DELMAR

DELMAR
KEBETULAN YANG ENAK



Manu dan Rey sibuk memisah Delmar dan Miko yang sedang adu jotos. Kedua orang itu sampai kuwalahan bahkan Rey ikut tertonjok.


"Anj*ng." Umpat Rey yang kesakitan karena tak sengaja tertonjok Delmar. Cowok yang jengkel itu langsung melempar botol minuman kedinding hingga pecah.


PYARR


Kedua cowok yang sedang olahraga itu langsung berhenti melihat tuan rumah mengamuk.


"Keluar kalian, pergi dari rumah gue." Teriak Rey. Bukannya keluar Del dan Miko malah duduk selonjoran sambil mengatur nafas. Miko terlihat mengelap darah yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya, begitu pula dengan Del. Walaupun lukanya tak separah Miko, tapi wajah Del juga mengalami lebam.


"Kayak anak TK tau gak? Gini cara kalian nyelesaiin masalah?" Teriak Manu.


"Sorry." Ujar Del sambil menoleh ke arah Miko yang duduk disebelahnya.


"Gue juga minta maaf." Jawab Miko.


"Beneran Del apa yang dikatakan Miko? Lo merkosa Killa sampai dia hamil?" Manu tampak butuh penjelasan. Raut wajahnya terlihat emosi.


"Iya."


BUGH


Sebuah pukulan keras melayang ke wajah Del hingga keluar darah dari hidungnya.


"Bajingan lo." Maki Man. "Dasar anj*ng lo, gak ada otak. Tega lo ngelakuin itu ke cewek sebaik Killa." Lanjutnya sambil mencengkeram kerah kaos Delmar.


"Sumpah, definisi bajingan yang sesungguhnya ya lo itu Del." Rey ikut memojokkan Delmar. "Gue emang bukan orang baik. Tapi gue gak pernah sampai merkosa cewek. Gue cuma ngelakuin itu sama cewek yang mau aja."


BUGH BUGH


Manu kembali memukuli Del lalu melepaskan cengkeramannya. Sedangakan Rey dan Miko diam saja, tak berniat menghentikan Manu sama sekali.


"Lo kurang apa sih Del? Muka good looking, duit banyak, otak encer. Gak ada cewek yang nolak lo. Tapi kenapa lo malah ngelakuin itu?" Rey masih tak habis pikir. Padahal kalau lagi di club malam, Del yang selalu jadi inceran cewek cewek disana. Gak akan sulit buat Del kalau hanya cari wanita untuk bersenang senang.


"Gue gak sadar waktu itu, gue mabuk. Terus kita habis nonton film dewasa, makin tak bisa ngontrol diri gue." Del menjelaskan sambil meringis karena bibirnya lumayan sakit dipakai bicara.


"Tapi kenapa harus Killa?" Teriak Manu dengan ekspresi kesal setengah mati.


"Ya gue gak tahu. Kebetulan yang ada disana Killa. Ya mungkin emang udah takdir. Kita berdua jodoh, tapi bertemu dengan cara yang salah."


"Kebetulan lo bilang? Enak banget lo ngomongnya, kayak gak ada rasa bersalah sama sekali. Harusnya lo itu dipenjara." Seru Manu yang masih belum bisa terima dengan perbuatan Del.


"Tega lo ngomong gitu ke gue." Gumam Del.


"Lagi lagi lo bikin gue iri Del." Ujar Rey. "Kebetulan lo enak banget. Kebetulan Killa yang ada disana, cewek cantik ples baik. Gue gak bayangin kalau yang ada ditempat itu odgj atau emak emak. Apa bakal lo perkosa juga, lo kan gak sadar?"


"Njirrr ya enggak lah, gila apa. Walaupun gue gak sadar. Mata gue masih bisa lihat. Kalau emak emak atau odgj, ya gue gak naffsu lah, aneh pertanyaan lo."


"Yang namanya gak sadar itu gak bisa ngebedain Del. Orang mabuk itu lihat tempe udah kayak daging. Lihat emak emak udah kayak bidadari." Rey terkekeh geli.


"Sialan lo." Seru Del sambil melempar sebungkus kacang ke muka Rey.


"Lo kebetulan yang enak. Lah Killa, kebetulan yang sial." Gumam Manu.


"Gak sial juga sih. Killa cinta sama gue. Jadi bisa dibilang dia juga gak sial sial banget. Mungkin kebetulan yang enak juga buat Killa."


"Bangsat."


BUGH, Manu kembali memukul Del.


"Sialan, bisa gak sih lo berhenti mukul gue." Seru Del sambil menatap tajam ke arah Manu.


"Masa depan Killa lo hancurin lo bilang dia enak? Dasar gak ada otak lo." Manu masih terus menghujat Delmar.


