DELMAR

DELMAR
DITAHAN



Killa sedang menonton tv bersama Cea saat Bi Siti datang membawa sebuah paket.


"Non Killa ada paket untuk nona." Ujar Bi Siti sambil menyodorkan paket yang dibungkus plastik berwarna hitam ke arah Killa.


Mata Killa langsung berbinar, dia yakin itu pasti paket dari Delmar yang tadi cowok itu ceritakan.


"Makasih ya Bik." Ucap Killa sambil tersenyum. Tangannya terulur untuk menerima paket tersebut.


"Kakak beli apa?" Tanya Cea kepo.


Killa menggeleng. "Ini hadiah dari Kak Del."Jawab Killa dengan senyum merekah. Sebenarnya sejak tadi dia menunggu paket itu.


"Ish romantis banget sih Kak Del pakai kasih hadiah segala." Goda Cea sambil menyenggol lengan Killa. Membuat Killa tersipu malu dan senyum senyum sendiri. "Cepetan buka, pengen lihat isinya."


"Enggak." Killa menggeleng cepat. "Kata Kak Del aku harus buka sendiri dikamar. Gak boleh ada kamu apalagi Dilan."


"Ish apaan sih pakai rahasia rahasia segala. Cepetan buka, Cea mau tahu isinya." Rengek Cea sambil menarik narik lengan Killa.


"Enggak Ce, Kak Del bilang aku harus buka sendiri."


"Ck gak seru." Ujar Cea sambil mengerucutkan bibirnya dan bersedekap.


"Jangan ngambek dong." Ucap Killa sambil menoel hidung adik iparnya itu. "Ntar aku kasih tahu deh. Tapi sekarang, aku lihat dulu dikamar, ok." Lanjut Killa sambil membentuk huruf O dengan jari jempol dan telunjuknya membentuk simbol ok.


"Janji." Cea mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji." Jawab Killa sambil menautkan kelingkingnya pada kelingking Cea.


Killa benar benar tak sabar melihat isi hadiah dari Delmar. Buru buru dia beranjak menuju tangga sambil senyum senyum memikirkan kemungkinan isi dalam paket tersebut.


Baru dua anak tangga dia naiki, terdengar suara gaduh dari arah dapur.


"Nyonya sadar nyonya, nyonya." Suara Bik Siti dan Bik jumik terdengar panik.


"Tuan, Tuan, nyonya pingsan." Teriak Bik Ira sambil berlari kearah kamar Sean.


Killa membatalkan niatnya untuk kekamar. Dia berjalan menuju dapur untuk melihat kondisi mama mertuanya.


"Mah, mamah, bangun mah." Cea bersimpuh disamping mamanya dengan raut panik. Bik Siti tampak memercikkan air kewajah Rain agar nyonya itu segera sadar.


Rain mengerjabkan matanya, sepertinya kesadarannya sudah mulai kembali..


"Sayang ada apa?" Sean yang baru datang segera menghampiri istrinya yang tergeletak dilantai dengan kepala berada dipangkuan Cea. Pria itu segera membopong tubuh istrinya menuju sofa.


Bik Jumik membawakan segelas air putih dan segera memberikannya pada Rain..


"Diminum dulu nyonya." Rain menerima gelas berisi air putih tersebut dan segera meminumnya.


"Ada apa sayang? kamu pasti kecapekan sampai pingsan." Tanya Sean yang tampak sangat cemas. Pasalnya sejak pagi istrinya itu terus berkutat didapur.


"Del, Delmar Pah." Ucap Rain dengan panik.


"Del? ada apa dengan Del?" Sean ikut cemas.


BUK


Killa langsung menjatuhkan paket yang dia pegang. Tubuhnya seketika lemas mendengar Del ditangkap polisi.


"Bikin ulah apalagi anak itu?" Seru Sean dengan emosi. Terakhir kali Del ditangkap polisi karena terlibat balapan liar.


Rain menggeleng sambil menangis. Membuat Sean makin bertanya tanya dan Killa juga makin cemas.


"Kenapa Del ditangkap polisi mah?" Sean kembali bertanya.


"Del__" Rain tak mampu melanjutkan ucapannya. Dia malah menangis tersedu sedu. Membuat Sean dan semua orang disana makin khawatir.


"Del kenapa mah, jangan bikin papah makin bingung." Ujar Sean sambil memegang kedua bahu Rain dan menatapnya dalam.


"Del, Del ditangkap karena kasus penusukan."


Killa seketika membekap mulutnya sendiri. Kepalanya terus menggeleng. Air matanya perlahan mulai turun. Dadanya terasa sesak.


"Pe, penusukan mah?" Sean terlihat shock. Delmar memang bandel, tapi apa mungkin dia sampai menusuk orang.


"Iya, percobaan pembunuhan pada Laura." Ucap Rain sambil menangis. Dulu ayahnya mendekam dipenjara karena kasus pembunuhan, dan sekarang, dia tak ingin Delmar mengalami nasib yang sama.


"Enggak, gak mungkin Kak Del ngelakuin itu mah. Gak mungkin." Teriak Killa histeris. Tubuh cewek itu luruh kelantai. Lututnya terasa lemas.


Cea menghampiri Killa lalu memeluk kakak iparnya itu. Gadis itu juga sama, dia juga menangis sesenggukan.


"Kak Del gak mungkin membunuh kan Ce?" Killa menangis histeris dalam pelukan Cea.


"Enggak kak, enggak." Jawab Cea sambil sesenggukan.


"Delmar gak mungkin ngelakuin itu Pah, anakku tak mungkin menjadi pembunuh." Rain meraung raung dalam pelukan Sean.


"Tenang dulu mah, tenang. Kita cari tahu masalah yang sebenarnya dulu." Ujar Sean sambil mengusap punggung Rain agar wanita itu sedikit tenang.


Bik Siti dan Bik Jumik yang ada disana juga ikut menangis. Apalagi Bik Siti, dia adalah pengasuh Del sejak kecil. Dia sangat menyayangi Delmar.


"Kita kekantor polisi Pah. Aku harus melihat Del, aku harus melihat anakku." Teriak Rain sambil menarik narik lengan Sean.


"Iya mah, kita ke kantor polisi sekarang. Tapi kamu tenang dulu." Sahut Sean sambil kembali mendekap Rain.


"Killa ikut Pah, Killa mau ketemu kak Del." Killa segera bangun dan menghampiri papanya.


"Enggak sayang, kamu dirumah aja. Biar papa dan mama yang nyelesaiin masalah ini." Ujar Sean.


"Enggak Pah." Killa menggeleng cepat. "Killa ikut, Killa mau ketemu Kak Del." Pinta Killa sambil terus menangis. Mana mungkin dia bisa berdiam diri dirumah saat suaminya terkena masalah besar.


"Baiklah, kalau begitu, kita ke kantor polisi sekarang."


Mereka bertiga segera pergi kekantor polisi, tempat dimana Delmar ditahan.