DELMAR

DELMAR
OLEH OLEH DARI SINGAPURA



Kabar tentang Killa yang pacaran dengan Delmar langsung menyebar seantero sekolah. Siapa lagi kalau bukan Yusuf dan Amel dalangnya. Ada pro dan juga kontra. Ada yang mendukung, tapi tak sedikit juga yang membulli.


Pelakor alias orang ketiga, itulah penghargaan yang diberikan pada Killa. Tapi cewek itu cuek, terlalu sering dibulli membuat mentalnya makin kuat. Lagi pula minggu depan dia sudah ujian kenaikan kelas. Itu berarti sekolahnya juga tinggal seminggu lagi. Setelah itu dia akan home schooling.


Siang ini Del menjemput Killa disekolah. Cowok itu berdiri disamping pintu, bersandarkan body mobil sportnya. Dengan kaca mata hitam dan kaos hitam yang sangat kontras dengan kulitnya, Del sungguh terlihat sangat menawan.


Hampir semua siswi yang lewat tak bisa lepas dari menatap cowok meresahkan itu.


"Kak Del makin ganteng aja."


"Nungguin siapa ya dia?"


"Cakep banget, pengen jadi kekasih halalnya deh."


"Kenapa sih yang cakepnya kebangetan udah lulus? Gak ada yang bikin gue semangat kesekolah dong."


"Lihat Kak Del auto pengen meluk."


Celotehan para cewek kelas X dan XI yang pulang sekolah sama sekali tak dihiraukan oleh Del. Sejak tadi Matanya hanya mencari cari satu sosok, yaitu Killa.


"Kak Del." Sapa seorang cewek. Tak lain tak bukan adalah Laura.


Bukannya menjawab sapaan Laura, Del malah berdecak. Kalau saja kaca matanya dibuka, pasti terlihat jelas tatapan tak sukanya pada Laura.


"Aku mau ngomong sama kamu." Ujar Laura sambil memegang pergelangan tangan Del.


"Gak usah pegang pegang, bukan muhrim." Tolak Del sambil menghempaskan tangan Laura.


"Lo jahat banget sih kak? Lo itu udah selingkuh saat masih sama gue. Bukannya minta maaf, lo malah mutusin gue, lo juga blokir nomor gue. Gue disini korban." Ujar Laura sedikit keras hingga menarik perhatian beberapa siswa.


"Gak usah drama. Mau borok lo gue bongkar. Gue punya bukti tentang kejahatan lo ke Killa. Jadi awas aja lo kalau sampai macem macem lagi sama Killa." Ancam Delmar sambil tersenyum sinis.


"Gue ngelakuin itu karena lo. Lo yang udah bikin gue jadi kayak gini." Laura kembali menggenggam tangan Del.


"Karena gue?" Del menunjuk dirinya sendiri. "Parah ya lo. Lo yang salah tapi gue yang lo kambing hitamkan." Lanjut Del sambil tersenyum sinis. Dan pada saat itu, terlihat Killa tengah berjalan kearah mereka. Buru buru Del menghempaskan tangan Laura.


"Bi." Panggilnya sambil melambaikan tangan kearah Killa.


Del membukakan pintu untuk Killa, membuat para siswi disana menjadi iri. Siapa yang tak iri melihat Killa di treat like a queen oleh Del.


Laura makin panas, makin tak terima. Melihat kedua orang itu bahagia diatas penderitaannya.


"Ngomong apa tadi kamu sama Laura, kok pakai pegangan tangan segala." Tanya Killa saat mereka sudah didalam mobil.


"Cie.... ada bau bau cemburu nih? jelous neng?" Goda Del sambil melirik kearah Killa.


"Gak usah Ge er." Sangkal Killa.


"Ada oleh oleh dari mama, tuh dijok belakang. Dia juga nanyak kapan kamu pulang?"


Killa terdiam, dia tak bisa menjawab pertamyaan Del. Fariz tidak mengijinkannya kembali ke rumah itu.


"Kok diem, kapan pulang?"


"Gak tahu." Jawab Killa sambil menunduk dan meremas rok abu abunya.


"Loh, kok gak tahu. Gimana sih Bi?" Del mulai emosi, hampir tiap hari dia mengajak Killa pulang, tapi cewek itu terus menolak.


"Mas Fariz nyuruh aku tinggal dirumah dulu nemenin ibu."


"Tapi sampai kapan? lagian kapan sih Mas kamu itu kembali ke Malang? betah benget disini." Geram Del


"Dia gak balik lagi ke Malang. Dia udah dapat kerja disini."


"Apa!" Pekik Del sambil melotot. Bakalan makin susah dia kalau ada Fariz, pria itu selalu memancarkan aura permusuhan pada Delmar.


Sesampainya dirumah Killa, rumah itu tampak sepi. Saat Killa intip dikamar ibunya, wanita itu tampak sedang tidur.


Killa segera masuk kamar dan diikuti Delmar dibelakangnya. Cewek itu meletakkan tas diatas meja rias lalu memperhatikan paper bag oleh oleh dari Singapura yang terasa begitu ringan. Tak mungkin kalau isinya tas atau sepatu.


"Isinya apa ya kak?" Tanya Killa penasaran. Terdapat simpul pita di paperbag itu, membuat Killa tak bisa langsung melihat isi didalamnya.


"Mana aku tahu, coba aja lihat sendiri." Jawab Del sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Killa membuka simpul pitanya lalu melihat sesuatu berwarna hitam didalamnya. Sekilas tampak seperti baju. Tak ingin mati penasaran, Killa mengambil isinya dan menaruh paper bag diatas meja rias.


Sebuah lingerie warna hitam yang super seksi.


