DELMAR

DELMAR
PEREMPUAN



Aiden duduk bersama Naomi diruang kunjungan. Bukan, bukan untuk mengunjungi Aiden, melainkan mengunjungi Delmar.


Aiden bahkan sudah bebas sebelum 24 jam. Tidak ada bukti kuat yang bisa menjeratnya. Aiden juga punya alibi yang sangat kuat. Pada saat terjadinya penusukan, cowok itu sedang bersama Naomi di mall. Naomi mengajaknya mencari kado untuk 7 bulanan Killa. Dan setelah dicek di cctv mall, terbukti bahwa Aiden dan Naomi memang ada disana.


Dan Laura juga memberi pernyataan jika bukan Aiden yang menusuknya. Dan masalah chat teror itu, kemungkinan besar ada oknum yang menyalah gunakan KTP Aiden.


"Del." Naomi langsung memeluk Del, membuat Aiden memutar bola matanya malas dan segera menarik cewek itu ke arahnya.


"Gak usah pakai pelukan juga kali yang." Protes Aiden dengan tampang kesalnya.


"Maaf kelepasan." Jawab Naomi sambil nyengir .


"Gua gak nyangka lo bisa bebas secepat ini." Ujar Del. Perasaan baru kemarin dia melihat Aiden dimasukkan kedalam sel, walaupun tak satu sel. Tapi hari ini, cowok itu sudah bisa menghirup udara bebas kembali.


"Karena gue emang gak salah. Gue gak ada sangkut pautnya dengan kasus ini. Hanya saja gue sial karena identitas gue dipakai oleh oknum gak bertanggung jawab untuk mendaftar sim card." Jawab Aiden.


"Sabar ya Del, semuanya pasti akan segera terungkap." Ujar Naomi.


"Den, apa kamu mencurigai seseorang? Kira kira siapa yang menggunakan identitas lo buat daftar sim card?" Tanya Del penasaran. Kemungkinan hanya orang terdekat Aiden yang tahu tentang KTP cowok itu.


"Gue... Gue gak tahu Del." Sebenarnya ada yang dicurigai Aiden, tapi cowok itu masih belum yakin. Terlebih dia takut rahasianya terbongkar jika menyebut nama itu.


"Siapa ya Ay kira kira?" Tanya Naomi sambil menatap netra Aiden.


"A, aku gak tahu yang." Jawab Aiden gugup.


Del bukan orang bodoh seperti Naomi yang bucin. Dia bisa melihat gelagat aneh dari bahasa tubuh Aiden.


"Apa lo tahu kalau Sasa hamil?" Tanya Del.


"Hah." Gumam Aiden dengan raut aneh. Tak tampak terkejut, melainkan cemas.


"Ha, hamil?" Naomi tampak terkejut.


Del semakin yakin sekarang jika Sasa hamil anak Aiden. Terbukti cowok itu selalu gugup saat nama Sasa disebut.


"Dia gak hamil anak kamu kan Ay?" Naomi menatap curiga ke arah Aiden.


"Apaan sih yang, kenapa setiap ada yang hamil, kamu nuduh aku. Kemarin kamu nuduh aku menghamili Laura, sekarang Sasa, lalu siapa lagi?" Aiden membuang muka. Dia tak mau bertatapan mata dengan Naomi.


"Maaf, bukanya nuduh, cuma nanyak."


"Sama aja." Kesal Aiden. "Pulang yuk."


"Ya udah kita pulang dulu ya Del. Semoga masalah ini cepat selesai. Habis ini gue mau ke RS jenguk Killa."


"Salam buat Killa ya Nom. Bilangin, aku kangen banget sama dia. Suruh dia jangan khawatirin gue. Gue baik baik aja disini, dan sebenartar lagi, gue yakin akan bebas." Ujar Del.


...****...


Hari ini Sean datang bersama pengacara menemui Del. Ada titik terang yang membuat Sean lebih bersemangat.


"Pah." Sapa Del saat melihat papanya dan pengacara yang sedang duduk di ruang kunjungan.


"Del, Papah punya berita bagus. Ada titik terang dari kasus ini." Ujar Sean bersemangat..


"Ada bukti yang papa temukan?" Del ikut antusias.


"Belum terlalu jelas, tapi sudah ada sedikit clue."


"Apa anda mengenali sosok ini?" Pak Agus menunjukkan sebuah foto yang tak begitu jelas pada Delmar. Tampak seseorang memakai celana jins dan hoody over size. Kepalanya tertutup topi dan wajahnya ditutup dengan masker.


