DELMAR

DELMAR
BEBAS



Killa masuk ke ruang operasi dengan perasaan campur aduk. Tangannya tak lepas menggenggam tangan sang ibu.


"Tunggu." Teriak seseorang saat pintu ruang operasi akan ditutup. Dia berlari dan berhenti tepat didepan pintu ruang operasi. Nafasnya ngos ngosan, tampak sekali jika dia baru saja berlari.


"Izinkan saya masuk. Saya mau menemani istri saya melahirkan."


"Kak Del." Gumam Killa saat melihat suaminya berdiri diambang pintu. Air matanya lagi lagi menetes, tapi dengan alasan lain, yaitu kebahagiaan.


"Saya mau menemani istri saya melahirkan sus." Dengan nafas tersengal sengal, Delmar kembali mengungkapkan keinginannya pada suster yang berada dihadapkannya.


"Tapi sudah ada yang menemani. Hanya boleh satu orang saja yang berada didalam."


"Saya akan keluar sus. Biar suaminya saja yang menemani." Ucap Liana sambil berjalan menuju pintu.


"Baiklah kalau begitu." Jawab suster itu.


"Temani Killa, ibu percayakan Killa pada kamu." Ujar Liana sambil memegang bahu Del lalu keluar dari ruang operasi.


Setelah memakai pakaian khusus. Delmar segera masuk keruangan operasi. Tampak Killa yang sudah berbaring dimeja operasi dengan wajah tegang.


"Aku belum terlambat kan?" Ucap Del sambil menggenggam tangan Killa.


"Makasih udah mau menepati janji kamu."


"Aku pasti menepatinya." Del mengecup kening Killa lama lalu mencium sekilas bibirnya. Tak peduli dengan dokter dan suster yang berada diruangan itu..


Del menatap Killa intens. Menggenggam tangannya dengan erat seolah takut jika mereka akan terpisah lagi. Enggak, Del tak mau itu sampai terjadi. Sungguh menderita jauh dari Killa. Jauh dari mood boosternya itu.


"I miss u so bad." Ucap Del.


"Killa juga."


Flashback


Delmar terkejut melihat siapa yang datang mengunjunginya. Dia pikir papanya dan pengacara. Ternyata yang datang Miko dan Laura.


"Ngapain lo bawa dia kasini?" Del menunjuk dagu kearah Laura dengan raut wajah emosi. Wajar jika Del marah, siapa yang tak emosi melihat biang masalah yang menyebabkan dia ditahan ada dihadapannya.


"Sabar Del, duduk dulu. Ada yang mau kita omongin." Ujar Miko sambil menggenggam tangan Laura yang berkeringat dingin dan gemetar.


"Duduk." Ucap Miko tanpa suara sambil menatap Laura. Laura mengangguk lalu duduk disebelah Miko.


"Tega lo ngelakuin ini ke gue Ra? Gue tahu gue salah sama lo. Tapi cara bales dendam lo udah sangat kelewatan." Ucap Del dengan nada tinggi.


"Maaf." Gumam Laura sambil menunduk. Tangannya terus meremas tangan Miko. Dia sangat cemas dan takut saat ini.


"Maaf lo gak ada gunanya sebelum lo ungkap kebenarannya. Gue gak nusuk lo. Dan gua juga bukan bapak dari anak lo. Tapi kenapa lo tega fitnah gue Ra." Kalau saja Laura bukan perempuan, Del ingin sekali menghajarnya saat ini.


"Laura hamil anak gue." Seketika mata Del membulat sempurna mendengar pernyataan Miko barusan. Selama ini dia terus bertanya tanya tentang siapa ayah dari janin yang dikandung Laura, dan ternyata orang itu adalah temannya sendiri. Bukan, bukan hanya teman, melainkan sahabat terbaiknya.


"Sory Del. Jangan salah paham." Miko buru buru menjelaskan. Dia takut dianggap tak setia kawan karena sudah nusuk teman dari belakang. "Kita gak pernah selingkuh dibelakang lo. Kita khilaf saat itu."


Del tersenyum getir mendengarnya. Dia sama sekali tak menyangka jika Miko yang dia anggap sahabat baik, meniduri pacarnya. Kecewa, sudah pasti. Tapi sakit hati? jawabannya tidak. Tak ada cinta untuk Laura, hal itu yang membuat Del tak merasakan sakit hati. Apalagi dia sudah lebih dulu menyakiti Laura. Jadi Del bisa memaklumi itu.


