DELMAR

DELMAR
BERDUKA



"Masuk Bi."


"Aduh... " Pekik Killa


PLAK


"Nakal banget sih, gigit gigit terus."


"Kamu manis sih, jadi pengen nyipok terus." Ujar Delmar sambil terkekeh.


"Gatel."


"Makanya masuk, aku garukin."


"Enggak." Kekeh Killa.


Del menghela nafas, dia sudah lelah. Lelah ngebujukin Killa buat masuk ke dalam mobil. Cewek itu rela muka dan kakinya merah merah karena digigit nyamuk daripada masuk kedalam mobil.


"Masuk yuk. Rela banget sih dari tadi dicipok nyamuk. Tuh warungnya dah mau tutup. Kursinya mau diambil sama yang punya." Del menunjuk dagu kearah warung yang udah mulai sepi. Penjualnya juga sudah mulai membereskan dagangannya.


Dan benar saja, tak berapa lama, terlihat si pedagang bakso berjalan ke arah Killa dan Del.


"Maaf neng, kursinya mau saya ambil."


Terpaksa Killa bangkit dari kursi plastik yang sejak tadi menemaninya diluar mobil.


"Dah ah, Yuk masuk." Ajak Del sambil membukakan pintu mobil untuk Killa.


"Janji dulu gak macem macem."


"Iya janji." Ujar Del. "Kalau gak khilaf." Lanjutnya dalam hati.


Bukannya masuk didepan, Killa malah masuk ke kursi penumpang bagian belakang. Membuat Del yang sedang memegangi pintu depan dibuat melongo.


Del terpaksa menutup kembali pintu yang sejak tadi dia bukakan itu. Del memutari mobil lalu masuk. Bukan dibagian kemudi, dia malah masuk dibagian belakang juga.


"Loh, kok kamu masuk sini, siapa yang nyetir?" Tanya Killa heran.


"Gak nyangka kalau kamu pintar juga nyari tempat. Dibelakang lebih leluasa." Ucap Del sambil menyeringai. Membuat Killa buru buru ingin membuka pintu tapi ditahan oleh Del.


"Lepasin." Teriak Killa. "Kamu udah janji gak macem macem."


"Gak macem macem, cuma mau satu macem aja." Godanya sambil menaikkan satu alisnya. "Katanya gak mau jadi istri durhaka?"


Killa terdiam, pikirannya berkecamuk. Del punya hak atas dirimya, tapi dia masih tak bisa terima dengan ucapan Del waktu itu.


Del memajukan wajahnya, mengikis jarak hingga tinggal beberapa centi meter saja.


Tes


Butiran bening keluar dari sudut mata Killa. Membuat Del tertegun dan menjauhkan wajahnya dari Killa.


"Kamu nangis Bi?" Tanya Del. Perasaannya berubah menjadi tak karuan. Padahal niatnya cuma mau menggoda saja. Meminta sebuah ciuman lalu mengajak cewek itu pulang. Del tak sungguh sungguh ingin mengajak Killa main kuda kudaan didalam mobil.


"Kamu jahat." Ucap Killa sambil menatap tajam ke arah Killa. "Kamu selalu seenaknya sendiri. Gak pernah mau mikirin perasaan aku."


"Maaf, aku cuma becanda tadi. Gak beneran mau ngajak kamu main dimobil."


"Apa semua laki laki kayak kamu?"


"Maksudnya?"


"Aku gak nganggep kamu kayak gitu." Ujar Del sambil memegang kedua bahu Killa.


"Kamu sendiri yang ngomong. Kamu sendiri yang bilang kalau hubungan s*x diantara kita hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan biologis kamu. Aku memang istri kamu, kamu berhak atas aku. Tapi aku sakit hati diperlakukan kayak gitu. Aku punya perasaan, bukan boneka s*x yang bisa sesuka hati kamu permainkan." Killa tak kuasa membendung air matanya yang makin deras. Ucapan Del waktu itu sangat melukainya. Terpatri didalam hati Killa, dan akan selalu Killa ingat.


