DELMAR

DELMAR
SADAR



Rain langsung memeluk Delmar saat bertemu putranya itu dikantor polisi. Wanita itu tak bisa berhenti menangis, dia terlalu takut, takut jika anaknya akan mengalami nasib yang sama denngan ayahnya dulu, mendekam untuk waktu yang lama di penjara.


"Ma, Del gak papa mah." Del berusaha terlihat tenang didepan orang tuanya dan Killa. Walaupun sebenarnya dia sangat resah saat ini.


"Kamu gak ngelakuin itu kan nak?" Lirih Rain disela sela isakan tangisnya.


"Enggak mah, bukan Del yang ngelakuin." Jawab Del sambil mengurai pelukan sang mama. "Jangan nangis mah." Ujar Del sambil menghapus air mata mamanya.


Netra Del menatap Killa yang berdiri dibelakang mamanya. Wajah cewek itu sembab karena terlalu banyak menangis.


Setelah melepaskan pelukan mamanya, Del langsung memeluk Killa. Membuat Killa makin kencang menangis.


"Jangan nangis, kasihan baby kalau kamu nangis terus." Ujar Del sambil membelai punggung Killa. "Aku akan segera bebas, aku gak ngelakuin apa apa. Udah jangan nangis." Delmar melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Killa yang terus membanjiri kedua pipinya.


"Duduk dulu, ceritakan sama papa apa yang sebenarnya terjadi." Ujar Sean sambil menepuk pelan bahu Delmar.


Delmar menceritakan kronologinya, sejak dia ditelepon Laura hingga dia menemukan Laura yang sudah tertusuk.


"Bagaimana keadaan Laura Pah?" Tanya Del.


"Kata polisi, dia belum sadar. Semoga saja saat dia sadar nanti, dia akan menceritakan semuanya pada polisi agar kamu bisa bebas."


"Iya Pah, Del yakin, saat Laura sadar nanti, Del akan segera bebas." Tutur Del.


"Apa Laura punya musuh Del?" Tanya Rain.


"Del gak tahu mah. Tapi dia bilang ada mengirim chat ancaman ke dia. Mungkin orang itu yang menusuk Laura."


"Ya sudah, kita tunggu sampai Laura sadar. Dan sambil menunggu, papa akan mencari bukti cctv ditempat itu. Semoga saja ada bukti kuat yang menyatakan bukan kamu pelakunya."


"Tolong bantu Del pah, bantu Del agar bisa secepatnya keluar dari sini." Pinta Del sambil menggenggam tangan papanya.


"Pasti, papa tak akan membiarkan keluarga papa menerima ketidak adilan. Papa akan ngelakuin apapun untuk membebaskanmu dari tempat ini." Ucap Sean sambil mengusap pucuk kepala Del. Walaupun Sean terlihat tak begitu akur dengan Del, tapi pria itu sangat menyayangi Delmar.


"Oh iya, apa kamu tidak melihat siapapun ditempat itu selain Laura?" Sean kembali bertanya.


"Enggak Pah, gak ada siapapun disana."


Sean menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya kedinding. Harapan terbesarnya saat ini adalah Laura. Semoga saja gadis itu mengatakan yang sebenarnya.


Del menoleh ke arah Killa yang sedang duduk disampingnnya. Cewek itu terus meremas telapak tangan Del sambil menangis sesenggukan.


"Jangan sedih." Del kembali mengusap air mata Killa. Tapi percuma, setelah dihapus, air mata itu kembali keluar karena Killa tak bisa berhenti menangis. "Aku gak salah Bi."


Killa mengangguk lalu memeluk Del dan membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya itu. Killa yakin jika Del gak mungkin melakukan penusukan pada Laura.


"Maaf karena rencana babymoon dan maternity shoot kita terpaksa ditunda." Ujar Del sambil membelai rambut panjang Killa.


Killa hanya mengangguk, dia sama sekali gak bisa bicara karena tak berhenti menangis.


"Jangan nangis terus, kasihan baby." Del mengusap lembut perut Killa. "Hari ini kan acara tujuh bulanan kamu, maaf aku gak bisa nemenin. Doain agar masalah ini cepat selesai, biar aku bisa segera keluar dari sini dan kita sama sama lagi."


