
Ciee... Cie....
Goda Cea saat pinky couple baru masuk kedalam rumah. Ada Rain juga disana yang ikut tersenyum memperhatikan pasangan muda itu.
Del menatap tajam ke arah Cea. Sebenarnya dia ingin bikin perhitungan dengan adiknya itu, tapi kerena ada mamanya dia membatalkan rencananya.
Killa tersenyum pada Cea dan mamanya lalu masuk kedalam kamar tamu. Jujur saja dia keki jadi pusat perhatian. Sedangkan Del, cowok itu segera naik kelantai atas menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Killa langsung masuk kekamar mandi dan mengisi bathup dengan air hangat. Sejak diperjalanan pulang tadi, dia sudah merencakana akan mandi air hangat untuk menghilangkan penatnya. Killa berendam sambil memijit pelan tungkai kakinya yang terasa pegal.
Killa lanjut tidur setelah puas berendam air hangat.
Tangah malam, Killa terjaga karena lapar. Tadi dia memang tak sempat makan malam karena terlalu mengantuk.
Apa yang bisa dimakan tengah malam seperti ini? rasanya cuma roti dengan selai atau coklat pilihannya. Mengabaikan kantuknya, cewek itu keluar kamar menuju dapur.
"Aawww...." Teriak Killa saat melihat sosok hitam dan tinggi keluar dari dapur yang gelap. Jantungnya hampir saja copot kerena terkejut.
"Apaan sih teriak terika." Ujar Del sambil menyalakan lampu.
"Ka, kamu." Ucap Killa dengan nafas naik turun. Del memakai kaos warna hitam jadi gak begitu kelihatan ditempat gelap.
"Kenapa, lo pikir hantu?"
Killa hanya diam, dia masih mengatur nafas dan jantungnya yang berdebar.
"Ngapain malam malam kedapur?" Tanya Del.
"Lapar."
Mendengar kata lapar membuat Del segera mengecek kulkas dan almari penyimpanan makanan. Tapi nihil, gak ada makanan apapun selain roti tawar.
"Gak ada makanan, cuma ada roti. Mau gue pesenin?"
"Gak usah, aku makan roti saja." Jawab Killa sambil mengambil roti dan mengolesinya dengan selai strawbery.
"Mau gue bikinin susu?"
Killa hampir saja menjatuhkan rotinya saat mendengar ucapan Del. Cowok itu mau bikinin dia susu? gak salah denger? Jangan jangan ini bukan Delmar, melainkan hantu yang menjelma menjadi Del. Seketika tubuh Killa merinding.
"Mau gue bikinin susu ibu hamil?" Del kembali bertanya. Killa mengangguk sambil menatap Del cengo.
"Dimana tempat susunya, gue gak tahu."
Killa mengambil kotak susu dari kabinet lalu menyerahkannya pada Del.
"Lo duduk sana sambil makan roti dulu. Biar gue buatin susunya." Titah Del sambil menunjuk dagu kearah kursi yang ada didapur.
Tanpa banyak bicara, Killa segera duduk manis sambil makan roti. Netranya tak lepas dari menatap Del yang sedang merebus air. Cowok itu terlihat konsentrasi membaca kemasan susu sembari menunggu air mendidih. Maklum ini pertama kalinya Del membuat susu. Suatu kemajuan yang patut diacungi jempol. Cowok yang biasanya cuma bisa memerintah itu, rela menggunakan tangannya untuk membuat susu ibu hamil.
"Nih." Del meletakkan segelas susu vanila hasil bujukannya diatas meja tempat Killa duduk.
"Gue tidur dikamar lo ya?" Pinta Delmar sambil mengambil tempat duduk disebelah Killa.
"Enggak." Jawab Killa tanpa mikir.
"Gak kasian sama gue yang gak bisa tidur? Malem malem masih kelayapan didapur karena emang gak bisa merem nih mata."
Killa tak merespon, dia hanya melanjutkan makan roti dan minum susu. Sedikit tergesa gesa agar bisa kembali ke kamar dan bebas dari makhluk bernama Delmar.
"Hari ini hari apa?"
"Kamis."
"Berarti Malem jumat dong."
Deg, Killa langsung paham kemana arah pembicaraan Del kali ini.
"Kalau malem jumat pahalanya berlipat ganda. Udah enak terus dapat pahala. Emang lo gak pengen nambah catatan pahala?"
Sok ngerti pahala, biasanya juga nambah catatan dosa mulu. Sampai sampai malaikat pencatat amal baik cuti terus karena gak ada kerjaan.
