
Killa duduk disebuah kursi panjang sambil mengecek ponselnya. Dia sedang menunggu Pak Joe menjemputnya. Beberapa jam yang lalu dia menelepon Pak Joe untuk menjempuntanya di bandara.
Ya, Killa kembali ke Jakarta. Dangan segala pertimbangan, dia memutuskan kembali ke Jakarta.
Harusnya kemarin dia kembali, tapi dia masih dilema. Kembali bukan keputusan yang mudah untuk dia ambil. Tapi dia tak ada pilihan lain.
Saat periksa kandungan beberapa hari yang lalu. Killa mengalami tekanan darah tinggi, dari tes urin, juga ditemukan protein didalamnya. Dari gejalanya, Killa dinyatakan preeklamsia ringan.
Walaupun ringan, tapi jika tidak ditangani dengan baik, akan menjadi preeklamsia berat, bahkan bisa menjadi eklamsia. Dan kemungkinan terburuknya, bisa saja dia melahirkan prematur.
Butuh biaya yang tidak sedikit untuk semua itu. Dan Killa tak mungkin membebankannya pada Fariz. Dia baru bekerja, dan hanya tinggal di kos. Sungguh keterlaluan jika Killa menambah beban hidupnya.
"Ayo pulang."
Killa mengalihkan pandangannya dari ponsel saat mendengar suara itu. Entah sejak kapan, Delmar sudah berdiri disebelahnya.
Perasaan dia memyuruh Pak Joe jemput, kenapa malah Del yang datang.
"Kenapa bengong, ayo pulang." Del mengambil koper Killa dan segera menyeretnya.
Killa mengikuti langkah Del tanpa berucap sepatah katapun. Dia meremas jari jarinya, tak tahu kenapa, dia merasa kurang nyaman bersama Del.
Killa tertegun saat Del membukakan pintu mobil untuknya. Seperti bukan Delmar yang dia kenal. Kenapa jadi sweet gini?
"Ayo masuk, lo kesambet apa sih di Malang, dari tadi bengong mulu?"
Killa segera masuk lalu memasang safety belt nya. Setelah memasukkan koper kedalam bagasi, Del segera masuk dan duduk dikursi kemudi.
Hening, tak ada yang membuka pembicaraan antara keduanya. Sejak tadi Killa hanya menatap kearah jendela. Dia sama sekali tak melihat Del. Beda dengan Del berkali kali menoleh kearah Killa.
"Gimana kabar lo?" Del memecah keheningan.
"Baik."
"Baby baik juga?"
"Baik."
Tumben inget anaknya.
Del menghela nafas. Kenapa rasanya canggung , Killa bahkan hanya menjawab singkat sejak tadi. Tampak sekali kalau Killa enggan bicara dengannya.
"Udah makan belum? atau mau mampir makan dulu?"
"Langsung pulang, aku capek."
"Hem, ok." Sedikit kecewa, tapi ya sudahlah.
Del kembali fokus menyetir. Dia bingung dengan dirinya sendiri, kenapa secanggung ini berada didekat Killa. Bahkan jantungnya berdebar sejak tadi.
"Elo gak kangen gue?" Del kembali membuka percakapan.
"Aku ngantuk, mau tidur." Killa mengambil earphone dari tasnya lalu menyumpal telinganya dengan benda itu sambil memejamkan mata.
Del lagi lagi dibuat melongo dengan sikap Killa. ini bukan Killa yang dia kenal. Bukan Akilla luna yang bucin pada Delmar kalandra.
Situasi kembali hening hingga mereka sampai dirumah.
"Pak Bas." Teriak Killa pada sekuriti yang sedang berjaga. "Tolong bawa masuk koper Killa ya." Titah cewek saat baru keluar dari mobil.
Killa berjalan cepat memasuki rumah lalu disusul Del dibelakangnya.
Killa mengambil alih kopernya saat sudah memasuki rumah. Rumah tampak sepi, sepertinya Dilan dan Cea belum pulang. Mama Rain juga tak tampak, mungkin sedang dikantor papa.
"Ngapain kesini?" Tanya Del saat Killa membuka pintu kamar tamu.
"Aku tidur disini."
"Tidur dikamar kita aja." Ujar Del sambil menarik tangan Killa.
"Itu kamar kamu, bukan kamar kita." Sahut Killa sambil melepaskan tangan Del.
"Elo kenapa sih Kil? berubah banget sejak pergi sama abang lo ke Malang. Dia ngeracunin apa ke otak lo sampai sikap lo berubah kayak gini ke gue?" Sinis Delmar. Jujur saja dia tak nyaman dengan perubahan sikap Killa padanya.
"Bukan dia yang bikin Killa berubah, tapi kamu." Jawab Killa sambil menatap tajam Delmar. "Kamu yang udah menyadarkan aku, jika yang aku lakukan selama ini hanya sia sia."
"Maksud kamu?" Del mengernyit bingung.
