DELMAR

DELMAR
MOMEN YANG RUSAK



Pagi pagi Del sudah datang lagi ke rumah Killa. Semalam cowok itu susah tidur, membuatnya terus menelepon Killa hingga hampir dini hari.


"Ngantuk Bi." Ujar Del sambil meletakkan kepalanya dibahu Killa. Sejak tadi dia terus terusan menguap. Matanya bahkan sudah terlihat merah.


"Mau tidur dikamar aku?" Tawar Killa.


"Emangnya boleh, kan ada saudarara kamu?"


"Mereka keluar sejak tadi pagi. Katanya sih mau kerumah temennya Om Bas."


"Bagus deh kalau gitu. Aku jadi bisa tidur." Ucap Delmar sammbil menguap entah yang keberapa kalinya.


Killa segera membawa Del kemarnya. Kesan pertama yang dilihat Del adalah sebuah kamar yang kecil, ranjang sempit, panas dan tak ada kesan mewahnya sama sekali tapi tampak bersih dan rapi.


"Ranjangnya kecil banget, emang cukup dibuat tidur berdua?" Ujar Del sambil memicingkan mata memperhatikan ranjang ukuran single dihadapannya.


"Aku gak tidur, kamu aja. Aku mau bantu bantu ibu." Jawab Killa sambil menyalakan kipas angin yang bertengger didinding.


"Gak bisa tidur kalau gak ada kamu Bi." Rengek Del sambil memeluk Killa dari belakang dan meletakkan dagunya dibahu Killa.


"Gak usah manja deh." Ujar Killa sambil melepaskan belitan tangan Delmar.


"Bikinin susu dulu biar cepet tidurnya."


"Gak ada susu disini."


"Ya udah susu kamu aja."


"Mulai deh mesumnya." Killa memutar kedua bola matanya jengah.


"Kelonin dulu, kalau aku udah tidur kamu bisa keluar."


"Kamu bukan bayi, udah dewasa, 18 tahun plus. masak minta dikelonin."


"Justru yang udah 18 plus itu sukanya kelonan Bi." Del belum putus asa merayu Killa.


"Udah ah, buruan tidur sana, aku mau kedapur bantu ibu." Killa ingin segera keluar. Kalau diladenin, Del biaa makin ngelunjak dan minta yang aneh aneh. Biarpun udah janji gak minta, tapi gak boleh seratus persen percaya. Soalnya cowok itu sering khilaf.


Del menahan tangan Killa saat cewek itu mau keluar "Please, temenin dulu sampai aku tidur." Pintanya dengan wajah melas, membuat Killa tak tega untuk menolak permintaan cowok itu. Melihat Killa mengangguk, membuat Del girang bukan kepayang. Cowok itu segera menuntun Killa ke atas ranjang.


"Kakak mau ngapain? " Killa panik saat Del tiba tiba membuka bajunya.


"Gerah, kamar kamu panas banget." Jawab Del sambil mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah.


Killa menatap sebentar perut dan dada bidang milik Del. Membuatnya menelan ludah dan buru buru mengalihkan pandangannya lalu naik keatas ranjang. Takut tiba tiba dia ketularan Del menjadi mesum. Bahayakan kalau dua orang mesum berada dalam satu kamar. Satu aja udah meresahkan, apalagi dua.


Del tidur sambil memeluk perut Killa. Mengusap baby dengan lembut dan membenamkan wajahnya diceruk leher Killa.


"Wangi banget sih Bi." Ujar Del sambil mengendus endus leher Killa dan menciumnya.


Saat sudah hampir tertidur, Del terusik dengan bunyi ponsel milik Killa. Karena posisinya yang dekat dengan nakas, Del yang mengambil ponsel itu lebih dulu.


"Fando." Gumam Delmar saat melihat nama yang tertera dilayar ponsel Killa. Ngantuk seketika menjadi hilang dan berganti dengan geram.


"Sini." Killa merebut ponselnya dan langsung menekan tombol hijau.


"Hallo kak." Ucap Killa sambil mengubah posisinya menjadi duduk.


"_____"


"Makasih."


"______"


"Boleh kok."


Killa menoleh kearah Del yang masih berbaring disebelahnya. Cowok itu terlihat marah. Membuat Killa tak nyaman harus ngobrol berlama lama dengan Fando.


"Udah dulu ya kak, Killa sedang sibuk."


"___"


"bye." Killa segera memutus sambungan teleponnya.


"Ngapain dia telepon kamu?" Tanya Del dengan nada ketus.


"Cuma ngucapin bela sungkawa."


"Dia bilang apa kok kamu jawab boleh? mau kesini?" Del duduk disebelah Killa sambil melipat tangannya didada.


"Iya."


"Kenapa kamu bolehin? kamu belum putus dengan dia?" Del mulai emosi.


"Aku__"


"Emangnya kamu tahu aku mau ngomong apa?"


"Mau bilang kalau kalian belum putuskan? udah kebaca dimuka kamu."


"Emang ada tulisannya dimuka aku, kamu kok bisa baca?" Tanya Killa sambil menahan tawa.


"Tauk ah." Kesal Del sambil membuang muka. Membuat Killa makin ingin ketawa.


"Ih, ngambek ya?" Goda Killa sambil bergelayut dilengan Del.


"Gimana gak ngambek. Kamu itu selingkuhnya terang terangan langsung didepan aku." Seru Del sambil menunjuk mukanya sendiri. Dia sudah amnesia kayaknya. Padahal biasanya dia yang selingkuh teraang terangan di depan Killa.


