DELMAR

DELMAR
JALAN JALAN MALAM



Delmar terdiam saat merasakan bibir lembut Killa menyetuh pipinya. Setelah menekan capture, dia menoleh ke arah Killa. Killa yang mendapat tatapan tajam langsung salah tingkah, bingung harus berbuat apa. Sesaat suasana menjadi canggung.


"Sini Killa lihat." Killa merebut Ponselnya dari tangan Del. Seketika Killa menahan tawa melihat ekspresi lucu Del. Cowok itu terlihat melotot dengan muka tegang saat Killa menciumnya.


"Ada yang lucu?" Del paham kalau Killa sedang menahan tawa, lebih tepatnya menertawakannya.


"Gak ada."


"lo ngetawain gue? sini biar gue hapus." Del berusaha merebut ponsel ditangan Killa. Killa yang merasa tak rela momen itu terhapus, segera menyembunyikan ponselnya dibelakang punggung.


"Siniin." Del maju sabil terus berusaha meraih ponsel Killa.


"Gak boleh." Killa terus berusaha mempertahankan ponselnya.


"Siniin Kil." Del menarik tangan Killa sangat kuat hingga cewek itu kesakitan.


"Sakit kak."


"Makanya nurut." Del segera mengambil ponsel lalu menghapus foto tersebut.


Tampak sekali raut kecewa diwajah Killa. Dia hanya ingin mempunyai kenangan indah bersama Del. Setidaknya sebelum mereka benar benar berpisah.


"Killa mau tidur." Lirihnya sambil berjalan pelan masuk kedalam kamar.


"Tunggu." Ujar Del sambil menahan pergelangan tangan Killa. "Yuk selfi lagi."


Killa menggeleng pelan." Gak usah."


"Ngambek?"


Killa kembali menggeleng, tanpa suara.


"Sini." Del menarik Killa mendekat lalu mengarahkan Kamera ke arah mereka berdua.


Cup


Tanpa menghitung, Del mencium pipi Killa dan langsung menangkap momen itu.


"Kak Del kok gak hitung dulu, Killa kan belum siap." Ujar Killa dengan wajah memerah karena malu.


"Ya udah kita ulangi. Hitungan ketiga, lo cium gue Ok." Titah Del dan langsung diangguki oleh Killa.


Akhirnya mereka mengambil banyak lagi foto selfi yang terlihat lebih mesra dari awal tadi. Beberapa kali Del mengambil foto saat Killa menciumnya, dan sebaliknya, Del berganti mencium pipi Killa.


"Lucu lucu banget kak." Ujar Killa sambil melihat satu persatu foto mereka. Senyuman terus terusan mengembang di wajah manisnya.


"Cantik banget kalau senyum." Gumam Del lirih hingga tak sampai terdengar Killa.


Cup


Del mencium bibir Killa sekilas hingga membuat cewek itu mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menoleh ke arah Del. Tiba tiba tangan Del menarik pinggang Killa hingga posisi mereka rapat dan saling berhadapan.


Del menarik tengkuk Killa dengan salah satu tangannya lalu menyatukan bibir mereka. Killa bisa merasakan sesuatu yang lembut memasuki mulutnya. Dengan mata terpejam, Killa mengimbangi ciuman Del.


Dug


"Aw." Del melepaskan pagutan bibirnya sambil meringis saat merasakan ada sesuatu yang mengenai lengannya. Del celingukan mencari sesuatu disekitarnya.


"Ada apa kak?"


"Ada yang nimpuk gue." Jawab Del sambil terus mengedarkan pandangannya. Tiba tiba matanya menangkap sebuah batu kecil seukuran bola bekel tak jauh darinya.


"Sekuriti." Del berteriak kencang dari atas balkon. Tapi kedua sekuriti yang berjaga tak mendengar Karena jarak terlalu jauh.


"Ada apa teriak teriak?" Muncul seseorang dari bawah balkon. Tak lain tak bukan adalah Pak Joe.


"Sialan, lo yang nimpuk gue?" Teriak Del sambil melemparkan kembali batu itu kearah Pak Joe tapi karena kelihaiannya, dia bisa menghindar.


"Damn." Umpat Del yang kesal Karena batunya tak mengenai sasaran.


"Kalau mau mesum didalam kamar, jangan diluar kayak gitu. Mengganggu privasi orang."


"Privasi lo maksudnya?" Cibir Del sambil menarik ujung bibirnya. "Ini rumah gue, mau gue ciuman dikamar, dibalkon bahkan dihalaman bukan urusan lo. Bahkan kalau gue mau ngen di mana mana juga buka urusan lo."


"Beneran? coba ngen disini, sekalian saya vidioin biar viral." Pak Joe menunjuk dagu kearah halaman disebelahnya.


"Gue pecat lo."


"Jangan, situ masih butuh saya." Ujar Pak Joe dengan ekspresi datar lalu pergi entah kemana. Del menendang meja disebelahnya hingga posisinya bergeser. Kesal sekali dia karena lagi lagi Pak Joe yang mengganggunya. Pecat mana mungkin? Papanya dan Cea pasti mencak mencak kalau Pak Joe dipecat. Selain itu Del juga butuh Pak Joe. Pria itulah yang sejak dulu menjadi guru bela dirinya.


"Mau keluar sama gue gak?" Tanya Del sambil menatap Killa


"Kemana?"


"Mau gak?"


Killa mengangguk, walaupun sebenarnya kakinya sudah lelah, tapi demi bisa bersama Del, dia rela.


