
Pagi ini, Killa dan Del mengajak baby Deluna jalan jalan. Satu bulan di rumah sakit sungguh membuat Killa jenuh. Cewek itu kangen menghirup udara pagi yang segar sambil berjalan jalan.
Mumpung weekend, Del mengajak istri dan anaknya itu berjalan jalan ditaman sekaligus menjemur baby Deluna.
Setelah memarkirkan mobilnya, Del mengambil stroler yang berada di bagasi. Setelah siap dengan strolernya, dia mengambil alih Deluna dari gendongan Killa dan menempatkan bayi mungil itu diatas stroler.
Mereka berdua berjalan beriringan dengan posisi Del mendorong stroler. Del mengatur stroler agar menghadap kearahnya. Menurutnya dengan begitu dia lebih mudah mengawasi Deluna.
"Ramai banget ya kak yang joging. Kamu gak pengen?" Tanya Killa sambil memperhatikan sekeliling. Taman ini memang selalu ramai kala weekend.
"Malas, mending olah raga dirumah aja. Banyak yang godain kalau olah raga ditempat umum gini." Jawab Del.
"Dih, pede banget." Ledek Killa sambil menyebikkan bibir. "Tuh lihat." Killa menunjuk seorang cowok tampan yang sedang joging tak jauh dari mereka. "Gak ada yang godain tuh."
Del Langsung mengusap muka Killa dengan telapak tangannya. "Baru aja diajak keluar, Tuh mata udah jelalatan." Omel Del. Tak terima dia istrinya melihat cowok lain.
"Jelalatan darimananya sih kak. Tuh cogan lewat depan kita, ya masak aku tutup mata. Yang ada nabrak jalannya." Killa membela diri.
"Ngomong apa barusan?" Tanya Del sambil berkacak pinggang.
"Ngomong apa?" Killa gak paham.
"Kamu nyebut apa dia tadi?" Del tampak kesal.
"Apa?"
"Cogan!" Del mengingatkan. Membuat Killa seketika kikuk dan senyum senyum gak jelas. Tapi emang genteng sih cowok tadi. Ya masak mau bilang colek, cowok jelek.
"Gak usah cemburu gitu deh." Rayu Killa sambil bergelayut manja dilengan Del. Dia ganteng dikit. Kamu ganteng banyak." Rayunya agar Del tidak ngambek.
"Kamu tahu gak kak? tadi pas mau berangkat, aku lupa caranya ngiket tali sepatu."
"Hah." Del melongo. Dia menatap Killa intens. Apakah mungkin Killa mengalami amnesia setelah kejang waktu itu. Karena menurut yang dia baca, kejang karena eklamsia bisa mengakibatkan kerusakan saraf.
"Kamu tahu gak kenapa?" Tanya Killa dengan wajah datar.
"Kamu, gak amnesia kan?" Tanya Del ragu ragu. Perasaan cowok itu sudah mulai gelisah. Takut sesuatu yang buruk menimpa istrinya.
"Enggak." Killa geleng geleng. "Aku sampai lupa caranya ngiket tali sepatu, karena terlalu sibuk mengikat hati kamu." Ujar Killa sambil memainkan rambutnya dengan raut muka yang dibuat seunyu mungkin.
glodak
Bukannya meleleh, Del malah menatap Killa cengo. Jantungnya sudah dag dig dug gak karuan, takut terjadi sesuatu yang buruk. Eh.. taunya Killa lagi gombalin dia. Terlalu overthinking Kayaknya si Delmar.
"Ih... " Killa memukul lengan Del. "Digombalin kok ekspresinya gitu." Killa jadi kesel. Ekspresi Del sama sekali gak sesuai ekspektasinya.
"Habis kamu sih bikin aku jantungan. Kirain kamu amnesia atau apa."
"Dih yang bucin sama aku." Ujar Killa sambil senyam senyum. "Takut banget ya bang ya aku amnesia dan lupa sama kamu." Goda Killa sambil terkekeh.
Del melihat bangku kosong yang tak jauh dari mereka. "Duduk disana yuk." Ajaknya dan langsung dianggukin oleh Killa.
Setelah sampai ditempat yang dimaksud. Del memakaikan kaca mata jemur pada baby Deluna. Dia membuka tutup stroler, dan membiarkan Deluna terkena sinar matahari pagi.
"Cerah banget cuacanya, pantesan ramai." Ujar Del sambil meneguk air mineral yang mereka bawa dari rumah.
Mata Killa mulai jelalatan melihat pedagang kaki lima disekitaran taman. Tujuan utamanya kesini, selain untuk menjemur Deluna, juga untuk berburu kuliner.
"Kak, mendadak aku pengen batagor deh. Kamu jagain Deluna ya, aku beli dulu."
"Aku beliin, kamu aja yang jaga Deluna."
"Aku aja, sekalian nyari makanan lain lagi soalnya, hee...." Jawab Killa sambil nyengir.
"Dasar tukang makan." Cibir Del.
"Biarin." Sahut Killa sambil ngibrit meninggalkan Del dan Deluna.
Del baru saja mengambil ponsel dan melihat sosmed, tapi sudah dikacaukan dengan suara tangisan baby Deluna. Bayi mungil itu tiba tiba menangis. Sepertinya dia terbangun dari tidur lelapnya.
