DELMAR

DELMAR
HAMIL



"Pak bukain dong pintunya." Seru Delmar dengan kedua tangan memegang dan mendorong dorong gerbang SMA 48.


Tapi bukannya dibukakan, Del malah dicuekin olah sekuriti yang berjaga. Kembali dia menelepon Killa, tapi masih sama, cewek itu tak mengangkat teleponnya. Padahal Delmar sangat cemas sekarang.


Saat bangun tidur tadi, Del dikejutkan dengan kabar yang tersebar di grup chat wa. Vidio berdurasi pendek yang menampakkan Killa yang basah kuyup dan dihujat habis habisan ditoilet.


"Jangan bikin saya makin emosi ya Pak. Cepet buka gerbangnya." Seru Delmar yang kadar kesabarannya sudah sangat menipis.


"Udah tiga tahun sekolah disini kok masih aja gak ngerti peraturan." Sahut Pak Bram, sekuriti sekolah.


"Ya elah pak, saya sedang keburu tadi. Makanya lupa pakai sepatu. Ijinin saya masuk sebentar, nanti saya kasih uang deh." Sudah menjadi peraturan di SMA 48, jika tak memakai sepatu dan berpakaian rapi, dilarang masuk ke area sekolah..


Dan hari ini, bukan hanya karena memakai sandal jepit. Delmar memakai kaos oblong, dan masalah utamanya, terletak pada celana kolor yang panjangnya jauh diatas lutut. Sangat jauh dari kata sopan.


"Saya orang jujur, tak terima sogokan."


"Ck, orang jujur udah habis stoknya didunia. Udah gak usah sok sok an. Cepat bukain gerbang."


"Masih ada satu stoknya, yang sedang berdiri didepan kamu ini." Ujar Pak Bram dengan bangga diri. Pak Bram adalah kepala sekuriti disini. Dia terkenal paling tegas dan anti sogokan. Tak seperti sekuriti yang lain. Dikasih duit biru aja udah langsung dibukain gerbang walau udah telat.


"Sial banget sih gue. Kenapa pula hari ini yang jaga gerbang di Beruang kutub." Gumam Delmar.


Killa yang sedang berjalan menuju parkiran bersama Sean dan Rain tak sengaja melihat kegaduhan di pintu gerbang.


"Mah, itu kok kayak Kak Del?" Killa menunjuk ke arah gerbang.


"Iya, kok kayak Delmar." Rain memicingkan matanya menatap kearah cowok yang berdiri diluar pintu gerbang. Cowok yang dari jauh terlihat seperti gembel itu berwajah mirip Del.


"Kesana Yuk mah."


Sementara Sean mengambil mobil ditempat parkir, Killa dan Rain menuju pintu gerbang..


Delmar yang sibuk memperhatikan ponsel tak menyadari jika Killa dan mamanya berjalan menuju arahnya.


"Kak Del." Seru Killa sambil menatap Del dari atas kebawah. Cowok yang selalu tampil perfect itu, hari ini jangan ditanya penampilannya. Untung Killa udah bucin akut, kalau enggak, pasti udah ilfeel.


Mendengar suara yang dia kenal, Del segera mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Bi." Seru Del sambil menghela nafas lega. "Kamu baik baik saja kan?"


"Del, ngapain kamu pakai kayak gini kesekolah?" Rain menatap aneh ke arah Del. "Masyaallah rambut kamu nak, dah kayak gak punya kaca sama sisir aja dirumah." Ujar Rain sambil mengelus dada.


"Mama, tolongin Del mah. Sekuriti sialan ini gak mau bukain gerbang buat Del." Cowok itu malah mengadu pada sang mama.


"Maaf Bu, saya hanya menjalankan peraturan sekolah." Sahut Pak Bram.


"Iya pak, saya mengerti. Tolong buka gerbang, kami mau keluar." Ujar Rain dan langsung dilaksanakan oleh Pak Bram.


Delmar langsung memeluk Killa saat cewek itu keluar. Rasanya lega sekali melihat Killa baik baik saja bersama mamanya.