"Pakai jaket yang tebel." Titah Del sambil berjalan masuk kedalam kamar.


Killa segera mengambil sweeter rajutnya dari almari lalu memakainya.


"Gue bilang yang tebel Killa."


Del memutar kedua bola matanya malas lalu mengambil 2 hoodi warna hitam dari almari miliknya.


"Nih pakai." Dia menyerahkan salah satunya pada Killa dan satunya dia pakai. Killa membuka lipatan hoodi itu. Ukurannya terlalu besar untuk tubuh Killa yang kecil.


"Kebesaran kak."


"Bawel." Del mengambil hoodi itu dari tangan Killa lalu memakaikannya. Tubuh Killa yang kecil, seperti tertelan baju besar itu.


Del mengambil kunci motor lalu menggandeng tangan Killa keluar kamar.


"Ma, kita keluar jangan kunciin pintunya." Pamit Del pada mamanya yang sedang menonton tv bersama Bik jumik dan Dijah.


"Kemana sayang?"


"Jalan jalan." Jawab Del sambil mencium punggung tangan mamanya, lalu bergantian dengan Killa.


"Killa nya dijaga ya, pulangnya jangan terlalu malem, besok Killa sekolah."


"Gimana gak malem mah, ini aja udah jam 10." Jawab Del sambil melihat jam dinding yang bertengger diatas tv.


"Ya udah, tapi kalau bisa jangan sampai diatas jam 1 ya."


"Siip." Jawab Del sambil mengacungkan jempolnya.


...*******...


"Pegangan." Ucap Del sambil mulai menyalakan mesin motornya.


"Ini udah." Jawab Killa sambil memegang kedua sisi jaket Del.


Del membuang nafas kasar. Dia jadi teringat ucapannya pada Killa waktu itu, saat dia menjelaskan bedanya pegangan sama pelukan.


"Peluk gue." Del meralat ucapannya.


Dengan senyum mengembang Killa segera melingkarkan kedua tangannya dipinggang Del.


"Kalau ngantuk, bilang." Pesannya sambil menoleh kebelakang.


"Iya." Jawab Killa sambil mendekatkan kepalanya ke Telinga Del.


Udara malam yang dingin memaksa Del melajukan motornya lebih pelan dari biasanya. Dia tak mau cewek yang sedang mengandung anaknya itu sampai kedinginan.


Sepanjang jalan Killa terus mengedarkan pandangannya. Dia bersenandung pelan sambil terus tersenyum bahagia. Sepanjang menikah Dengan Del, inilah momen yang paling membahagiakan baginya.


Del menghentikan motornya didepan sebuah taman. Killa tak mengira jika di jam yang hampir tengah malam ini masih saja ada tempat seramai ini. Maklumlah dia anak rumahan yang tak pernah keluyuran malam. Beda sekali dengan Del yang kayak kelelawar.


Del membuka kaca helm full Face nya lalu menoleh pada Killa.


"Mau itu gak?" Tanyanya sambil menunjuk kearah pedangan martabak.


Killa menggeleng, lalu memperhatikan sekeliling, mencari kalau saja ada makanan yang dia kepengen.


"Kalau itu." Del menunjuk pedagang jasuke dan sosis bakar. Tapi lagi lagi Killa menggelang.


"Mau itu." Killa menunjuk ke arah pedangan ceker setan.


"Enggak, lo lagi hamil, gak boleh makan yang terlalu pedas." Omel Del. "Yang lain aja."


Killa kembali mengedarkan pandangannya tapi tak menemukan seauatu yang membuatnya teringin.


"Gue haus banget Kil, beli susu itu aja yuk." Del menunjuk ke sebuah gerobak susu berwarna coklat yang bergambar sapi perah hitam putih.


Killa mengangguk, dia juga haus. Walaupun pas dijalan tadi dingin. Tapi saat motornya berhenti, dia merasa sedikit gerah. Apalagi dia memakai hoodi yang lumayan tebal.


"Tunggu sini, biar gue aja yang beli." Del segera berjalan kearah penjual susu sedangkan Killa menunggunya disamping motor.


Beberapa saat kemudian Del kembali dengan 2 cup susu strawbery dan coklat. Dia menyodorkan susu setrowberi pada Killa.


"Seger banget." Ucap Del setelah menyesap hampir setengah cup susu coklatnya.


"Kamu itu suka banget susu ya kak?"


"Udah kebiasaan minum susu dari kecil. Oma pasti ngomel kalau gue gak habisin susu saat sarapan." Jawabnya sambil menoleh kearah Killa.


"Gak bosen?"


"Agak bosen juga sih minum susu kayak gini. Pengen nyobain minum langsung dari sumbernya." Ujar Del dengan salah satu alis terangkat.


"Maksudnya langsung dari sapinya?" Tanya Killa dengan ekspresi datar.


"Tega banget lo nyuruh gue nyusu kesapi." Del menggeram kesal.


"Loh tadi katanya mau minum langsung dari sumbernya? sumbernya kan sapi?"


"Tauk ah, Males ngomong sama lo, gak peka." Kesal Del lalu menyedot habis susunya, membuang wadahnya ke tempat sampah lalu kembali memakai helm. Entah Killa yang terlalu polos atau bodoh hingga tak mengerti arah pembicaraan Del.


.


*Author lagi seneng bikin part uwunya Del sama Killa. Biar nanti pas masuk ****** utama. Mereka masih pernah punya momen bersama.


Janga lupa like dan komennya**