
Senyum Del merekah saat dokter mengangkat seorang bayi mungil dari perut Killa. Tapi seketika senyum itu hilang saat menyadari bayinya tidak menangis.
"Kenapa anak saya tidak menangis dok?" Delmar tiba tiba panik. Tak hanya Del, wajah dokter dan perawat juga tampak tegang. Membuat Del kian kacau, takut terjadi apa apa pada anaknya.
"Bayi anda lahir prematur. Paru parunya belum berkembang dengan sempurna. Jadi butuh perawatan intens." Jawab dokter yang mengoperasi Killa.
"Lakukan yang terbaik untuk anak kami dok." Ujar Del.
"Anak kita kenapa Kak?" Killa ikut panik, takut sesuatu terjadi pada bayinya.
"Anak kita baik baik saja. Kamu tenang aja, dokter sedang menanganinya." Del mencoba menenangkan Killa, walau sejujurnya dia juga khawatir saat ini.
Dokter memberikan pertolongan pertama untuk bayi berjenis kelamin perempuan itu. Lalu membawanya ke ruang NICU untuk mendapatkan perawatan intensif.
Setelah operasinya selesai Killa dibawa kembali keruang perawatan.
Rain, Sean dan Liana merasa lega melihat operasinya berjalan lancar serta Killa dan bayinya selamat. Tapi tak seperti bayi lainnya yang bisa segera digendong dan disusui, bayi Killa harus dirawat di NICU. Bayi perempuan itu lahir dengan berat hanya 1,5 kg. Membuatnya harus mendapatkan perawatan ekstra agar berat badannya bisa menyusul bayi normal lainnya.
Ditengah kebahagiannya mendapatkan anggota keluarga baru. Rain dan Sean juga sangat bahagia melihat Delmar bebas. Akhirnya putra sulungnya itu bisa kembali ketengan tengah keluarga lagi.
Rain memeluk Delmar erat, seakan takut akan dipisahkan lagi dengan anak tampannya itu. Mencium kedua pipi dan kening Del sambil bercucuran air mata. Lebih tepatnya air mata bahagia.
"Del bukan bayi mah. Udah punya bayi malahan." Protes Delmar yang merasa risih dengan perlakuan mamanya.
"Gak kangen sama mama." Rain mencubit lengan Del karena jengkel.
"Kangen mah, kangen banget malahan. Tapi masih banyakan kangen Killa." Ujar Del sambil cengengesan.
"Anak pinter." Rain menjewer telinga Del sambil melotot.
"Ampun mah." Seru Del sambil meringis kesakitan
Setelah kangen kengenan, Delmar menderitakan semuanya hingga dia bisa bebas hari ini. Namanya sudah bersih sekarang, bebas dari segala tuduhan.
"Kamu pulang saja sayang, istirahat dirumah. Biar Killa kami yang jagain." Ujar Rain pada Delmar. Dia kasihan melihat wajah kusam anaknya. Mata panda dan rambut yang tak terurus. Bahkan sudah tumbuh kumis tipis karena tak pernah dicukur.
"Del mau jagain Killa mah."
"Killa akan baik baik saja bersama mama dan ibunya. Kamu pulang dulu, kamu butuh istirahat sayang. Lagipula Killa juga sedang tidur." Ucap Rain sambil mengusap bahu Del.
"Gimana nanti kalau Killa bangun terus nyariin Del mah?"
Rain mengehela nafas. "Killa itu bukan bayi yang akan menangis saat bangun tidur ibunya tidak ada. Killa pasti ngerti kalau kamu lelah dan butuh istirahat. Pulang sayang, nanti mama bilangan sama Killa." Bujuk Rain. Dia sungguh tak tega melihat keadaan Del saat ini. Terlihat sangat buruk dan tak terawat.
"Ya udah, ntar telepon Del kalau Killa bangun ya mah. Telepon Del juga jika terjadi sesuatu pada Deluna."
"Deluna??" Rain mengernyit bingung.
"Anak Del mah, namanya Deluna."
"Deluna, apa artinya?"
"Del dan Luna."
"Gak kreatif banget, persis Papah kamu." Ledek Rain.
"Yang ngasih nama Killa bukan Del. Coba aja ntar kalau Killa udah bangun mama bilang namanya gak kreatif. Biar ngambek dia." Ujar Del sambil terkekeh.
"Udah sana pulang. Mandi , makan, terus tidur. Mama sayang kamu." Rain mencium kening Del lalu mengusap pelan pucuk kepalanya.
"Del udah jadi daddy loh mah, masih aja dicium kek anak kecil."
"Biarin. Bagi mama, kamu tetap Delmar kecil kesayangan mama." Rain berjinjit dan mengacak acak rambut Delmar gemas. Anaknya itu memang tumbuh dengan baik. Tingginya bahkan sudah melebihi papanya.
...******...
Killa terbangun karena merasakan sedikit panas diarea perutnya. Sepertinya, efek obat biusnya sudah mulai hilang. Seketika Killa ingat bayinya. Apakah bayinya itu baik baik saja sekarang? Semoga saja tidak terjadi apa apa pada bayi yang barusan dia lahirkan itu.