"Apaan itu Bi?" Del yang juga melihat langsung penasaran. Dia mendekati Killa dan menarik benda itu. "Busyet, pinter banget mama milihin kamu baju." Ujarnya sambil menahan tawa. "Eh apaan tuh yang jatuh." Del mengambil sesuatu yang jatuh itu, ternyata itu adalah g string.


"Gak usah kayak gitu juga ngeliatnya." Omel Killa yang melihat Mata Del melotot melihat model g string hitam itu. "Kayak gak pernah ngeliat aja." lanjutnya sambil langsung menyaut benda yang dipegang suaminya itu. Tak ingin Del lama lama melihat benda itu dan berujung minta aneh aneh.


"Emang gak pernah ngeliat yang model kayak gitu. Kamu kan gak pernah pakai yang kayak gitu." Lagi lagi Del menahan senyum. Otak mesumnya mulai membayangkan Killa memakai lingerie itu.


"Apaan sih mama, kenapa oleh oleh kayak gini. Di Singapura gak ada apa toko lainnya." Gerutu Killa. Tak tahu saja dia, kalau semua itu ulah Del. Cowok itu sengaja meminta mamanya membelikan lingerie untuk Killa dengan dalih oleh oleh. Memang beneran cerdas otak kamu bang.


"Tauk." Del mengedikkan bahu. "Kalau mau tahu disana ada toko apa aja, gimana kalau sesudah kamu ujian, kita babymoon kesana?" Tawar Del sambil menarik turunkan alisnya.


"Buang buang duit aja." Tolak Killa sambil menyimpan kembali Lingerie itu kedalam paper bag.


"Loh kok dimasukin lagi?"


"Kepana?"


"Dicoba dulu dong Bi. Aku kan juga pengen lihat kamu pakai yang begituan."


"Ogah." Tolak cewek itu lalu mengambil baju dialmari dan keluar untuk ganti baju dikamar mandi.


Del kelimpungan didalam kamar. Dia mondar mandir sambil berpikir keras bagaimana caranya, agar Killa mau memakai lingerie tadi. Sia sia kan usahanya membujuk mamanya untuk memberi oleh oleh lingerie kalau ujung ujungnya gak dipakai.


Tak berselang lama Killa kembali ke kamar dengan memakai daster rumahan.


"Bi, tadi mama telepon."


"Terus?"


"Dia nanyain oleh olehnya. Dia tanya kamu suka apa gak? Bentar lagi dia mau vc, katanya mama , dia mau lihat kamu memakai lingerie tadi."


"What! disuruh pakai, enggak gak mau. Malu aku pakai itu didepan mamah. Pokoknya aku gak mau." Tolak Killa dengan tegas sambil geleng geleng.


"Jadi kamu tega ngecewain mamah. Kamu tahu gak harga lingerie itu berapa?"


"Berapa emang?"


"100 dollar, satu juta lebih kalau rupiahkan."


"Dih, sayang banget uang segitu cuma dapat baju tipis kayak saringan tahu. Mending buat beli daster 30 ribuan dipasar, dapet banyak. Dan gitu lebih tebal kainnya." Killa malah membandingkannya lingerie mahal itu dengan daster 30 ribuan dipasar.


"Tapi daster dipasar gak bisa buat terlihat seksi. Gak bisa manjain mata suami. Lama lama eneg kalau disuguhi daster mulu. Yang ada burung rajawalinya suami gak mau on." Del tak sadar kalau yang Killa pakai sekarang adalah daster yang dia beli dipasar. Mulutnya yang kebiasaan nyeplos itu malah nyinyir lancar banget.


"Jadi kamu eneg tiap hari lihat aku pakai daster? Burung rajawali kamu gak bisa on?" Killa mulai meradang. Dan yang lebih bikin Del merasa bersalah mata Killa mulai berkaca kaca.


Astaga, salah ngomong gue.


"Bukan gitu maksud aku Bi. Aku cuma__"


"Kamu pasti nyeselkan mutusin Laura demi aku? Ya, aku sadar, aku gak secantik dia. Aku cuma cewek jelek yang suka pakai daster dan bikin kamu eneg. Aku mau tidur, mendingan kamu pulang." Killa membuka pintu dan mempersilakan Del buat pulang.


"Jangan salah paham Bi." Del meraih tangan Killa tapi dihempaskan oleh cewek itu. "Kamu gak bikin eneg. Kamu selalu cantik dimata aku. Bahkan aku gak tahu kapan kamu kelihatan jeleknya. Mau kamu pakai apapun, kamu selalu bisa bikin rajawaliku on."


"Bohong." Ujar Killa sambil membuang muka ke arah lain.


"Mau bukti?"


Del menutup pintu kembali lalu merengkuh pinggang Killa dan menciumnya. Tubuh Killa yang sudah mentok didinding, membuatnya tak bisa banyak bergerak selain pasrah menerima ciuman Del yang sedikit lebih brutal dari biasanya.


Del melepaskan ciumannya saat Killa memukul punggung cowok itu. Paham jika Killa kehabisan nafas, Del segera melepaskan pagutan bibirnya.


Del beralih menciumi leher Killa dan sesekali menggingit kecil telinga cewek itu. Menyadari Killa mulai gelisah, Del meraih tangan Killa dan meletakkannya tepat di bagian bawah perutnya yang mengeras.


"Udah on Bi." Bisiknya sambil menjilat telinga Killa. Membuat cewek itu menggelinjang geli dan tanpa sadar meremas rajawali milik Delmar.


Beberapa bab lagi akan masuk konflik utama.


Vote dong, mau happy ending apa sad ending?


Author lagi pengen bikin sad ending nih.


Belum pernah nulis novel sad ending.