"Kamu baik baik aja kan? Aku khawatir banget, takut terjadi apa apa sama kamu. Aku gak akan bisa maafin diri aku sendiri kalah sampai terjadi sesuatu sama kamu dan anak baby. Ak__"


Tin.... tin... tin...


Suara klakson menghentikan ucapan Delmar. Sedangkan Killa, cewek itu buru buru menguraikan pelukan Del.


"Pulang, lanjut dirumah aja." Teriak Sean dari dalam mobil.


Rain dan Killa segera masuk kedalam mobil Sean. Sedangkan Delmar, dia menaiki motornya dan melaju dibelakang mobil papanya.


Sekarang mereka berempat sudah sampai dirumah. Sean terlihat memijit keningnya, pria itu tampak lelah. Harusnya dia ada meeting penting tadi. Tapi gara gara harus kesekolah, dia jadi kehilangan tander.


"Mah, gimana? apa Killa dikeluarkan dari sekolah?" Tanya Delmar. Sejak diperjalanan tadi, pertanyaan itu terus mengusik pikirannya.


Bugh


Sebuah bantal sofa melayang kewajah Delmar.


"Lihat, gara gara ulahmu, kami yang kerepotan menyelesaikan." Teriak Sean. "Kami terpaksa berbohong untuk menutupi kelakuan bejat kamu." Lanjutnya sambil menatap tajam ke arah Delmar.


"Udah Pah, gak usah marah marah." Rain membelai punggung suaminya untuk meredam emosinya.


"Awas kalau kamu bikin masalah lagi ya Del. Papa gak bakal bantu kamu lagi." Ancam Sean.


"Udahlah Pah, masalahnya udah selesai. Gak usah diperpanjang lagi. Killa, ajak suami kamu naik ke atas."


Killa mengangguk lalu menggandeng lengan Delmar naik ke lantai dua.


"Untung, anak kita yang bandel cuma satu mah Gak kebayang kalau tiga tiganya kayak gitu. Bisa mati muda papah." Gerutu Sean.


"Hus, mulutnya." Seru Rain. "Mamah masih belum siap jadi janda."


"Papah juga belum siap mati. Keenakan si Arya ntar, dia kan sejak dulu nungguin kamu jadi janda." Sean tak pernah lupa dengan ucapan Arya bertahun tahun yang lalu.


...******...


"Kamu bisa ikut ujian gak?" Tanya Delmar sesampainya mereka berdua didalam kamar.


"Gak tahu." Killa mengedikkan bahunya.."Belum diputuskan."


"Apa tadi kamu bilang, kalau kamu hamil karena diperkosa?" Jujur saja Delmar takut jika semua orang tahu kelakuannya itu. Sumpah demi apapun, dia belum siap menyandang predikat sebagai pemerkosa.


"Syukurlah. Seenggaknya nama baik aku masih selamat." celetuknya.


"Jadi itu alasan utama kamu buru buru kesekolah dan nelfonin aku terus?" Killa tersenyum sinis, dia pikir Del sungguh mengkhawatirkan dirinya. Nyatanya mengkhawatirkan nama baiknya.


"Jangan salah paham. Aku buru buru kesekolah karena khawatir sama kamu. Sumpah aku gak bohong." Del membentuk jarinya menyerupai huruf V.


"Gak usah pakai sumpah, takut nambahin dosa kamu yang udah mengunung." Sinis Killa sambil melengos.


Del meraih kedua tangan Killa dan menggenggamnya. "Maaf kalau aku egois. Jujur saja, aku takut dicap sebagai pemerkosa. Aku malu jika sampai semua orang tahu kelakuan aku." Ujar Del dengan mata berkaca kaca.


"Tapi, ketakutan itu tak seberapa besar jika dibandingkan dengan ketakutan terjadi apa apa sama kamu dan baby." lanjutnya sambil mengusap perut Killa.


