DELMAR

DELMAR
TOLONG



Hari ini diadakan acara syukuran tujuh bulanan kehamilan Killa. Sejak pagi aroma kue sudah menguar kemana mana. Walaupun tamu yang datang hanya sebatas teman dekat saja, tapi Rain sangat bersemangat menyiapkan semuanya.


"Gak usah bantuin entar kamu capek." Ujar Del sambil merangkul Killa dan membawa cewek itu menjauh dari area dapur. Tak rela sama sekali istrinya capek.


"Gak enak kak sama mama dan yang lainnya."


"Dibikin enak aja udah." Del memaksa Killa naik kelantai atas menuju kamar.


"Dah rebahan sana, mau kakinya aku pijetin?" Tawar Del sambil menuntun Killa duduk ditepi ranjang.


"Gak usah, tadi malem kan udah kamu pijetin." Killa naik keatas ranjang lalu menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.


Del ikut naik lalu meletakkan kepalanya dipaha Killa.


"Hai Baby sayang." Sapa Del sambil mengusap lembut perut Killa yang merasa tepat dihadapannya. "Papa gak sabar pengen ketemu kamu, pengen ngajak main."


"Awww.." Lirih Killa sambil meringis.


"Kenapa Bi?" Del tampak cemas, dia segera menarik tangannya, takut jika usapannya terlalu keras yang menyakiti Killa dan anak mereka.


"Dia nendang kak. Kayaknya suka deh diajak ngobrol papanya." Ujar Killa bersemangat.


"Masak sih." Del kembali meletakkan telapak tangannya di perut Killa. "Kok aku gak ngerasa?"


"Kamu usap pelan, siapa tahu gerak lagi."


Del menurut, dia mengusap lembut perut Killa sambil terus berceloteh mengajak ngobrol baby.


"Dia gerak, dia gerak Bi." Delmar kegirangan merasakan gerakan dari dalam perut Killa.


"Kak aku pengen foto maternity, boleh kan?" Tanya Killa.


"Boleh dong. Gimana kalau kita foto di puncak sekalian pas babymoon. Pemandangan di vila bagus banget, cocok buat foto out Door. Kalau kamu setuju, ntar aku cari fotografernya.


"Hm." Killa langsung tersenyum girang. "Mau banget, jadi gak sabar deh."


"Aku juga gak sabar pengen buru buru babymoon." Sahut Del sambil mengecup singkat bibir Killa. "Kita berangkat besok pagi ya?"


"Terserah kamu, aku ngikut aja."


"Oh iya, aku punya hadiah buat kamu."


"Apaan?" Killa sumringah mendengar akan mendapatkan hadiah.


"Ada deh, bentar lagi mungkin paketnya datang. Ntar kamu juga tahu kalau udah sampai. Tapi bukanya didalam kamar aja sendiri, jangan sampai ada Cea apalagi Dilan yang lihat." Pesan Del justru membuat Killa makin penasaran. Emang apaan sih isinya, kenapa gak boleh dilihat orang lain?


"Bikin penasaran, apaan sih?" Rengek Killa ingin tahu.


"Nanti juga tahu, pokoknya kamu pasti suka. Aku beliin banyak, buat stok selama kita babymoon." Del menaik turunkan alisnya menggoda Killa.


"Dih, bikin penasaran aja kamu. Tapi dari gelagatnya, aku mencium bau bau modus disini."


"Hahahah... , peka juga kamu." Delmar tak bisa manahan tawanya. Tak sabar sekali ingin segera babymoon berdua. Menghabiskan waktu berdua tanpa ada yang mengganggu.


Disaat bersamaan ponsel Delmar terus berbunyi. Membuat cowok itu mau tidak mau bangkit dari posisi wenaknya lalu berjalan mengambil ponselnya yang berada di atas meja belajar.


Del melihat nomor yang tidak dikenal tertera diponselnya. Dahinya berkerut, berpikir MAu menganggkat atau tidak. Sampai akhirnya dia putuskan untuk menjawab panggilan tersebut.


"Hallo." Jawab Del ragu ragu.


Suara itu terdengar sangat familiar ditelinga Delmar.


"Laura." Gumam Delmar pelan.


"Tolong kak, tolong."


Suara Laura terdegar tersengal sengal. Munhkin cewek itu sedang berlari atau apa, Delmar juga tidak tahu. Del keluar dari kamar agar Killa tak mendengar obrolannya.


"Tolong Kak, ada yang ngikutin aku. Aku takut kak."


"Lo yakin? mungkin hanya perasaan kamu aja."


"Enggak kak, aku yakin orang itu ngejar aku. Sejak kemarin aku dapat pesan ancaman. Ada yang mau menghabisi aku. Aku takut."


"Ra, lo dimana Ra?" Delmar tak tega untuk mengabaikan Laura.


"Aku gak tahu ini dimana."


"Ra tenang Ra, jangan panik. Cari pertolongan ke orang orang disekitar sana dulu. Nanti aku jemput."


"Gak ada orang sama sekali, aku takut."


"Share loc, terus lo telepon polisi. Gua akan segera kesana."


Delmar buru buru masuk kedalam kamar untuk mengambil kunci motornya.


"Mau kemana kak?" Tanya Killa.


"Aku keluar bentar ada urusan. Gak akan lama kok." Del mengecup kening Killa lalu buru buru keluar.


Setelah mendapatkan lokasi Laura. Delmar segera melajukan motornya ke lokasi. Pikirannya tak tenang, takut terjadi apa apa pada cewek itu mengingat tadi Laura terdengar sangat panik.


Laura tiga kali mengirim lokasi, posisi cewek itu terus berubah mengingat dia sedang berlari saat ini.


Del sudah tiba dilokasi terakhir yang di share Killa. Tampak sebuah bangunan kosong yang terbengkalai. Tempat itu sangat sepi, tak nampak ada siapapun disana.


"Ra, Laura." Del berteriak teriak memanggil nama Laura. Tak mendapat sahutan, cowok itu menghubungi nomor yang tadi dipakai Laura. Tersambung, Tapi tak diangkat.


Delmar masuk kedalam bangunan. Samar samar dia mendengar suara ponsel. Mungkin berasal dari ponsel Laura yang dia hubungi.


Del berusaha mencari sumber suara sambil terus berteriak memanggil Laura.


"Ra, Laura, lo dimana Ra?"


Mata Del membulat sempurna saat melihat sesosok tubuh yang tergeletak dilantai. Buru buru Del mendekatinya, dan benar, dia adalah Laura.


"Ra, lo kenapa Ra?" Teriak Del sambil memeriksa kondisi Laura. Cewek itu tak sadarkan diri. Sebuah pisau tertancap didadanya dan darah segar terus mengalir dari sana.


Del memeriksa denyut nadinya, Laura masih hidup, dia hanya tak sadarkan diri. Del buru buru menelepon ambulance dan mengirim lokasi mereka.


Dengan tangan gemetar Del mencabut pisau yang tertancap didada Laura.


"Angkat tangan."


Deg


Jantung Del seperti berhenti berdetak mendenagar suara keras dari arah belakang. Saat dia menoleh, ada 3 orang polisi yang sudah mengacungkan senjata kearahnya.