DELMAR

DELMAR
JANGAN PERGI



Delmar mondar mandir menunggu dokter memeriksa Killa. Perasaannya tak karuan. Seperti akan terjadi sesuatu yang buruk. Tapi itu tidak mungkin, Killa nya wanita yang kuat, dia pasti akan baik baik saja.


Kondisi Deluna sudah membaik, bayi itu sudah bisa bernafas kembali walau dengan bantuan alat.


Sudah satu jam lebih tapi dokter belum juga keluar, membuat Del tak bisa bernafas tenang.


"Mah, kenapa lama sekali?" Tanya Del pada mamanya yang sedang duduk dikursi panjang bersama ibunda Killa. Kedua wanita itu terus menangis, membuat Del menjadi sedikit bingung. Tapi sudahlah, emak emak mungkin perasaannya sensitif, jadi mudah menangis, alias dikit dikit nangis.


"Killa hanya pingsan Bu. Kenapa ibu menangis terus? Dia akan baik baik saja. Deluna juga sudah baik baik saja, tenanglah." Delmar mencoba menenangkan ibu mertuanya. Wanita itu tampak sangat kacau, membuat Del tak tega melihatnya.


"Gimana keadaan Killa?" Tanya Sean yang baru datang bersama Dilan dan Cea.


"Kak Killa baik baik sajakan mah?" Cea juga tampak cemas.


Rain tak menjawab, dia hanya menangis lalu memeluk suaminya.


Ada apa ini? kenapa semua tampak sangat cemas? Killa hanya pingsan, tapi kenapa semua keluarganya datang.


Tak lama kemudian, Fariz juga datang. Pria itu menghampiri ibunya dan memeluknya erat wanita yang telah melahirkannya dan Killa itu.


"Fariz, ibu takut. Ibu tak ingin kehilangan lagi."


"Jangan bilang seperti itu bu. Semua akan baik baik saja Bu. Killa kuat, dia pasti bisa bertahan."


Deg


Jantung Delmar seperti berhenti berdetak mendengar ucapan Fariz dan ibunya. Kehilangan lagi? apa maksudnya?


Ada apa ini? Kenapa ucapan kedua orang itu terdengar lebay hanya untuk seseorang yang pingsan karena cemas dengan kondisi anaknya.


"Mah." Delmar menarik pelan bahu mamanya yang berada dalam dekapan sang papa. "Apa yang sebenarnya terjadi mah?" Del merasa jika ada yang disembunyikan disini.


"Mah, jawab. Apa yang sebenarnya terjadi pada Killa mah? jawab." Teriak Del dengan nafas memburu dan tubuh gemetaran. Perasaannya sungguh kacau sekarang.


"Maaf." Ucap Sang mama.


"Maaf? untuk apa?" Del makin gelisah.


"Maaf karena udah menyembunyikan fakta tentang Killa."


"Fakta? fakta apa yang tak Del ketahui?" Mata Del mulai berkaca kaca. Dia yakin, jika fakta itu adalah sesuatu yang buruk. Tidak, dia tidak siap mendengarnya, tapi dia harus tahu.


"Killa sempat mengalami kejang karena komplikasi eklamsia. Dia mengalami pendarahan otak dan gagal hati."


JEDERRR


Del seperti tersambar petir mendengarnya.


"Enggak, gak mungkin." Del mundur beberapa langkah. Kepalanya terus menggeleng. Separah itu tapi keluarganya menyembunyikan darinya. Tega sekali mereka membuatnya seperti orang bodoh yang tak tahu apa apa. "Kalian pasti bohong." Ucap Del sambil tertawa lalu menangis.


"Cea, Dilan, kalian lagi ngeprank aku kan? Kalian lagi bikin konten, iya kan?" Teriak Del sambil memegang lengan Cea lalu Dilan bergantian. Tapi kedua adiknya itu hanya diam sambil menangis.


"Del, tenang." Sean menarik lengan Del agar anaknya itu bisa tenang dan tidak berteriak lagi. "Killa akan baik baik saja. Kita hanya perlu berdoa sekarang." Sean memeluk Del sambil menepuk nepuk punggung anaknya itu. "Semua akan baik baik saja."


"Del takut Pah, Del takut." Air mata Del mulam terus turun. Cowok itu sungguh ketakutan sekarang. Dia takut Killa benar benar akan meninggalkannya dan Deluna selamanya. "Kenapa gak ada yang memberitahu Del tentang ini Pah, kenapa? Del suaminya, Del berhak tahu kondisi Killa."


Tak lama kemudian, ruangan terbuka. Membuat semua atensi mereka tertuju pada dokter yang baru saja keluar.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Del sambil berjalan menghampiri dokter tersebut. Jantungnya berdegup sangat kencang, dia belum siap kalau dokter mengabarkan berita buruk.


"Maaf."


Deg


"Kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi nyawa pasien tidak dapat diselamatkan."


Tangis semua orang kian pecah. Ibunda Killa seketika pingsan. Dan Rain langsung lemas dalam dekapan suaminya.


