DELMAR

DELMAR
LAURA



Hari ini Laura tampak sangat seksi. Dia memakai skirt yang sangat pendek dengan tanktop putih yang dipadukan dengan kardigan warna hitam.


Rey yang memang mesum sampai tak berkedip melihatnya. Apalagi tank top yang dipakai Laura berpotongan dada rendah hingga memperlihatkan sedikit belahan dadanya.


"Mata lo." Bentak Del saat memergoki Rey yang manatap Laura cengo.


Rey hanya nyengir. Menurutnya sayang sekali jika pemandangan seindah itu tak dilihat, takut mubadzir.


"Rencananya kita mau jenguk Aiden besok, mumpung minggu, kalian mau ikut gak?" Tanya Miko pada Sasa dan Laura.


"Aiden kenapa?" Sasa terlihat cemas.


"Dia jatuh dari balkon lantai dua rumahnya."


"Apa!" Sasa mulai panik. Pikirannya langsung melayang pada Aiden. Cowok yang dia sukai tapi tak menyukainya itu.


Miko diam diam memperhatikan gerak gerik Sasa yang tampak cemas. Dia tahu, kalau kekasihnya itu sedang memikirkan Aiden.


"Aku ikut ya kak besok." Ujar Laura dan langsung diangguki oleh Del.


"Hmm sayang, kayaknya aku harus pulang deh. Baru inget kalau tadi gak dibolehin pulang Malem sama mama." Sasa beralasan.


"Mau gue anter?" tawar Miko.


"Gak usah."


"Ya udah hati hati." Miko sebenarnya tahu jika Sasa hanya beralasan. Dia tahu jika ceweknya itu mungkin akan ke tempat Aiden. Tapi biarlah, dia hanya menunggu waktu, menunggu hingga rasa sakit memudarkan cintanya. Dan ketika saat itu tiba, dia akan berpisah dengan Sasa.


"Aku pergi dulu." Sasa mencium sekilas bibir Miko lalu pergi terburu buru.


"Sa, tunggu." Laura mengejar Sasa yang keluar. Dia kemudian menarik Sasa kehalaman rumah.


"Kok lo ninggalin gue sih?"


"Kenapa, takut? Santai girl. Jalanin aja kayak yang gue ajarin tadi. Semangat, lo harus dapetin Del Malem ini, atau kalau gak, elo yang bakal ditinggal. Buat dia ketergantungan sama lo." Ujar Sasa.


"Lo mau ketempat Aiden ya?"


"Gue mau lihat keadaan dia, gue gak tenang sebelum tahu gimana kondisinya."


"Gila ya lo, bisa bisanya lo ninggalin Miko demi Aiden. Miko sayang banget sama lo."


"Gue tahu, tapi sayangnya, gue sukanya sama Aiden." Ujar Sasa santai tanpa rasa bersalah.


"Aiden itu berengsek Sa." Laura mengingatkan..


"Gue juga, jadi apa bedanya?"


"Huft." Laura hanya bisa menghela nafas. Tak tahu lagi bagaimana caranya menasehati Sasa. Cewek itu sudah terlalu terobsesi pada Aiden, hingga dia lupa, ada Miko yang tulus cinta padanya.


"Gue pergi dulu." Sasa melambaikan tangan dan segera menghampiri ojol yang sudah menunggunya.


Tanpa kedua cewek itu sadari, Miko mencuri dengar pembicaraan mereka.


Kayaknya, sebesar apapun usaha gue buat menggenggam lo, kan akan berhasil. Jika lo sendiri yang selalu berontak berusaha buat lepas dari gue. Batin Miko sambil tertawa ringan.


Dia menertawai dirinya sendiri yang menyedihkan.


Laura kembali masuk lalu duduk disamping Del. Melihat ke empat cowok itu minum, Laurapun ikut minum, dia ingin merasa relaks. Jujur saja dia tegang karena rencana yang diusulkan Sasa.


"Lo gak papa minum beb? Gimana nanti pulangnya? gak dimarahin sama bokap lo?" Tanya Del sambil merangkul pundak Laura.


"Bonyok gak ada, mereka kerumah nenek di luar kota."


"Minum dikit aja, lo kan gak terbiasa."


"Kakak kenapa? pusing ya?" Tanya Laura saat melihat Del memijit pelipisnya. "Mau aku pijitin?" tawar cewek itu.


"Boleh."


Del merebahkan kepalanya dipaha Laura dan dipijit oleh cewek itu.


"Ck, bikin ngiri aja kalian." Celetuk Rey sambil membuang muka dari kedua insan yang terlihat mesra itu.


