
Delmar membuka room chat bersama teman genknya. Cowok itu berencana mengundang mereka diacara syukuran ulang tahun Killa Malem ini. Hitung hitung permintaan maafnya karena udah ngebohongin mereka selama ini.
^^^Delmar^^^
^^^Guys, ntar malem kumpul dirumah gue yuk, acara acara syukuran^^^
Rey
Mantap bro. Gue pasti dateng.
Manu keluar dari grup
Del berkali kali mengucek matanya. Tulisan itu terlalu kecil, semoga saja dia salah baca. Tapi kenyataannya tidak. Manu memang keluar dari grup yang bahkan dulu cowok itu sendiri yang membuat grup.
Rey
Delman oeee..... gara gara lo nih pasti si Manu out.
Tanggung jawab lo minta maaf sama dia.
Miko
Kalau gue jadi Manu, gue juga sakit hati. Tapi gue yakin, semua bisa dibicarakan baik baik.
Mending segera lo urus masalah lo dengan dia.
Rey
Del, hooooeee.... Del
Dimana lo?
Bawa Manu pulang
Awas kalau dia sampai gak balik lagi
Miko
Pulang? emang Manu kemana kok harus dibawa pulang?
Rey
Dibawa masuk ke grup lagi maksud gue?
Dasar begok lo, gitu aja otak lo gak nyampek.
Miko
Gue begok, lo begok kuadrat.
...*****...
Manu berdecak melihat Del duduk diruang tamu rumahnya. Barusan dia diberitahu ART kalau dicari temannya. Dan ternyata teman yang dimaksud adalah Delmar.
"Ngapian lo kesini?" Sinis Manu.
"Gue mau minta maaf sama lo." Jawab Del sambil berdiri.
"Gak salah denger, seorang Delmar Kalandra minta maaf." Manu tersenyum sinis. "Bukan lo banget." ledeknya. Bagi Delmar, minta maaf emang sesuatu yang pantang. Beratnya bahkan mengalahkan berat 1 ton beras. Berat.......banget kata maaf keluar dari mulut Delmar. Walaupun dia salah, dia akan tetap mencari pembenaran, itulah Delmar.
"Mungkin gak untuk orang lain. Tapi untuk orang orang yang gue sayang, gue rela minta maaf. Karena emang gue salah."
"Maksud lo, lo sayang sama gue? bulshitt. Lo bahkan gak nganggep persahabatan kita Del. Lo tega bohongin kita, terutama gue." Manu menunjuk dirinya sendiri.
"Sorry."
"Bodoh, itukan yang lo lihat dari gue. Gue ngejar ngejar istri lo. Gue cinta sama istri lo. Dan lo ngebiarin itu, pura pura gak peduli. Apa perasaan gue ke Killa lo anggep lelucon?" Manu menatap tajam kearah Del..
"Gak sama sekali Man." Sahut Del sambil menggelengkan kepala.
"Kalau emang gak? Kenapa lo gak bilang dari awal kalau Killa itu istri lo? Apa biar gue terlihat bodoh. Bodoh karena udah mencintai istri sahabat gue sendiri. Yang notabene, gue gak tahu sama sekali."
"Maaf Man, gue emang pengecut. Gue terlalu takut mengakui Killa sebagai istri gue. Gue takut semakin banyak orang yang tahu, semakin mudah pula berita ini tersebar. Saat itu gue gak cinta sama Killa. Yang gue cinta Laura. Dan gue gak mau Laura sampai tahu tentang ini. Gue takut kehilangan Laura."
"Dan sekarang?"
"Sekarang gue cinta sama Killa. Apalagi kita akan segera punya anak."
Manu akhirnya duduk disofa, begitupun dengan Del yang juga ikut duduk disofa berbeda. Wajah Manu sudah terlihat tak setegang tadi. Mungkin dia ingin berdamai dengan keadaan.
"Persahabatan kita udah lama. Sejak SMP Man. Kita bersahabat karena merasa memiliki satu kesamaan saat itu. Lo, gue, Miko dan Rey. Kita selalu bersama, kita saling menguatkan. Dan gue sama sekali gak ingin persahabatan kita hancur karena alasan apapun."
Ya, mereka bisa bersahabat karena merasa memiliki kesamaan nasib. Del yang merasa menjadi anak terbuang. Manu, ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi. Rey yang tak pernah mendapat kasih sayang karena orang tuanya bekerja diluar kota. Dan Miko yang kedua orang tuanya bercerai.
Intinya mereka berempat sama sama merasa kurang kasih sayang orang tua. Merasa seperti anak yang tidak diharapkan kehadirannya.
"Gue tahu gue salah Man. Please, maafin gue. Jangan biarin persahabatan kita rusak. Ntar malem, gue tunggu dirumah gue. Please, lo dateng ya."
Setelah mengatakan itu, Delmar langsung pulang. Harapannya sangat besar Manu bisa datang malam ini.
...******...
Malam ini, diadakan pesta bbq. Killa cukup kaget, kata mamanya, acara syukuran kecil kecilan, nyatanya malah acara bbq dengan hidangan yang mewah. Alasannya adalah, selain ulang tahun Killa. Barusan Sean juga dapat kabar dari kepsek kalau Killa diijinin ikut ujian.
Kebahagiaannya yang berlipat ganda membuat Rain yang awalnya hanya ingin pesta sederhana, jadi menambah menu makanan ala pesta mewah.
"Gimana Bi, suka acaranya?" Tanya Del sambil memeluk Killa dari belakang.
