DELMAR

DELMAR
EXTRA CHAPTER 3



"Papa."


Deg, jantung Naomi seakan berhenti berdetak melihat siapa yang dipanggil papa oleh Rania. Matanya tak berkedip melihat wajah yang dia rindukan siang dan malam selama 6 tahun ini. 6 tahun yang dia lalui dengan sangat berat.


"Ay." Gumam Naomi pelan, sangat pelan hingga mungkin hanya dia sendiri yang mendengar. Dia sama sekali tak menyangka jika ayah dari Rania adalah Aiden. Padahal dia cukup dekat dengan Rania disekolah. Pantas saja Naomi sangat menyukai dekat dengan Rania, karena wajah anak itu mirip Aiden.


"Yang." Aiden hanya bisa mengucapkan itu dalam hati. Air matanya menetes tanpa dia sadari. Tak menyangka jika Tuhan mengabulkan doanya setelah 6 tahun lamanya. Ya, siang dan malam, dia menyebut nama Naomi dalam doanya. Berharap bisa bertemu lagi dan kalau masih mungkin, bisa berjodoh.


"Papa, ayo Rania kenalin ke bu guru." Rania menarik tangan papanya, membuat Aiden seketika tersadar dari keterdiamannya.


"Bu guru?" Tanya Aiden sambil cepat cepat menghapus air matanya.


"Iya Pah, bu gurunya Rania disekolah." Rania menarik tangan papanya hingga kehadapan Naomi. Membuat jantung keduanya kian berdetak tak karuan.


"Bu guru, kenalin ini papanya Rania." Ujar Rania sambil mendongak menatap Naomi.


"Apa kabar?" Tanya Aiden sedikit gugup.


"Ba, baik." Jawab Naomi yang juga gugup.


"Papa udah kenal sama bu guru?" Tanya Rania.


"Iya sayang, Papah sudah kenal." Jawab Aiden sambil menunduk menyamakan tingginya dengan Rania dan mengusap lembut pucuk kepala bocah itu.


"Bu Naomi cantikkan Pah?" Tanya bocah polos itu.


"Iya cantik, sangat cantik." Jawab Aiden sambil menatap Naomi. Membuat gadis berdebar dan tersipu malu. Walaupun sudah berpisah 6 tahun, tapi jantung Naomi tetap saja berdebar saat dekat dengan Aiden. Bahkan saat ini debaran itu terasa lebih kencang.


6 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk melupakan Aiden. Tapi selama itu pula, dia selalu gagal, lagi dan lagi. Bahkan dia selalu dihantui dengan janji bodohnya waktu itu. Janji yang dia ucapkan tanpa berfikir panjang.


"Gak ada yang boleh milikin kamu selain aku. Apapun yang terjadi, Naomi hanya milik Aiden. Hanya milik Aiden. Janji." Aiden mengangkat kelingkingnya.


"Janji." Jawab Naomi sambil menautkan kelingkingnya pada kelingking Aiden.


Setiap dia ingin membuka hati. Dia selalu terngiang ucapan itu. Naomi hanya milik Aiden, apapun yang terjadi. Dan hal itu membuatnya terus terusan gagal move on.


"Mirip sekali dengan foto wanita yang ada dilaci meja kerjanya papa." Tanpa sengaja, Rania pernah melihat foto Naomi di laci meja kerja Aiden. Saat itu Naomi masih berseragam putih abu, sedikit berbeda dengan yang sekarang.


"Rania, ayo main." Deluna menarik tangan Rania. Mengajak bocil itu bermain bersama.


"Rania main ya Pah."


"Iya sayang. Tapi jangan jauh jauh ya."


"Siap Papah." Jawabnya sambil berlari mengikuti Deluna dan Mikail.


Untuk beberapa saat, Naomi dan Aiden hanya diam. Mereka merasa canggung setelah lama tak bertemu.


"Kamu, masih nyimpen foto aku?" Tanya Naomi.


"Bukan hanya foto kamu, tapi semuanya tentang kamu masih tersimpan rapi di hatiku. Seumur hidupku, aku hanya pernah jatuh cinta sekali, hanya pada gadis bodoh bernama Naomi." Jawab Aiden sambil menyeringai kecil.


"Bodoh." Naomi melotot.


"Ya, karena cuma gadis bodoh yang mau sama aku." Ledeknya Aiden.


"Aku gak nyangka jika kamu gurunya Rania. Tahu begitu, aku bakalan antar jemput dia setiap hari." Ujar Aiden dengan raut kecewa. Andai saja dia mengantar jemput Rania, pasti dia bisa lebih cepat bertemu Naomi.


"Makanya, jadi papa itu yang perhatian. Sekali sekali juga perlu mengantar jemput anaknya ke sekolah Ay___Den." Naomi sudah terlalu terbiasa memanggil Ay. Dan sekarang, dia harus mulai merubah panggilnya untuk Aiden.


"Ay aja kayak dulu. Gak perlu Aiden."


"Kita udah gak kayak dulu. Kita harus mulai membiasakan diri dengan status yang sudah tak seperti dulu." Tiba tiba Naomi teringat Sasa. Setahu dia, ibunya Rania sudah meninggal. Apa itu artinya, Sasa sudah meninggal?


