DELMAR

DELMAR
EXTRA CHAPTER 4



Tampak seorang laki laki berlari kearah Naomi dan Aiden. Dengan tubuh tinggi tegak, putih dan mata sedikit sipit mirip aktor korea membuat Aiden seketika ketar ketir.


Siapakan pria itu?


Apa mungkin?


Ah sudahlah, lebih baik tanya langsung daripada menebak nebak.


"Sorry ya telat jemputnya." Ujar pria itu pada Naomi.


"Gak papa kak. Lagian aku juga masih ngobrol sama teman teman. Oh iya, kenalin ini teman aku, namanya Aiden."


Ah, rasanya Aiden tak terima saat Naomi menyebutnya teman.


"Cakka." Ujar pria itu sambil mengulurkan tangan ke arah Aiden.


Kenapa bukan Cak kan aja, mirip penjual tahu gejrot keliling perumahan gue, batin Aiden dengan kesal.


"Aiden." Sahut Aiden sambil menjabat tangan Cakka. Bibirnya tersenyum, tapi hatinya tak demikian.


"Udah selesai belum, pulang yuk." Ajak Cakka.


"Udah kok."


"Nom, bisa bicara sebentar." Ujar Aiden sebelum Naomi pergi.


"Silakan, ngomong aja." Jawab Naomi.


"Maksud aku, berdua."


Naomi menatap Cakka, dari tatapannya, siapapun tahu artinya. Gadis itu sedang meminta persetujuan Cakka.


Tapi siapa Cakka? kenapa harus minta persetujuannya?


"Ya udah, yuk." Naomi mengajak Aiden sedikit menjauh setelah mendapatkan anggukan dari Cakka.


"Siapa dia?" Tanya Aiden to the point.


"Calon suami aku."


Deg


Lutut Aiden seketika lemas mendengarnya.


"Kami sedang menjalani taaruf sekarang."


"Kamu mencintainya?"


"Belum."


"Tapi kenapa kamu mau diajak taaruf?"


"Suatu saat nanti, aku pasti bisa menyukainya?"


"Menyukai saja? tidak mencintai?"


Menyukai seseorang bukan hal yang susah. Asalkan dia baik, kita pasti menyukai orang tersebut. Tapi mencintai? itu tidak mudah.


"Aku tahu kamu kecewa padaku. Kamu pasti benci aku. Kamu marah, kamu gak bisa maafin aku."


"Kata siapa?" Tanya Naomi sambil tersenyum. Senyuman yang mampu memporak porandakan hati seorang Aiden.


"Aku gak benci sama aku. Dulu aku memang sempat kecewa. Tapi sudahlah, aku sudah ikhlas. Dan satu lagi, aku udah maafin kamu. Jadi gak perlu merasa bersalah atau apapun."


"Tapi kenapa kamu maafin aku semudah itu. Kalau belumpun, aku tak masalah. Aku akan berjuang demi maaf dari kamu."


"Aku sudah maafin. Tak perlu lagi berjuang apapun."


"Tapi kenapa semudah itu? Kesalahan aku fatal, aku menghamili cewek lain, aku selingkuh, aku nyakitin kamu."


"Jawabannya cuma satu. Karena aku bodoh. Kamu sendirikan yang tadi bilang aku bodoh." Jawab Naomi sambil menyeringai.


"Udah ya, aku gak enak sama Kak Cakka."


"Tunggu." Ujar Aiden saat Naomi ingin berbalik badan. "Aku akan berjuang sekali lagi. Seperti dulu aku berjuang mendapatkan cinta kamu. Aku akan mengulangi lagi perjuangan itu. Aku akan berjuang untuk mendapatkan hati kamu lagi Nom. Aku tak peduli jika kamu sudah taarufan dengan pria lain. Tapi bagiku, sebelum kamu menikah, masih ada peluang untukku."


"Silakan, tapi harus lebih keras. Karena tak akan mudah seperti saat kita SMA dulu."


"Kamu pernah bilang jika aku adalah pejuang cinta yang tangguh. Jadi jangan ragukan aku."


"Selamat berjuang. Bye." Naomi pergi meninggalkan Aiden.


...*****...


"Deluna."


Deluna mendengus kesal melihat Arash datang kearahnya. Dia sedang bermain bersama teman teman perempuannya. Kenapa juga anak itu pakai datang. Bikin Deluna malu aja.


"Deluna, ini buat kamu. Nasi goreng bikinan mommy aku enak loh, kamu pasti suka." Arash menyodorkan kotak bekalnya pada Deluna.


Teman teman Deluna terlihat cekikikan. Mereka juga tampak bisik bisik, membuat Deluna makin kesal.


Deluna melengos, malas sekali dia menerima makanan itu. Kalau diterima, pasti dia jadi bahan ejekan.