"Bulshit. Cinta gak kayak gini Ra. Cinta gak menyakiti orang yang dia cintai."


"Maaf." Ujar Laura sambil menangis.


"Udah gak usah nangis." Tutur Miko lembut sambil mengusap air mata Laura. Del memalingkan wajahnya sambil menghela. nafas melihat interaksi antara Miko dan Laura. Bukan cemburu, hanya tampak aneh saja.


"Gue gak butuh maaf lo. Gue butuh penjelasan lo. Jelasin semuanya pada polisi. Gue pengen bebas Ra. Gue udah gak tahan disini."


"Laura bakal ngomong yang sejujurnya pada polisi. Tapi gue mohon, jangan tuntut Laura karena fitnah dan keterangan palsu." Miko mencoba negosiasi.


Lagi lagi Del hanya menanggapi dengan senyum sinis. "Setelah apa yang gue alami. Lo nyuruh gue gak usah nuntut Laura?" Del hampir saja berteriak kalau tak ingat ini adalah kantor polisi.


"Laura hamil Del. Please, gue mohon, jangan tuntut Laura. Laura bakal ngomong sejujurnya pada polisi." Miko masih mencoba untuk bernego. Dia tak tega jika Laura harus dipenjara dalam keadaan hamil. Walaupun mungkin hanya beberapa bulan, tapi Miko tak yakin Laura akan sanggup hidup didalam penjara.


"Hamil!" Del tersenyum getir. "Killa juga hamil Mik. Istri gue hamil. Bahkan gara gara kasus ini dia masuk rumah sakit. Dia mengalami pendarahan. Bagaimana jika terjadi apa apa dengan istri dan anak gue?" Del tak bisa lagi menahan emosinya.


Mendengar nama Killa, Laura jadi teringat sesuatu. Tadi dia dan mamanya sempat ingin mengunjungi Killa untuk minta maaf, tapi tak jadi karena melihat situasi yang kurang kondusif. Dia mendengar percakapan Suster dan ibunya Killa tentang persiapan Killa melahirkan secara caesar siang ini.


"Kakak udah tahu, Killa akan melahirkan siang ini." Ucap Laura.


Deg


Jantung Del seketika terasa berhenti berdetak. Ada apa ini, melahirkan? Mana mungkin. Killa baru hamil 7 bulan. Seketika pikiran Del Kemana mana, takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Killa dan calon anak mereka.


"Killa baru hamil 7 bulan, mana mungkin dia akan melahirkan?" Del masih shock.


"Sepertinya karena Killa mengalami komplikasi preeklamsia. Kemarin, dia juga sempat kejang."


Del makin panik. Ingin rasanya dia segera berlari keluar dari tempat ini.


"Gue harus harus ke rumah sakit sekarang. Gue udah janji bakal nemenin Killa lahiran. Gue gak bisa diam disini." Del berdiri dengan bingung. Apapun caranya dia harus keluar dari tempat ini.


"Gue harus ke rumah sakit sekarang Mik." Del sangat cemas sekarang.


"Aku akan ngeluarin kakak dari sini." Sahut Laura. Dia merasa harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Dia yang menyebabkan Del dipenjara. Dia juga yang secara tidak langsung menyebabkan Killa kejang dan harus melahirkan prematur.


Ternyata saat mereka berbincang. Mario sudah mengurus berkas berkas pembebasan Del. Celin yang meyakinkan Laura agar mau jujur dan meminta maaf pada Delmar. Miko juga menyarankan hal yang sama. Dia juga berjanji pada Laura akan membujuk Del agar tak menuntutnya.


Setelah semuanya beres, Miko mengantarkan Delmar ke rumah sakit.


Flashback off


Del terus menggenggam tangan Killa saat dokter memulai operasinya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ini pengalaman pertama yang sungguh menegangkan buat Del dan Killa. Bahkan ujian akhirpun tak semenegangkan ini.


Senyum Del merekah saat dokter mengangkat seorang bayi mungil dari perut Killa. Tapi seketika senyum Del hilang saat menyadari bayinya tidak menangis.


"Kenapa anak saya tidak menangis dok?"


.


UDAH DIKASIH DOUBLE UP NIH, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN MAWAR NYA