
Delmar terbirit birit mengejar Killa. Hingga akhirnya mendapatkan istrinya itu sedang menangis didapur. Semua orang berada dihalaman belakang, membuat dapur yang biasanya ramai dengan ART jadi sepi.
"Bi." Delmar memeluk Killa dari belakang. Dia tahu istrinya itu sedang menangis karena tubuhnya bergetar dan bahunya terlihat naik turun karena sesenggukan. "Maaf, aku gak ada maksud bilang kamu bodoh kok, enggak Bi, sumpah."
"Gak usah dikit dikit pakai sumpah." Sahut Killa sambil mengusap air matanya.
"Gimana lagi, aku bingung ngejelasinnya." Del melepaskan pelukannya lalu menarik bahu Killa agar menghadap kearahnya.
"Gak usah nangis, aku tadi cuma becanda." Ujar Del sambil menghapus air mata Killa dengan ibu jarinya.
"Aku malu kak. Kamu ngehina aku didepan orang lain."
"Enggak, enggak, aku gak menghina kamu kok. Kamu terlalu Sensi aja Bi. Mungkin faktor hormon kehamilan."
"Kalau menurut kamu aku gak pinter urusan ranjang, gomong sama aku. Ngomong, gimana yang kamu mau, biar aku bisa belajar. Tapi berdua kak, gak didepan orang kayak tadi. Aku malu sebagai istri kamu." Ujar Killa sambil sesenggukan.
"Please dengerin aku. Aku cuma becandain Nom tadi. Gak ada niatan sedikitpun buat mengina kamu apalagi bilang kamu gak pinter atau bodoh."
"Aku ingin jadi istri yang terbaik buat kamu didalam segala hal."
"Kamu udah yang terbaik kok." Sahut Delmar sambil merapikan rambut Killa yanh sedikit berantakan. "Please jangan Nangis. Jangan bikin aku ngerasa bersalah karena udah ngelanggar janji aku. Aku udah janji untuk gak bakal buat kamu nangis lagi."
"Maaf." Lirih Killa sambil memeluk Delmar.
"Loh kok kamu yang minta maaf?"
"Mungkin Bener kata kamu. Aku terlalu baper, efek hormon kehamilan. Mungkin aku mengalami yang namanya mood swing."
Tadi situ yang ngambek, sekarang minta maaf, membuat Del bingung aja.
"Ya udah, kalau gitu kembali keluar Yuk. Gak enak sama anak anak."
"Hem." Jawab Killa sambil tersenyum lalu menggandeng lengan Del menuju luar. Tapi tiba tiba cewek itu menghentikan langkahnya. "Kak."
"Apa?"
"Entar malem, Killa yang diatas. Sekalian nyoba gaya baru, biar makin pinter." Ujarnya sambil tersipu malu. Membuat seorang Delmar seketika melongo. Del tak mengira jika akibat celetukannya tadi, Killa jadi bisa berubah seperti ini. Ini sih rejeki nomplok buat Delmar. Untung banyak dianya.
"Kak, ada kak Manu." Ujar Killa saat melihat Manu duduk bergabung dengan Naomi dan Miko.
Senyum Del mengembang sempurna. Inilah yang sejak tadi dia tunggu, kedatangan Manu.
"Kak, kalau didepan Kak Manu, sikapnya dijaga ya. Aku gak mau dia sakit hati." Peringat Killa.
"Gue ngerti kok Bi." Jawab Delmar sambil menggenggam tangan Killa lalu berjalan menuju teman temannya.
"Man." Sapa Del. "Makasih udah mau dateng." lanjutnya sambil melakukan tos dengan Manu.
"Santai aja Del." Sahut Manu. Seketika cowok itu menatap kearah Killa, lebih tepatnya perutnya. Berusaha menyadarkan diri sendiri, jika sudah tidak ada peluang untuknya saat ini.
"Happy birthday ya Kil. Nih buat lo." Manu menyodorkan sebuah kotak berwarna pink pada Killa.
Killa menoleh pada Del, setelah mendapat anggukan dari suaminya, dia baru mengulurkan tangan menerima kado dari Manu.