Killa mengangguk. "Kamu harus segera keluar dari sini. Kamu udah janji bakal nemenin aku lahiran. Kamu gak akan ingkar janji kan?" Ucap Killa disela sela isakannnya.


"Iya Bi, aku gak akan ingkar janji. Aku akan nemenin kamu lahiran." Jawab Del lalu mengecup kening Killa lama.


"Maaf Pak, Bu, waktu kunjungannya sudah habis." Tutur seorang petugas kepolisian.


"Enggak." Killa memeluk Del erat. "Killa masih mau disini, Killa mau sama kak Del." Ujar Killa sambil menangis histeris. Membuat Rain makin terenyuh, dan kembali sesenggukan.


"Enggak pak, suamiku tidak bersalah. Jangan penjarakan dia." Killa tak mau melepaskan Del, membuat Delmar tak kuasa menahan air matanya.


"Sayang, kita pulang ya. Mama yakin, suami kamu akan segera bebas." Rain berusaha melepaskan belitan tangan Killa di pinggang Delmar. Dia harus menjadi kuat saat ini, terutama didepan Killa dan Del. Walaupun sebenarnya dia juga tak tega membiarkan Del kembali masuk sel.


"Mah, nitip istri dan anak aku ya." Ujar Del sambil melepaskan tangan Killa lalu kembali ke dalam sel.


"Mah, kak Del mah." Killa terus menangis dalam dekapan Rain.


"Iya sayang, Kak Del akan baik baik saja. Dia akan segera bebas setelah Laura sadar. Kita pulang ya." Rain berusaha membujuk Killa.


Sedangkan Sean, dia segera memyuruh orang untuk menyelidiki tkp. Secepatnya dia butuh bukti untuk membebaskan Delmar.


...******...


Setelah 24 jam lebih, akhirnya Laura sadar. Beruntung operasinya berhasil karena tusukan didadanya sangat dalam dan hampir mengenai organ vitalnya.


"Sayang, kamu sadar nak." Seorang perempuan paruh baya yang setia menunggu Laura tersenyum lega saat melihat putrinya perlahan lahan membuka mata.


Perempuan itu segera menekan tombol untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian, dokter datang dan memeriksa kondisi Laura.


"Bagaimana keadaannya dok?"


"Alhamdulillah Bu, masa kritisnya sudah berakhir."


Ibunda Laura segera mengucap syukur. Sejak kejadian penusukan itu, dia bahkan belum tidur sama sekali karena memikirkan kondisi putri semata wayangnya.


Laura mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia masih belum bisa ingat kenapa bisa sampai berakhir ditempat ini.


"Kamu sudah sadar Ra." Ucap Mario, ayah Laura yang baru saja masuk ke ruangan Laura.


"Kenapa Laura bisa disini mah?" Tanya Laura, dia belum bisa ingat kejadian terakhir kali.


"Kamu tidak ingat nak? Kamu jadi korban penusukan." Jawab sang mama.


"Penusukan?" Gumam Laura sambil memejamkan matanya, mengingat ingat kejadian terakhir kali sebelum dia tak sadarkan diri.


"Kamu tenang saja, papa sudah memenjarakan orang yang menusuk kamu. Delmar harus tanggung jawab atas perbuatannya. Papa tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja." Ucap Mario sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Kak Delmar." Gumam Laura sambil mengerutkan keningnya.


"Iya sayang, Delmar sudah dipenjara. Mama dan papah sudah tahu semuanya. Juga tentang kehamilan kamu." Ucap Celin, mama Laura.


Deg


Laura reflek memegang perutnya. Ada perasaan takut jika kedua orangtuanya akan murka mengetahui dia hamil.


"Kenapa kamu gak cerita pada mama dan papa kalau kamu hamil?" Tanya Mario dengan rahang yang mulai mengeras.


"Maaf mah, Pah." Jawab Laura sambil meneteskan air mata dan gemetar ketakutan.


"Sudahlah nak, semua sudah terjadi." Celin menghapus air mata putrinya dan mengusap pucuk kepalanya lembut.


"Karena hal itukan Delmar ingin menghabisimu? Bajingan itu tak mau tanggung jawab, makanya dia ingin melenyapkanmu."


Mata Laura membulat sempurna. Dia tak tahu dari mana papanya bisa menarik kesimpulan seperti itu.