"Ya, aku memang pengecut. Aku tak sanggup jika harus mengaku didepan semua orang jika aku memperkosamu."


Killa melepaskan genggaman tangan Del lalu memeluk cowok itu. "Aku akan selalu menjaga nama baik kamu. Aku gak akan biarin kamu hancur karena dihujat satu dunia. Kamu adalah duniaku. Dan aku akan lebih hancur, saat kamu hancur."


"Maaf." Lagi lagi hanya maaf yang keluar dari mulut Delmar.


Delmar menguraikan pelukan Killa lalu media tangan cewek itu. Delmar meletakkan telapak tangan Killa didadanya.


"Selama jantung ini masih berdetak, hanya akan ada nama Akilla Luna didalam hatiku. Mulai detik ini dan seterusnya, Delmar Kalandra bucin akut pada Akilla Luna."


Killa langsung tertawa mendengarnya. Terdengar sangat lebay dan ah.... enggak, Delmar gak kayak gini biasanya. Kayaknya semalam salah minum obat nih anak.


"Kok ketawa?" Delmar mengerutkan keningnya.


"Lebay." Ujar Killa sambil terkekeh.


"Beneran Bi, bukan lebay. Kamu ih, orang aku serius malah diketawain." Kesal Del sambil melepaskan tangan Killa. Wajah cowok itu langsung terlihat masam.


"Dih, gitu aja ngambek. Baperan amat, kayak situ aja yang lagi hamil." Killa malah menggoda Delmar.


...*****...


Greta berlari lari mencari keberadaan Laura. Gadis itu tiba tiba saja hilang setelah mendengar kabar kalau Delmar dan Killa sudah menikah dan anak yang dikandung Killa adalah anak Delmar.


Setelah bertanya kebeberapa siswa, akhirnya Greta menemukan Laura.


Mata Greta membulat sempurna melihat Laura berdiri dipinggir rooftop. Buru buru cewek itu menarik Laura ketengah karena takut terjadi apa apa dengan sahabatnya.


"Gila lo Ra, lo bisa koit kalau jatuh dari situ." Bentak Greta sambil menahan tangan Laura.


"Emang itu yang gue mau Gre." Lirih Laura


"Gila lo." Bentak Greta sambil melepaskan tangan Laura. "Cowok gak hanya Kak Del. Pikiran lo terlalu sempit, hanya gara gara dia udah nikah sama Killa, lo mau bunuh diri. Udah gak ada otak lo?" Greta yang emosi malah mencerca Laura.


"Gue udah hancur Gre, hancur." Ujar Laura sambil menangis dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai rooftop.


"Hidup lo masih panjang Ra. Lo cantik, kaya, pinter. Lo punya semuanya yang cewek inginkan. Lo bisa kok cari gantinya kak Del, yang lebih baik dari dia malahan." Greta jongkok sambil memegangi pundak Laura.


"Enggak Gre." Laura menggeleng.


"Move on Ra, cowok banyak, bukan hanya Delmar sialan itu. Inget, cowok itu udah nipu lo. Dia diem diem nikah dibelakang lo. Harusnya lo benci dia, bukan malah lo tangisi kayak gini." Greta makin geram.


"Gue gak bisa Gre."


"Bisa Ra, gue yakin lo bisa."


"Tapi hidup gue udah hancur Gre." Laura mengambil sesuatu dari saku rok abu abunya dan memberikannya pada Greta.


Jeder


Bagai tersambar petir disiang bolong. Greta sampai terduduk dilantai melihat test pack dengan dua garis merah itu.


"Lo, hamil Ra?" Tanya Greta dengan tangan gemetaran memegang Test pack.


Laura mengangguk sambil sesenggukan..


"Jangan bilang, kalau ini anak Kak Del?"


...*******...


**Tebak tebakan Yuk, kira kira Laura hamil anak siapa?


-Delmar


-Manu


-Miko


-Rey


-Aiden


-Andra


-Atau jangan jangan Laura gak tahu siapa bapaknya, 🤣🤣🤣🤣**