"Makanya nyari pacar, jangan cuma nyari cewek buat ons aja." Celetuk Manu yang tahu hobi gila temennya itu. "Gak takut penyakitan lo?"


"Takutlah, yang bener aja lo." Rey bergidik membayangkan yang tidak tidak.


"Kalo lo takut, kenapa masih suka ons? Kenapa gak nyari pacar aja. Kayak si Miko, anteng anteng aja sama di Sasa. Dia selalu dapat jatah dari Sasa, gak perlu gonta ganti kayak lo." Manu lanjut menasehati Rey.


Miko yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kecut. Yang dijalaninya tak seindah yang teman temannya pikirkan.


"Gue selalu pakai pengaman. Selain takut kena penyakit, gue juga takut kalau sampai ada cewek yang tiba tiba datang, nangis nangis minta pertanggungjawaban gue karena hamil."


Ucapan Rey seketika mengingatkan Delmar pada Killa. Pada cewek yang dulu datang Nangis Nangis minta pertanggungjawabannya. Sedang apa dia sekarang, Del mendadak rindu. Tapi saat ingat Killa bilang menyukai Fando, Del menjadi kesal.


"Masih sakit?" Tanya Laura.


"Udah mendingan."


Ketiga teman Del tak lagi mempedulikan mereka berdua. Mereka asik mengobrol tentang bola, balapan dan sedikit omongan vulgar tentang pengalaman ons Rey, sambil terus minum. Rencananya mereka akan menginap disini, jadi mereka tak peduli walaupun teler.


Del menatap nanar wajah Laura yang berada diatasnya. Payud*** Laura yang membusung tepat didepannya membuat Del menelan ludah.


"Kita kekamar aja yuk kak. Aku pijetin kamu disana, biar bisa sekalian kamu tidur." Ajak Laura saat melihat tatapan Del sudah berbeda. Del mengangguk dan segera bangkit lalu disusul Laura. Keduanya masuk kedalam kamar tamu yang biasa ditiduri Del dan teman temannya saat menginap.


Sesampainya dikamar, Del langsung mencium bibir Laura. Jujur saja dia dibuat tak tahan dengan penampilan Laura malam ini yang begitu menantang.


Suara bibir mereka yang saling menyatu menggema dikamar itu. Mereka sama sama lihai dalam hal berciuman. Saling mellumt, menghisaf dan membelit lidah satu sama lain.


"Kak, kamu sayang aku kan? Aku ngerasa kamu sedikit jauh dari aku?" Tanya Laura saat ciuman mereka terlepas.


"Perasaan kamu aja kali beb." Jawab Del sambil membelai wajah Laura dengan lembut menggunakan punggung tangannya.


"Kamu lain sekarang. Kamu udah berubah. Aku takut kamu ninggalin aku." Ujar Laura dengan mata berkaca kaca.


"Aku sayang kamu beb." Del kembali mencium bibir Laura. Semakin dalam dan semakin panas.


Laura yang merasa mulai gerah membuka sendiri kardigannya. Dada Laura yang memang berukuran lumayan besar itu membuat Del tak tahan untuk tidak menyentuhnya.


Dengan bibir yang masih saling bertautan, Del mulai meremas dada Laura yangvmasih terbungkus tanktop. Ciuman Del turun menyusuri telinga lalu leher Laura. Tangannya mulai menurunkan tali tanktop hingga benda itu lolos dari tubuh Laura.


Laura tak tinggal diam, tangannya berusaha melepas ikat pinggang Del kemudian berlanjut ke celananya.


Keduanya larut dalam gairah yang luar biasa hingga tanpa sadar mereka hampir naked.


Del menciumi dada Laura dan meninggalkan benyak kissmark disana. Tangannya mulai turun menyusuri perut Laura. Saat dia menyentuh perut Laura. Dia teringat Killa.


Ingat, sebentar lagi kamu akan jadi ayah.


Ucapan Killa itu seakan menggema dikepala Del.


Apapun yang akan kakak lakukan diluar sana. Cukup ingat satu hal. Ada istri dan calon anak kakak yang menunggu dirumah. Sebentar lagi kamu akan jadi ayah. Jangan sampai melakukan hal diluar batas.


BINGUNG BANGET MAU NGASIH JUDUL APA DI PART INI. SAAT UP, AUTHORNYA KETIR KETOR TAKUT GAK LOLOS REVIEW.


MUNGKIN KARENA GENRE TEEN, SUSAH BANGET NOVEL INI LOLOS REVIEW KALAU ADA SEDIKIT SAJA BAU BAU PLES