"Gue tanggung jawab Man. Gue juga gak akan ngebiarin masa depan Killa hancur kok. Lo gak usah khawatir, Killa bakal bahagia sama gue."


"Awas aja lo kalau bikin Killa nangis. Gue bakal ngerebut dia dari lo." Ancam Manu.


"Gak ada yang perlu dibahas lagi tentang gue. Karena gue akan tetap nikahin Sasa. Gue mau tanggung jawab bukan hanya karena dia hamil. Tapi emang gue udah ngerusak dia." Miko berdiri lalu mengenakan jaketnya. "Gue pulang dulu." Pamitnya pada teman temannya.


...****...


Delmar masuk kamar pelan pelan agar tak menganggu tidur Killa. Selain itu dia juga tak ingin Killa melihat wajahnya yang babak belur karena berkelahi dengan Miko ditambah dihajar Manu. Niatnya kumpul seneng seneng, malah berakhir naas.


Brakk


"Aduh.... " Del memegangi kakinya yang tak sengaja tersandung kaki kursi belajarnya. Pengennya pelan pelan, eh malah ketiban sial.


"Kak, baru pulang?" Tanya Killa yang terbangun karena suara kursi yang ambruk. Cewek itu mengusap matanya lalu mengubah posisinya menjadi duduk


"Iya." Jawab Del sambil meringis memegangi jempol kakinya yang sakit.


"Kamu kenapa?" Killa seketika cemas melihat wajah Delmar yang lebam lebam.


"Gak papa kok." Jawab Del sambil menyeringai.


Killa beranjak dari ranjang dan segera menghampiri Del.


"Kamu habis berantem?" Tanya Killa sambil menyentuh pelan dagu Del dan memperhatikan wajahnya. "Dibilangin jangan pulang mabuk, eh malah punyak bonyok." Killa menghela nafas berat.


"Gak papa, luka kecil gini mah biasa." Del pura pura baik baik saja agar Killa tak cemas.


"Gak papa apanya, ini lumayan parah loh kak. Ayo aku obatin." Killa menarik kursi belajar Del dan menyuruh cowok itu segera duduk. Kemudian Killa mengambil kotak obat dilaci nakas lalu menarik kursi dan duduk dihadapan Del.


"Kalau kamu ngantuk tidur aja. Biar aku obatin sendiri." Ujar Del yang merasa tak enak karena merepotkan Killa malam malam.


"Udah ilang ngantukku." Jawab Killa sambil membuka kotak p3k. "Apa perlu aku kompres pakai air es dulu?"


"Gak usah, langsung aja."


Killa membuka tutup salep lalu mengoleskan dibagian wajah yang tampak lebam.


"Pelan Bi, sakit." Del meringis sambil menggigit bibir dalamnya, membuat Killa ikutan meringis juga.


"Kalau tahu sakit, gak usah berantem."


"Hm." Del hanya berdehem sammbil menatap wajah Killa yang berada dihadapannya. Cowok itu meraih tangan kiri Killa lalu meletakkan diperutnya. "Perutku juga sakut Bi." Rengeknya manja.


"Iya ntar aku obatin juga, tunggu yang dimuka selesai dulu. Kamu berantem sama siapa sih kak?"


"Biasalah, sama berandalan di pinggir jalan." Bohong Del. Tak mungkin dia cerita berantem dengan sahabatnya karena aibnya terbongkar. "Perutku sakit Bi, usap dong." Del berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Manja banget sih." Killa berganti melihat bagian perut Del sesuai permintaan cowok itu. "Astaga kak, memar juga perut kamu."


"Makanya buruan obatin."


"Ya udah buruan gih buka bajunya, biar enak ngobatinnya."


"Dih, modus ya kamu?" Goda Del sambil senyum senyum.


"Suka fitnah deh." Killa memutar bola matanya malas. "Ya udah aku tidur aja kalau gitu, biar gak dikatain modus." Killa beranjak dari duduknya tapi segera ditahan oleh Del.


"Dih ngambekan, bumil gak boleh ngambek, harus happy biar debay dalam perut ikut happy." Seru Del sambil mendorong pelan bahu Killa agar duduk kembali. Killa menurut dan segera mengobati luka lebam diperut Del.


"Udah selesai kak, aku ambilin baju ganti ya terus langsung tidur." Ujar Killa sambil beranjak menuju almari untuk mengambilkan piyama milik Delmar.


"Kok langsung tidur? gak ngapa ngapain dulu?"


"Udah babak belur gitu masih mau ngapain lagi sih kak? Udah ini buruan ganti baju." Killa menyodorkan piyama kearah Del.


Del menghela nafas berat lalu mengambil piyama dari tangan Killa.