Bukannya menjawab, Killa malah cepet cepet menghabiskan susu lalu segera beranjak dari duduknya.
"Aku ngantuk, mau tidur."
"Gue tidur dikamar lo ya." Del kembali mendesak.
"Please jangan kaya gini." Killa melepaskan tangan Del dengan kasar.
"Lo itu kenapa sih Kil?" Tanya Del dengan sedikit emosi. "Masih marah sama gue? Ok gue minta maaf kalau ada salah sama lo."
Kalau ada salah katanya? banyak bang salah lo.
"Aku udah maafin kok." Jawab Killa datar.
"Terus, kenapa sikap lo masih kayak gini?"
"Aku sudah bilangkan hari itu. Sembari nunggu anak ini lahir, sebaiknya kita jaga jarak."
"Lo bilang sayang selamanya ke gue? terus mana buktinya? kenapa lo malah minta jaga jarak?
"Aku sayang kok sama kamu." Senyum Del mengembang mendengarnya. "Tapi aku udah gak cinta."
Seketika mata Del membulat sempurna. Bisa bisanya Killa melambungkannya tinggi lalu menghempaskan tanpa perasaan.
"Bohong.. Gue masih bisa lihat cinta dimata lo." Ucap Delmar.
"Ya, masih ada. Tapi tinggal sedikit. Seperti fase cinta yang pernah aku katakan ke kamu. Sekarang aku udah berada ditahap gerimis. Dan gak lama lagi, aku yakin akan reda."
"Enggak mungkin." Sangkal Del.
Killa yang malas berdebat memilih pergi. Tapi lagi lagi Del menahan pergelangan tangannya.
"Gue gak akan biarin gerimis itu reda. Gue bakal membuatnya menjadi deras kembali." Ucap Del penuh penekanan.
"Kenapa?"
"Karena gue cinta sama lo."
Killa menyeringai mendengarnya. Sumpah, pengen sekali dia menampar Del yang hobi mempermainkan hatinya.
"Cukup, berhenti mempermainkan perasaan Killa. Kamu pikir aku percaya gitu aja? Bulshitt." Seru Killa sambil mencengkeram erat lengan Del. Dia sudah muak dipermainkan Del. Saat berdua, Del terlihat sangat care. Tapi saat ada Laura, seolah gak kenal.
"Gue gak bohong, gue cinta sama lo." Del mengulangi ucapannya sambil menatap Killa dalam dalam. Seolah ingin menyatakan lewat mata jika dia sungguh mencintai cewek yang sekarang hamil anaknya itu.
"Stop." Pekik Killa sambil mengepalkan tangannya. "Jangan gunakan kata cinta untuk mempermainkan aku."
"Mungkin gue terlambat menyadari, Tapi gue yakin, gue cinta sama lo."
Killa tersenyum miring. "Menjijikkan sekali."
"Maksud lo?" Del mengernyit heran.
"Hanya karena ingin dapet jatah, kakak pura pura cinta sama aku." Killa membuang nafas kasar. Dalam hati dia memaki maki Del. "Kakak sedang butuh tubuh aku? butuh menyalurkan hasrat biologis kamu?"
"Jangan salah paham. Gue___"
"Ayo kekamar." Potong Killa. "Aku gak mau dikatain istri durhaka karena gak memenuhi kewajiban aku. Ayo." Ujar Killa sambil berjalan cepat menuju kamarnya. Meninggalkan Del yang masih bergeming.
Killa duduk ditepi ranjang sambil meremat sprei. Matanya memanas, butiran air bening sekuat tenaga dia tahan agar tak menetes. Dia tak habis pikir dengan Del yang menggunakan segala cara hanya untuk bisa dapat jatah.
Tak berapa lama kemudian Del masuk kedalam kamar. Dia bisa melihat mata Killa yang memancarkan aura kebencian.
Setelah Del menutup pintu. Killa segera menarik daster kaosnya keatas hingga terlepas melewati kepala.
"Gue gak mau itu." Ujar Del saat Killa hendak melepaskan pengait bra nya.
Del berjalan mendekati ranjang lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuh Killa.
"Udah malem. Besok sekolah, cepet tidur." Ujar Del lalu mencium kening Killa. "Good night, I Love you." Del balik badan dan keluar dari kamar Killa.
Air mata Killa meleleh bersamaan dengan Del yang keluar dari kamar. Dia benci ditarik ulur seperti ini. Dia benci dipermainkan.