"Maaf jika ucapanku waktu itu menyakitimu. Tapi aku sayang sama kamu Bi, aku cinta. Kalaupun kita melakukan itu, karena aku cinta, bukan karena naffsu semata." Del hendak menghapus air mata Killa tapi tangannya ditepis oleh cewek itu.


"Baikllah, aku janji, gak bakal minta itu lagi. Aku gak akan pernah maksa kamu melakukan kewajiban sebagai istri. Aku bakal nunggu sampai kamu sendiri yang minta aku nafkahin. Udah jangan nangis, kita pulang." Del keluar dari bangku belakang lalu masuk ke kursi kemudi. Del menoleh kearah Killa sebentar lalu menyalakan mesin mobilnya.


Sesampainya dihalaman rumah, Del segera melepaskan seltbeltnya. Saat dia menoleh kebelakang, dia melihat Killa sudah tertidur.


Del turun lalu membuka pintu belakang. Tak 1tega membangunkan Killa, cowok itu memilih mengangkat tubuh Killa dan membawanya masuk kedalam rumah.


Del membawa Killa masuk kedalam kamar tamu. Melihat wajah Killa yang tertidur pulas, membuat hati Del terenyuh. Dia teringat bagaimanan selama ini memperlakukan Killa dengan tidak baik. Sungguh Miris, seorang gadis polos yang dia rusak masa depannya itu tak pernah membencinya. Tapi justru dia yang tak tahu diri terus menambah goresan luka dihati Killa.


Del duduk ditepi ranjang sambil membelai wajah Killa menggukan punggung tangannya. Dadanya sesak mengingat betapa jahatnya dia pada Killa selama ini.


"Maaf, mulai detik ini, aku kan berusaha untuk gak bikin kamu nangis lagi."


"I love you." Ucap Del lalu mencium lama kening Killa. Bahkan tanpa sadar air mata Del keluar dan menetes dipipi Killa.


"Good night my baby." Ucap Del setelah mencium perut Killa. "Baik baik ya didalam sini. Maaf jika selama ini papa gak pernah peduli sama kamu." Lanjutnya sambil mengelus pelan perut buncit dihadapannya itu.


Del menarik selimut hingga sebatas dada Killa lalu ikut berbaring disebelah cewek manis itu.


...******...


Hiks hiks hiks


Del yang tidur terbangun karena suara tangisan. Saat dia membuka mata, yang dia lihat adalah Killa yang sedang duduk sambil menangis disebelahnya.


"Bi, aku gak ngapa ngapain kamu sumpah." Ujar Del sambil mengubah posisinya menjadi duduk.


Bukannya diam, Killa malah menangis makin keras dan sesenggukan.


"Aku cuma tidur disebelah kamu doang. Sumpah gak ngapa ngapain. Gak gr*pe juga kok." Del berusaha menjelaskan. Tak ingin Killa salah paham dan mengira Del mengambil kesempatan tadi malam pas dia tidur.


Killa menoleh kearah Del sambil menggeleng, wajah cewek itu terlihat kacau. Del dibuat kebingungan kerana Killa yang cuma nangis dan gak bicara apa apa.


"Kamu gak suka aku tidur disini? ya udah aku keluar ya."


"Tunggu." Killa menahan lengan Del saat cowok itu hendak beranjak dari ranjang. "Ayah aku meninggal." Lanjutnya sambil sesenggukan.


"Astaga." Del membuang nafas kasar lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Innalillahi wainnailaihi roji'un bang Del. Kok malah astaga, keliahatan banget kalau gak pernah ngaji.


Del kembali mendekat kearah Killa lalu memeluk cewek itu. Membiarkan Killa menangis didadanya untuk mengungkapkan rasa dukanya.


"Kenapa ayah udah pergi sebelum Killa sempat minta maaf kak? Killa banyak salah, Killa udah mengecewakan ayah. Killa belum bisa jadi anak yang berbakti."


Pagi ini Killa mendapatkan telepon dari Fariz yang mengabarkan jika ayah mereka meninggal.


"Kamu anak baik, ayah kamu pasti udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf." Ucap Del sambil membelai punggung Killa.


Del menarik kedua bahu Killa lalu menyeka air matanya. "Udah, mending siap siap, aku anter kerumah ayah."


Killa mengangguk lalu turun dari ranjang.