"Mulai sekarang, aku gak bakal gangguin kamu lagi. Aku juga gak akan maksa kamu buat perlakuin aku baik baik layaknya seorang istri. Lebih baik mulai sekarang kita jaga jarak sampai anak ini lahir."
"Maksudnya?"
Killa menghela nafas. "Kamu katanya pinter, juara umum terus. Masak gak paham juga."
Glodak.
Beneran Killa yang ngomong kayak gitu? Sel masih tak percaya. Dia sampai melongo menatap Killa. Kayaknya Killa kesambet pas di Malang. Del benar benar kayak berhadapan dengan sosok lain, bukan Killa.
"Bisa keluar gak? aku capek, mau tidur."
"Lo ngusir gue?" Del melotot sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Syukurlah kalau paham." Ujar Killa lalu masuk kedalam kamar mandi.
"Makasih kak." Ujar Cea sambil memeluk Killa. Dia senang sekali mendapat oleh oleh kaos dari Malang. Bukan barang mahal, tapi sudah cukup membuat Cea senang.
Dilan juga terlihat senang mendapatkan topi bertuliskan I love Malang berwarna putih. Cowok itu langsung memakainya untuk selfi.
"Maaf ya mah, Killa gak Beliin apa apa buat mamah. Cuma makanan ringan doang. Soalnya Killa bingung mau ngasih mama sama papa apa." Jujur Killa.
"Gak papa sayang, lihat kamu pulang aja mama udah seneng banget. Si Del galau mulu kamu tinggalin."
Del yang juga ada disana pura pura gak denger saat mamanya bilang kayak gitu. Sebenarnya sejak tadi dia udah kesel. Kesel karena melihat Cea dan Dilan dapat oleh oleh sedangkan dia tidak.
"Kak Del pasti oleh olehnya spesial nih." Goda Cea sambil menyenggol lengan Del yang duduk tepat disebelahnya.
Boro boro dapat oleh oleh, dari tadi dicuekin mulu. Gigit jari doang.
"Kak Kil, kapan kapan kalau ke Malang lagi ajakin Cea ya." Rengek Cea sambil makan keripik apel khas malang.
"Hem." Jawab Killa sambil mengangguk.
Del sejak tadi memperhatikan Killa, tapi yang diperhatikan malah seolah gak peduli sama sekali.
Setelah lama mengobrol dan sudah malam, merekapun kembali kekamar masing masing.
Killa langsung masuk ke kamar tamu. Dia ingin segera tidur karena besok sekolah.
Ceklek.
Killa terkejut saat Del tiba tiba masuk kedalam kamarnya dan rebahan dikasur.
"Malam ini gue tidur disini ya." Ujarnya santai tanpa beban.
"Killa mau tidur sendiri."
"Kamar ini sering kosong. Gak takut ada setan?"
"Enggak, malah takut kalau kamu tidur disini. Kan setannya kamu."
Njirrr dibilang setan gue, batin Delmar.
"Kenapa nomor gue lo blokir?"
"Gak penting."
Gila, nomor gue gak penting katanya. Killa kayaknya perlu dirukiyah nih. Kerasukan setan apa sih pas diMalang. Gini amat sama gue.
"Gue Beliin ponsel mahal biar bisa komunikasi sama gue. Tapi kenapa malah lo blokir nomor gue?"
Killa berjalan menuju almari lalu mengambil sesuatu dari sana.
"Nih, aku balikin." Killa menyodorkan ponsel yang dulu dia beli pakai uang Del.
"Kenapa?"
"Gak butuh."
"Tapi gue juga gak butuh, udah punya. Sama pula tipe dan warnanya."
"Ya udah, kalau gitu kasih aja kepacar kamu." Karena Del tak kunjung menerima ponselnya. Killa meletakkan ponsel itu diatas nakas samping Delmar.
"Elo marah sama gue?"
"Enggak, cuma pengen istirahat aja, aku lelah."
"Maksud kamu?"
"Aku lelah ngejar kamu yang lari larian mulu. Aku pengen istirahat. Aku capek nunggu kamu yang katanya otw tapi gak dateng dateng. Gimana mau dateng, orang kamu mampir mampir mulu. Bahkan mungkin kamu udah kesasar ke jalan lain, jadi gak bakalan sampai ketempatku."
"Aku udah hampir sampai kok."
Killa tersenyum miring mendengarnya.
"Sayangnya, aku udah pindah ke tempat lain. Yang ada makin jauh dari kamu."
"Maksudnya?" Entah sudah keberapa kali Del bilang maksudnya. Killa sampai bosan mendengarnya.
"Aku udah ngantuk, tolong keluar, aku mau tidur."
"Gue tidur disini malem ini."
"Ya udah."
Senyum Del seketika mengembang mendengar Killa mengijinkannya.
"Mau kemana?" Del bingung melihat Killa mengambil ponsel dan berjalan menuju pintu.
"Aku tidur dikamar Cea aja."
"Gak usah." Del menahan tangan Killa yang mau menarik gagang pintu. "Kamu tidur sini aja, biar gue yang keluar. Good night."
Cup
Del mencium kening Killa lalu keluar dari kamar tamu.