"Saya tidak tahu pak. Wajahnya tak terlihat. Begitu pula dengan model rambut dan bentuk tubuhnya karena tertutupi hoody over size. Apa dia pelakunya?" Tanya Del.


"Kemungkinan besar. Saat kamu bilang Laura diuntit, papa memperluas jangkauan pengecekan cctv. Dan suatu keberuntungan, ada mobil yang hampir setiap hari diparkir lumayan dekat dengan lokasi tersebut. Dan dari kamera dashboard mobil itu, tampak orang ini berjalan mengikuti Laura." Sean menjelaskan sambil menunjuk foto orang tersebut.


Perempuan? jangan jangan? Del mulai mencurigai seseorang.


Delmar mengambil foto tersebut dan kembali mengamati dengan seksama. Ya, sepertinya dia memanng perempuan.


Seketika Del mengulas senyum.


"Ada apa Del?" Tanya Sean yang melihat senyum diwajah putranya.


"Del tahu siapa dia Pah." Ucap Delmar penuh keyakinan.


...******...


Mata Killa terbelalak saat melihat Laura masuk ke ruang rawatnya. Mereka berdua dirawat di rumah sakit yang sama dan sama sama di ruang vvip, sehingga jaraknya lumayan dekat.


"Gimana keadaan lo?" Tanya Laura sambil berjalan mendekati Killa.


"Baik."


"Sayang sekali, padahal saat gue dengar lo pendarahan, gue pikir anak lo bakal mati."


PYAR


Killa yang emosi melempar gelas kesamping Laura hingga pecah terbentur dinding.


"Astaga, ngamuk lo?" ledek Laura sambil tersenyum sinis. "Mau nyelakain gue dan nyusul suami lo ke penjara?"


"DIAM." Pekik Killa sambil meremat sprei.


"Kalau anak lo mati, kak Del gak akan sedih. Karena dia akan punya anak dari gue." Ucap Laura sambil mengusap perutnya


"Gak capek kamu ngaku ngaku? Udah gak punya malu?" Ujar Killa. "Kamu itu pinter Ra, bahkan lebih pintar dari aku. Harusnya kamu bisa belajar dari pengalaman. Setelah kamu jebak aku waktu itu, kamu justru kehilangan kak Del. Dan sekarang, apa kamu pikir Kak Del sudi menikahimu setelah kamu memfitnahnya?"


Laura meremas bajunya. Tubuhnya gemetaran. Ya, Laura sangat tahu konsekuensi dari kebohongannya. Del tak mungkin mau menikahinya. Jika maupun, Del tak akan mencintainya lagi, justru akan membencinya.


Tapi egonya tak mau mengalah. Dia tak ingin menderita disaat Killa dan Delmar bahagia. Dia rela menjadi tokoh antagonis demi menghancurkan kebahagiaan Del dan Killa.


"Sebenarnya anak siapa yang kamu kandung? Jangan jangan kamu sendiri tak tahu siapa ayahnya?" Sindir Killa.


Wajah Laura mengeras, gurat gurat kemarahan tampak disana. Kedua tangannya mengepal kuat.


"Anak ini anak Kak Del." Ujar Laura sambil berjalan mendekati brankar Killa. "Terima kenyataan Kil. Bukan hanya bayi kamu yang anak Kak Del, anak ini juga anaknya." Laura menekankan kata katanya.


"Kamu tahu Ra, sampai mulut kamu berbusapun, aku gak akan pernah percaya apapun yang keluar dari mulut kamu." Teriak Killa.


Tiba tiba Killa merasakan kepalanya sangat sakit. Cewek itu memegangi kepalanya, wajahnya juga makin pucat. Killa memegangi perutnya sambil memejamkan mata.


"Kenapa lo? sakit perut lo? Oh iya gue lupa. Lo kan mengalami preeklamsia." Laura tersenyum sinis. "Bagus deh kalau anak lo mati, biar anak gue jadi anak satu satunya."


Tiba tiba tubuh Killa mengalami kejang, membuat Laura seketika panik.


"Kil, lo kenapa Kil? Killa, lo baik baik saja kan?" Laura gemetaran, dia takut terjadi sesuatu pada Killa.


Laura ingin berlari memanggil dokter, tapi pada saat bersamaan, Rain datang bersama Dilan.


"Killa, kamu kenapa sayang?" Teriak Rain yang terkejut melihat tubuh Killa kejang. Dilan segera berlari memanggil dokter. Sedangkan Laura, cewek itu segera meninggalkan ruangan Killa dengan tubuh gemetar karena takut.


.


UDAH PADA TAHU BELUM SIAPA PELAKUNYA?


Jangan lupa like komentar dan kasih hadiah buat author.