"Sasa, gimana kabarnya?" Tanya Naomi penasaran.


"Sasa udah gak ada."


"Sasa meninggal beberapa bulan setelah melahirkan Rania. Dan Raniaku, dia bahkan belum bisa mengingat wajah ibunya saat itu. Rania hanya mengetahui wajah ibunya dari foto." Air mata Aiden menetes, sesayang itu dia dengan Ranianya. Walaupun dulu dia tak diharapkan, tapi siapa yang bisa menolak bayi mungil, cantik serta tanpa dosa itu. Bayi itu tak bersalah apa apa, orang tuanya lah yang bersalah.


"Kamu udah berubah. Bahkan kamu mendidik Rania dengan sangat baik. Dia anak yang pintar, baik dan sholehah."


"Kayak kamu." Sahut Aiden sambil tersenyum.


Naomi hanya tersenyum, tak tahu harus menjawab apa.


"Tapi beneran deh, rasanya aku masih belum bisa percaya jika Rania itu anak kamu. Tak menyangka jika seorang Aiden, single daddy, bisa memilik putri yang sholeha seperti Rania."


"Dua wanita paling berharga dalam hidupku yang sudah menjadikan aku dan Rania seperti saat ini. Satunya, wanita yang aku cintai, dan satunya ibu dari anakku."


"Maksudnya?"


"Aku sudah banyak menyakiti Sasa. Bahkan sampai akhir hayatnya, aku tak bisa memberikan apa yang dia ingin, yaitu cinta. Tapi aku berusaha untuk menjalankan amanahnya. Dia ingin aku menjadi papa yang hebat untuk Rania. Mendidiknya menjadi anak sholehah, tak seperti ayah dan ibunya." Ujar Aiden sambil tersenyum miring. Sadar jika dia dan Sasa bukanlah orang baik. "Sasa ingin memiliki anak sholehah agar ada yang selalu mendoakannya. Oh iya, Sasa ingin aku menyampaikan permintaan maafnya padamu."


"Aku sudah memaafkannya sebelum dia meminta." Jawab Naomi.


"Dan satu lagi, aku selalu berusaha untuk memantaskan diri menjadi imam seperti yang kamu mau. Hingga jadilah aku seperti yang sekarang. Walaupun masih banyak kekurangan, tapi setidaknya, sudah lebih baik dari Aiden yang dulu."


"Ya, aku bisa melihatnya. Tapi bukankah lebih baik jika berubah karena Allah, bukan karena seseorang. Jangan sampai jika seseorang itu tak sesuai harapanmu, akhirnya kamu kembali seperti dulu."


"Kamu benar, tapi setidaknya, tidak apa apakan jika kamu aku jadikan semangat? Kamu, udah nikah?" Walaupun tidak siap dengan jawaban yang mungkin menyakitkan, tapi Aiden butuh tahu status Naomi saat ini.


"Belum." Jawab Naomi sambil menggeleng.


"Alhamdulillah." Sahut Aiden refleks.


"Jahat banget sih. Aku belum laku malah di alhamdulillahin."


"Bukan begitu. Hanya saja, itu artinya aku masih ada kesempatan. Ya, walaupun belum tentu juga kamu masih mau sama aku. Tapi aku harap, mantanku yang bucin dulu, masih sama, masih ada rasa yang belum kelar."


"Hahaha... " Seketika Naomi tertawa mendengar Aiden menyebutnya mantannya yang bucin. "Perasaan kamu deh yang bucin, buktinya rela bunuh diri demi aku." Naomi menyebikkan bibirnya.


"Kamu lebih parah lagi. Udah disakitin berkali kali, masih aja dirayu dikit mau balikan." Aiden geleng geleng.


"Aku udah duda loh yang."


"Ih, apaan sih panggil yang." Naomi geli mendengar Aiden memanggilnya yang.


"Udah kebiasaan."


"Ya rubah."


"Gak mau. Emangnya kamu gak ada gitu niatan buat balikan sama aku? Dah gitu kalau sama aku, ada bonusnya." Ujar Aiden sambil menyeringai.


"Bonus, apaan?"


"Tuh." Aiden menunjuk dagu kearah Rania. "Anggap aja beli satu gratis satu. Nikah sama papanya, sekalian dapat anaknya."


"Bisa aja kamu." Sahut Naomi sambil tertawa. Tangannya sudah diangkat hendak memukul lengan Aiden, tapi seketika dia mengurungkannya. Sekarang sudah tak seperti dulu lagi, dia harus bisa menjaga jarak dari Aiden.


"Nom, kamu masih sayang gak sih sama aku?"


Naomi terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Kalau ditanya tentang hatinya, sudah tentu masih untuk Aiden. Tapi.....


"Kenapa diam? Masih sakit hati sama aku? belum bisa maafin aku?"


"Bukan, aku sudah maafin kamu."


"Lalu?" Aiden menyatukan kedua alisnya.


"Naomi." Teriak seseorang. Membuat Naomi dan Aiden seketika menoleh dan melihat siapa yang memanggil Naomi.


Tampak seorang laki laki berlari kearah mereka. "Sory ya, jemputnya telat." Ujar pria itu sambil tersenyum pada Naomi.