"Deluna, terima dong. Dikasih pacar kamu tuh." Ujar salah satu teman Deluna sambil tertawa.


"Gendut ini bukan pacar aku." Sahut Deluna marah sambil menunjuk Arash.


"Tapi Arash bilang dia pacar kamu."


"Hai gendut, jangan ngomong sembarangan. Aku sudah punya pacar. Orangnya tampan, gak jelek seperti kamu." Hina Deluna, membuat Arash seketika ingin menangis.


Deluna mengambil kotak bekal tersebut lalu membuangnya ketempat sampah.


"Hwa......"


Tangis Arash pecah seketika melihat bekal yang sengaja dia persembahkan untuk Deluna malah dibuang ke tempat sampah.


"Cengeng." Cibir Deluna sambil mendorong Arash sampai jatuh.


"Deluna kamu jahat banget sih. Kasian Arashnya." Teman Deluna membantu Arash bangun. Sedangkan Deluna, dia malah menjulurkan lidahnya sambil melipat kedua tangan didada.


"Wlekkkk, dasar gendut, jelek, cengeng."


Tapi Arash adalah pejuang tangguh. Meskipun berkali kali dibully Deluna. Dia masih saja baik dan mendekati gadis itu.


Pagi ini, Arash dengan senyum merekahnya menghampiri Deluna di bangkunya.


"Deluna, ini buat kamu." Arash menyodorkan susu Milo kotak pada Deluna. "Kamu suka milo kan? Kemarin pas aku diajak mommy ke minimarket, aku minta dibeliin dua. Satu buat aku, satu buat kamu."


Deluna sampai bosan dengan Arash yang selalu memberinya ini dan itu. Deluna memang suka milo, tapi kalau dari Arash, dia tak mau meminumnya.


Karena Deluna tak kunjung menerimanya, Arash menarik kembali tangannya lalu membuka plastik sedotan dan menancapkannya.


"Ini udah aku bukain, kamu tinggal minum aja." Arash meletakkan milo tersebut diatas meja Deluna.


PLUK


Deluna melemparkan susu tersebut kelantai hingga isinya tumpah. Ditampah lagi kebetulan ada yang lewat dan langsung menginjakmya. Membuat susu itu tak lagi berbentuk kotak. Isinya bahkan sudah meleber Kemana mana mengotori lantai kelas.


"Aku bisa beli sendiri. Uang daddy aku banyak. Sana pergi kamu." Usir Deluna.


Arash memperhatikan milo tersebut. Sungguh malang nasib milo itu. Belum juga disedot, udah hancur.


"Deluna, kata mommy, gak boleh buang buang makanan, dosa. Deluna mau dosa? Nanti dihukum Tuhan loh."


"Makanya jangan ngasih aku apapun, biar gak aku buang."


"Tapi Om aku selalu ngasih sesuatu ke pacaranya. Kata Om aku, cewek itu suka kalau dikasih kasih. Makanya aku selalu ngasih sesuatu sama kamu. Delunakan pacarnya Arash."


"ARASH." Pekik Deluna sambil berdiri lalu mencak mencak. "Aku bukan pacar kamu. Aku gak mau sama cowok gendut kayak kamu. Aku sukanya yang ganteng, kayak Om Manu."


Deluna sudah kehabisan kesabaran, dia mendengus lalu pergi meninggalkan Arash. Tapi naas, dia malah terpeselet susu milo hingga terjatuh.


"Mommy." Teriak Deluna sambil menangis saat pantatnya membentur lantai kelas.


"Hahaha.... "


Ditambah lagi dia ditertawakan, jadi makin nangis kejer.


"Deluna." Arash langsung berjongkok untuk membantu Deluna bangun. "Kalian jangan ketawain Deluna." Teriak Arash pada teman temannya. Membuat mereka seketika langsung diam.


"Ayo aku bantuin." Arash memegangi tangan Deluna agar gadis itu mudah untuk berdiri.


"Deluna pacarnya Arash, Deluna pacarnya Arash."Teman temannya malah menyoraki. Membuat Deluna jengkel lalu menghempaskan tangan Arash.


"Pergi, aku gak butuh bantuan kamu." Deluna bangun sendiri lalu pergi ke ruang guru. Dia meminta diteleponkan mommynya. Dia ingin pulang, malu jika harus sekolah dengan baju kotor kena milo.


.


.


EXTRA PART **nya sampai disini aja ya. Author lagi bingung nih, antara mau bikin cerita Naomi atau Deluna.




Cerita tentang awal mula pertemuan Naomi dengan Aiden hingga cowok itu benar benar menjadi toxic dikehidupan Naomi.




Tentang Deluna yang ngejar ngejar Om Manu dan Arash yang kembali setelah pindah ke luar negeri dengan segala perubahannya yang mampu membuat cewek manapun jatuh hati**.