"Makasih kak." Ucap Killa sambil tersenyum.
"Lo gak cemburukan gue ngasih kado ke istri lo?" Tanya Manu.
"Enggak lah, dia kan memang ulang tahun hari ini. Jadi dia berhak dapat kado dari siapapun termasuk lo."
"Buka dong penasaran nih." Ujar Naomi sambil menyenggol lengan Killa yang berdiri disampingnya.
Killa mengangguk lalu membuka kotak warna pink itu. Dan ternyata, isinya adalah.
"Bagus banget kak." Killa kegirangan mendapatkan sebuah dompet koin berbentuk salah satu karakter bt21. Apapun itu kalau berhubungan dengan bt21, Killa pasti suka.
"Rey tumben belum dateng?" Tanya Del. Biasanya temannya itu paling semangat kalau urusan makan gratis.
"Dia gak dateng. Katanya ada urusan penting." Jawab Manu.
"Urusan apaan yang lebih penting dari makan gratis?" Miko mulai kepo. Pasalnya temannya yang bernama Rey itu paling suka kumpul plus makan gratis.
"Gak tahu sih jelasnya apa. Paling gak jauh jauh soal urusan cewek." Jawab Manu.
"Jangan jangan ngehamilin anak orang tuh bocah." Celetuk Miko.
...******...
Hari ini, seperti yang telah direncanakan, Killa dan Naomi janjian bertemu di festival kuliner bersama pasangan mereka masing masing.
Acara yang baru digelar hari ini itu tampak sangat ramai. Aneka kuliner dari dalam negeri maupun luar negeri tersaji di stan stan yang berjejer rapi dilapangan dekat sekolah Naomi.
"Kil." Naomi melambaikan tangannya ke arah Killa saat melihat sahabatnya itu bersama Del. Dia dan Aiden segera berlari kearah Del dan Killa.
"Lama." Desis Del yang kesal karena menunggu Naomi dan Aiden.
"Sorry, ban gue tadi kempes dijalan. Jadi nunggu selesai memperbaiki dulu." Jawab Aiden.
"Kil kenalin cowok gue, Aiden." Ujar Naomi dengan bangganya sambil melingkarkan tangannya dilengan kekar cowok itu.
"Aiden."
"Killa."
"Dan ah yuk cari minum, gue haus." Cerocos Del.
Mereka berempat segera berjalan mencari minuman yang kiranya bisa menggugah selera dan menghilangkan dahaga.
"Aku mau boba Ay." Ujar Naomi sambil menunjuk kearah stan minuman boba yang tak jauh dari mereka. Ay adalah panggilan kesayangan Naomi untuk Aiden.
"Mau, beliin sana buat kita juga. Lo kan yang bikin gue kehausan, jadi harus tanggung jawab." Jawab Delmar.
"Dah kayak gue hamilin aja lo minta tanggung jawab." Sahut Aiden lalu pergi kearah penjual boba sambil menggenggam tangan Naomi. Sedangkan Del dan Killa memilih menunggu mereka karena malas ikut antri.
"Aiden itu ganteng ya kak. Pantesan Naomi sampai bucin parah." Bisik Killa ditelinga Delmar.
"Ngomong apa?" Delmar manatap Killa tajam.
"Naomi bucin."
"Bukan yang itu, yang sebelumnya?"
"Aiden ganteng." Jawab Killa tanpa rasa bersalah.
"Jangan diulangin lagi. Awas aja kalau bilang kayak gitu lagi. Cuma gue yang paling ganteng."
Seketika Killa terkekeh. Tak menyangka suaminya itu bakal cemburu cuma gara gara hal sepele gitu.
Setelah mendapatkan boba, mereka kembali menyusuri puluhan stan untuk mencari makanan.
"Ay, ponsel kamu bunyi terus tuh." Ujar Naomi saat mereka sedang antri membeli corndog.
"Biarin, paling papa yang nelepon."
"Kayak bocah aja lo. Keluar bentar udah ditelepon bokap." Ledek Delmar.
"Angkat dulu, siapa tahu penting." Ucap Naomi.
