
Semua pasang mata tertuju pada Killa, lebih tepatnya pada perut yang tampak buncit itu. Tak ada tatapan bersahabat yang terpancar, hanya tatapan merendahkan dan menghakimi.
"Pantesan selalu pakai hoodi."
"Anak siapa yang dikandung?"
"Anak Kak Delmar atau anak adiknya?"
"Atau jangan jangan anak Om om?"
"Atau jangan jangan gak tahu siapa bapaknya?"
Malu? jangan ditanya. Sudah pasti Killa sangat malu. Menyangkal? mana mungkin. Perutnya sudah terlalu besar untuk disangkal. Ingin lari keluar, lupakan ide gila itu. Yang ada bukan hanya teman sekelas yang melihat perut buncitnya, melainkan satu sekolah dan para guru.
Killa hanya bisa tertunduk malu. Tubuhnya gemetar tapi dia tak bisa menangis. Hal yang paling dia takutkan kejadian juga. Hari ini sungguh ulang tahun paling luar biasa untuknya. Setelah semalam merasa berada di puncak kebahagiaan, hingga tak ingin waktu berlalu terlalu cepat. Tapi saat ini kebalikannya, dia seperti berada dilembah kehancuran, ingin sekali pingsan. Agar saat dia sadar, dia sudah tidak diposisi ini.
"Kalian keterlaluan." Teriak Shani pada teman teman sekelasnya. Dia ingin menolong Killa, tapi tak tahu caranya.
"Lo kok gak terkejut sih Shan? Jangan jangan lo udah tahu ya? Berarti lo juga tahu dong siapa bapaknya?" Seru Greta sambil tersenyum sinis.
"Malu maluin sekolah aja lo Kil." Seru Ratna.
"Huu.... malu maluin." Seru beberapa anak secara kompak.
"Wajahnya innocent, tapi kelakuannya menjijikan."
"Hamil diluar nikah. Pasti cowoknya gak mau tanggung jawab. Makanya dia masih sekolah."
Tak tega melihat keadaan Killa, Andra, cowok itu segera berlari kembali kekelas untuk mengambil jaket.
Sesampainya kembali ke toilet, Andra segera memakaikan jaketnya pada Killa lalu merangkul tubuh ringkih itu keluar dari toilet.
"Ngapain lo bantu dia sih Ndra? Dia itu udah malu maluin sekolah. Sebagai ketos, lo harusnya____"
"Harusnya apa?" Andra memotong ucapan Greta. "Justru karena gue ketos, gue harus menghentikan perbuatan kalian." Teriak Andra sambil mengedarkan pandangannya menatap satu persatu teman sekelasnya. "Tindakan kalian ini sudah masuk dalam bullying. Dan hal itu tidak dibenarkan disekolah ini." Lanjutnya dengan nada tegas.
Andra dan Shani membawa Killa keluar dari toilet. Karena tak tahu harus membawa cewek itu kemana, akhirnya Andra membawa Killa ke ruangan osis.
"Kil, lo baik baik aja kan?" Tanya Shani cemas.
Killa menggeleng. Tidak mungkin dia baik baik saja saat ini. Nasibnya disekolah ini sedang diujung tanduk. Setelah lama terdiam, akhirnya airmata mulai menetes dari sudut mata Killa. Menahan sesak sejak tadi sungguh membuatnya sulit bernafas.
"Shan, mending lo cariin baju ganti buat Killa." Pinta Andra dan segera diangguki oleh Shani.
"Shan, bisa sekalian tolong ambilkan ponsel aku yang ada ditas." Ujar Killa ditengah isak tangisnya. Shani mengangguk dan segera keluar dari ruang osis.
Saat Shani keluar, dia melihat banyak siswa yang berkerumun di sekitar ruang osis. Tapi tak ada satupun yang berani masuk. Tak ingin telinganya panas mendengar gunjingan yang ditujukan pada sahabatnya. Shani buru buru pergi ke kelas
Sekarang tinggal Andra dan Killa diruangan itu. Berbagai pertanyaan muncul dibenak Andra. Tapi untuk menanyakannya dia masih ragu.
"Kil, maaf kalau gue terpaksa nanya ini. Apa benar lo hamil?"
Hening, tak ada sahutan dari Killa. Hingga akhirnya cewek itu menganggukkan kepalanya.
Andra seketika memejamkan matanya sambil memukul meja dihadapannya. Rasanya mustahil seorang Akilla Luna yang dia kenal, hamil diluar nikah.
Dimata seorang Andra, sosok Killa adalah cewek yang lugu, pendiam dan baik. Hamil diluar nikah? rasanya sulit sekali untuk dipercaya.