Del segera menyimpan kembali ponselnya dan mengambil botol dot berisi asip. Dengan hati hati, dia memasukkan ujung dot itu pada mulut mungil baby Deluna. Tapi sayangnya, bayi mungil itu menolak, dia malah nangis makin kejer.
Del yang panik segera menggendongnya sambil terus berusaha memberinya asi dari dot. Setelah ditimang timang, akhirnya Deluna terlelap lagi dengan mulut yang masih menghisap dot.
"Adiknya ya mas?" Tanya seorang cewek yang datang bersama dua orang temannya. Belum sempat Del menjawab, seorang cewek lagi sudah duluan bicara.
"Udah cakep, mau lagi ngurusin adiknya. Tipe tipe cowok idaman ini mah." Pujinya dengan gaya sok kecakepan.
"Cantik banget adik kamu. Wajahnya mirip banget sama kamu. Oh iya, kenalin, gue Alda. Dan ini kedua sahabat gue, Rosa dan Dara." Cewek itu mengulurkan tangannya.
Del hanya memutar kedua bola matanya. Tak ada niatan sama sekali untuk mengulurkan tangannya. Alda yang merasa dianggurin, pelan pelan menarik tangannya dengan sedikit kikuk.
"Dia adik kamu juga?" Tanya Alda. Dia pikir Killa adiknya karena memanggil Kak.
Adik pala lo peyang. Aku istrinya begok, batin Killa.
"Kil, gendongin dulu. Aku mau ketoilet." Del sebenarnya sudah sejak tadi kebelet. Dia memberikan Deluna pada Killa lalu ngibrit ke toilet.
"Kakak kamu cakep banget sih." Ujar Alda sambil terus memperhatikan Del yang hanya tinggal tampak punggungnya saja. "Minta nomor ponselnya dong."
"Ponsel aku?" Killa menautkan kedua alisnya.
"Ponsel kakak kamu lah. Tenang aja, gue bayar, gak gratis kok. Ngomong aja lo mau imbalan apa. Ntar gue beliin deh."
Dih, dikiranya gue bocah kali bisa diiming imingi pakai imbalan.
"Gimana kalau lo gue ajak perawatan di salon nyokap gue. Gratis, gak usah bayar, cuma kasih nomor hp kakak lo doang." Alda terus mengiming imingi Killa.
"Gak perlu, duit aku banyak kok. Bisa bayar uang perawatan sendiri."
"Ya udah deh, kalau Gitu, gimana kalau gue ajak shopping?" Alda belum putus asa.
Killa menghela nafas. Kesal sekali dia pada cewek modelan Alda yang tak kenal lelah demi nomor hp cowok sekeren Delmar.
Killa mengambil ponsel dari sling bagnya. "Tulis nomornya." Ujar Killa ketus. Alda dengan senyum bahagianya segera membuka ponsel dan siap menulis nomor yang dibacakan Killa.
"Udah." Tutur Killa setelah selesai menyebutkan satu persatu angka.
"Btw, kakak lo namanya siapa?"
"Joe."
"Joe! keren, sekeren orangnya." Sahut Alda sambil senyum senyum sendiri.
"Udah gih pergi dari sini. Kalau ketahuan kakak aku, aku bisa dimarahin karena ngasih nomor HP ke sembarang orang."
"Ok Deh, makasih banyak adik ipar."
"Oh iya, nelponnya Entar malem aja jangan sekarang. Biar gak ketahuan kalau aku yang ngasih nomornya."
"Siap. Da.... adik ipar." Ujar Alda sambil melambaikan tangannya.
Cih, adik ipar, adik ipar. Pengen banget deh aku sumpel mulutnya itu. Dasar cewek ganjen, gak bisa lihat cowok genteng.
"Ngapain tadi kalian saling pengang ponsel? kalian gak lagi tukeran nomor hp kan?" Del tak sengaja melihat saat baru dari toilet.
"Dia minta nomor HP kamu."
"Terus, kamu kasih?"
"Kasih."
"What!" Pekik Del tak percaya. Bisa bisanya istrinya memberikan nomor hpnya pada cewek lain.
"Aku kasih nomor HP nya Pak Joe."
"Hahaha... " Tawa Del pecah seketika.
"Biar tau rasa Tuh cewek aku kibulin. Ganjen banget pakai mau goda suami aku." Kesal Killa.
"Good job girl." Ujar Del sambil mengacak acak gemas puncak kepala Killa.
"Girl? udah emak emak kali." Ralat Killa..
"Emak emak rasa gadis." Sahut Del. "Jadi gak sabar pengen merawanin sekali lagi." Lanjutnya sambil berbisik.
"Perawan?" Killa mengernyit bingung.
"Katanya, kalau lama gak dipakai, bisa jadi kayak perawan lagi. Udah dua bulan loh kalau dihitung sejak aku ditahan." Ujar Del dengan seringai menggodanya.
"Kalau masalah itu kamu ingat aja." .
"Iya lah. Udah selesaikan nifasnya?"
"Udah, tapi tunggu minggu depan aja, pas kita honeymoon. Gak seru kan kalau malam pertama dirumah." Killa mengerlingkan sebelah matanya, membuat Del makin klepek klepek. Sebenarnya Del ingin honeymoon hari ini. Tapi berhubung Entar sore pernikahan Miko dan besok dia mulai kuliah. Jadi honeymoon nya dipending.
"Kamu selalu bikin aku kayak mentega diatas wajan."
"Maksudnya?"
"meleleh."