"Enggak, gak mungkin. Killa gak mungkin ninggalin aku. Dia mencintaiku, dia gak akan tega ninggalin aku." Delmar menabrak lengan dokter tersebut lalu menerobos masuk. Dia langsung menarik tangan suster yang mau menutupi tubuh Killa.


"Hentikan, dia belum meninggal." Teriak Del sambil melempar kain tersebut.


"Bi, bangun. Bangun sayang." Del menggenggam tangan Killa dan menciuminya berkali kali. Dia menatap wajah Killa yang tampak pucat. Cewek itu tersenyum, terlihat sangat cantik dengan mata yang terpejam.


"Dia sudah tidak ada pak. Istri anda sudah meninggal." Ujar suster yang berada disana.


"Cukup, berhenti berkata yang tidak tidak tentang istri saya." Bentak Del dengan raut penuh emosi. Suster itu menghela nafas lalu keluar dari ruangan. Dia sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini.


"Bi bangun sayang." Del mengguncang guncangkan tubuh Killa. Berharap istrinya itu bisa bangun kembali. Lelah dengan cara itu. Delmar menekan dada Killa lalu memberinya nafas buatan. Dia melakukan CPR seperti yang dipelajarinya disekolah.


"Hentikan Del, apa yang kamu lakukan nak." Rain menarik lengan Del agar dia menghentikan tindakan tak masuk akalnya itu.


"Del mau memberikan pertolongan pertama untuk Killa mah. Dokter dan suster itu bodoh, membangun orang pingsan saja mereka tidak bisa." Del ingin melakukan CPR lagi namun tubuhnya segera ditarik oleh Sean.


"Berhenti Del, Killa sudah meninggal Del. Dia sudah gak ada." Sean berusaha menyadarkan Delmar. Del melepaskan cekalan papanya dan kembali mendekati Killa.


"Bi, bangun sayang." Delmar menciumi seluruh wajah Killa sambil bercucuran air mata. "Jangan tinggalin aku dan baby Deluna." lanjutnya dengan suara terputus putus karena isakan. "Kondisi Deluna sudah stabil, dan sekarang kamu juga harus sadar."


Del sedikit menganggat tubuh Killa dan mendekapnya didada.


"Jangan tinggalin aku dan Deluna. Kami butuh kamu. Kami butuh kamu sayang. Apa yang harus aku katakan jika Deluna bertanya tentang mommy nya? Siapa yang akan menyusui Deluna? Siapa yang akan menggendongnya saat dia rewel tengah malam. Siapa yang akan mengganti pokoknya jika dia mengompol. Siapa Bi, siapa?" Del terus menangis hingga Rain benar benar tak tega melihatnya.


"Ikhlas sayang, ikhlasin Killa. Biarkan dia pergi dengan tenang."


"Enggak mah, enggak. Aku gak bisa hidup tanpa Killa. Aku gak bisa mah, gak bisa. Aku sudah terlalu sering menyakitinya, aku belum minta maaf mah, aku belum sempat membuatnya bahagia. Dan Deluna, bayi itu butuh ibunya, dia butuh Killa."


"Ada kamu nak, ada ayahnya. Kamu yang harus menjaga dan merawat Deluna."


"Killa seperti ini gara gara Del mah. Kalau saja Del tidak memperkosanya, dia tidak akan hamil. Dan jika tidak hamil, dia tidak akan meninggal. Semua ini salah Del. Del yang menyebabkan Killa meninggal." Del merasa sangat bersalah pada Killa. Dan Deluna, bagaimana nasib bayi mungil itu. Ibunya sudah meninggal bahkan sebelum dia bisa menyusu langsung pada sang ibunda.


"Enggak bener itu nak. Ini adalah takdir. Semua yang bernyawa akan mati. Dan kita tak pernah tahu kapan saat itu tiba. Jangan salahkan diri kamu. Mama yakin, Killa juga tidak pernah menyalahkan kamu. Killa sayang kamu. Yang kuat. Ingat, ada Deluna yang butuh kamu."


"Bi, bangun sayang. Kamu marah sama aku? kau benci sama aku? kamu mau belas dendam sama aku? lakukan Apapun sayang, tapi jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Ini terlalu kejam. Aku gak bisa Bi, gak bisa."


Sean mendekati Del dan melepaskan tubuh Killa dari dekapan anaknya. "Papa tahu ini tak mudah untuk kamu. Tapi percayalah, Killa ingin kamu bahagia. Killa sudah memberikan malaikat kecil untukmu sebagai ganti dirinya."


"Ini terlalu menyakitkan Pah. Sakit, Del tak kuat." Del memukul mukul dadanya yang terasa sesak. Rasanya sesuatu yang sangat berat sedang menghimpit dadanya sekarang.


"Killa, bangun sayang, bangun...... " Del tanpa putus asa terus mencoba membangunkan Killa.


"Jangan pergi, jangan tinggalin aku. Ini terlalu menyakitkan. Ini terlalu berat buat aku."


"Aku mencintaimu Akilla Luna."


.