlari memeluk papanya. "Maaf pah, maafin Laura. Laura salah, Laura salah Pah."
Melihat kondisi Miko yang memprihatinkan, seorang perawat membawanya untuk diobati.
"Jangan hanya menyalahkan Miko. Ini salah kami, salah kami berdua." Laura menangis dalam dekapan sang papa.
Flashback
"Gila ya lo, bisa bisanya lo ninggalin Miko demi Aiden. Miko sayang banget sama lo." Ujar Laura.
"Gue tahu, tapi sayangnya, gue sukanya sama Aiden." Sahut Sasa.
Hati Miko hancur mendengarnya. Mendengar cewek yang dia cintai mengatakan lebih menyukai cowok lain dibanding dirinya.
"Gue mergokin sendiri Sasa tidur dengan Aiden, Mik. Gue lihat pakai mata kepala gue sendiri."
Ucapan Naomi terus bergema dikepalanya. Miko menegak banyak minuman, berharap bayangan Sasa dan Aiden bisa enyah dari kepalanya. Tapi kenyataannya, minuman sama sekali tak bisa menghilangkan rasa sakit hatinya.
"Gue pulang dulu." Miko pamit pada Rey dan Manu.
"Del udah pulang, lo juga mau pulang? gak seru kalian." Tutur Rey.
Miko tak mempedulikan Rey. Dia segera memakai jaketnya. Karena merasa sedikit mabuk, Miko ingin ketoilet dulu untuk sekedar mencuci muka. Tapi saat melewati kamar tamu, dia mendengar suara tangisan. Pintunya terbuka setengah, membuat Miko langsung masuk untuk memastikan ada siapa didalam.
"Laura." Gumam Miko saat melihat Laura yang terduduk dilantai sambil menangis. Cewek itu dalam kondisi setengah bug*l. Hanya memakai pakaian dalam saja. Miko melepas jaketnya untuk menutupi tubuh Laura.
"Lo kenapa Ra? gue pikir lo udah pulang bareng Del?" Tanya Miko sambil duduk disamping Laura.
"Hiks hiks hiks, Kak Del jahat Mik, jahat." Adu Laura sambil sesenggukan. "Dia tega menggalin gue setelah kami making out." Miko bisa melihat beberapa kissmark di leher dan dada Laura.
"Mungkin dia lagi ada masalah Ra." Bujuk Miko.
Laura menggeleng. "Enggak Mik, bukan itu alasannya. Tapi karena Killa. Killa Mik, Killa. Kak Del menyebut nama Killa saat kami making out. Gue yang bersama dia, tapi pikirannya bersama Killa." Laura memukul mukul dada Miko untuk melampiaskan kemarahannya.
Miko menghapus air mata Laura. "Cinta emang menyakitkan Ra. Cinta yang kita pikir bisa bikin hidup kita bahagia, justru menyakiti kita." Tanpa sadar Miko meneteskan air mata. Membuat Laura menatap iba ke arah cowok itu..
"Jangan bilang__"
"Iya Ra, gue tahu. Gua tahu kalau Sasa selingkuh dengan Aiden."
"Hidup ini gak adil Mik, gak adil. Gue cinta sama Kak Del, gue sayang dia. Gua bahkan rela memberikan seluruh yang gue punya untuknya. Tapi apa yang gue dapat? Gue dicampakkan begitu saja. Gue salah apa, gue salah apa Mik?"
"Kesalahan kita adalah memaksa bertahan dengan orang yang tidak mencintai kita. Kita sendiri yang memilih disakiti. Kita sendiri yang memilih menjadi orang bodoh." Ujar Miko sambil menatap Laura.
"Kenapa Kak Del tega nyakitin gue. Kurang gue apa Mik, apa?"
"Gak ada Ra, lo sempurna." Jawab Miko sambil membawa Laura dalam dekapannya. Tapi semuanya terasa lain saat pelukan itu makin erat. Memeluk cewek cantik yang setengah bug*l membuat bagian bawah tubuh Miko bereaksi. Ya, jaket yang dia pakai untuk menutupi tubuh Laura sudah lepas saat cewek itu memukuli Miko tadi.
Miko melepaskan dekapannya, dia menatap tubuh Laura dengan mata yang dipenuhi kabut gairah. Miko mendekatkan wajahnya pada Laura, mencium bibir Laura dan meluma*tnya dengan lembut. Laura yang setengah mabuk dan baru saja making out membuatnya terbuai dengan ciuman Miko. Diapun membalas ciuman itu hingga keduanya larut dalam kenikmatan yang tiada tara.
Miko tak bisa lagi menahan arus gairah yang melandanya. Cowok itu melanjutkan apa yang tertunda antara Laura dan Del. Membawa Laura naik keatas ranjang dan menuntaskan semuanya disana.
Malam itu menjadi malam yang menyakitkan tapi juga penuh kenikmatan untuk keduanya. Desah*an dan erang*n merdu keduanya memenuhi kamar itu.
Laura hanya pasrah saat Miko menghujam inti tubuhnya. Awalnya memang sakit, tapi berujung nikmat. Bahkan bisa membuat Laura melayang dan sejenak melupakan Del.