"Ya udah gue angkat bentar ya. Del, nitip cewek gue bentar. Jangan sampai disentuh setan." Ucap Aiden lalu menjauh dari mereka bertiga.
"Setan teriak setan." Celetuk Del.
"Aiden kayaknya sayang banget ya Nom sama kamu. Kelihatan banget ngejaga kamu." Ucap Killa.
"Dia memang selalu kayak gitu. Membuat gue merasa aman dan nyaman saat bersama dia."
"Kurang satu, aman, nyaman dan sakit hati." Sahut Del sambil terkekeh menertawakan Naomi yang bodoh.
"Berisik." Seru Naomi sambil memelototi Del.
"Lo tahu gak Kil, beberapa waktu yang lalu saat kita putus. Gue dingangguin preman saat pulang bimbel. Sopir gue bannya pecah dijalan, jadi gue pulang sendiri. Disaat seperti itu, ornag yang pertama gua inget adalah Aiden. Gue buru buru telepon dia saat tuh preman mulai ngintilin gue."
"Terus?" Killa penasan.
"Untung Ay datang tepat waktu buat nolongin gue. Gue sih emang bisa bela diri, tapi kalau melawan 2 preman yang tubuhnya gede, kualahan lah gue. Padahal saat itu tangan Au masih proses penyembuhan patah tulang. Tapi dia nekad berkelahi buat nolongin gue."
"Bisa menang dia?" Tanya Del.
"Kalahlah begok, orang cuma pakai satu tangan. Mukanya sampai bonyok dihajar preman. Tapi beruntung ada orang yang datang nolongin kita. Jadi selamat deh."
"Gara gara itu kalian balikan?" Tannya Killa.
"Salah satunya, tapi sebab lainnya, karena gue masih cinta sama dia." Jawab Naomi sambil memperhatikan Aiden dari jauh.
Del menyebikkan bibirnya mendengar Naomi bilang masih cinta. Dimata Del, Killa itu cewek bodoh karena masih cinta sama cowok yang udah memperkosanya, tapi Naomi. Jauh, jauh, dan jauh lebih bodoh lagi dari Killa. Karena seratus kali disakiti, seratus kali juga dia memaafkan.
"Elo percaya karma gak sih?" Tanya Naomi sambil menyedot bobanya.
Del seketika tersedak mendengar Naomi bilang karma. Takut kali dia kena yang namanya karma.
"Kenapa emang?" Tanya Killa.
"Setelah gangguan gue. Beberapa hari kemuadian, tuh dua preman beritanya masuk koran. Mereka meninggal karena over dosis obat terlarang. Kena karma kayaknya mereka."
Disisi lain, setelah merasa jaraknya cukup jauh, Aiden segera mengangkat teleponnya. Wajah cowok itu seketika berubah mengeras. Terlihat sekali aura bengis disana.
"Ngapain lo nelfonin gue terus?" Ucap Aiden dengan nada tinggi.
"_____"
"Berapa kali gue bilang. Gugurin anak itu. Jangan mimpi gue bakal tanggung jawab. Karena sejak awal, gak ada komitmen apa apa diantara kita."
"______"
"Bacot lo. Gak usah macem macem sama gue apalagi ngancem segala. Lo tahukan siapa gue?"
"_____"
"Lo belum lupa kan sama apa yang gue lakuin sama dua preman yang pernah gangguin Naomi. Lo mau gue habisin kayak mereka?"
"____"
"Terserah lo mau bilang gue psyco atau apapun, gue gak peduli."
"_____"
"Berani lo bilang masalah ini ke orang tua gue atau ke Naomi, gue habisin lo. Gue gak main main, nyawa lo jadi taruhannya. Karena gue bisa jadi gila kalau berhubungan sama Naomi."
"____"
"Jangan coba coba nyentuh Naomi walau seujung kukupun. Apalagi sampai bikin dia Nangis. Karena gue bakal ngehabisin siapapun yang berani bikin gadis gue Nangis atau terluka."
Tut tut tut
Aiden segera memutus sambungan teleponnya.