"Ya udah deh, lain kali gak didepan kamu. Dibelakang aja biar gak ketahuan."


Delmar langsung melotot mendengarnya. Dengan cepat cowok itu melepaskan tangan Killa yang melingkar dilengannya.


Delmar menghela nafas lalu berbaring memunggungi Killa tanpa berkata kata. Sekarang justru Killa yang merasa tidak enak.


"Kak, kamu marah ya?" Tanya Killa sambil menoel panggung Del. Tapi Del tak menyahuti pertanyaannya sama sekali. "Jangan ngambek dong." rayunya.


Melihat Del yang bergeming, membuat Killa justru kelimpungan. Del tak pernah sama sekali mendiamkannya, beda dengan Killa yang sering mendiamkan Del. Kalau marahpun, Delmar lebiih suka meluapkannya langsung, tak pernah diam seperti saat ini.


"Kak, kalau diem aja aku tinggal keluar loh. Capek aku kalau ngomong sama patung." Ancam Killa. Berharap Delmar segera mengeluarkan kata katanya walaupun pedas sekalipun.


Tapi sepertinya ancaman Killa tak mempan, Del masih setia diam.


"Kak." Killa berbaring dan memeluk Del dari belakang. "Kok diemin aku gini sih? hadap sini dong aku mau ngomong."


Hening, tak ada sahutan sama sekali.


"Maaf, aku gak bisa mutusin kak Fando." Lirih Killa tapi masih bisa didengar oleh Del.


"Kenapa? karena kamu mencintainya?" Geram Del sambil membalikkan tubuhnya ke arah Killa.


"Bukan." Jawab Killa sambil menggeleng.


"Lalu?"


"Karena kami gak pernah jadian." Del dibuat melongo dengan kata kata Killa. Ternyata dia hanya salah informasi selama ini. Gara gara Chloe nih bilang Killa pacarnya Fando.


Killa tersenyum melihat Del yang menatapnya cengo. Membuat Killa punya inisiatif untuk mengecup pipi Delmar.


Cup


Kecupan dipipi Del menyadarkan cowok itu jika sejak tadi dia melongo. Del tersenyum sambil mengusap pipinya. Hanya sebuah kecupan di pipi tapi mampu membuat wajah putih Delmar merona. Membuat jantungnya berdetak tak sewajarnya serta membuat darahnya berdesir.


Del menempelkan keningnya pada kening Killa. Menggesek gesekkan hidung mancungnya pada hidung Killa. Membuat Killa tersipu malu dan tanpa sadar merapa dada Delmar yang telanjang.


"Bener kalian gak pernah jadian?" Tanya Del dengan kening yang masih menyatu. Membuat nafasnya langsung menyapu ke wajah Killa.


"Iya." Jawab Killa dengan sangat lembut. Membuat Del makin panas dingin menahan gejolak didadanya.


Jarak bibir mereka yang terlalu dekat membuat Delmar tak tahan untuk tidak mencicipi bibir yang beraroma strawbery itu.


Delmar mulai menempelkan bibir mereka, menyesapnya perlahan dan menggigit kecil sessuatu yang kenyal dan basah itu.


Aroma mint yang menguar dari mulut Del membuat Killa seakan terhipnotis dan mulai ikut menggerakkan bibirnya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu merusak momen sakral itu. Membuat Del yang ingin tobat jadi mengumpat berkali kali. Baginya sangat susah untuk mendapat momen seperti itu. Tapi seseorang tak tahu diri yang berdiri dibalik pintu itu telah merusaknya.


"Kil, ada tamu. Temen temen sekolah kamu datang." Ujar Fariz dari balik pintu.


"Iya Mas." Killa segera bangkit dan turun dari ranjang. Sedangkan Del yang masih kesal, terlihat mengomel tak jelas hingga membuat Killa geleng geleng sambil tersenyum.


Killa segera keluar kamar dan menemui teman temannya.


Tampak, Shani, Yusuf, Andra dan Amelia diruang tamu. Mereka duduk lesehan karena sofanya dikeluarkan untuk acara tahlilan.


"Killa." Shani langsung berdiri dan memeluk Killa saat cewek itu datang. "Sory ya gue baru dateng sekarang, lo kok gak bilang sih kemarin kalau bokap lo gak ada. Gue baru tahu hari ini." Ujar Shani dengan rasa bersalah.


"Gak papa kok Shan." Jawab Killa sambil menguraikan pelukan Shani.


"Kil, kita turut berduka cita ya. Kita kesini mewakili teman teman sekelas dan sesekolah." Ujar Andra, teman sekelas Killa sekaligus ketos SMA 48.


"Makasih ya Ndra, Sup, Amel, Shani, Udah mau repot repot kesini."


"Gak repot kok Kil." Jawab Amelia yang merupakan wakil ketua osis.


"Kil, didepan itu mobil yang hari itu viralkan? Pemiliknya ada disini?" Tanya Yusup dengan tampang sangat penasaran. Sejak memarkirkan motor dihalaman rumah Killa, dia sudah dibuat penasaran dengan pemilik mobil sport putih limited edition itu.


Sudah sejak tadi dia menahan diri untuk tidak bertanya soal itu mengingat sekarang sedang masa berduka. Tapi jiwa keponya terus meronta membuat Yusup tak mampu lagi menahan diri.