Killa mengedarkan pandangannya kesegala arah. Tapi dia tak menemukan apa yang dia cari. Tentu saja Delmar, siapa lagi yang dicari Killa kalau bukan suami yang bikin dia bucin tingkat dewa.
"Sayang, kamu sudah bangun." Tanya Rain yang baru keluar dari toilet.
"Anak aku baik baik aja kan Mah?" Killa sangat mengkhawatirkan kondisi putrinya.
"Dia masih NICU, masih dalam pengawasan dokter. Kata dokter kemungkinan bayi kamu akan lama disana." Jelas Rain. Seketika air mata Killa meleleh mengingat wajah putrinya saat baru lahir tadi. Putrinya sangat kecil, kulitnya masih keriput. Sangat berbeda dengan bayi yang biasanya.
"Jangan nangis." Rain menghapus air mata Killa. "Jangan terlalu dipikirkan. Mama dan papa akan melakukan Apapun untuk kesehatan Deluna."
"Deluna?" Killa mengernyit bingung. Darimana mamanya itu tahu nama Deluna?
"Iya mah. Bagus gak namanya?"
"Bagus sayang."
Mama Rain plin plan banget sih. Kalau sama Del bilangnya gak kreatif, tapi kalau sama Killa bilangnya bagus.
"Kak Del mana mah?" Tanya Killa.
"Tadi mama suruh pulang. Kasihan dia kurang istirahat selama ditahanan. Gak papa kan kalau dijagain mama dulu. Nanti malam Kak Del kasini lagi."
"Iya mah."
Sebenarnya Killa masih sangat rindu pada Del. Hanya saja dia juga kasihan melihat Del yang tampak kurang istirahat.
...****...
Selepas magrib, Del segera meluncur menuju rumah sakit. Dia rindu sekali pada istri dan anaknya.
Disaat dia datang, dia melihat Killa tengah memeras asi dibantu oleh seorang suster. Deluna belum bisa menyusu secara langsung. Dia mengkonsumsi asi melalui selang makanan.
Setelah selesai, Killa dan Del ikut suster ke NICU untuk melihat Deluna.
Killa tak bisa menahan air matanya melihat kondisi Deluna. Ditubuhnya terpasang beberapa alat yang Killa sendiri tak tahu apa namanya.
Delmar ingin sekali menggendong bayinya. Tapi suster tak mengizinkan karena Kondisinya belum memungkinkan. Mereka hanya diizinkan mengamati bayi yang berada dalam inkubator itu.
"Deluna akan baik baik saja kak Kak?" Tanya Killa saat mereka sudah kembali keruangan Killa.
"Pasti. Dia bayi yang kuat dan sangat cantik. Dia pasti akan segera sehat seperti bayi lainnya." Jawab Delmar sambil merangkul bahu Killa dan menyandarkan kepala cewek itu kedadanya.
"Killa ingin sekali bisa segera menggendong dan menyusuinya."
"Sabar, nanti pasti ada saatnya kamu bisa menggendong dan menyusuinya. Bahkan memandikan, mengganti popok dan bermain dengannya."
"Tapi kapan kak?"
"Jangan terlalu dipikirkan. Kamu harus sehat dulu. Jangan terlalu stres. Ingat, kamu ada riwayat preeklamsia. Dan aku gak mau kamu sampai kena preeklamsia setelah melahirkan. Itu berbahaya Bi. Aku gak mau kehilangan kamu maupun Deluna. Kalian berdua segalanya buat aku." Ujar Del sambil mencium kening Killa lama.
"Jangan pernah ninggalin aku lagi ya Kak. Aku gak mau pisah sama kamu." Killa meremas tangan Del sambil menatap wajah yang beberapa hari ini sangat dia rindukan.
"Gak akan." Jawab Del sambil mencium pucuk kepala Killa. "Kita akan selalu bersama, aku, kamu dan Deluna."
"Kak, kamu mau dipanggil apa, papa atau ayah?" Tanya Killa sambil memainkan jari jari tangan Delmar.
"Daddy, aku mau di panggil daddy."
"Kok daddy sih? kenapa gak papa atau ayah aja?"
"Kurang keren Bi. Aku ini masih sangat muda dan tampan. Tak cocok dipanggil papa apalagi ayah."
Killa hanya bisa menghela nafas. Kenarsisan suaminya itu tak akan bisa luntur meski baru keluar dari penjara.
"Lalu aku?"
"Kamu mommy lah."
"Tapi aku gak suka." Protes Killa sambil cemberut.
"No debat, pokoknya Daddy dan Mommy."
"Dasar kang maksa." Celetuk Killa.
"Tuh tahu." Sahut Del sambil terkekeh.
"Aku kangen banget sama kamu Bi." Ujar Del sambil memajukan wajahnya hendak mencium Killa. Tapi sebelum bibir mereka bersentuhan, Killa lebih dulu mendorong dada Del.
"Lagi nifas."
"Tauk, aku cuma mau nyium doang." Del kembali ingin nyosor tapi lagi lagi didorong oleh Killa. Membuat Del tampak kesal.
Cup
Killa mencium sekilas bibir Delmar lalu tersenyum.
"Gitu aja dulu ya. Takut kamu gak bisa nahan diri. Kasihan kalau kamu harus solo."
Dengan berat hati Delmar mengangguk. Sepertinya dia memang harus benar benar menahan diri sekarang.