DELMAR

DELMAR
EXTRA CHAPTER 2



Seorang bocah laki laki berumur 5th berlari ke arah gerombolan Del dan kawan kawan.


"Papah." Teriak bocah itu sambil berlari. Siapa lagi kalau bukan Mikail. Anak Miko dan Laura. Paras anak itu sangat tampan. Bagaimana tidak, dia berasal dari bibit unggul sang mama, Laura, cewek tercantik di SMA 48 pada masanya.


Tampak Laura yang juga mengenakan gaun bridesmaid berjalan dibelakang Mikail.


"Anak gantengnya papa." Sahut Miko sambil merentangkan kedua tangan lalu memeluk Mikail.


"Ada bu gulu disini." Ujar Mikail saat melihat Naomi. Ya, Naomi menjadi guru TK sejak setahun yang lalu, setelah lulus S1 dan keluar dari pesantren.


"Bu guru Miki." Deluna membenarkan ucapan bocah cadel itu. "Udah gede bilang R gak bisa." Ledek Deluna. Sejak kecil, jiwa menindas bocah itu sudah sangat kelihatan. Sepertinya sudah bawaan dari daddy nya.


"Deluna, gak boleh gitu." Tegur Killa.


"Namaku bukan Miki, tapi Mikail, M-I-K-A-I-L." Mikail membenarkan, dia bahkan sampai mengeja satu persatu hurrufnya. Dia selalu kesal karena Deluna memanggilnya Miki.


"Hai Mikail." Sapa Naomi sambil melakukan high five dengan Mikail.


"Miki mos, Miki mos, wlekkkk...." Deluna menjulurkan lidahnya sambil melebarkan kedua telapak tangan ditelinganya. Bocah itu sengaja mengejek Mikail.


"Bu Gulu Deluna nakal." Adu Mikali sambil menunjuk Deluna.


"Deluna gak boleh seperti itu sayang." Tegur Naomi sambil geleng geleng dan menggerakkan telunjuknya ke kanan kiri.


"Ih, Ngadu." Deluna justru makin meledeknya. "Cemen, sama cewek takut." Deluna mengacungkan jempol terbaliknya. "Ayo kejar aku Miki mos." Deluna berlari sambil terus menjulurkan lidahnya pada Mikail. Membuat Mikail kesal dan langsung mengejar Deluna.


"Deluna, hati hati sayang." Teriak Killa yang tak ingin anaknya sampai jatuh.


"Busyet anak lo Del. Kecil aja udah kayak gitu. Gak kebayang gedenya." Miko geleng geleng.


"Turunannya Del. Gue sih gak kaget." Sahut Manu. "6 tahun aja udah berani nembak gue." Manu menghembuskan nafas kasar.


"Lo ngidam apa sih Kil pas hamil? Anak lo gitu banget. Jangan bilang lo ngidam Del, makanya anak lo sebelas dua belas sama bapaknya. Gak hanya mukanya, sifatnya juga sama." Sahut Naomi.


"Ya iyalah mirip gue. Orang anak gue." Jawab Del. "Kalau bukan turunan gue, gak mungkin secantik itu." Ujarnya dengan bangga.


"Jadi cantiknya gak nurun aku nih? aku gak cantik gitu?" Ujar Killa sambil pura pura ngambek.


"Kamu mah cantiknya udah over dosis Bi. Tercantik dihatiku pokoknya." Goda Delmar sambil merangkul Killa dan mencium pipinya sekilas.


"Tercantik dihatinya bang Manu juga." Lirih Miko sambil menutupi mulutnya.Takut sampai terdengar Del. Beruntung cowok itu tak dengar, jadi Miko aman.


"Mik, gue mau pulang. Mikail sama lo ya." Ujar Laura. "Besok nganterinnya jangan malem malem, mama suka ngomel." Laura melanjutkan. Weekend memang waktunya Miko bersama Mikail. Sedangkan weekday, bocah itu tinggal bersama Laura.


Walaupun mereka sudah bercerai, tapi sebisa mungkin mereka menjaga hubungan baik demi Mikail. Mereka memang sudah berbeda arah, tapi kalau berhubungan dengan Mikail, mereka akan searah dan saling bahu membahu.


"Gue usahain besok habis magrib udah gue anter." Jawab Miko.


"Gue pulang dulu ya guys." Pamit Laura dan langsung diangguki oleh semuanya.


Killa menyenggol lengan Del. "Gitu banget ngeliatin Laura." Sinis Killa yang cemburu karena tak sengaja Del bertatapan dengan Laura.


"Paan sih Bi. Orang aku biasa aja ngeliatnya. Gak usah cemburu deh." Sahut Del sambil menarik pinggang Killa agar lebih merapat padanya.


"Siapa juga yang cemburu." Sangkal Killa. Bilang tak cemburu tapi mukanya cemberut. Udah kayak mak mak yang mau ngelabrak pelakor.


"Gak cemburu, tapi panas." Sindir Naomi sambil menghias ngibaskan tangannya didepan wajahnya.


"Lagian lo punya mata gitu amat Del. Ada bini disamping masih aja ngelirik janda." Ujar Manu sinis. Kalau melihat Killa tersakiti, biarpun sedikit, rasanya Manu tak terima. Sesusah itu move on dari Killa untuk seorang Immanuel.


"Paan sih lo Man. Gak usah manas manasin deh." Del mulai emosi.


"Udah udah, kenapa kalian jadi yang panas gini." Miko menengahi.