"Sampai detik ini, gue masih yakin kalau lo cewek baik baik Kil. Apapun gosip tentang lo, gue gak pernah percaya sebelum benar benar liat langsung. Tapi kali ini__" Andra bahkan tak sanggup meneruskan kata katanya.
Lagi lagi Killa mengangguk, dan hal itu membuat Andra makin bingung. Jika memang orang tuanya tahu, kenapa Killa masih sekolah? kenapa tidak dinikahkan saja. Atau jangan jangan____
"Siapa yang melakukan itu Kil? Siapa ayah dari anak dalam kandungan lo?" Andra menatap dalam kedua manik mata Killa. Ingin sekali mendapatkan jawaban jujur dari sana.
"Maaf, aku gak bisa ngasih tahu Ndra."
Killa tak mau gegabah dengan memberitahu ayah dari anaknya. Nama baik seorang Delmar sedang dipertaruhkan disini. Setulus itu cinta Killa. Dia hanya korban, tapi dia masih saja berusaha menjaga nama baik Delmar.
"Laki laki itu harus tanggung jawab Kil. Ini masalah besar, dan masa depan lo taruhannya."
Killa hanya diam, dia sama sekali tak berniat mengatakan siapa ayah dari anaknya.
"Gue yakin guru guru udah dengar masalah ini Kil. Cepat atau lambat lo pasti dipanggil. Dan lo tahukan konsekuensinya? lo bakal dikeluarkan dari sekolah."
"Aku tahu kok Ndra."
"Kalau lo tahu, harusnya lo mikir sebelum ngelakuin hal gak Bener itu." Andra mengacak acak rambutnya frustasi.
Semua bukan kemauan aku Ndra. Tapi ini takdir, dan aku ikhlas.
Shani masuk sambil membawa rok abu abu dan hoodi milik Killa. Shani yakin jika tadi ada yang sengaja menyembunyikan benda itu. Buktinya, saat Shani kembali ke kelas. Hoodi itu sudah ada diatas meja Killa. Padahal tadi benda itu hilang entah kemana. Dan satu hal yang membuat Shani makin dongkol saat berada didalam kelas. Dia melihat senyum licik Laura. Senyum yang seolah seolah mengatakan. Gue menang, dan Killa, lo hancur.
"Ndra, tolong keluar bentar, biar Killa ganti baju."
Sesuai perintah Shani, Andra segera keluar. Di Uks memang disediakan rok abu abu, biasanya dipakai oleh cewek yang sedang haid dan tak sengaja mengenai rok.
Setelah ganti baju, Killa segera menelepon seseorang. Berharap besar jika orang itu bisa membantu menyelesaikan masalahnya.
Andra segera masuk setelah Shani membuka pintu itu kembali.
"Kil, lo dipanggil ke ruang guru. Gue gak nyangka jika secepat ini kabar kehamilan lo nyebar." Ujar Andra.
Killa meremat tangan Shani. Cewek itu sangat ketakutan sekarang. Tapi dia bukan pada posisi bisa memilih. Tak ada pilihan selain datang ke ruang guru dan menghadapi masalahnya.
Sesampainya di ruang guru. Killa langsung mendapatkan tatapan tajam dari sejumlah guru.
Bu Dea sang wali kelas segera mendudukkan Killa disofa dan menggenggam tangan Killa yang terasa dingin.
"Apa benar kamu hamil Kil?" Tanya Bu Dea dengan lembut. Wali kelasnya itu memang sosok guru yang sangat hangat terutama pada anak kelasnya.
Kepsek, guru Bk, dan guru guru lain yang berada disana menatap Killa. Menunggu sebuah jawaban yang akan keluar dari mulut cewek itu.
"Iya Bu." Lirih Killa sambil mengangguk.
Seketika air mata Bu Dea menetes. Wanita berhati lembut itu merasa teriris hatinya saat melihat masa depan anak didiknya hancur. Raut wajah guru guru yang lain juga terlihat kecewa. Gadis yang harusnya masih menikmati masa sekolah dan masih panjang perjalanannya untuk meraih cita cita, terpaksa harus berhenti hanya karena hamil.
"Kamu tahukan konsekuensinya jika hamil?" Tanya Pak kepsek dengan nada tegas.
"Iya pak." Jawab Killa dengan tubuh gemetaran. Bu Dea masih menggenggam tangan Killa. Beliau seakan ingin menyalurkan kekuatan pada Killa untuk menghadapi masalah ini.
"Kami akan memanggil orang tuamu sekarang. Tidak ada toleransi untuk siswi yang hamil. Kamu akan dikeluarkan dari sekolah." Tegas Bu Asti, guru Bp.
"Saya sudah meneleponnya Bu. Sebentar lagi, beliau akan datang." Ujar Killa sambil menyeka air matanya.
Harusnya tinggal seminggu, setelah itu urusan beres. Tapi kenapa hari ini justru semuanya terbongkar?