"Kata mamah acara kecil kecilan, kok malah pesta mewah gini. Aku jadi gak enak deh kak."
"Ngapain gak enak. Mamah itu cuma alibi syukuran ulang tahun kamu. Aslinya dia emang pengen kumpul sama genk nya itu." Delmar menunjuk dagu kearah Rain yang sedang sibuk selfi bersama istri istri sahabat Sean.
"Gak tahu tempat banget sih kalau bermesraan" Suara cempreng dari Naomi membuat Del melepaskan pelukannya.
"Berisik lo." Seru Delmar. "Hijaber KW, sana bakarin sosis buat gue sama bini gue."
"Siapa lo nyuruh nyuruh gue. Disini gue tamu, bukan pembokat lo. Harusnya gue dilayani disini."
Mendengar kata sosis membuat Killa mendadak kepengen.
"Kak, aku mau sosis bakar dong." Rengek Killa sambil bergelayut dilengan Delmar.
"Ya udah, gue suruh Pak Tejo bakarin buat kamu."
Killa menggeleng cepat.
"Anak kita mau papanya yang bakar." Ujar Killa sambil mengelus perutnya.
"Hahaha.... " Naomi tak bisa menahan tawanya. Karena deritanya Del adalah bahagianya Naomi. "Mampus Lo, sana cepet bakar sosis, biar anak lo nggak ngeces."
"Bi, harus banget gue gitu yang bakar. Dilan aja ya, anak kita kan biasanya suka sama om nya." Delmar mencoba nego. Males banget dia bakar sosis, bikin bau aja kena asap. Dan gitu panas pula.
"Gak mau, maunya papanya yang bakar." Kekeh Killa. Enak juga jadi bumil, bisa pakai ngidam buat alesan.
"Ya udah deh." Sahut Delmar dengan terpaksa. Baru dua langkah dia Pergi, Killa sudah memanggilnya lagi.
"Kak, sosis yang gede ya. Yang ada isi kejunya."
"Yang kayak punya gue maksud lo?" Delmar menaik turunkan alisnya menggoda Killa.
"Emang punya lo gede Del?" Yang digoda Killa, tapi malah Naomi yang menyahuti.
"Gede lah, emang punya cowok lo kecil." Ledek Delmar.
"Gak percaya gue punya lo gede. Perasaan dulu gue sering lihat kecil kok."
"Yaelah, itu saat gue masih balita anji*g." Seru Del sambil memelototi Naomi. Kesal sekali dia, kalau saja tak ada orang tua disini, udah bakal dia tampol mulutnya Naomi. Menjahili Del memang hobi Naomi sejak dulu.
"Ih mulutnya." Omel Killa. "Gak boleh ngumpat gitu, udah mau jadi bapak juga." protes Killa.
Tak ingin mendapat omel, Del memilih pergi membakar sosis.
"Kil, besok ada even kuliner dideket sekolah gue, kayak pesta kuliner gitu. Dateng yuk." Ajak Naomi.
"Pengen banget deh." Wajah Killa seketika berbinar. "Tapi aku harus ijin dulu sama kak Del."
"Lo ajak Del aja, sekalian gue ajak Aiden. Double date gitu."
"Bukannya kata Kak Del kalian udah putus?"
"Hehehe... udah balikan." Jawab Naomi sambil nyengir. Jangan ditanya berapa kali mereka putus nyambung, karena udah gak bisa dihitung pakai jari saking seringnya.
Killa memperhatikan Del yang membakar sosis. Aura kegantengannya otomatis naik berlipat lipat ganda. Membuat Killa tak ingin sedetikpun melepaskan pandangannya Dari Delmar.
"Kedip lo, ntar kelilipan. Lo tinggal kedip bentar, mukanya Del masih tetep kayak gitu kok, gak bakal berubah." Naomi sampai geleng geleng melihat kebucinan Killa.
"Nom, secinta apa sih kamu sama Aiden?" Tanya Killa dengan mata yang masih menatap Delmar.
"Cinta banget Kil, sampai sampai gue ngerasa berada di satu titik. Gak papa gue disakitin, asal gue masih bisa sama dia. Mungkin sebagian orang menilai hubungan gue sama Aiden itu toxic relationship. Tapi....selama gue masih kuat untuk bertahan, gue milih bertahan. Bodoh banget gak sih gue?" Naomi tertawa ringan. Menertawakan dirinya sendiri yang terjebak dalam toxic relationship.
"Lo gak bodoh, tapi sangat bodoh." Bukan Killa yang menjawab, melainkan Miko. Tanpa sengaja, saat baru datang, dia mendengar obrolan Killa dengan Naomi.
Killa dan Naomi langsung menoleh kearah Miko yang berada dibelakang mereka.
"Kak Miko, baru datang?" Sapa Killa.
"Iya Kil, happy birthday ya." Ujar Miko sambil mengulurkan tangan ke arah Killa.
"Makasih kak."
"Sorry gue gak bawa kado. Bingung mau kasih kado apa, secarakan lo bininya sultan."
"Idih alesan, ngaku aja kalau pelit." Cibir Naomi.
"Emang lo bawa kado?"
"Emm..." Naomi celingukan, jujur dia memang tak bawa kado Malem ini. "Gue belum sempat beli, tapi menyusul hadiahnya. Gak papa kan Kil?" Naomi mesam mesem ke arah Killa.
"Bilang aja kalau pelit." Balas Miko sambil menahan tawa.