"Btw, Laura makin cantik aja. Gak akan ada yang nyangka kalau dia itu janda beranak satu. Orang yang gak kenal pasti ngira dia masih gadis." Ujar Naomi setelah Laura pergi. Sejak menjadi guru Mikail, dia sedikit akrab dengan Laura.


Killa mendengus, entah kenapa dia sebal saat Naomi memuji Laura. Bagaimanapun, Laura itu janda sekarang, membuat Killa menjadi was was. Dia gak mau sampai jadi janda gara gara janda. Amit amit.


"Lo gak ada niatan buat balikan sama Laura? Bukankah dulu kalian cerai gara gara masalah finansial. Sekarang lo udah sukses, kenapa gak rujuk aja?" Tanya Manu sambil menatap Miko yang tengah memperhatikan Mikail dan Deluna bermain. Miko sudah menjabat sebagai manajer disalah satu perusahaan besar. Dan sekarang dia lanjut S2.


"Rumit Man. Gue dan dia berbeda arah, sulit untuk disatukan. Sebenarnya bukan hanya finansial. Masih banyak lagi masalah kita berdua. Ego kita sama sama tinggi. Ditambah lagi kedua orang tuanya yang terlalu ikut campur."


"Mikail selalu jadi prioritas gue Del."


"Tapi gue salut sama lo dan Laura." Sahut Naomi. "Walaupun tumbuh dikeluarga broken home, tapi Mikail bisa bersosialisasi dengan baik. Di sekolah, dia tidak pernah minder. Tak pernah nakal, dan tak nampak seperti anak yang kurang kasih sayang." Sebagai gurunya, Naomi tahu betul bagaimana Mikail disekolah.


"Nitip dia saat disekolah ya Nom. Kalau ada sesuatu yang kiranya gimana gitu, segera kasih tahu gue." Pinta Miko.


"Kenapa gak sekalian Nitip dirumah juga. Kalau kalian nikah kan enak. Naomi bisa jaga Mikail disekolah dan dirumah."


"DEL." Pekik Naomi dan Miko bersamaan.


"Njirrr.... kompak." Ledek Manu dan langsung disambut tawa oleh Del dan Killa.


"Lania...." Teriak Mikail. Dia memanggil gadis kecil berhijab yang merupakan teman sekolahnya.


Sepertinya, bocah bernama Lania itu mendengar, buktinya dia langsung menoleh kearah Mikail. Eh maaf, namanya bukan Lania, tapi Rania. Mikail saja yang cedal. Rania berlari menghampiri Mikail dan Deluna.


"Siapa dia Mik?" Tanya Deluna.


"Teman sekolah aku. Cantikkan?"


"Jelek. Masih cantikan aku." Jawab Deluna sombong sambil mengibaskan rambutnya ala iklan sampo. Mana terima dia kalau ada anak lain yang dibilang cantik.


"Hai." Sapa Rania. "Namaku Rania." Rania mengulurkan Tangannya ke arah Deluna.


"Rania apa Lania?" Deluna bingung.


"Rania, pakai R bukan L." Jawab Rania.


Deluna menatap Mikail sambil melotot. Harusnya dia tadi sudah paham, tak perlu bertanya lagi. Mikail memang tak bisa mengucapkan R, makanya dia memanggil Lania.


"Aku Deluna." Jawab Deluna sambil menjabat tangan Rania. "Kamu masih kecil kok udah pakai hijab?" Tanyanya.


"Iya, karena kata papa, aku harus jadi anak sholeha. Biar nanti bisa ketemu mama di surga."


"Mama kamu ada disulga?" Tanya Mikail.


"Iya."


"Surga Miki mos, bukan sulga." Deluna untuk kesekian kalinya membenarkan ucapan Mikail.


"Suka suka aku." Sahut Mikail sambil bersedekap dan mengerucutkan bibirnya.


"Miki mos?" Rania bingung.


"Sekarang nama dia ganti Miki mos. Dia kan kayak tikus."


"Deluna." Pekik Mikail sambil melotot dan menghentak hentakkan kakinya dipasir.


"Mikail, gak boleh marah marah. Kata papa, yanh suka marah, temannya setan." Ujar Rania mengingatkan. "Kamu mau disayang Allah gak?"


"Mau."


"Kalau mau, kamu gak boleh marah marah. Anak sabar disayang Allah."


"Kata mama aku, sulga itu sangat indah. Kapan kapan kalau kamu mau ketemu mama kamu disulga, ajakin aku ya." Ujar Mikail dengan polosnya.


"Surga itu tempatnya orang yang sudah meninggal. Kamu mau ketemu hantu?" Sahut Deluna. Dia sok sok an mengajari Mikail, padahal dia sendiri belum paham benar apa itu surga. Yang dia tahu, kalau ada orang bilang disurga, artinya orang tersebut sudah meninggal. Dan orang yang sudah meninggal menjadi hantu.


"Rania." Gumam Naomi pelan saat melihat bocah itu. Rania juga muridnya disekolah. Tapi dengan siapa dia datang? Anak itu selalu diantar neneknya dan pengasuh. Naomi tak pernah bertemu orang tuanya.


Saat Naomi ingin menghampiri ketiga bocil itu. Langkahnya terhenti karena mendengar suara memanggil Rania.


"Rania." Teriak seorang pria.


"Papa."


Deg, jantung Naomi seakan berhenti berdetak melihat siapa yang dipanggil papa oleh Rania.